
☘️
Setelah tutup toko, Miana bersiap pulang setelah merapikan meja kasir dan menyetorkan hasil sales hari ini. Jika biasanya ia satu shift bersama Hamdan dan Puji. Kali ini ia dengan team yang berbeda. Bersama Ibnu, Bagus dan Rossy. Mereka semua juga team yang solid dan saling membantu.
"Pulangnya, hati-hati, yah, kalian," ucap Bagus setelah ia memeriksa gembok rolling door, memastikan pintu terkunci dengan baik.
Baik Miana maupun Rossy mengangguk seraya mengepalkan tangan dengan ibu jari tetap berdiri tegak.
Hanya Miana yang masih berstatus sebagai pelajar SMA. Sedangkan Rossy dan Bagus merupakan mahasiswa di universitas setempat. Sedangkan Puji, Hamdan, Maya dan Ibnu merupakan karyawan tetap yang paling lama bekerja di sana. Bekerja di minimarket sebagai pekerjaan utama.
Miana bergegas pulang, perut sudah terisi nasi karena Mbak Dini membelikan makan untuk seluruh karyawan. Lumayan bisa mengurangi jatah makan di rumah.
Hampir sampai di depan rumah. Miana menghentikan motornya karena merasa tidak asing melihat mobil Daihatsu Ayla berwarna merah berada di depan rumah.
Miana dapat menebak jika adalah mobil Bian.
Benar saja, tidak lama Bian keluar dari rumah dan berjalan menghampiri mobilnya.
"Gawat. Itu benar-benar, Bian." Miana bergegas memutar motornya, ia tidak mau jika keberadaannya di ketahui oleh Bian.
Miana mencoba berbelok ke warung di ujung gang, berdalih membeli mie instan. Secara, pasti tidak enak aja mampir di warung tanpa membeli apa-apa.
"Warga baru ya, Neng?" tanya pemilik warung.
"Iya, Bu," jawab Miana.
"Jadi totalnya sembilan ribu. Mau nambah apa lagi?" tawar pemilik warung.
"Ah, sudah. Ini saja, dulu, Bu. Lain kali beli lagi di sini." Miana mengulurkan satu lembar pecahan sepuluh ribu pada pemilik warung dan mendapatkan kembalian satu koin seribu rupiah.
Miana menerima dengan canggung. Sekarang, uang seribu rupiah sangatlah berarti baginya. Dulu, ia bahkan bisa lebih dari itu untuk menyumbang sebagian uang sakunya pada anak-anak panti asuhan setiap satu bulan sekali. Sekarang, kesempatan itu mustahil ia lakukan. Mengingat dirinya harus berhati-hati membelanjakan uang.
Bersyukur, saat Miana telah selesai menerima belanjaan, mobil Bian melintas. Ia terpaksa bersembunyi berlindung di balik MMT yang terpasang di muka warung.
"Bian beneran nganter Sisil? Tapi kenapa semalam ini. Kemana mereka?" monolognya.
Cepat -cepat Miana membuang pemikirannya tentang Bian. Miana kembali ke rumah. Mengingat papa tidak mengetahui jika dirinya bekerja, ia mengendap lewat pintu belakang rumah. Suasana komplek yang cukup ramai menyamarkan deru motor Miana. Ia segera masuk setelah pintu di buka Bi Num.
Meski terkejut, Bi Num paham dan tidak banyak bicara.
Melihat ayah tengah ada di ruang tamu bersama Sisil dan mama, membuat Miana lega. Segera ia meletakkan alat sekolah dan membersihkan diri dan berganti baju.
Bi Num datang membawakan segelas susu coklat panas kesukaannya, membuat Miana merasa terharu.
"Makasih, Bi. Besok-besok, nggak usah di bikinin susu lagi, ya, Bi. Mendigan uangnya untuk keperluan yang lain saja," ucap Miana setelah menghabiskan satu gelas susu pemberian Bi Num.
__ADS_1
Bi Num tersenyum dan mengatakan jika ini adalah susu yang di bawanya dari rumah lama. Miana memberikan tiga lembar seratus ribu pada Bi Num. "Ini, Bi. Buat keperluan sehari-hari."
"Mbak Mia, bibi udah di kasih sama Papa tadi pagi," tolak Bi Num. "Simpan saja buat keperluan Mbak Mia, ya."
"Oh benarkah. Kalau begitu, Miana simpan lagi uangnya, ya, Bi."
"Papa juga sebenarnya menyuruh bibi berhenti bekerja di sini. Karena tak mampu membayar bibi. Tapi bibi masih mau bersama mbak Mia di sini. Mbak Mia nggak keberatan,'kan jika bibi di sini," lanjut Bi Num.
"Tentu saja tidak keberatan, Bi. Miana seneng kok. Tapi, bagaimana Bibi bisa kirim uang untuk Hasan di kampung, Bi. Jika bibi nggak ada penghasilan?"
"Bibi mau sambil jualan, bagaimana?"
"Wah, ide bagus, Bi. Miana siap bantu, Bibi." Miana berbinar mendengar rencana Bi Num.
"O, iya. Tadi papa nanyain, kok sampai malam mbak Mia belum juga pulang... "
"Trus, trus Bibi jawab apa?" desak Miana.
"Ya, bibi bingung mau jawab apa. Akhirnya, bibi asal jawab jika mbak Mia masih ikut les. Dan mama terlihat setuju terbukti mama juga mengangguk."
"Oh, syukurlah."
"Saran Bibi, Mbak Mia jujur saja. Toh pasti juga papa nggak akan marah. Apalagi jika keadaannya sedang seperti ini," ujar Bi Num memberi saran.
Sayangnya Miana menggeleng tidak setuju. "Mama bakal marah nanti, Bi. Nanti di kira Miana mau cari muka, lagi," keluh Miana.
Miana mengangguk. Dan memikirkan waktu yang pas untuk membicarakannya dengan mama.
☘️
"Gimana, udah lo antar balik?" tanya Bayu pada Bian yang baru saja mendaratkan duduknya di belakang rumah.
Setelah puas menumpahkan penat lewat berbalap di sirkuit pribadi milik Bian. Bayu memutuskan untuk ke rumah Bian sementara Bian mengantarkan Sisil pulang. Alhasil, Bayu lebih dulu sampai.
"Udah," jawab Bian singkat. Dan mendapat decakan dari Bayu.
"Segitu meresapinya Lo mainin peran, sebagai pacar Sisil. Padahal, Lo kan cuma mau buat Miana sadar."
Bian meliris sinis pada Bayu dan meneguk air mineral yang tersedia. Ia menghela nafas berat terlihat banyak berfikir. "Gue jadi kasihan, setelah tahu keadaan Sisil. Ternyata ia tinggal di kompleks yang padat penduduk. Keluarganya sederhana. Dia mohon-mohon sama gue, buat nggak mutusin dia saat tau dia anak orang nggak punya. Picik banget, ya, pemikirannya."
"Nggak salah, sih, dia bersikap picik, mengingat siapa Lo dulu."
Bian menatap datar pada Bayu. "Lanjutin, gue tau Lo belum selesai ngomong!"
Bayu meringis. "Sialan. Lo mau pengakuan apa dari gue? Emang bner kan, Lo suka main putusin anak orang sesuka Lo. Apalagi jika Lo udah bosan."
__ADS_1
Bian tersenyum masam. "Ya,.... Tapi itu dulu. Sebelum gue kenal Miana."
"Ck. Miana lagi," ucap Bayu lemah. "Mendingan, jika Lo masih sayang dia. Ya udah perbaiki hubungan Lo. Atau Lo minta balikan sama dia. Gampang kan!"
Bian melempar asal corn stik yang ada di meja pada Bayu. "Bian minta balikan sama cewek? Yang benar aja Lo," protes Bian.
"Dih, gengsi di gedein!" Bayu beranjak dari duduknya. Meraih jaket dan memakainya.
"Mau kemana, Lo?" tanya Bian.
"Pulanglah."
"Tidur di rumah gue, kenapa!"
Bayu melirik ke balkon lantai atas. Ada Raya di sana, yang memerhatikan ia dan Bian. "Gue tinggal, ya. Udah ada Raya tuh, di atas. Jika buat temen debat, pinter dia." Bayu menunjuk Raya dengan dagunya, membuat Bian memutar badan seraya mendongak.
Di rumah sebesar ini. Bian hanya tinggal berdua dengan Raya juga beberapa asisten rumah tangga, juga satu sopir yang menjadi teman hidupnya. Menyedihkan sekali kehidupan orang seperti Bian. Hidup bergelimang harta namun minim kasih sayang keluarga. Lalu dimana orang tuanya? Mereka sibuk kerja, dan selalu bolak-balik ke luar negeri.
"Ya, dah. Take care, Bay."
Bian memandang punggung Bayu yang kian menjauh. Ia lalu kembali menatap Balkon tempat Raya tadi. Raya sudah tidak ada di sana. Bian pun menghela nafas ,ia beranjak dari duduknya. Mencari di mana adiknya berada. Bagaimanapun ia adalah seorang kakak sekaligus orang tua bagi Raya. Ia harus tahu kemana adiknya pergi dan dengan siapa ia bergaul.
☘️
"Pa, papa cepet sembuh, dong! Kita nggak bisa kaya begini terus. Anak-anak masih butuh biaya besar. Papa cari kerja lagi, dong."
Miranti mendengkus kesal. Meletakkan obat di meja depan Surya juga air minum.
Surya diam dan meraih ponselnya. Ia tidak mau menyahut perkataan istrinya. Agar menjaga emosi serta kesehatannya.
"Papa, ini. Kalau di ajak bicara itu kasih respon, dong. Mama nggak mau ya, terus-terusan susah begini. Nggak bisa ke salon. Di rumah aja, bosen, Pa."
"Kalau bosen, ya keluar aja, Ma. Itu tetangga pada ngerumpi. Biasanya juga mama suka ngerumpi, 'kan," tuding Surya.Tanpa melihat ke arah istrinya, ia masih berkutat dengan ponsel di genggamannya.
"Enak, aja. Mama ngerumpinya berkualitas, ya. Saling sharing informasi. Levelnya beda, sama ibu-ibu kompleks di sini. Yang ada mereka tuh, ngegibah. Mama sih, ogah, nanti di ejek terus. Apalagi kita miskin karena kebodohan papa."
"Tergantung mama, yang meresponnya. Buktinya Bi Num, bisa, itu."
"Papa kok jadi samain mama sama Bi Num! Kita ini beda, Pa. Nasib kita aja lagi nggak beruntung sekarang ini."
"Ma, coba deh lebih bersyukur lagi. Dengan ujian ini, kita jadi banyak waktu berkumpul loh. Kita bisa bicarakan apa saja. Tentang anak-anak misalnya."
"Bersyukur darimana Pa? Nggak punya penghasilan begini, kita harus bersyukur? Pa, realistis, dong! Kita nggak bisa hidup tanpa uang, Pa!'
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
..._tbc_...
Aku up 2 bab ya 👉👉👉👉