Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 33


__ADS_3

"Kamu siapa?" tanya Sari pada Miana. Ia mengernyit merasa telah mengenali Miana di suatu tempat. Mata tertuju pada pelipis Miana yang di balut kasa dan di tutup perban.


Miana bingung harus menjawab apa. Kehadirannya di sini memang di bawa warga untuk mendapatkan perawatan, sama seperti Arga. Lalu, bagaimana ia akan menjelaskan pada nenek dari temannya, ini?


"S_saya temannya, Oma."


"Bukan itu maksud saya. Saya tadi datang dan kamu sudah ada di sini. Apa kamu pelaku penyerempetan Arga?" hardik Sari dengan nafas tidak beraturan karena menduga-duga sesuatu.


Sofyan masih terus bergumam menenangkan seraya tetap mengusap punggung bergetar istrinya agar lebih mengendalikan emosinya yang mulai ke permukaan.


"Saya memang ada di tempat itu, ta_"


"Kamu tahu! Saya membesarkan Arga dari kecil. Dia melebihi anakku sendiri. Semut pun tidak akan saya biarkan menyakitinya. Tapi kau_"


"Cukup, Oma. Tenang. Ini di rumah sakit. Arga butuh ketenangan agar cepat sadar. Kalau Oma membuat keributan di sini, yang ada, Oma akan di usir oleh petugas."


Sari menatap tajam pada Sofyan dan menepis tangan yang sedari tadi menenangkannya. "Opa! Bagaimana bisa tenang. Arga itu kesayangan Oma. Banyak hal yang Oma lalui bersamanya. Bukan Opa, Dharma ataupun Sarah. Jadi, jika ada apa-apa dengan Arga, Oma yang paling sakit di sini," ungkap Sari melepas sesak dan air mata yang menganak sungai. Jikapun bisa, biarlah ia yang merasakan sakit itu daripada melihat cucu kesayangannya terbaring tak berdaya.


Miana merasa, sudut matanya berembun. Sesak mendengar ungkapan wanita yang terus mengucurkan air matanya. Tidak terasa, ia juga menumpahkan air mata yang keluar dari dua sudut matanya yang sejak tadi ia tahan.


Sofyan membawa Sari untuk duduk di sofa panjang pada sisi ruangan rawat Arga. Sofyan kini mendekati Miana yang masih berdiri terpaku terlihat ketakutan. Wajah ceria dan murah senyum itu, kini tidak ada di sana.


"Coba jelaskan apa yang terjadi, jika benar kamu berada di sana. Dan ..." Sofyan baru menyadari bahwa Miana mempunyai luka pada pelipisnya. "Dan, bagaimana bisa kamu juga terluka?"


Miana mengangguk, lebih pada menyakinkan diri. Ia menceritakan semua yang ia alami dan beberapa penuturan saksi yang menolongnya tadi. Hal itu sungguh membuat Sari yang duduk di sofa beralih duduk mendekati Arga dan semakin terisak melingkarkan tangan pada tubuh Arga.


Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu. Yang ada, hanya isak tangis dengan punggung bergetar, memandangi wajah Arga yang sebagian tertutup kain kasa.


Sofyan mendekati Sari dan kembali menenangkan istrinya setelah memahami pengakuan Miana. "Oma, Opa yakin cucumu itu bukan orang yang lemah. Dia akan segera sadar. Oma dengar sendiri, 'kan? Arga berniat menolong gadis itu. Ia hanya sedang tidak beruntung saja," hibur Sofyan lembut.


"Saya minta maaf. Karena saya, Arga jadi seperti ini." Miana memberanikan diri mendekat pada brankar Arga dan berhenti di samping kaki Arga yang tertutup selimut.


"Sudahlah, ini musibah. Kita sama-sama berdoa agar Arga cepat sadar." Sofyan mencoba tersenyum. "Sekarang, lebih baik kamu pulang. Ini sudah terlalu larut. Orang tua kamu pasti sedang mencari kamu," titah Sofyan.


Miana tersenyum miris tapi juga sedikit lega. Walaupun tidak ada pesan atau telepon dari Surya ataupun Miranti, setidaknya, sedikit membuatnya lebih tenang. Karena dengan ini, papa tidak akan tahu jika ia baru pulang dari bekerja.


Pintu ruangan terbuka di susul dengan adanya dokter beserta perawat dan Bi Num yang mengekor di belakangnya. Miana lega akhirnya ada orang yang menemaninya dalam situasi ini.

__ADS_1


Bi Num segera memeluk Miana, Sedangkan seorang dokter memeriksa Arga.


Dokter menjelaskan pada Sari dan Sofyan mengenai luka Arga dan menyuruhnya untuk menekan tombol yang berada di samping monitor jika Arga tersadar. Setelah Sofyan dan Sari mengangguk mengerti, dokter beserta perawat berlalu dari sana.


Bin Num masih setia berdiri di samping Miana dengan mata yang tengah basah. Sesekali ia juga memeriksa wajah dan memindai tubuh Miana, anak majikannya yang sudah ia rawat sejak masih berumur satu tahun itu dengan perasaan carut marut. "Maaf, Bibi tidak memberitahu papa atau mama. Takut mereka panik dan papa kembali tertekan." Bi Num mengungkapkan tindakan yang ia ambil sepihak ini.


Miana pun mengangguk paham tanda menyetujuinya. Sedangkan ia, mencoba menenangkan Bu Num bahwa ia tidak apa-apa dan berjanji akan menceritakan hal ini nanti.


Awalnya Miana akan menunggu Arga sampai sadar. Namun, melihat keadaannya yang masih mengenakan seragam toko dan punggung yang terasa sakit, membuatnya menurut pada Sofyan dan bujukan Bi Num.


Akhirnya, Miana dan Bi Num pulang dengan taksi. Di perjalanan Miana menceritakan kecelakaan ini pada Bi Num. Miana juga sangat berterima kasih pada Bi Num yang sudah mau menjemputnya dan juga memohonkan maaf pada keluarga Arga atas nama dirinya. Meski Miana sendiri sudah meminta maaf pada keluarga Arga.


Begitu sampai rumah, keadaan sudah sepi. Mama dan Papa pasti sudah tidur, pikir Miana. Dengan gerakan pelan dan berusaha tidak membuat sedikitpun suara yang akan mengusik keluarganya. Miana masuk ke kamar di ikuti Bi Num yang menyuruh Miana untuk berbaring terlebih dahulu. Sedangkan Bi Num akan mengambilkan air hangat untuk membersihkan badan Miana.


Tidak lama, Bi Num kembali dengan membawa wadah dan kain lembut berada di dalamnya.


"Miana bersihkan sendiri saja, Bi," tolak Miana saat Bi Num sudah bersiap membersihkan tubuhnya.


Miana melirik jam dinding yang menunjukkan waktu tengah malam. "Bibi istirahat saja. Bibi besok juga akan jualan, 'kan?"


"Yakin, nggak mau di bantu sama Bibi?" tanya Bi Num masih berusaha meyakinkan Miana dan mendapat gelengan dari Miana.


Miana membuka pakaian dan menyisakan pakaian dalamnya. Ia menyeka pelan punggung yang sakit dan beralih pada bagian-bagian yang lain. Di sampingnya sudah ada handuk yang sebelumnya sudah di persiapkan oleh Bi Num. "Perih juga ternyata. Apa mungkin ada lecet," desis Miana. Ia meraih handuk dan mendekati lemari dan mengambil satu helai dress tidur. Mengganti pakaiannya lalu memasukkan baju yang tadi dikenakan pada keranjang pakaian.


Miana merebahkan tubuhnya, pikirannya masih tertuju pada Arga yang masih belum sadarkan diri saat ia meninggalkannya untuk pulang tadi.


"Makasih, Ga. Udah nolongin gue."


"Tapi, yang ada malah kamu yang celaka."


"Jika gue nggak teledor. Pasti, hal ini nggak akan terjadi."


Mata enggan terpejam, ia beralih pada benda pipih di samping bantal. Lalu mengetikkan pesan pada Hamdan, untuk meminta bantuan mengambilkan motornya esok hari, yang telah di titipkan salah satu toko dekat jembatan.


Miana ingat, ia tadi hanya menurut pada orang-orang yang membantunya untuk menitipkan sepeda motornya juga motor Arga pada ruko yang tidak jauh dari jembatan, sebelum ia di bawa ke rumah sakit bersama Arga. Di saat ia sedang terluka, ia masih memikirkan satu-satunya harta yang begitu berharga pemberian Papa. Ia tidak akan membiarkannya pada masalah baru lagi jika sampai kehilangan motor kesayangannya itu.


Miana melirik Bi Num yang saat ini tidur di kasur lantai. Dalam batinnya ,ia mengucapkan banyak terima kasih pada sosok itu. Seorang wanita, tanpa ada hubungan darah dengannya, namun menganggapnya seperti anak sendiri saat mengurusnya. Ia hapus rasa kecewanya pada Miranti, yang merupakan ibunya sendiri bahkan bersikap abai saja saat tahu ia belum pulang hingga larut.

__ADS_1


"Akh, memang itu sudah menjadi sikap mama. Aku pun sudah terbiasa. Jadi buat apa aku sedih hanya karena itu," hiburnya pada diri sendiri.


Kembali senyum getir terulas di bibir mungil Miana. Ia memikirkan bagaimana cara menutupi luka yang begitu terlihat di pelipisnya. Ia berharap papa besok tetap bekerja sehingga tidak mengetahui kondisinya.


☘️


Miana membuka mata saat suara papa berucap dari balik pintu kamar. Menyuruhnya untuk ikut sarapan bersama. Namun, ia berusaha mencari alasan untuk tidak dapat keluar kamar karena sedang tidak enak badan. Dan meminta papa untuk sarapan terlebih dahulu.


"Kamu sakit? Papa, masuk, ya" tawar Surya.


"Nggak usah, Pa. Miana mau istirahat aja," tolak Miana.


"Apa perlu ke dokter? Biar mama nanti yang akan menemani, ya!" Surya masih berupaya membujuk Miana.


"Ah, papa berlebihan. Palingan juga pusing biasa nanti akan sembuh kalau minum obat! Ayo sarapan dulu!" Miranti yang lewat mengingatkan Surya.


Beruntung Surya tidak memaksa lagi. Dan kembali ke meja makan bersama Miranti dan Sisil yang sudah rapi.


Miana mengutuk diri karena tengah bagun kesiangan, membuatnya tersadar akan satu hal. Ia harus bersiap ke rumah sakit untuk melihat keadaan Arga. Dan lagi ia melupakan satu hal, yaitu membantu Bi Num menyiapkan dagangannya.


Tas beserta perlengkapan lain sudah Miana siapkan. Ia memeriksa luka jahitan pada pelipisnya membersihkan dengan hati-hati dengan alkohol. Ia sengaja membuka perban agar tidak menarik perhatian jika ia keluar nanti. Ia memberikan cairan khusus luka dan menimpa luka dengan kasa kecil dan menutupnya dengan plester kemasan saja agar tidak mencolok. Mengatur rambutnya agar sedikit membantu menutupi plester di wajahnya.


Miana keluar kamar, tujuannya adalah kamar mandi. Sedikit melirik Surya , Miranti dan Sisil yang terlihat sudah selesai makan.


"Miana,' panggil Miranti.


'Tamatlah aku,' batin Miana.


"Mama dan Sisil mau belanja dulu. Nanti kamu bantu Bi Num merapikan ini, ya. Kita bagi tugas," titah Miranti.


"Iya, Ma," jawab Miana tanpa berbalik.


"Papa juga ke kantor, ada lembur, soalnya. Jangan lupa sarapan dulu, trus minum obatnya, Mia." Sofyan ikut menimpali dan beranjak dari duduknya. Di susul Sisil dan Miranti.


"Hati-hati, Pa," ucap Miana.


'Uh, leganya," lanjut Miana yang masih berdiri bersandar pada pintu kamar mandi.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2