Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 25


__ADS_3

Inginnya mendekat dan memeluk sosok itu. Namun, kakinya seolah sedang terpaku di tempat. Cuitan teman-teman kembali melintas di benak. Perlahan rahang mengeras di sertai tangan yang mengepal menahan rasa yang ingin meledak seperti bom waktu.


Namun, kedua mata sendu di iringi lelehan air mata di kedua sudutnya kembali memporak porandakan pertahanan Arga. Ia tidak akan setega itu untuk meluapkan kemarahan sekaligus rasa rindu di sudut hatinya.


"Argaza," lirih sosok itu. Namun, cukup di dengar dengan baik oleh Arga.


"Arga, sini nak," titah Oma. Tangan terbuka menyambut sang cucu yang sudah ia anggap sebagai anak keduanya.


Perlahan Arga mendekat pada Oma, melewati sosok wanita yang begitu elegan meski berusia empat puluhan. Sempat tertangkap oleh sudut mata, sosok itu memejamkan mata. Dan sialnya dari sudut mata itu lolos sudah dua bulir bening jatuh teronggok di lantai begitu saja yang sangat mengganggunya.


Tepukan tangan di punggung begitu memenangkan dari Sari, perlahan melunakkan rasa penuh sesak dalam dada Arga. Arga kembali memandang wanita di depannya yang masih berdiri dengan nafas tercekat kembang kempis.


"Ada perlu apa anda datang kemari?" sarkas Arga pada wanita yang berdiri bersekat meja dengannya. Ya, hanya itulah kata dingin yang sanggup keluar dari mulut Arga.


Sarah tercengang dengan kata yang keluar dari putra pertamanya. Putra yang dia abaikan karena ego lebih mendominasinya kala itu. "A–pa kabar Arga? Bolehkah mama memelukmu?" ucap Sarah parau.


Arga terbelalak. Tidak percaya akan permintaan wanita itu. Ia tidak bodoh. Meski tahu wanita di depannya adalah wanita yang telah mengandungnya dan bersamanya selama satu tahun. Dengan tidak tahu malunya mengatakan hal itu.


"Apa sedang ada kamera di sini!" Arga memerhatikan sekeliling ruang tengah. "Oma, katakan apa sebelumnya ini sudah dalam skenario wanita itu. Arga takut ini akan mendongkrak namanya menjadi lebih terkenal lagi. Dan kita hanya di manfaatkan olehnya." Arga memegang lengan Oma dan mendapat gelengan dari Oma. Wajah tua itu menahan isak tangis agar tidak keluar saat ini.


"Lalu, untuk apa dia di sini, Oma." Teriak Arga sambil menunjuk wanita yang kini tengah terisak. Matanya menatap nyalang pada Sarah.


"Arga tenang," pinta Oma. Tangannya tidak berhenti mengelus punggung Arga yang sudah bergerak naik turun akibat luapan emosi. Mata tajam sang cucu kini membuat Sari tidak tahan hingga tangisnya keluar juga.

__ADS_1


"Arga. Mama akan menjelaskan semuanya padamu, Nak. Berikan kesempatan pada mama untuk berbicara denganmu," pinta Sarah berusaha meyakinkan Arga. Tangannya mengusap kasar air mata yang terus berjatuhan. Sesak dalam dada melihat kemarahan Arga. Sesal tentu selalu ada di dalam raganya. Jika saja ia bisa jujur alasan meninggalkan putra pertamanya waktu itu maka akan ia katakan sekarang, di depannya. Namun, baginya Arga belum siap menerima kehadirannya kembali terlebih ini kali pertama ia bertemu tatap secara langsung selama 17 tahun yang lalu. Dulu, dengan mengendap-endap ia sering melihat Arga kecil di halaman sekolah sewaktu taman kanak-kanak. Di luar pagar, ia hanya bisa melihat itu. Tanpa mampu untuk mendekat. Hingga tahun-tahun berikutnya hanya itu yang dapat ia lakukan. Tanpa banyak orang yang tahu. Dan semenjak tahun ke tiga sekolah dasar, Arga kecil sudah tidak ia temukan lagi. Menurut informasi dari sekolah, Arga tengah pindah ke luar negeri. Dan itu sempat membuatnya tertekan. Ibu mana yang akan baik-baik saja jika berjauhan dengan buah hatinya. Dan hanya dengan putri kecilnya dari suami yang baru, yang dapat mengalihkan kesedihannya.


"Mama? Anda bilang mama! Sekarang anda datang mengaku mama di depan saya! Lalu apa kabarnya anak kecil yang meraung di depan anda belasan tahun yang lalu yang anda abaikan? Pernahkah anda berfikir bagaimana hidupnya setelah itu! Nyonya Sarah Wijaya?" Tekan Arga di akhir kalimatnya.


Arga menoleh pada Oma. "Jika tidak ada hal penting lagi. Suruh wanita itu pergi saja, Oma," tekan Arga. Badannya memunggungi Sarah.


Deg. Tersayat sudah hati yang sedari tadi sudah retak. Anak yang baru saja di ketahui keberadaannya kini benar-benar mengikis jarak yang cukup jauh darinya. Tangisnya semakin meraung ketika langkah cepat sang anak dengan mantap menjauhinya.


Sedikit ribut suara Oma dan wanita yang tengah mengandungnya itu. Di lantai bawah. Arga tidak perduli, lebih baik ia menghindar dan bersembunyi di kamarnya. Namun, setelah ia membanting pintu kamarnya. Tangisnya pecah juga seiring meluruhnya tubuh tegapnya bersandar pada daun pintu hingga berakhir di lantai marmer keabuan dalam kamar. Tidak dapat di pungkiri. Ia juga rindu bertemu wanita yang biasanya hanya dapat ia lihat di layar kaca. Air mata yang di lihatnya tadi bukan air mata acting seperti yang ia lihat di televisi. Itu sungguh air mata luka yang begitu besar.


Arga berlari ke kamar mandi dan menghidupkan shower, membiarkan badannya berbalut seragam OSIS itu basah. Perih di buku tangannya yang terkena air, ternyata lebih perih dari penyesalannya membentak wanita yang teramat ia rindukan.


☘️


Miana tiba di rumah, motor matic kesayangannya ia parkir asal di halaman rumah lantai dua itu. Melihat suara mama dan Sisil menangis di ruang tamu membuatnya berlari untuk melihat apa yang terjadi.


"Papa," Miana menghampiri dan mengguncang tubuh Surya. "Apa yang terjadi, Pa?" tanya Miana. Ia melihat empat orang berstelan hitam tengah berdiri melihat tajam ke arahnya.


"Pak? Ada perlu apa anda sekalian di sini?" tanya Miana pada ke empat lelaki di depannya. Mama sudah terlihat lemas dengan Sisil yang terus memeluk mama.


"Begini. Ayah anda tengah menyerahkan rumah ini sebagai jaminan terhadap hutangnya yang sudah menumpuk pada Bank, kami. Dan kedatangan kami, untuk menyegel rumah ini karena hari ini udah melewati batas tempo keringanan dari kami. Maka, silakan kosongkan rumah ini hari ini juga."


"Jangan ada perlawanan. Atau kami kan memanggil pihak yang berwajib untuk mempermudah jalan kami," imbuh pria yang lain.

__ADS_1


Seperti berputar saja rumah ini. Apalagi melihat Bi Num beserta Pak Agus yang sudah bersiap dengan enam koper di hadapannya. Ia hanya memandang ayah yang sudah memandang sayu padanya. Dari sorot matanya terlihat permohonan maaf yang teramat dalam. Miana berusaha keras untuk tidak menangis melihat ini semua. Begitu tiba-tiba. Terlebih kedatangan papa setelah dua bulan ini berikut kabar mengejutkan ini. Padahal ia selalu berdoa agar papa mendapatkan kemudahan dalam pekerjaannya. Ia ikhlas tidak dapat bertukar kabar pada papa. Nyatanya selama dua bulan ini banyak masalah yang papa hadapi, tanpa ia tahu.


Rumah disita dengan dua mobil beserta asetnya. Beruntung motor Miana masih dapat menjadi miliknya. Bi Num masih setia ikut dengan keluarga itu. Sedangkan pak Agus lebih memilih pergi karena permintaan Papa.


"Pa, Ma, biarkan Miana sama Bi Num mencari kontrakan dulu. Begitu nanti sudah dapat. Miana akan jemput mama dan papa di sini."


Tidak ada sahutan dari Miranti begitu juga dengan Surya. Keduanya masih terdiam membisu. Sedangkan Sisil hanya terduduk nanar melihat kedua orangtuanya.


Di luar pagar besi yang menjulang. Ketiga orang terkasih Miana terduduk dalam diam. Sesekali Isak tangis mama menyayat hati Miana.


Gegas Miana berdiri dan menggandeng Bi Num untuk mencari kontrakan.


Lagi-lagi ia masih beruntung, motor hadiah dari papa masih dapat ia miliki. Kini menjadi teman untuknya mencari tempat tinggal untuk berteduh.


Ia melajukan motor sesuai arahan dari Bi Num. Berkali-kali kecewa karena kontrakan penuh. Hingga semakin petang barulah ada setitik cahaya menjadi penerang di ujung pencarian.


Kontrakan rumah sederhana dengan tiga kamar dan satu ruang tamu, satu dapur menyatu dengan ruang makan. Hanya ada satu kamar mandi yang berada paling belakang. Sungguh amat sederhana, cat dinding yang terlihat sudah mulai memudar. Tidak apapalah, bagi Miana ini sudah lebih dari cukup.


Harga sewa yang membuat Miana merelakan separuh gaji pertamanya di minimarket, ia serahkan pada pemilik kontrakan. Lagi-lagi ia masih beruntung. Karena ATM yang tersita itu. Tekatnya untuk bekerja paruh waktu kini dapat menolongnya. Bi Num sudah menawarkan uang yang ia punya. Namun, Miana tidak enak hati menerimanya. Terlebih Bi Num baru saja kembali dari kampung halaman.


"Bi, seperti kata papa. Kita belum tentu mampu membayar Bi Num. Apalagi dengan keadaan kita yang seperti ini. Bukankah lebih baik Bi Num pulang saja."


"Bi Num banyak sekali bersama papa dan keluarga ini dalam suka. Jadi, Bi Num tidak akan meninggalkan keluarga ini saat keadaan susah. Terlebih ada Mbak Miana yang sudah seperti anak sendiri bagi Bibi," ucap Bi Num.

__ADS_1


Miana lekas memeluk wanita bertubuh gemuk itu. Tumpah sudah pertahanan Miana. Ia yang terbiasa kuat. Kini dapat meluapkan sedihnya di hadapan Bi Num yang lebih dari sekedar asisten rumah tangga baginya.


☘️☘️☘️


__ADS_2