Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 94


__ADS_3

☘️


"Agak cepat! Ya Pak!"


Pinta Miana pada sopir grabcar. Ia baru saja tiba di Jakarta. Ke kosan hanya untuk menaruh barang-barang yang dibawa. Bahkan belum sempat membersihkan badan ia sudah mendapat pesan urgent dari Bu Hefi untuk meeting.


"Siap, Mbak."


Di dalam mobil, Miana merapikan berkas berkas yang akan ia persiapkan untuk bahan meeting dadakan atas permintaan Hefi, kepala divisinya.


"Nggak tahu waktu, emang! Jam kantor udah mau habis, juga. Maksa masih ada meeting," gerutunya.


Saat tiba di kantor AMD Corp, Miana lekas menuju kubikelnya. Tak lama, Bu Hefi datang dan meminta berkas yang di maksud.


"Gimana, Bu. Sudah okekah. Atau saya perlu revisi?" tanyanya pada Bu Hefi selalu ketua divisi promosi.


"Yang ini," tunjuk atasannya pada beberapa titik dalam berkas. "Ini revisi segera, ya. Karena besok pagi-pagi sekali kita harus bertemu vendor. Semoga mereka setuju tanpa ada revisi lagi." Bu Hefi mengembalikan berkas yang semula di sodorkan oleh Miana.


"Baik, Bu. Saya kembali, ya."


"Hmm," guman Bu Hefi sambil memeriksa kelengkapan berkas dan membolak-balikkan. "Aaa, tunggu!"


Miana terpaksa menghentikan langkahnya dan segera berbalik tanpa beranjak dari tempatnya.


"Pastikan kirim ke saya, sebelum kamu kirim ke pihak office, ya. Kamu tahu kabarnya anak dari Direktur Utama Universal, supplier ini perfect banget. Dia teliti dan pasti sangat jeli." Bu Hefi memperingatkan lalu tanpa banyak bicara lagi Miana segera kembali.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, namun Miana belum terlihat untuk meninggalkan kubikelnya. Inilah yang membuat teman-teman Miana menyukainya. Loyalitasnya untuk perusahaan patut di acungi jempol.


"Tinggal kirim, udah, deh! Semoga nggak ada revisi lagi," ujarnya menyemangati diri.


Sambil berkemas beberapa kelengkapan kerjanya. Miana memerhatikan balasan atas email yang ia kirimkan pada pihak suplai barang.


"Nih." Satu cup kopi di letakkan Bian di samping tas selempang Miana.


"Apa nih."


"Kopi."


"Iya tahu. Tapi buat apa? Aku udah mau balik, loh."


"Kirain mau nemenin aku di sini."


"Aku udah lembur dua jam loh Bi" dengus Miana memandangi sinis Bian yang kini melipat kedua tangan di depan dada.


"Balik ke rumah, ya. Kasihan Raya, loh. Papa sama Mama udah ke luar kota lagi." Bian mode membujuk.


Miana melihat Bian tanpa mau menimpali. Ia sengaja memutus bibit pembicaraan panjang seperti biasanya. Baginya tinggal di tempat Bian, sekalipun makan dan apapun sudah ada asisten rumah tangga, ia tetaplah orang lain yang sudah di anggap anak sendiri oleh pemilik perusahaan tempatnya bekerja.

__ADS_1


"Gue balik ke kost, Bi. Mau bersih-bersih soalnya."


Jika Miana sudah keukeuh. Makan Bian bisa apa selain menyerah.


"Miana?" panggil Bian.


Miana pun melihat penuh pada Bian tanpa bersuara.


"Apa kamu mau balikan sama Arga?"


Pertanyaan Bian membuat Miana bergeming. Entahlah, ia pun tidak tahu jawabannya. Apalagi, siang tadi ia sendiri yang.mengusir Arga saat di rumah Bi Num.


☘️


Pagi-pagi sekali Miana dan Bu Hefi serta asistennya berjalan sedikit tergesa. Sesuai kesepakatan melalui email, mereka mengadakan janji temu di hotel dengan pihak supplier.


Sampai di meja yang sudah di reservasi, dua orang dari pihak supplier menyambut kedatangan Miana, Hefi serta asistennya dengan hangat.


Mereka segera memesan minuman dan makanan. Sambil menunggu pesanan, meeting di mulai. Penawaran yang Miana tawarkan sungguh menggiurkan hal itu membuat pihak supplier menarik keputusan untuk menyetujuinya.


Awalnya cukup alot untuk mencapai kata sepakat. Tapi, lagi-lagi berkat kepiawaian Miana, mereka akhirnya mengangguk puas. Terlihat dari binar yang keluar dari wajah wajah supplier.


Di meja lain, Arga sedari tadi menyimak meeting di meja Miana. Selain untuk mengawasi timnya yang sedang melakukan pengajuan produk baru di sebelah meja, yang di diduduki Miana dan timnya. Arga bahkan sempat merekam kegiatan mereka dan beberapa kali ia fokuskan pada Miana.


"Aku pasti sudah gila." Arga merutuki kebodohannya. Diam-diam mengikuti Miana. Serta melangkah hati-hati agar tak menganggu kenyamanan Miana.


Bukan tak punya keberanian, hanya saja ia ingin memberi ruang bagi Miana.


Jika saja ia tidak banyak memberikan luka pada Miana, pastilah keadaannya tidak secanggung demikian.


Posisi Miana duduk sejajar dengan Arga sehingga Miana tak begitu menyadari kehadirannya. Saat Miana beranjak Arga menunduk dan bersibuk memerhatikan Vidio dalam ponselnya. Melalui ekor matanya, Arga melihat Miana bergerak ke toilet.


Sedangkan Miana sudah merasa tak nyaman karena merasa sedang di perhatikan. Dan benar dugaannya, saat ia beranjak, sosok Arga meskipun tengah menunduk telah menjadi jawabannya.


Arga tak menjamin Miana tak melihat dirinya, karena sejujurnya ia tak ingin benar-benar menjadi pengecut yang takut Miana akan menyangkut pautkan kepentingan pribadi dan kantor.


"Itu tadi Arga bukan, ya," tanya Miana pada cermin di depannya. Ia segera menenangkan perasaannya yang berdebar. Meskipun meeting telah mencapai target dan kesepakatan, Bu Hefi belum berniat mengakhirinya.


Saat kembali ke mejanya, Miana sedikit kecewa karena sosok yang ia yakini adalah Arga telah menghilang.


Bu Hefi mengajak kembali ke kantor pada akhirnya. Selama dalam perjalanan Miana hanya diam meskipun Bu Hefi berceloteh panjang lebar mengenai hasil meetingnya. Raganya memang berada dalam mobil atasannya, tapi pikirannya entah terbang kemana.


'Kenapa harus diam-diam dan mengendap-endap, Ga? Apa hanya segitu usaha kamu buat sungguh-sungguh minta maaf sama aku?' batin Miana mengharapkan Arga.


Saat bekerja kembali pun Miana lebih banyak diam. Meskipun kubikel di sampingnya sedang bergosip ria. Bahkan kedatangan Bian membawakan makan siang ke kubikelnya baru ia sadari bahwa ia telah melewatkan makan siangnya.


"Kamu nggak perlu bawain makan ke sini, Bi." Miana hanya melirik satu box makan siang tanpa berminat menyentuhnya.

__ADS_1


"Di makan, dulu! Setidaknya kalaupun kamu mau nolak aku, kan juga butuh tenaga."


Miana mendongak untuk melihat wajah Bian. Masih tetap tegas tapi masih santai.


"Maaf ya. Kemarin aku spontan aja, bilang mama papa. Ternyata aku begitu takut kehilanganmu. Aku belum siap. Kamu pasti tahu maksud aku." Bian mulai menjelaskan alasan kedatangan keluarganya untuk meminang Miana ke Solo kemarin.


"Arga udah kembali. Kamu tahu kan, meskipun aku selalu percaya diri bersaing pad siapapun itu. Tapi nyatanya rasa takut itu masih ada," lanjut Bian mengungkapkan resahnya.


"Bi, bukannya kita udah pernah bahas ini sebelumnya. Aku anggap kamu udah seperti keluarga buat aku, Bi. Bukannya ini akan lebih kekal. Pak Pram dan Mama Hana udah anggep aku seperti anaknya sendiri. Itu udah buat aku lebih bahagia, Bi. Aku nggak mau ngerusak hubungan kita ini."


"Itu artinya kamu mau kembali pada Arga?" tuduh Bian dan membuat Miana kembali bungkam.


☘️


Miana meninggalkan kantor di antar ojol ke kosannya. Matahari sudah tak nampak sejak satu jam yang lalu. Begitu sampai di kostan ia segera membersihkan diri.


Ruang kost berukuran 4x4, lebih membuatnya nyaman daripada tinggal di rumah megah milik keluarga Pram.


Bertukar chat dengan Riska dan Nika sudah menjadi kesehariannya. Jarak yang memisahkan bukan halangan untuk membangun kedekatan dan komunikasi agar tetap terjaga.


Miana akan keluar sekedar untuk cari angin. Tinggal di kosan di tengah kota mudah baginya hanya berjalan kaki saja untuk ke pusat perbelanjaan. Hanya jalan beberapa meter saja sudah sampai di jalan utama.


'Perasaan kaya'ada yang ngikutin,' batin Miana sambil mempercepat langkahnya.


"Miana"


Miana menoleh pada sumber suara. Ada Raya bersama teman-temannya yang berjalan menghampiri.


"Sama siapa?" tanya Raya.


"Sendiri aja. Cuma mau beli beberapa keperluan, kok." Miana tetap tersenyum dengan ciri khasnya.


"Gabung aja sama kita." Raya menawarkan dan teman-teman mengangguk kompak.


"Oh, kenalin temen-temen aku," Raya memperkenalkan Miana sebagai teman kakaknya.


Dua teman Raya berjabat tangan dengan Miana pun membalasnya.


Miana enggan bergabung. Sedangkan Raya tak lagi memaksa dan berpisah karena berbeda tujuan.


Dengan mendorong troli, Miana mulai mengisi beberapa kebutuhannya. Tanpa ia sadari seseorang terus mengayun langkah meskipun menjaga jarak aman dengannya.


Sedangkan Miana sendiri sudah menyadari adanya Arga jauh beberapa langkah darinya. Ia tersenyum, jauh di lubuk hati ia merasa kasian melihat Arga demikian.


"Kemana sih," gumam Arga begitu kehilangan langkah Miana. Ia bergerak dari lorong ke lorong market tapi tak mendapati Miana. Barang yang ia ambil dari rak tadi bahkan sudah ia letakkan asal entah dimana.


Arga hampir frustasi. Tapi suara di belakangnya membuat tubuhnya membatu sejenak.

__ADS_1


"Kenapa terus sembunyi, Ga?" seru Miana. "Apa ini yang kamu dapat setelah belajar di Ausiie?"


..._tbc_...


__ADS_2