
☘️☘️☘️
Pagi menyapa, suara penjual sayur keliling yang menawarkan jualannya dan juga suara tukang bubur keliling yang tidak kalah ikut mempromosikan dagangan andalannya, menjadi pagi yang berbeda untuk Miana.
Miana tengah membersihkan debu yang menempel pada badan motor kesayangannya di teras. Sedangkan Surya masih terlihat lemah, duduk di kursi teras sambil memerhatikan suasana baru rumah tinggalnya.
Setelah menunggu Sisil dengan segala kerempongannya, Miana akhirnya membawa Sisil ikut serta ke sekolah. Selain menghemat uang, juga jarak sekolah dari kontrakan yang cukup jauh daripada jarak dari rumah lama, membuat Sisil berfikir ulang di saat kondisi keuangan keluarga sedang kacau.
"Sil, mau berhenti dimana kamu?" tanya Miana saat jarak sekolah sudah mulai dekat.
"Mana, yah, enaknya. Kalau terlalu jauh, capek juga," keluh Sisil.
Miana sengaja mengurangi kecepatan laju motornya. Sembari menunggu Sisil menyuarakan inginnya.
"Stop-stop, di sini aja , Kak!"
Dengan cekatan Miana menuruti Sisil. Menurunkan Sisil di sisi jalan yang masih berjarak beberapa meter untuk sampai di gerbang sekolah. Tidak lupa ia menerima helm yang di pakai Sisil tadi.
"Pulang nanti, nggak usah di tungguin, Kak. Pasti nanti Bian mau anterin aku," ucap Sisil.
Setelahnya Sisil berjalan terlebih dahulu sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena terkena angin.
Sedangkan Miana, menghela nafas berat dan kembali memutar tuas gas. Tanpa ia tahu, Riska yang berada di bangku penumpang sebuah mobil SUV berwarna hitam yang melintas mendahului Miana mengeryit melihat kedekatan sahabatnya itu dengan salah satu teman sekelasnya.
"Kok, mereka bisa deket banget. Nggak kaya' waktu di kelas, sih? Apa gue aja yang ketinggalan sesuatu?" tanya Riska pada diri sendiri.
Sesampainya di parkiran sekolah, tanpa sengaja roda depan motor Miana beradu dengan roda motor besar milik seorang yang tidak asing baginya, Arga.
Arga membuka penutup kaca helm full face berwarna hitam yang melindungi sebagian wajahnya.
"Ck. Pagi-pagi, udah ketemu burung beo," decak Arga.
"Huh, sebel banget pagi-pagi juga udah berurusan sama makhluk astral, ganggu banget."
"Siapa makhluk astral? Orang cakep begini, di bilang astral!"
"Ya, habisnya. Lo datang tiba-tiba."
"Ck, ngomong sama beo, buang-buang waktu."
b
"Udah deh, minggir dulu. Keburu bel, nih," protes Miana.
"Nggak, bisa! Gue duluan." Arga bersiap menarik tuas gas dan melepaskan koplingnya.
"Gaaaaa, ngalah dikit, Napa,sih! Gue cewek, loh," pinta Miana memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Ck, dasar beo." Arga mengalah, memberi jarak agar Miana dapat lewat lebih dulu.
Keributan antara Arga dan Miana itu tidak lepas dari mata Bian yang berdiri, di parkiran VIP. Tidak jauh dari mereka berebut tempat parkir. Bayu dan Arkan yang berada di samping Bian hanya berani berkomunikasi lewat bahasa tubuh dan mata. Tebakan keduanya, nampak tepat. Bian masih saja cemburu bila Miana dekat dengan yang lain.
Miana merapikan penampilannya, menyisir rambut dengan jari tangan dan juga sedikit merapikan seragamnya. Saat matanya bersirobok dengan Bian, ia segera memasang senyum tipis dan segera memangkas pandangan lebih dulu.
Arga yang menyadarinya hanya tersenyum meremehkan. Lengannya sengaja menabrak pelan lengan Miana sambil berbisik, "Terus aja pikirin, dia. Kelak juara kelas akan berpindah ke gue." Arga berlalu santai meninggalkan Miana yang masih enggan beranjak dari tempatnya.
Merasa tersindir, Miana mengikuti langkah lebar Arga, dan segera mensejajarkan jalannya. "Nggak usah sombong dulu, Naruto. Buktikan dengan hasilnya, nanti," ucap Miana sambil tersenyum pada Arga yang memutar bola matanya.
"Gue siap bersaing, Sakura," bisik Arga sambil menaikkan sebelah alisnya.
Tanpa saling ejek lagi keduanya memasuki kelas. Dan bersiap untuk ulangan tengah semester. Disusul oleh kedatangan siswa-siswi lainnya.
Bu Alin, memasuki kelas dan bersiap menjadi pengawas di kelas tersebut. Seluruh siswa bersiap dengan lembar teks yang sudah di bagikan pada bangku masing-masing.
Tenang dan bergitu khidmat saat penghuni XII IPA 1 melaksanakan test, membuat Bu Alin cukup bernafas lega, tidak meragukan kelas unggulan ini yang memang sudah di kenal dengan sekumpulan siswa siswi dengan nilai yang sangat memuaskan.
☘️
"Jelasin, kenapa tadi pagi Lo nurunin Sisil di trotoar depan?" todong Sisil saat ia mendudukkan Miana di bangku kantin. Dengan dalih akan mentraktir makan di kantin, Riska berhasil membuat Miana duduk tidak berkutik di depannya.
"Ap–apa Ris? E, itu, pasti kamu salah lihat. Ya, salah lihat." Miana gugup dan memutar otak agar Riska berhenti membahas Sisil. Tidak lupa ia tersenyum lebar agar sahabatnya itu kembali tenang.
"Miana Aludra, saya sudah mengenal anda hampir dua puluh tujuh bulan. Saya cukup baik mengenal anda. Anda tidak bisa berbohong pada saya, ya. Jadi lebih baik anda jujur sekarang tau saya akan mencari tahu sendiri," ancam Riska dengan wajah serius. Duduk melipat kedua tangan di dada.
Namun, sangat di sayangkan. Miana bukannya menciut, ia malah tergelak karena bahasa Riska yang aneh. Apalagi melihat mata sahabatnya yang membola, terlihat tidak terima.
Miana segera menenangkan Riska, ia yang semula duduk berhadapan bersekat meja kini beralih duduk di sampingnya. Ia berusaha tenang agar tidak terlihat mencurigakan.
"Kamu itu udah persis, emak-emak nggak dapat jatah bulanan,deh. Gitu aja pake ngegas. Gini, nih, ya. Ceritanya tadi gue berangkat ke sekolah, eh ada Sisil di jalan lagi nunggu angkot, ya udah gue ajak aja. Eh, dianya mau. Ya udah gitu doang. Trus anehnya yang mana?" kelit Miana. Ia tidak sepenuhnya berbohong.
Sisil menurunkan bahunya, tanda lega. Entah, lega untuk apa. Sedikit tersenyum, Riska meraih ice cola di depannya "Ya, coba, gimana nggak aneh? Di kelas, dia ke elo, nggak ada ramah-ramahnya, 'kan? Apalagi dia sama geng-nya itu, paling terdepan kalau menghujat, Lo. Lo nggak lupa, kan soal foto waktu itu."
"Gue udah nggak mikirin itu, Ris. Buat apa mikirin hal yang nggak gue lakuin? Ada yang lebih penting dari itu." Kini Miana tidak lagi bisa menutupi kesedihannya. Raut wajah ceria itu perlahan meredup. "Papa kena tipu, Ris. Sampai papa terpaksa menggadaikan rumah, mobil. Dan sekarang gue nggak punya rumah, Ris."
Penjelasan Miana membuat Riska terbelalak. "Hah, trus? Lo tinggal dimana sekarang?" tanya Riska prihatin.
"Gue ngontrak, Ris."
"Hah. Kenapa Lo baru cerita, sih, Na!"
"Ya, ini gue ceritain. Karena memang baru kemarin. Makanya gue kemarin izin lagi sama Mba Dini. Untung dia pengertian."
"Gue bisa bantu apa buat, Lo, Na?" tanya Riska semakin iba.
"Udah, Ris. Lo udah bantu gue, kok. Gue masih bekerja sampai sekarang, 'kan, karena Lo. Gue nggak tahu lagi dapat uang darimana buat bayar kontrakan, Ris, jika kemarin gue nggak kerja."
__ADS_1
"Papa Lo, mama Lo? Nggak ada gitu uang sepeser pun?"
"Mama–papa, lagi kalut banget kemarin, Ris. Masa' iya gue minta ke mereka. Apalagi papa sempat mau anfal."
"Ya ampun, Miana. Lo lewatin semuanya sendiri. Lo nggak inget gue? Sebisa gue, pasti bakal bantu, kok. Lain kali, Lo jangan sungkan lagi, ya, hubungin gue kalau ada apa-apa."
Miana tersenyum. "Lo sendiri juga lagi susah, 'kan. Karena perceraian orang tua, Lo. Gue aja nggak bisa bantu apa-apa, kok, Ris."
Riska pun kini berhambur pada Miana. "Gue nggak apa-apa. Gue bisa tanpa papa. Perusahaan punya mendiang kakek. Jadi, gue dan mama nggak akan kelaparan," ujarnya seraya melerai pelukan.
"Gue paham ada di posisi, Lo." Miana lebih bersyukur, setidaknya keluarganya masih utuh. Walaupun saat ini keluarganya tengah hidup kekurangan. Penghianatan Sandi–papa Riska, nyatanya tidak semudah itu mendapatkan maaf. Dan berpisah, adalah jalan keluar yang di ambil oleh orang tua Riska. Miana ikut menyayangkan.
☘️☘️☘️
Miana sudah kembali bekerja seperti biasanya. Beruntung teman-teman toko banyak mengerti dan tidak banyak protes karena sering kali izin. Malah mereka semakin simpati pada Miana. Terlebih dengan musibah yang menimpa Miana. Mereka semakin salut dengan Miana, yang rela mengorbankan waktu remajanya untuk bekerja.
Sementara Sisil, kini tengah sibuk mencari alasan saat Bian sekedar ingin mengantarnya pulang. Serba salah memang, ia gengsi jika Bian mengetahui ia tinggal di kompleks menengah ke bawah. Apalagi ia takut jika Bian tahu itu adalah rumah kontrakan.
'Duh, apes banget ,sih gue! Saat udah sama Bian. Gue nggak punya rumah. Nggak punya muka sekarang gue,' batinnya kesal.
"Jadi dimana, rumah Lo?" tanya Bian dari balik kemudi.
Terpaksa, Sisil pun jujur mengarahkan Bian menuju kontrakannya. Tidak banyak pembicaraan hingga sampai di depan rumah. "Emm, Bian. Apa Lo akan putusin gue, saat tau gue orang nggak punya?" tanya Sisil, saat akan turun dari mobil Bian.
Bian menaikkan sebelah alisnya. Merasa aneh. "Emang gue ada tampang seperti itu?" tanya Bian kembali.
"Yaa, takutnya, Lo nanti ilfil sama gue," lirih Sisil tidak bisa menyembunyikan raut gelisahnya. "Gue bener-bener cinta sama Lo. Gue nggak mau jauh dari Lo, Bian," lanjut Sisil.
Andai yang berkata hal ini adalah Miana. Tentu Bian akan sangat senang mendengarnya. Namun, entah kenapa, bagaimanapun usaha Bian untuk membalas cinta Sisil nyatanya ia tetap tidak bisa. Niatnya mendekati Sisil hanya untuk membuat Miana menyesal, tapi kini Bian seolah terperangkap pada permainannya sendiri. Semakin mengenal Sisil, ternyata ia adalah gadis yang menyedihkan.
"Udah, Lo turun, gih. Gue ada janji sama Bayu soalnya."
"Janji apa?" tanya Sisil.
"Gue mau balapan."
Sisil berbinar. "Gue boleh ikut, 'kan," pinta Sisil.
Meskipun terpaksa, Bian mengiyakan permintaan Sisil. Dan memutuskan untuk menunggu Sisil berganti baju. Tidak lama, Sisil muncul dengan rok jeans selutut dan blouse tanpa lengan berwarna mint, flat shoes membalut kaki dan tas selempang berwarna hitam.
Walaupun penampilan Sisil cukup memukau mata. Namun, bagi Bian perasaannya tetap sama. Tidak merasa bergetar sedikitpun.
☘️☘️☘️
Ck, Bian, Bian. Pusing aku mkirin elo, Miana udah jauh tuh elo masih stay aja di tempat.🤭🤣🤣🤣
...SELAMAT HARI MINGGU...
__ADS_1
...HAPPY SUNDAY...
...HAPPY HOLIDAY 😍😍😍...