
☘️☘️☘️
Usai membantu Bi Num merapikan bekas jualan, Miana lekas bersiap. Backpack berwarna dusty pink berukuran sedang, menggantung rapi di punggung yang masih terasa nyeri itu. Beruntung, tadi Bi Num memberi krim khusus untuk otot yang di belinya di warung ujung gang.
Samar-samar terdengar suara salam di pintu utama. Namun, Miana acuh saja karena masih menyisir rambut. Di susul suara Bi Num yang menjawab salam dan dilanjutkan sedikit obrolan.
Meskipun penasaran, Miana masih santai saja sembari memakai flat shoes berwarna hitam. Mematut penampilan di kaca yang menempel rapi pada pintu lemari pakaian. T-shirt putih polos lengan panjang dan rok selutut berwarna coklat sudah rapi membalut tubuh. Tapi, Miana ragu dan memilih kembali celana jeans prada berwarna hitam.
"Nah, begini, kan lebih leluasa." Pujinya menilai penampilan sendiri. "Kenapa, sih? Mau jenguk Arga aja sampai ribet begini," rutuknya.
Meraih helm bogo, dan menggantungnya di lengan. Miana keluar kamar. Ia masih penasaran siapa tamu di depan, karena Bi Num belum kembali juga ke belakang.
"Kalau gitu, saya pamit, Bu."
"Iya. Hati-hati, ya."
Suara laki-laki, Miana membatin dan mempercepat langkah agar tahu siapa tamunya.
Siluet seorang yang di kenalinya, sedang memaksa tersenyum pada Bi Num. Bahkan mata itu seperti sudah menangkap keberadaannya. Jika ia tidak segera bersembunyi di balik pintu.
'Bian. Kenapa dia kemari? Astaga, apa dia sedang janjian sama Sisil?' batin Miana. Ia memegangi dadanya yang berdegup tidak karuan. Takut ketahuan. Sesekali matanya menelisik dari celah pintu yang terbuka.
"Astagfirullah. Mbak Mia. Sedang apa di situ?" pekik Bi Num saat akan menutup pintu. Tentu saja keberadaan Miana di balik pintu membuatnya terkejut.
Miana memejamkan mata dengan satu jari telunjuk di bibir. Memberi kode pada Bi Num untuk diam sebentar. Beruntung Bi Num juga melakukan hal yang sama.
Miana kembali melihat Bian yang masih berdiri memerhatikan pintu rumah yang belum sepenuhnya tertutup.
'Gawat. Apa dia denger, sih."
"Mbak Mia kenal sama yang tadi kemari?" bisik Bi Num.
Miana mengangguk dan menutup pintu segera. Ia membawa Bi Num untuk duduk di kursi tamu berbentuk 'L' disana. "Bi Num, jika cowok tadi kemari lagi. Tolong Bu Num jangan menyingung namaku ya," pinta Miana.
"Kenapa memangnya?" tanya Bi Num semakin penasaran.
"Bi, sampai sekarang. Sisil nggak mau satu sekolah tahu jika kita saudara."
__ADS_1
Bi Num semakin di buat bingung. Alhasil Miana menceritakan alasan Sisil juga papa menyembunyikan identitasnya sebagai anak papa, yang notabene adalah donatur tetap. Namun, untuk sekarang ini, papa berhenti terkait masalah keuangan dan akhirnya Bi Num paham alasannya ia sering menjadi wali anak majikannya itu.
'Ya Allah, Mbak Mia. Semoga hati kamu lapang mendapat perlakuan seperti itu dari orang tua dan saudara sendiri. Non Sisil juga, kemana sosok penyayang tapi manja itu,' batin Bi Num miris.
Saat Bian sudah tidak ada di jalan depan. Miana tersenyum lega, memandang Bi Num yang masih menatap sayu padanya. "Kenapa, Bi?"
Bi Num tersenyum, dan membelai rambut Miana yang di biarkan terurai. Merapikan poni agar menutupi kasa tipis berbalut perban dengan sangat hati-hati. "Nggak apa. Mau jenguk Arga, 'kan" tebak Bi Num. Karena semalam saat di taksi Miana sudah mengungkap inginnya.
Miana mengangguk, berdiri merapikan tasnya kembali. "Miana pamit dulu, Bi. Miana juga udah W-A, mama tadi. Meskipun belum di balas, sih," terang Miana dan mendapat senyum tipis dari BI Num. Ia segera berlalu setelah Bi Num mengucap hati-hati.
Lima menit menunggu, akhirnya angkutan umum yang tidak begitu penuh penumpang berhenti dan segera berjalan kembali setelah Miana duduk. Ia masih memerhatikan keberadaan mobil Daihatsu Ayla milik Bian, bersikap waspada jika Bian masih berada di sekitar kompleksnya.
Ketakutan Miana mereda saat sudah berada jauh dari rumah kontrakan. Ia lalu duduk tenang sembari memeriksa aplikasi hijau yang menampilkan banyak notifikasi pesan untuknya. Salah satunya dari Riska yang menayangkan keadaannya. Jarinya bergerak lincah mengetikkan balasan kronologis kejadian yang menimpanya dan Arga. Ia juga membalas pesan pada yang lain. Rata-rata menanyakan keadaannya.
Grup kelas MIPA 1, menjadi fokusnya kali ini. Ada satu foto Arga yang tengah di rawat, dan berujung panjangnya chat komentar. Siapa yang sudah mengetahui jika Arga dirawat di sana?
Terlarut dengan aplikasi hijau dan keriuhan grup kelasnya. Miana sampai di depan rumah sakit. Ia turun setelah membayar ongkos. Matanya menelisik pada kedai buah yang baru saja buka berada tepat di area trotoar di samping rumah sakit. Benar-benar memanfaatkan strategi penjualan, pikir Miana. Ia putuskan untuk membeli apel, pear dan pisang. Ia asal memilih buah karena memang tidak tahu apa yang di sukai Arga.
Miana masuk melalui pintu utama dan segera menanyakan pada resepsionis tentang batas waktu untuk besuk pasien. Miana berterima kasih setelah petugas memberikan keterangan. Meskipun hari Minggu, ketentuan rumah sakit masih tetap di batasi oleh jam besuk.
Tiba di depan ruang rawat Arga. Miana bertemu dengan perawat yang baru saja keluar dari sana. Rasa ingin tahu tidak dapat ia cegah. "Sus, maaf. Apa pasien yang di dalam sudah sadar? Apa ada luka serius pada tubuhnya?" cecar Miana.
"Maaf, apa yang di keluhkan ya, Suster?" sela Miana cepat.
"Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Jadi jangan di ajak bicara banyak-banyak, dulu, ya,"
Penjelasan dari perawat membuat Miana mengangguk mengerti. Perawat kembali ke melanjutkan tugasnya di ruang yang lain sedangkan Miana masuk setelah mendengar dari perawat itu, jika ada satu keluarga yang berada di ruangan Arga.
Sepi. Seperti semalam saat ia pertama kali masuk ke ruangan itu. Hanya ada Arga yang masih memejamkan mata. Sedangkan pintu kamar mandi yang tertutup membuat Miana menyimpulkan seseorang telah ada di sana.
Perlahan Miana mendekati brankar Arga, dan meletakkan jinjingan berisi buah-buahan yang sempat ia beli tadi. Ia berdiri dengan mata terus menatap wajah Arga. Lebih tepatnya pada luka-lukanya.
"Sekali lagi, Arga. Maafin gue. Gue barusan dengar dari suster. Jika lo udah sadar sejak semalam. Menurut keterangan suster, itu terjadi saat gue baru aja pulang."
Miana merapikan selimut yang tersingkap, dan menarik pelan hingga menutupi dada. "Lo, pasti marah ke gue. Jadi, begitu gue pulang Lo baru sadar. Padahal gue nungguin Lo lama banget."
Di rumah gue juga kepikiran terus, harusnya gue nungguin Lo sampai sadar, baru gue pulang."
__ADS_1
Miana menarik kursi di bawah brankar lalu duduk tepat menghadap satu tangan Arga. Ia raih tangan berbalut perban seolah menelitinya. "Padahal, baru aja tangan Lo sembuh. Tapi ini udah ada luka baru. Harusnya Lo sayangi badan Lo, Ga." Ia letakkan kembali tangan itu ke tempat semula.
"Bukannya gue nggak tahu terimakasih. Tapi jika Lo nggak nolongin gue. Pasti Lo akan baik-baik saja, Ga."
"Ehemm."
Seseorang berdehem dari arah berlawanan dengan Miana. Sehingga ia harus memutar badan dan refleks berdiri saat lelaki itu mendekati Miana.
Melihat pintu kamar mandi yang terbuka, Miana menyadari ia yang berada di kamar mandi saat ia baru saja masuk tadi.
"E, selamat pagi, Pak. Saya Miana, teman Arga."
Dharma terkejut saat wajah Miana tampak jelas di depannya. Mengingat-ingat, kiranya dimana ia pernah bertemu.
Miana tersenyum canggung karena tidak mendapat respon apapun dari lelaki paruh baya di hadapannya. "Maaf, Pak. Apa saya mengganggu?" tanyanya hati-hati.
Dharma segera tersadar dan susah payah bersikap biasa kembali. "Eh, sa-saya banyak pikiran. Jadi, maaf. Saya tidak fokus. Siapa tadi namanya?"
"Saya, Miana."
"Oh, ya. Miana teman sekolah Arga, ya." Dharma mengangguk beberapa kali. "Saya, Dharma. Papanya Arga." Dharma mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Miana.
"Mm, maaf apa saya boleh minta tolong?" tanyanya pada Miana.
"Minta tolong apa, Pak?"
"Saya baru saja sampai dari Ausie. Dan saya akan mencari makan di luar dulu. Maukah Miana berkenan, menunggu Arga selama saya makan?"
"Oh, tentu saja bisa, Pak."
"Baiklah, saya keluar dulu, ya. Sebelumnya terimakasih, ya."
"Sama-sama."
Dharma mengeryit melihat anak lelakinya tengah terpejam. Padahal tadi setelah perawat mengganti infusnya ia masih bercakap sebentar dengannya. Sebelum ia membersihkan diri di kamar mandi. Merasa ada kesempatan, Dharma cepat-cepat menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya. Selama berjalan di lorong menuju kantin pikirannya tidak hentinya menerka-nerka tentang Miana. "Apa hubungan gadis itu dengan Sekar?"
..._tbc_...
__ADS_1
Oh, siapa lagi Sekar?