
☘️
"Haaarrrrgghhhh."
Luapan emosi yang sedari tadi tertahan nyatanya meledak juga. Arga, pria berkulit putih itu Iki membenturkan kepalanya pada dinding kaca di kamar hotel tempatnya menginap.
"Miana, benarkah apa yang di ucapkan si brengsek itu," lirihnya seraya memegi tralis besi jendela kamar. Tangannya mengepal erat mengingat bagaimana dulu Bian mendatanginya menawarkan sebuah kesepakatan.
'Bian. Kau benar-benar ingin bersaing sekarang.' desisnya dengan mata menajam.
Kembali akalnya berperang. Mengingat mata Bian yang terlihat tulus dan ingin melindungi Miana, ia mulai sedikit goyah. Takut bila Miana benar-benar akan kembali terlepas darinya.
Bagaimana caranya ia meyakinkan diri sendiri jika apa yang di ucapkan Bian semata hanya ucapan belaka sedangkan ia melihat tatapan Bian pada Miana masih sama. Meskipun tidak demikian pada Miana.
Lama bergelut dengan pemikirannya, Arga akhirnya memutuskan untuk mengguyur tubuhnya di kamar mandi. Berharap agar segala yang ia takutkan tidak benar-benar terjadi.
Zaki. Ya, kini setelah ia selesai dengan kegiatannya, Arga segera menghubungi Zaki dan mencari nomor Miana. Karena Miana sempat berganti nomor sebelumnya.
Hal mudah bagi Zaki mendapatkan nomor Miana kembali. Begitu deretan angka itu dalam genggaman, Arga justru ragu akan menghubunginya.
'Jangan pakai egomu sekarang, Ga. sekarang waktunya kamu menebus semuanya. Sebelum benar-benar apa yang kamu takutkan terjadi.'
Satu pesan yang Arga dapat dari Zaki membuatnya kembali mematut diri mengenakan pakaiannya dan bergegas kembali menemui Miana.
Tepat pukul 14.00 Arga sudah sampai di depan rumah Bi Num. Rumah yang ia kunjungi tadi pagi, sayangnya hanya pada anak pemilik rumah ia bertemu dan mengungkapkan maksudnya.
Setelah mengetuk beberapa kali pintu rumah, barulah pintu di buka seraya menjawab salam.
"Siapa ya?" tanya Bi Num seraya melepas apron dari tubuhnya.
"E, saya Arga. E... sa saya teman Miana, Bu."
Bi Num tersenyum lalu mempersilakan masuk dan menyuruh tamunya untuk duduk. Sementara dirinya kembali masuk mencari keberadaan Miana.
"Mbak Mia. Udah bantuinnya." Bi Num mengambil halus pisau dari tangan Miana. "Di depan ada yang nyariin."
"Nyariin?"
Bi Num mengangguk dengan senyum tipis. "Iya. Nyariin mbak Mia."
__ADS_1
"Jika Bian. Katakan saja padanya Bi, Miana akan pulang ke Jakarta sendiri." Ujarnya sambil mengambil pisau kembali dari BI Num.
Bi Num tersenyum masygul. "Bukan," katanya lirih.
"Hah. Emang siapa lagi, Bi. Yang mengenal Miana di sini."
"Lihat aja kedepan!"
Melihat senyum Bi Num yang berbeda, mau tak mau Miana meninggalkan kegiatannya seraya melangkah ragu. Berkali-kali bahkan Miana menoleh pada Bi Num yang kini tersenyum lebar seraya geleng-geleng kepala.
Alangkah terkejutnya Miana mendapati Arga yang duduk ruang tamu Bi Num. Perasaan tak karuan mendera begitu saja di seluruh wajahnya.
Arga tertegun sejenak lalu perlahan berdiri mendekati Miana. "Miana."
"Arga."
Keduanya kembali mematung di tempatnya. Rasanya kembali kata-kata Bian yang terus terucap seolah mengingatkan keduanya.
'Tak pantas bila barang yang sudah di buang lalu di pungut kembali.'
"Untuk apa kamu di sini, Arga?"
"Pergi Arga."
Arga menggeleng cepat lalu memegang kedua bahu Miana. "Nggak Miana. Jangan begini. Aku tahu aku salah aku minta maaf."
"Nggak ada yang perlu di maafkan, Arga. Semua sudah jelas. Benar apa yang di katakan Bian. Kamu sudah membuangku. Lalu kenapa kamu kembali memungutku!"
Arga menggeleng cepat kembali meraih bahu Miana yang sempat terlepas. "Itu nggak benar, Miana. Aku pergi justru aku sayang sama kamu."
"Dengan ninggalin aku, Ga?" Miana menggeleng samar. "Kamu nggak mikirin gimana perasaan aku saat itu? Hahh?" Akhirnya Miana kembali menghentak kedua tangan Arga hingga terlepas.
Arga pun kini tak dapat mengelak lagi. Memang itulah kesalahannya. Kesalahan yang sesungguhnya sudah ia sadari sejak lama. Namun, ia sudah tak bisa berbuat apa-apa.
Bi Num yang mendengar dari balik ruang tamu hanya bisa terdiam seolah ia bisa merasakan bagaimana Miana saat itu.
"Miana. Ada banyak sekali alasan yang mengharuskan aku untuk pergi dari kamu."
"Ya, apa, Arga! Apaa??" Miana menghapus kasar air matanya. "Aku butuh penjelasan Arga."
__ADS_1
"Tapi sayangnya aku nggak bisa jelasin itu ke kamu."
Miana tak mau lagi melihat wajah Arga. Sakit yang ia rasakan seolah telah meledak saat ini. Jika dulu ia hanya dapat memendamnya dalam hati. Kali ini ia tak bisa lagi berpura-pura tegar. Bukti luka yang sudah ia tahan sudah tumpah ruah menjadi air mata.
"Pergilah, Arga!"
Mungkin Arga harus mengalah untuk kali ini. Ia akan kembali lagi besok. Yang jelas ia tak akan menyerah. Ia tak akan mau di patahkan oleh keadaan. Mengingat bagaimana Miana dulu yang juga tak ada lelahnya menghadapi sikap dinginnya.
☘️
Miana berpamitan pada Bi Num. Ia katakan akan kembali ke Jakarta karena pekerjaannya di Solo sudah selesai.
"Miana pamit ya Bi." Miana melerai pelukannya pada Bi Num.
"Iya. Hati-hati, ya. Jaga diri baik-baik." Ucap Bi Num dengan senyum teduhnya.
"Pasti Bi." Miana balas tersenyum. Ia seperti tak rela meninggalkan rumah sederhana milik Bi Num yang justru sangat nyaman.
"O, iya. Selesaikan masalah dengan hati lapang. Bi Num seperti melihat orang lain saja tadi saat kamu meluapkan emosi kamu pada Arga."
"Tapi hati aku masih sakit Bi."
"Tapi saat Arga pergi dari rumah Bi Num, kamu lebih terluka. Bibi tahu itu."
Miana kembali menitikkan air mata. Ia berhambur ke pelukan bi Num untuk menumpahkan sesak dalam dadanya.
Beberapa detik berlalu, Bi Num hanya menepuk-nepuk punggung Miana. Ia sengaja membiarkan Miana menumpahkan semua luka yang selama ini ia simpan sendiri. Melalui ceritanya, Bi Num kini tahu bagaimana posisi Arga dan Bian di dalam hatinya.
"Mbak Mia. Jangan menipu diri sendiri. Jangan hidup seperti bukan dirimu sebenarnya. Karena menjadi diri sendiri itu lebih nyaman." Bi Num mulai melerai pelukan. "Maafkanlah, maka hatimu juga akan lega."
"Ungkapkan baik-baik pada keluarga Pak Pram. Bicalalah jujur apa adanya. Jika pak Pram dan keluarganya memang tulus. Pasti mereka akan tetap memperlakukan kamu seperti sebelumnya. Tanpa ada yang berubah."
Miana mengangguk mendengar dengan seksama nasihat bi Num.
"Mas Arga itu terlihat tulus. Janganlah berlaku kejam padanya. Kamu pun sakit kan melihat bagaimana dia pergi? Maka jangan sampai ia pergi untuk yang kedua kalinya."
Kali ini Miana sampai menatap Bi Num. ia merasa tidak terima. Perlahan rasa takut kembali menyerang. Jujur kehadiran Arga kini membuatnya lebih berwarna. Namun untuk memaafkannya, ia belum bisa melepaskan itu.
☘️
__ADS_1