
☘️☘️☘️
"Udahlah, Kak. Ngapain, sih, di pikirin 'mulu. Putus ya udah, cari yang lain!" Raya mendengkus kesal pada Bian. Berada di sofa yang sama, karena mama sehabis video call, meminta maaf belum bisa pulang cepat.
"Ya, lo enteng ngomong begitu. Gue yang jalanin, Ra!" Bian memeluk bantal sofa. Namun, matanya menatap tajam pada Raya.
"Ya, memang Miana itu beda, dari Caris, Helen, Monik atau siapalah itu. Tapi berlarut larut sedih begini buat apa Kak!" Raya menyebutkan deretan nama para mantan kakaknya, sejauh yang ia tahu. Karena memang mereka satu sekolah. Tidak heran, Raya tahu bagaimana kakaknya berulah.
"Toh, Miana juga udah bilang sendiri, 'kan! Kalau dia udah nggak sayang sama kakak! Buat apa kakak masih ngarepin dia? Patah hati begini, seperti bukan kak Bian yang gue kenal loh ... " Raya menghentikan sejenak saat Bian melirik tajam, terlihat tidak terima. "Nggak enak, loh, Kak, kalau cinta cuma sepihak." Raya melanjutkan kata-katanya.
Bian mendengkus. "Aku masih aneh aja. Beberapa pekan lalu gue masih baik-baik aja. Tapi, sejak foto itu beredar. Kesabaran gue mendadak menguap. Pengen hajar tuh bapak-bapak!"
"Gue juga pengen membungkam mulut receh mereka yang masih membicarakan Mia."
"Kak, inget kata mama papa, jaga nama baik mereka. Jangan bikin ulah lagi,"
"Iya. Berisik banget, sih. Memang gue mau apa! Lo, udah kaya' Mia aja, lama-lama!"
Raya tersadar sesuatu. "Iya, ya. Sejak kenal Miana, aku jadi ikutan cerewet kek dia." Raya bersila menghadap sang kakak serius. "Tapi, emang foto kemarin itu bneran, loh, Kak. Bukan editan. Aku nggak tahu sebenernya gimana, tapi aku langsung jijik aja gtu lihatnya."
Bian melirik malas pada Raya. "Kenapa di pertegas, sih! Dan lagi, kalau Lo kenal Miana. Mungkin nggak dia lakuin hal nggak bener? Nggak percaya pasti kan!"
Bian kini melipat kedua tangannya. "Gue bukan permasalahin hal itu. Karena memang bukan itu yang gue kecewakan. Melainkan dia, dapat dengan mudah keluar malam. Sedangkan ke aku sendiri? jarang sekali dia mau aku ajak jalan! Terlalu banyak alasan yang dia keluarkan. Dari dulu. Bayangkan, cewek lain ketika gue mau datang ke rumah pasti dengan senang hati nyambut gue. Tapi, dia!" Bian menggeleng tidak percaya.
☘️
Sisil datang ke kamar Miana. Melihat-lihat seisi kamarnya. Mencari asal sebuah buku sasarannya. Tidak puas di situ ia mengorek isi tas punggung Miana yang tergeletak di tempat tidur. Begitu ia mendapatkannya ia segera tersenyum licik dan bergegas keluar kamar.
Tidak lama, Miana muncul dari kamar mandi.
Miana segera mencari seragam dan berbenah. Ia membiarkan rambut panjangnya terurai bebas. Memakai bedak bayi setelah ia mengoleskan pelembab dan juga sunscreen pada wajahnya, sedikit mengoleskan lip balm yang memberikan efek pink alami pada bibir imutnya. Sesederhana itu Miana. Berbeda sekali dengan sang adik yang sudah mengenal rangkaian skincare ternama rekomendasi dari mama.
__ADS_1
Mengingat mama, tadi pagi ia sudah mendengar suaranya. "Kapan mama pulangnya?" gumam Miana. Ia gegas keluar kamar meraih kunci motor dan tas punggung.
Sampai di meja makan, terlihat mama masih terfokus pada ponsel. "Pagi, Ma," sapa Miana.
Miranti melirik sekilas lalu kembali pada ponselnya. Berikut kedatangan Sisil kembali mengalihkan atensinya. "Sil, kamu marah ke mama?" tanya Miranti pada Sisil.
"Sil, capek sama mama. Mana bisa, Sil di suruh ngirit! Aku harus rutin perawatan, loh, Ma."
"Jadi masih masalah jatah mingguan! Kamu tahu, Sil! Jatah mama aja juga udah di batasin sama papa! Pasti mama juga harus atur buat kamu, donk!" Mama mulai tersulut emosi.
Sedangkan Sisil masih dengan wajah kesal seraya mengentak sendok sehingga bunyi nyaring dapat dengan jelas terdengar memekik telinga. "Mama udah nggak sayang, Sil. Mana bisa perawatan tiap Minggu di ganti dengan satu bulan sekali! Mama mau, wajah Sil jadi rusak?"
"Mama juga! Udah tahu lagi krisis. Masih aja liburan!" Sisil masih bersungut sembari memakan sarapannya.
Miranti menghela nafas berat. Sedangkan Miana hanya diam sambil menyuapkan sarapan ke dalam mulutnya. Memerhatikan dan mencerna pembicaraan mama dan adiknya." Oh, ternyata soal uang jajan dan jatah mingguan. Lalu apa kabarnya, dengan aku? ATM di sita. Uang jajan pun tak di berikan. Untung saja aku masih ada simpanan uang. Kalau tidak? Bisa ngigit jari aku," batin Miana.
Yah, seperti itulah Miana selalu tidak di anggap ada. Bicara pun selalu di abaikan.
Dari kecil Miana sudah merasakan hal itu. Namun, Sisil sebelum memasuki SMA adalah anak yang baik juga penyayang. Jika mama membelikan sesuatu pada Sisil, ia selalu meminta mama untuk memberikan barang yang sama pada Miana. Pernah suatu ketika mama memberikan satu gaun impiannya, tapi Sisil enggan memakainya karena Mama tidak membelikan juga pada Miana. Ahh, Sisil kecil memang adik yang baik. Selalu memikirkan sang Kakak. Puncak dari perbedaan mencolok pada Sisil adalah saat ia tengah menyukai orang yang sama dengan Miana semasa SMP. Akan tetapi anak lelaki yang di sukai ternyata lebih menyukai Miana dan enggan di dekati oleh Sisil. Cerita cinta monyet yang membuat Sisil berubah, dan kebencian pada Miana selalu di bawa-bawa sampai sekarang.
☘️
Sedangkan bagi Miana hal itu membuat sudut hatinya perih. Namun, hal ini sudah ia pikirkan matang-matang. Selain membuka jalan untuk Sisil ia sudah berniat untuk fokus pada pelajaran dan bekerja. Teman-teman yang biasa menyingungnya terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, kini sudah tidak lagi ia dengar. Baginya percuma melakukan pembelaan jika mereka masih menganggap ia perempuan tidak benar hanya karena satu foto dengan pakaian sedikit terbuka malam itu. Ia sudah tidak perduli.
Hari ini jangan terlalu sore, ya, Miana.
Mendapat satu pesan dari managernya, membuat Miana sedikit bergerak aman mengetik balasan agar tidak di ketahui oleh guru yang menerangkan di depan kelas.
Mengingat bekerja, Miana kembali berbinar. Ia harus lebih bersemangat untuk mencari uang jajan sendiri. Tidak mungkin dalam keadaan seperti ini ia mendesak papa untuk memberikan debit card yang di bawa Mama.
Arga menusuk pelan bahu Miana dengan pulpen saat panggilannya di abaikan oleh Miana. Bukan di abaikan, melainkan ia sedang terfokus bertukar chat pada managernya.
__ADS_1
"Apa, sih, Ga?"
"Pinjem catatan!"
"Ish, nggak da sopan-sopannya mau pinjam juga."
"Sopan gimana? Gue udah panggil baik-baik. Lo-nya dungu."
Miana menghadap ke belakang lalu meringis saja. "Ogah. Cari yang lain Kalau gitu!" Miana tersenyum receh dan menjulurkan lidah.
"Kalian! Berdiri di halaman!" Suara bariton seorang guru mengagetkan Miana dan Arga. Meskipun guru dengan wajah jenaka itu tidak terlihat galak. Namun, suaranya yang tegas itu mampu menciutkan nyali siapa saja.
Tatapan seisi kelas kini beralih pada Miana dan Arga.
Tidak bisa mengelak lagi, keduanya berdiri lalu meminta maaf pada lelaki paruh baya itu. Namun, ia masih Keukeh untuk memberikan hukuman pada kedua muridnya itu.
"Ini berlaku pada siapa saja, yang ngobrol sendiri saat mata pelajaran saya." Guru itu mendorong kaca matanya dan berkacak pinggang sambil menatap remeh pada Miana dan Arga.
"Pak. Bisa di ganti saja hukumannya,' pinta Miana memelas.
"O, tidak bisa. Kalau saya dengan mudah dapat menoleransi hukuman. Itu bukan saya. Dah, keluar sana. Jangan bikin drama, ya, Miana." Guru itu mengibaskan tangannya. "Dah, pacaran sana di bawah tiang bendera. Emang enak," lelaki itu mencebikkan bibirnya.
"Paaak, kita nggak pacaran kok," kilah Miana sungguh-sungguh.
"Wes. Pokoknya, kalian di hukum."
Lelaki itu kembali meraih buku materi pada mejanya. Dan bersiap melanjutkan pembelajaran.
Sementara Arga dan Miana melangkah gontai berjalan menuju halaman, bersiap menjalani hukuman.
..._tbc_...
__ADS_1
********
wkwkwkwk emang enak kena hukuman??🤭🤭🤭🤣