Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 7


__ADS_3

☘️


Arga sibuk mengatur tripod. Sebuah alat penyangga handphone yang sangat di minati beberapa orang saat ini. Alat ini dapat di atur ketinggiannya agar memudahkan pengambilan gambar atau video.


Beberapa kali menyetel ulang agar panel pengaturan lebih mudah di gerakkan sesuai keinginan.


Miana dan Angel sedang menyerahkan surat tugas pada pemilik badan usaha. Kepiawaian Miana dalam berdiskusi tentu tidak di ragukan lagi oleh Angel dan Rio.


Apalagi, dulu Rio sempat menaruh hati pada Miana karena sifat ramahnya. "Kamu memang selalu bisa di andalkan, Mia." Kata Rio saat melihat binar wajah Miana keluar dari ruang tersendiri itu.


Bisa di pastikan ruang itu tempat menerima tamu atau tempat meeting kecil pemilik usaha. Dan, keluarnya Miana di susul Angel di belakangnya dengan wajah riang sudah dapat di simpulkan bahwa permohonan mereka di terima.


Miana dan Angel menghampiri Arga di ruang tunggu, sedangkan Rio berada di antara produk-produk hasil furniture. "Rio, sini." Miana melambai pada Rio agar berkumpul di ruang tunggu.


Miana menjelaskan hasil negosiasinya kepada timnya. Permohonan mereka di setujui dan sore ini juga siap untuk proses wawancara. Arga dan Rio segera mengerti dan bersiap membawa peralatan mereka ke tempat sasaran.


"Ga, gimana kalau di part dua nanti, Lo yang jadi moderatornya," pancing Miana. Ide jahil muncul begitu saja. Sengaja ingin mengetahui seperti apa jika Arga berbicara panjang lebar ala moderator atau pewawancara. Menurut Miana, teman baru yang selalu bersikap santai dan irit bicara ini harus ia ajak bicara terus, agar tidak membosankan.


Arga tersenyum miring, "Lo lupa. Lo yang udah bagi tugas. Dan semua sudah sepakat. Gue curiga, Lo sengaja, ya, mau pancing gue."


"Jangan kawatir. Gue akan bicara jika di perlukan nanti,"


Jackpot. Benar sekali tebakan Arga dan itu membuat Miana meringis menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Kebaca banget, ya," ujar Miana menutupi rasa malunya.


"Lo emang nggak bisa diem, ya." Arga melirik malas pada Miana.


"Ya, daripada cuma diem-diem nggak ada yang di omongin," bela Miana.


Perbincangan mendekati perdebatan itu terjeda karena Angel datang dan mengajak semua untuk melihat proses furniture dari bahan mentah, hingga barang siap di buat sesuai pesanan.


Miana dan Angel bertugas sebagai pewawancara. Sedangkan Rio membantu mencatat hal-hal penting untuk ia kumpulkan sebagai bahan informasi. Sedangkan Arga selalu mengarahkan kamera digital dan ponsel yang sudah ia pasang pada tripod, agar tetap on pada objeknya.


Tanpa terasa, Arga ikut tersenyum kala Miana memberi jeda dengan sedikit bercanda di sela pengumpulan informasinya. "Candaaan garing," gumam Arga.


Arga masih fokus pada dua fitur kamera di hadapannya dan pada ponsel pribadinya.


Sedikit risih, Arga membersihkan debu dari bahan baku yang tidak terasa mengenai lengannya. Dan itu tidak sengaja tertangkap manik mata Miana. "Dia anti debu juga, rupanya," batin Miana.


Proses demi proses sudah mereka telusuri, dan banyak informasi baru yang mereka dapatkan.


Hampir pukul 17.30 mereka menyelesaikan tugasnya. Dan bersiap pulang. Setelah mereka berpamitan dan mengucap banyak terimakasih karena sudah banyak di bantu dari pihak pemilik usaha.

__ADS_1


Rasa lelah membuat Angel memijit kaki mulusnya. "Lo nggak capek, Mia." Angel melirik Miana yang masih memeriksa hasil bidikan Arga. Ia sengaja mengcopy pada laptopnya agar lebih mudah proses pengeditan.


"Pengambilan gambar yang pas," gumam Miana, meneliti sebagian video itu.


"Total banget, sih, Mia. Masih lusa ,kan, pelaporan tertulisnya. Kita bisa kerjakan besok," komentar Angel.


"Ya, kalau bisa sekarang. Kenapa harus di tunda-tunda, sih," jawab Miana masih terfokus pada laptop di pangkuannya.


"Eh, ngomong-ngomong gue laper, nih. Cari makan dulu, yuk," ajak Miana. "Ya, Ga, Rio. Apa kalian nggak laper?" Tanya Miana, ia mengalihkan fokusnya dari benda lipat itu.


"Ya, laper, lah. Udah jam makan, nih." Rio menyahut tanpa mengalihkan mata dari ponselnya.


"Ga," panggil Miana.


"Hm,"


"Dari tadi, Lo nggak dengerin gue ngomong!" Miana menepuk bahu Arga.


"Apa, sih, main tepuk aja." Arga menatap Miana pada kaca di atasnya. "Gue denger,"


"Ya terus?"


Arga melihat Miana kembali pada spion dalam. Menaikkan sebelah alisnya. "Iya, ini gue lagi cari rumah makan."


"Oh, iya. Gue lupa, Lo anak pindahan, ya. Ngomong-ngomong, pindahkan dari mana?" tanya Miana antusias. Tangannya kini lincah mengemas laptopnya dan memasukkannya pada ransel.


"Ausie,"


"What? Ausie. Tapi kok bahasa Indonesia, Lo, lancar banget."


"Ck. Lo mau wawancara asal usul, gue?" tuding Arga.


"Ih, apa. Enggak penting banget." Miana menatap ke samping lalu lalang pengendara yang berjalan sejajar dan terkadang saling mendahului, mencari celah agar terhindar dari kemacetan.


"Nggak penting tapi kepo," gumam Arga.


"Deket sini ada rumah makan, Ga. Nggak ada lima ratus meter," usul Rio sembari menelisik sekitar karena senja sudah berubah menjadi gelap.


"Eh, bukannya itu Bian, Mia!" Angel menepuk bahu Miana dan dengan cepat Miana mencari-cari sosok yang sangat ia harapkan.


Benar. Bian ada di balik kemudi dengan Sisil di sampingnya. Dalam hati sedikit berdenyut. Tidak bisa di pungkiri ia cemburu karena kedekatan Sisil pada Bian. "Oh, iya. Mereka kan, satu tim. Lalu dimana Bayu dan Riska," gumam Miana. Ia sempatkan untuk mengetik pesan pada sahabatnya itu. Namun, ia segera menyimpan ponselnya karena tidak juga mendapat balasan.

__ADS_1


Perlahan mobil Bian pun melaju, berbeda tujuan dengan tim Miana.


Lalu perlahan mobil Arga menepi pada pelataran sebuah rumah makan di susul bunyi peluit kang parkir menginstruksi mobil Arga agar terparkir rapi. Keempat pemuda itu lalu keluar dari pintu yang berbeda. Mereka mengikuti langkah Rio yang sudah berjalan lebih dulu.


Memilih meja dengan empat kursi yang saling berhadapan.


Rio memanggil pelayan untuk memesan menu makan kali ini.


"Aku steak aja, minumnya lemon tea." Miana memberikan buku menu pada Arga.


"Samain, aja."


Akhirnya mereka berakhir dengan menu yang sama pun dengan Rio dan Angel.


Setelah pelayan mencatat semua pesanan dan berlalu dari mereka, Miana memandang ketika temannya bergantian. "Seriusan semua sama dengan selera aku?" tanya Miana pada ketiganya.


Arga diam tidak menanggapi. Sementara Angel menjawab asal," Pengen cepet aja, sih,"


"Pilihan Lo, pasti enak, Mia." Rio menatap Mia." Jadi ingat, dulu saat proker ke Bandung itu. Makanan yang o pilih rasanya juara. Gue lupa namanya,"


"Seblak," sahut Miana cepat.


"Nah, itu dia. Awalnya gue geli lihatnya. Kerupuk di rebus. Aduh," Rio bergidik lalu tersenyum. "Tapi setelah Dev memaksa gue makan, gue jadi jatuh cinta sekarang."


"Gue nggak suka pedes," ucap Angel.


"Behh, rasanya nagih banget, ya, kan, Mia," ujar Rio mencari pendukung.


"Gue kadang, iseng bikin di rumah. Asal ada mie rebus, ada kerupuk atau makaroni, sosis, bakso, sawi, telur dan saos, udah. Jadi deh, dalam 10 menit," terang Miana bersemangat.


"Di Australia, nggak ada, 'kan makanan begitu," tanya Rio pada Arga yang tetap tenang memerhatikan celetukannya dan Miana.


Arga hanya menggeleng pelan.


"Sayang banget," lirih Rio.


Diam-diam, Arga mengetikkan nama "seblak" pada fitur ponselnya. Ia sedikit penasaran karena teman barunya yang sangat ramai di sampingnya itu, menjelaskan dengan antusias, Miana.


Dilansir dari Makanan Indonesia, seblak merupakan makanan khas dari Bandung yang mulai populer sejak tahun 2000-an. Kata seblak diketahui berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti “terhenyak”. Seblak bisa juga disebut sebagai masakan yang berbahan dasar kerupuk mentah, kemudian dimasak memakai bumbu tertentu di sertai beberapa rempah.


☘️

__ADS_1


Duh, jadi pengen seblak, nih.🤭🤤🤤🤤🤤


__ADS_2