Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 99


__ADS_3

☘️


Minggu pagi Arga menjemput Miana untuk fitting baju di butik. Mobil SUV berwarna hitam mengkilat itu sudah berjalan selama tiga puluh menit dan baru saja sampai di pelataran butik.


Dengan menggandeng tangan Miana, Arga tak melepaskan barang sedikitpun. Seolah tak ingin kehilangan. Bahkan saat karyawan butik menyapa dan mengantarkan pada pemilik butik, Arga tak mau melepasnya.


Sampai di dalam, keduanya di sambut hangat, bahkan pemilik butik sempat melemparkan candaan. "Duh, calon pengantin. Maunya nempel, terus," canda pemilik butik dan membuat Miana merona sedang Arga tersenyum penuh arti.


"Lepas dulu, Ga!" Miana mencubit bahu Arga dengan tangan yang lain karena malu. Pemilik butik menyerahkan satu kebaya berwarna putih dengan panjang menjuntai hingga mata kaki sesuai pesanan Miana beberapa hari yang lalu.


"Panggil aku sayang, baru aku lepas," bisik Arga dan membuat wajah Miana menghangat. Arga selalu membuatnya tersipu.


"Di coba dulu, Miana! Jika nanti masih ada yang perlu kita benahi, kita siap membenahinya. Masih ada banyak waktu, kan?"


Di saat seperti itu barulah Arga baru melepaskan tangan Miana. Sedikit tak rela karena melihat Miana harus menuruti pemilik butik ke kamar pas.


Pekerja yang lain memberikan tuksedo warna senada dengan Miana, pada Arga. Hingga mau tak mau Arga beranjak dan mencoba di kamar pas, ruang yang bersebrangan dengan Miana.


Arga keluar lebih, dulu. Tuksedo dengan aksen beberapa lipit di sebagian sisi itu begitu pas di badannya.


Tak lama, Miana keluar dan membuat Arga mengangkat wajah dari fokusnya pada ponsel dalam genggaman.


Miana tampak manis dengan kebaya broklat berpadu ceruti premium putih tulang dengan panjang menjuntai hingga mata kaki berwarna senada. Rambut Miana yang di gulung tinggi asal membuat leher jenjangnya terekspos begitu .... memesona.


Ah, mengapa harus di gulung seperti itu, sih.


"Gimana, Ga," tanya Miana gugup karena Arga tak juga berkedip melihatnya.


Ya Tuhan, mengapa dua minggu berasa sewindu.


"Arga! Gimana? Apa ada yang kurang cocok?" tanya pemilik butik yang mengartikan lain karena Arga tak juga memberi komentar.


"Cantik,"


☘️


Sudah dua hari sejak fitting baju. Arga baru bertemu lagi dengan Miana sore ini.


Kedatangan Miana di antar Bian membuat Arga sedikit muram. Lain halnya dengan Miana yang sedang berbicara santai dengan Dharma di sofa ruang keluarga. Arga hanya sesekali melirik Dharma dan Miana yang sedang bercerita saat masa mudanya.


"Arga, kamu ada masalah?" tanya Dharma yang duduk di sebelah Miana. Sedangkan Arga memilih duduk terpisah. Ia merasa sang anak sedang menyimpan masalah karena hanya menyahut jika di tanya saja.


"Nggak ada. Arga mandi dulu ke atas, ya, Pa." Tanpa menunggu jawaban Dharma, Arga segera berlalu.


Merasa ada yang janggal Dhama bertanya pada Miana. "Kalian ada masalah?"

__ADS_1


Miana mengernyit lalu menggeleng pelan. "En... nggak ada, Om."


Sejujurnya Miana juga merasa Arga tengah cemburu. Setelah ia berfikir ia tadi datang bersama Bian. Bukan apa-apa, Miana hanya ingin menghargai Bian. Ia tahu, perjuangan Bian untuk berdamai dengan perasaannya. Ia sengaja tetap menjalin hubungan baik dengan menerima perlakuan Bian selayaknya teman biasa.


"Jadi, kamu masih penasaran mengapa papa mengenal Sekar?" Dharma kembali pada cerita yang di ceritakan sejak tadi.


"Ah, iya, Om. Miana jadi penasaran," ungkapnya.


Kini Dharma tersenyum getir sambil membenahi duduknya. "Sekar–ibumu," lirih Dharma. Ia selalu berdesir saat membicarakan tentang sosok cinta pertamanya itu. Bagaimanapun, cinta pertama akan tetap tersemat indah di sudut hati. Meskipun raga sudah tak dapat di jangkau.


"Miana, papa.. minta maaf sebelumnya."


Dharma ingin Miana menganggapnya papa, bukan orang lain. Maka dengan sangat, ia ingin Miana menyebutnya papa. Apalagi mengetahui Miana kini sudah hidup sendirian. Membuat Dharma pun sangat mendukung sang putra untuk membawa Miana ke dalam anggota keluarganya. Anak dari cinta pertamanya.


"Berjanjilah, setelah ini janganlah kamu menyalahkan siapapun dalam cerita papa."


Miana mengangguk antusias sebagai jawabannya.


Semoga, Miana tidak kecewa dengan ceritaku kali ini.


Terlihat Dharma menghela nafas dan mulai menerawang. "Dulu, papa, Surya dan Sekar adalah sahabat. "


"Papa," menyentuh dadanya, "dan mamamu dulunya adalah sepasang kekasih." Dharma sekilas melihat Miana lalu kembali menerawang. "Tanpa papa tahu, papamu juga mencintai mamamu. Papa menjaganya melebihi diri papa sendiri. Sikapnya, riangnya, mirip seperti kamu hingga papa semakin mencintainya. Sampai suatu ketika, sesuatu terjadi dan membuat papa merelakan Sekar–mamamu untuk Surya–papamu. Papamu sedikit menyesal, karena telah membuat persahabatan kami akhirnya rusak. Hingga papa harus menikah dengan Sarah, agar bisa membuat mereka mengikhlaskan kehidupan barunya." Dharma kembali mengelus dadanya yang mulai sesak. "Hingga ... "Dharma menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutupi.


"Sampai pada kematian papamu, papa hadir di pemakaman itu bersama Arga."


Seolah tahu wajah terkejut Miana, Dharma kembali melanjutkan ceritanya. "Arga yang mengehentikan papa untuk menemuimu. Padahal, papa sendiri ingin sekali memberi pelukan untuk menguatkanmu. Arga bilang, ini demi kebaikan semua. Entahlah, saya menurut saja. Baru setelah kamu pulang bersama teman-temanmu, papa mendekati pusara papamu dan mengucapkan maaf padanya seperti terakhir kali saya bertemu papamu di kantornya."


Dharma, maafkan saya. Saya telah menghancurkan perasaanmu juga perasaan Sekar. Aku pikir dengan memilikinya dan membuatnya memilihku, hatinya juga akan sepenuhnya jadi milikku. Nyatanya tidak, hanya aku yang berbahagia dalam pernikahanku. Sedangkan untuk Sekar... mungkin tidak. Ia hanya melakukan tanggung jawabnya sebagai istri yang baik. Tidak adanya saling terbuka membuat aku bertindak bodoh. Karena marah pada diriku sendiri, aku menduakannya. Dan puncak dari hukumanku adalah kematiannya. Bertahun-tahun aku hidup dalam rasa bersalah yang besar. Aku pun juga sakit seperti kalian. Oleh karena itu, aku minta maaf, Dharma.


Dharma yang teringat pengakuan Surya tiga tahun yang lalu menjadi berkaca-kaca.


Entah mengapa, melihat Dharma mulai berkaca-kaca, ia pun juga seperti bisa ikut merasakannya. Tanpa mereka sadari Arga yang sudah selesai membersihkan diri hendak menghampiri keduanya harus tertahan di anak tangga terakhir. Berdiri mematung di sana.


"Papa merasa bersalah pada, Om Dharma?" tanya Miana dan mendapat anggukan dari Dharma.


"Ya," Papamu merasa bersalah telah memisahkan mamamu dan saya hingga berakhir menikahi mama tirimu. Ungkapan panjang itu nyatanya hanya tertahan di batin Dharma saja. Itu sudah bukan ranahnya untuk bercerita. Biarlah. Miana selamanya tak mengetahui sebab kematian Sekar karena terlalu sakit menghadapi sang suami yang menduakannya.


Tak ubahnya, Miana. Argapun juga ikut merasa perih mendengar fakta baru yang belum di ceritakan Dharma.


"Ah, sudahlah Miana. Itu hanya masa lalu." Dhama kembali membenahi duduknya dan baru menyadari Arga sudah berdiri di belakangnya. Dharma menoleh. "Sini, Ga!"


Arga mendekat dan duduk di samping Miana. Jadilah Miana duduk diantara ayah dan anak itu. Ia usap sisa air matanya dan menatap Arga.


"Maaf, ya, jika kedekatanku sama Bian bikin kamu cemburu." Dari cerita Dharma, Miana mulai belajar mengambil hikmahnya.

__ADS_1


Arga tersenyum dan mengangguk. Ia senang, setidaknya Miana harus mulai menjaga perasaannya dari sekarang. "Iya. Udah cukup kamu bekerja di perusahaan dia. Jangan lagi kamu menjalin kedekatan lebih yang nantinya akan menyakitiku."


Miana bergeming sejenak. "Apa aku harus keluar dari perusahaan Pak Pram?"


Arga melirik Dharma yang menggeleng samar. Ia sependapat, tak mungkin meminta Miana untuk meninggalkan perusahaan Pram, orang yang sudah memberi tempat pulang serta keluarga yang menyayanginya. Di saat keluarga sendiri membuangnya. Arga tak akan se egois itu memberi Miana pilihan sulit. "Semua aku kembalikan sama kamu. Aku yakin kamu bisa menempatkan diri, Sayang."


☘️


Hal yang di takutkan Arga terjadi. Saat ia tengah makan malam berdua bersama Miana, selepas mengurusi undangan untuk di sebar seminggu lagi, Sarah datang mendekat ke mejanya.


"Tante," sapa Miana seraya berdiri namun tak di hiraukan oleh Sarah.


Sarah mengangkat dagu, seolah menunjukkan siapa dirinya. Sang bintang yang karirnya selalu stabil walau rekan sejawatnya sudah banyak menurun ketenarannya. "Arga! Ikut sama mama!" Sarah berucap tanpa mau melihat Arga maupun Miana.


Melihat wajah angkuh sang mama membuat Arga menggeram tertahan. Arga meletakkan sendok dan berdiri dari duduknya. "Ma, coba mama duduk di sini. Kita bisa bicara di sini. Ada Miana juga, Ma. Dia bukan orang lain. Dua Minggu lagi dia akan menjadi anggota keluarga kita." Arga masih berbicara dengan lembut, berharap sang mama dapat melunak hatinya.


"Apa, kamu bilang! Keluarga!"


Deg.


Miana terasa mencelos, mengapa Sarah terlihat tidak suka dengannya? Padahal, terakhir kali mereka bertemu hubungan keduanya masih baik-baik saja.


"Arga! Sampai kapanpun, mama tak akan merestui hubungan kalian." Sarah berganti menunjuk Miana yang kini ikut berdiri dengan keterkejutannya. "Dia! Anak si pengacau itu tidak pantas ada diantara keluarga kita."


"Anak wanita tak tau diri yang bikin Mama jadi jahat karena ninggalin kamu! Yang bikin kamu jadi jauh dari mama. Dia anak dari wanita itu ," Sarah sudah berurai air mata dengan tangan bergetar menunjuk muka Miana yang kebingungan.


"Ma!" Tanpa sadar Arga sedikit membentak Sarah.


Sarah tercengang karena suara Arga.


"Lihatlah, kamu!" Sarah menunjuk Miana lalu pada Arga dengan mata memicing tajam pada Miana. "Kau memberi pengaruh buruk pada anakku!"


"Cukup, Ma." Arga memgeratkan giginya tanda menahan rasa marahnya.


"Nggak, Tante," lirih Miana seraya menggeleng dan berusaha meraih tangan Sarah namun selalu di tepis kasar hingga Miana jadi terhuyung hingga kursi di belakangnya bergeser.


Hal itu membuat Arga semakin tersulut. "Sebaiknya mama pergi dari sini! Kita akan bicara nanti." Arga memejamkan mata berusaha menguasai dirinya.


Sarah yang kecewa karena Arga masih membela Miana lekas berlalu meninggalkan keduanya dengan berlinang air mata.


Sedangkan Miana sendiri masih mencerna baik-baik kata-kata Sarah yang begitu menusuk hatinya.


Arga mendekat dan merengkuh bahu Miana yang bergetar karena tergugu. Ia mendekatkan keningnya pada kening Miana. "Tolong, jangan pikirkan apapun. Aku yakin kita bisa lewatkan ini sama-sama."


☘️

__ADS_1


Selamat malam, selamat beristirahat 🙏


__ADS_2