
Miana tergesa kembali ke rumah untuk menjemput papa, mama dan Sisil. Sedangkan Bi Num tetap tinggal di kontrakan untuk membersihkan tempat baru itu sembari menunggu sang majikan.
Miana membawa Sisil terlebih dahulu. Tidak ada wajah sinis ataupun tersenyum mengejek ketika ia menaiki motor Miana. Yang ada, Miana justru mendapat rengkuhan begitu erat dari ang adik yang duduk di belakangnya. Sedikit rasa haru di tengah kekacauan yang di alami keluarganya. Dengan kejadian ini Miana berharap adik kesayangannya dapat kembali bersikap hangat seperti dulu.
Namun,baru saja Miana menurunkan Sisil dan membantu membawakan koper ke teras rumah. Suara Sisil kembali membuat hawa panas menderanya.
"Serius, ini rumah batu kita," pekik Sisil sembari berjalan memasuki rumah. Melihat sekeliling dengan jari-jari menyentuh badan kursi, almari dan beberapa perabot utama di rumah kontrakan dengan jijik.
"Sil, tolong jangan seperti ini. Kita ini lagi kena musibah. Hanya ini yang dapat aku sediakan. Tolong, Sil. Jangan menambah keributan lagi." Sebisa mungkin Miana menahan kekesalannya. Ia tidak mau menambah masalah lagi.
"Oke. Aku mau kamar yang ini," tunjuk Sisil setelah ia melihat tiga ruang kamar. Tentu saja ia memilih ruangan yang terbesar diantara ketiga ruang kamar.
Sudah Miana duga, ini akan terjadi lagi. Di rumah lama pun juga demikian. Sisil akan bebas memilih sesuka hati dimana ia akan menempati diri. Dulu, saat kamar yang sedari kecil sudah Miana tempati berubah menjadi ruangan yang menarik karena karya tangan kreatif Miana, dengan sesuka hati Sisil merengek pada Mama untuk pindah ke kamar Miana. Miana berhati lembut itu awalnya tidak rela dan merajuk. Namun, setelah Bi Num memberikan pengertian, Miana kecil pun akhirnya luluh dengan senang hati merelakan kamarnya untuk Sisil.
"Sudah, Mbak Mia cepat jemput mama dan papa. Ini udah gelap, kasian papa, mbak."
Benar, lebih baik ia segera menjemput papa. Miana seolah tersadar, ketakutan akan kesehatan papa akan terganggu mengingat peristiwa hari ini. Ia gegas kembali menjemput papa dan mama, mengabaikan tingkah Sisil yang semakin seenaknya sendiri.
"Bawa, mama dulu, Miana. Papa belakangan saja."
Begitu titah papa pada Miana. Tanpa banyak bicara Miana membawa mama ke kontrakan.
Seperti respon Sisil sebelumnya. Mama pun juga begitu kesal melihat rumah kontrakan yang di pilih Miana. Tidak perduli dengan apa ia dapat menempati rumah ini tanpa keluar uang sepeser pun. Jangankan mengucap terima kasih, ia malah membuat luka baru pada Miana.
"Heh, jangan mentang-mentang kamu bisa bayar kontrakan dengan uang kamu sendiri trus mama akan bangga sama kamu ya! Ini itu belum seberapa, dibandingkan gimana nyusahinnya kamu sewaktu kecil. Ngerti!"
__ADS_1
Miana hanya tersenyum getir dengan ucapan Mama. Begitu menyusahkanya dirinya sewaktu kecil? Hingga mama kembali mengungkit di saat seperti ini. Tanpa sadar air matanya terjatuh pada sepatu sekola yang masih membungkus kakinya. Dengan seragam OSIS dan rok abu-abu di bawah lutut serta sweeter rajut berwarna maruun membungkus tubuh. Tas punggung juga masih berada di punggung.
Tidak mau berlarut larut, Miana segera meraih motor dan menjemput papa. Di terpa angin malam yang dingin, kulit yang semakin lengket karena belum tersentuh air membuat penampilan semakin berantakan. Rambut yang di ikat asal dengan berbalut helm bogo kesayangannya ia tengah melewati jalanan untuk ke sekian kalinya. Lelah, namun tidak ia rasakan. Apalagi melihat wajah papa, memandang nanar rumah yang hampir dua puluh tahun ia tempati.
"Pa," panggil Miana. "Ikhlaskan, Pa. Nggak apa, kita mulai dari awal. Ada Miana di sini, Ada mama dan Sisil. Bahkan Bi Num masih ikut bersama kita. Papa nggak sendirian."
"Maafkan papa yang tak berguna ini, Miana."
"Pa," protes Miana.
Surya memandang anak pertamanya dengan sayang. " Hanya kamu yang mengerti papa. Mama dan Sisil bahkan sangat kecewa dengan kegagalan papa ini." Papa terisak dan segara Miana berhambur pada pria paruh baya kesayangannya.
"Pa, lebih baik Miana kehilangan harta atau apapun itu, asalkan papa masih bersama Miana.
"Pa, jangan pikirkan apapun. Sekarang yang penting papa sehat. Bukan salah papa. Miana yakin, papa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan pekerjaan papa. Meski Miana tidak mengetahui seluk beluk berbisnis, Miana yakin, ini sudah menjadi resiko di dunia Bisnis ini ,Pa." Ujar Miana sambil melerai pelukan papa.
"Kalau begitu, Miana harus menjadi anak yang pintar. Agar kelak jika berbisnis seperti papa, tidak mudah di manfaatkan orang, ya, Sayang."
Miana terharu, ini merupakan panggilan yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lulus sekolah dasar dulu. Sibuknya papa dan jarangnya berkomunikasi membuat ia terasa jauh dengan sang Papa. Dan kini, ia sungguh bahagia mendengar sebutan dari papa untuknya kembali.
Miana kembali berhambur pada papa, sejenak merasakan pelukan menenangkan dari papa.
Surya segera melerai a pelukan pada Miana, ketika dada kirinya terasa sakit. Spontan Surya mengelus dada sebelah kiri agar dapat sedikit mengurangi rasa sesak.
"Pa," pekik Miana panik. "Papa kenapa?" cecar Miana. Tangannya menyeka kening Surya yang mendadak mengeluarkan keringat dingin. "Pa. Ayok, pa. Kita ke klinik. Papa masih kuat kan duduk di motor."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Surya. Miana memapahnya menuju motor. Setelahnya Miana membawa Surya ke klinik terdekat agar segera mendapatkan penanganan.
Tidak Miana hiraukan penampilannya saat ini, wajah putihnya begitu pucat. Rambut yang ia ikat semenjak pulang sekolah tadi kini sudah tidak berbentuk. Pikirannya hanya tertuju pada papa yang kini duduk di belakangnya.
Sesampainya di klinik, papa segera mendapatkan penanganan. Miana mencoba duduk dengan tenang. Namun, ponsel yang bergetar seakan mengingatkannya, sejak sepulang sekolah tadi ia tidak menghiraukan benda pipih itu. Begitu membuka smartlock di ponsel pintarnya jarinya lincah mencari nama Sisil untuk mengabarkan keadaan papa. Sambungan telepon segera terangkat dan Miana segera kembali mengirimkan lokasinya.
Saat Miana kembali memeriksa ponselnya, puluhan chat masuk begitu banyaknya. Segera ia mengetikkan pesan pada Dini, sang manager toko untuk izin karena tidak dapat masuk hari ini. Beruntung, Dini mengerti setelah mendapatkan penjelasan darinya.
Dokter keluar dari ruang tindakan papa. Menjelaskan jika papa mengalami tekanan. Dan tidak perlu kawatir karena Miana sudah membawanya tepat waktu.
Sedangkan untuk Surya, ia tidak mau keadaan semakin kacau jika ia harus di rawat memaksa dokter agar segera memberikan ijin untuk pulang.
"Miana, papa mau kita pulang saja," kata Surya saat Miana masuk di ruang tindakan.
Surya tertunduk getir, mengingat ia sudah tidak punya rumah lagi. Terlebih melihat wajah anak pertamanya yang terlihat berantakan dengan beberapa rambut yang tidak terikat sempurna.
"Pa, papa yakin sudah baikan," tanya Miana dan mendapat anggukan dari Surya.
"Dok, apa tidak apa-apa, papa pulang?" Tanyanya pada Dokter Ammy, terlihat dari name tag yang tersemat di seragam.
Dokter Ammy mengangguk dan memberi beberapa arahan agar papa dapat lebih menjaga kesehatannya. Tidak lupa ia memberi resep pada Miana untuk menebus obat. Setelah berterima kasih, Miana memapah Surya untuk pulang ke kontrakan.
☘️☘️☘️
bayar aku sama like dan komentar nya yah, pren🙏
__ADS_1