Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 81


__ADS_3

Perlahan, Miana mencoba menepikan segala hal tentang Arga. Ia sadari, kepergian Arga darinya pasti ada sebab dan sudah ia pikirkan matang-matang. Entah apapun alasannya, Miana hanya berusaha percaya semua akan baik-baik saja. Nyatanya, malam itu Arga tak sedikitpun menyinggung kata berakhir, jika memang Arga ingin mengakhirinya.


Meskipun rasanya salah, ciuman untuk pertama kalinya itu justru seperti awal keseriusan. Setidaknya, begitu Miana memberi kekuatan pada hatinya yang tengah terluka.


Bagaimanapun bentuk perpisahan itu, pasti akan meninggalkan luka.


Miana tersadar dari lamunannya saat getar ponselnya mengusik malamnya di teras kamar. Ya, Miana duduk di teras kamar, tengah menikmati udara malam dari lantai dua.


[Hai, mantan. Lagi apa? Keluar, yuk. Bosen aku di rumah.]


Satu pesan dari Bian membuat Miana mengernyit tak mengerti. Pasalnya, ia tahu jarak tiga jam dari asrama dengan tempat Bian pastilah sangat jauh. Baru jalan saja sudah menyita waktu, lalu bagaimana bisa keluar bersama?


[Gue baru aja pulang kampus. Habis melengkapi registrasi. Ospek hari ke tiga besok, pasti menguras tenaga. Gue mau istirahat.] Balas Miana lalu mengangkat kursi plastik ke dalam kamar.


Ada Nika sedang bersibuk dengan laptop di pangkuan. Ia pasti sedang mengerjakan tugas. Entah apapun itu.


"Lagi, nugas, ya, Ka."


"Iya, nih. Kating senior kasih tugas banyak banget." Nika membenahi letak kacamatanya. Ia katakan tugas dari senior terkesan aneh-aneh.


"Aku udah, sih. Bikin puisi cinta. Tema bebas, jadi pas aja sama yang gue rasain."


"Kan, kan. Di pikirin lagi. Kan aku udah bilang, kalau jodoh nggak akan kemana," terang Nika dengan senyum meyakinkan.


"Tapi kalau jodohnya nggak kasih kabar, gimana bisa tenang."


"Jangan kamu resah perihal jodoh. Itu semua udah di atur sama yang di atas. Tugas kamu sekarang ya belajar sungguh-sungguh. Udah."


"Kamu nggak tau aja, Nik. Bagaimana aku meluluhkan hatinya dulu. Sulit banget. Sampai-sampai, dulu aku hampir nyerah."


"Secinta itu kamu sama pacar kamu?" terka Nika dan Miana justru terdiam menggigit ujung pulpen dan menerawang jauh.


Satu notifikasi pesan membuat Miana meraih benda pipih itu dan membuka kunci layar. Ia tak lagi menimpali pertanyaan Nika.


[Gue serius, Mantan. Coba Lo keluar kamar dan lihat di gerbang.]


Miana terbelalak membaca pesan dari Bian. Tak menunggu lama, ia gegas keluar kamar dan berhenti di teras. Menumpu tangan pada pagar. Benar adanya, ada Bian di bawah sana. Berdiri di samping mobil kesayangannya.


"Kok, bisa, sih." Miana sempatkan pamit dengan Nika, tanpa mendengar sahutan Nika. Ia lalu berjalan menuruni tangga tepat di samping kamarnya. Mulut Miana terus bergumam menerka-nerka keberadaan Bian di sana yang begitu mendadak.


"Hai," sapa Bian tersenyum teduh saat Miana sampai di hadapannya. Ia menegakkan tubuh yang semula bersandar di badan mobil.


"Kok, Lo bisa di sini?" todong Miana mengabaikan sapaan Bian.


"Suka-suka, gue, lah. Tempat umum, juga. Semua bebas datang kemari." Bian tersenyum licik lalu menyapu pandangan ke halaman asrama lalu kembali pada Miana. Celana kulot panjang dan kaos lengan panjang berwarna putih longgar membalut tubuh Miana. Tubuh yang menurun berat badannya itu sedikit tersamarkan dengan pakaian yang Miana kenakan.


Miana menyipit dan melipat tangan di dada.

__ADS_1


"Jangan sinis, gitu, napa. Ayok, aku ajak keluar. Apa kamu nggak bosan di kamar terus. Hm?" Bian meraih lengan Miana lalu segera di tepis oleh gadis itu.


"Gue capek, Bian. Mau istirahat." Miana menunjuk arah kamarnya.


Dari teras kamar, Nika melihat Miana yang sedang berbicara pada Bian. Orang yang pernah sekali ia temui.


"Cuma makan, doang, Miana. Ayo!"


Bian kini kembali menarik Miana, membukakan pintu dan sedikit memaksa Miana masuk. Hingga mau tak mau Miana menuruti ingin Bian.


Setelah memutari mobil, Bian lekas masuk di balik kemudi dan menjalankan mobilnya. Miana tak tinggal diam. Ia terus mencecar Bian akan tujuannya. Ia ungkap juga tidak menyukai cara Bian memaksanya. Sedangkan Bian sendiri hanya bersikap santai. Tanpa terganggu dengan ocehan Miana di sampingnya.


Miana kesal sendiri. Ia melipat tangan di dada. Dan menoleh ke samping. Enggan melihat Bian. Keheningan sejenak ada dalam mobil itu. Sampai Bian membelokkan mobilnya di area cafe. Bian turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Miana. "Silakan, Ibu. Jangan lupa senyum. Karena senyum itu ibadah."


Miana yang awalnya kesal sedikit terurai akan candaan Bian.


"Garing." Miana turun sambil menyisir rambut panjangnya dengan jari.


"Biarin, garing. Yang penting berhasil bikin Lo nggak kesel lagi."


Keduanya lantas berjalan beriringan ke dalam kafe. Memilih tempat duduk dan Bian memesan cake dan dua kopi latte.


"Bian, Lo belum jawab pertanyaan gue."


"Pertanyaan yang mana, Mantan pacar?"


"Serah, deh."


"Hei, sejak kapan, Miana jadi mudah ngambeg begitu. Nggak asik, ah. Dulu kamu nggak begitu." Bian menepuk meja, menatap Miana.


"Lo, juga. Sejak kapan jadi cerewet. Banyak omong, menyebalkan pula."


"Tapi Lo suka, kan," goda Bian menaik turunkan alisnya sambil tersenyum simpul.


"Gue pulang, nih." Miana berdiri dari duduknya. Sengaja menggertak Bian.


"Yahh. Jangan dong." Bian memegangi lengan Miana erat-erat. "Jarang-jarang kita ada moment begini."


"Maksud, Lo!"


"Ya ... Lo tau. Dulu jarang banget kita bisa keluar berdua gini, kan."


Miana menghela nafas. Dan duduk kembali dengan tangan Bian terlepas.


Akhirnya Miana, mencari ide lain sebagai topik pembicaraan. Agar tak membicarakan hal yang sudah berlalu. Baginya, Bian memang pernah ada di hatinya. Namun, tidak untuk sekarang. Saat seperti, ia teringat Arga. Entah kapan ia ada kesempatan untuk mengunjungi rumah Sari. Hanya untuk memastikan Arga tengah baik-baik saja. Hanya itu


Tak lama, pesanan datang. Keduanya lantas terhanyut dengan obrolan seputar kampus dengan segala prodi yang ada. Dari Miana, akhirnya Bian semakin yakin dengan pilihan fakultas yang ia pilih. Dan besok pagi ia sudah mulai masuk. Memulai dunia baru, meninggalkan segala tingkah absurd berganti dengan dunia baru yang akan menjadi bekal kehidupan selanjutnya.

__ADS_1


Nika menanyakan keberadaan Miana melalui pesan. Miana jujur saat ini sedang ada di cafe dengan Bian. Nika kembali membalas untuk pulang sebelum larut. Takut akan di nilai buruk oleh kepala asrama.


Semua itu, Miana sampaikan pada Bian dan membuatnya mengerti.


Setelah menghabiskan cake dan latte, keduanya lekas pulang dan tidak ada perdebatan lagi. Yang ada, Miana memberikan saran-saran pilihan prodi dan ia kembalikan lagi pada Bian.


Sebagai seorang rich man sejak lahir, Bian tak menemukan kendala berarti. Biaya kuliah sudah terpenuhi. Tidak seperti Miana yang bergantung pada peruntungan biasiswa.


Hal buruk yang harus Bian ubah, yaitu lebih menghargai waktu dan tak berbuat seenaknya sendiri. Jika saat di bangku SMA ia akan lari ke UKS dan memilih tidur di sana saat malas bertemu guru. Hal itu harus ia ubah mulai sekarang. Pejuang biasiswa saja begitu semangat menempuh pendidikannya. Apalagi dirinya yang akan menghabiskan banyak biaya.


"Ingat, Bi. Besok Lo harus gegas daftar. Lo nggak mau kan, gue lulus lebih dulu." Miana terpaksa menyombongkan diri agar Bian bersemangat untuk kuliah.


"Ya ... Sudah waktunya gue sungguh-sungguh. Kasian mama, sih. Gue anak lelaki, gue harus bisa di andalkan."


"Jadi, Lo pilih kampus mana? dalam negeri kah? Atau, luar negeri kah?"


"Ada, deh."


"Hm, percaya. Sekali jentikan jari juga. Lo bebas pilih kampus mana aja. Nggak kaya' gue, nih." Miana melihat ke halaman asrama lalu kembali melihat Bian. "Dah, Lo pulang, gih. Udah malam." Miana turun dan menutup pintu. Ia berbalik tanpa beranjak dari sana.


"Oke. Mimpiin gue, ya."


"Dihh," sinis Miana menepuk body mobil.


Bian terkekeh di buatnya. "Hati-hati, Miana."


Miana mengangguk dan tersenyum pada Bian lalu mengucapkan terima kasih atas traktirannya.


"Jangan ngebut, Bi. Udah malam. Tiga jam dari sekarang pasti udah jam sebelas sampai rumah. Lekas tidur. Dan besok segera


daftar kuliah," saran Miana masih di depan pintu mobil.


"Ok," jawab Bian tanpa suara. Hanya senyum yang ia perlihatkan pada Miana.


Setelah Miana masuk gerbang asrama dan bergerak ke dalam, barulah Bian melajukan mobilnya kembali.


Dari depan pintu kamar 21A, Nika memerhatikan Miana yang berjalan melewati halaman dan menaiki tangga.


Nika tersenyum menyambut kedatangan Miana dan mengajaknya masuk.. "Kalian kelihatan deket baget," ungkap Nika saat Miana menutup pintu kamar.


Miana megambil air dari dispenser lalu membawanya ke meja. "Iya, Nik. Kita pernah dekat. Sekarang, aku lebih nyaman begini. Temenan aja."


"Nggak ada temenan yang murni di antara lelaki dan perempuan, Na."


Gelas yang sudah habis isinya itu di letakkan perlahan di meja. Miana terdiam sejenak. Lalu menggeleng samar. Menyangkal penuturan Nika.


☘️

__ADS_1


__ADS_2