Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 41


__ADS_3

☘️


Sebuah tamparan mendarat di pipi Miana. Perih, kebas dan sakit teramat ia rasakan. Terlebih rasa sakit itu di buat oleh sang mama, Miranti.


"Berulang kali mama bilang, Miana! Jangan bikin gara-gara sama Mama!"


Miana menggeleng tidak mengerti sebab sang mama menamparnya. "Miana nggak ngerti, Ma," lirih Miana. Matanya mendadak memanas mendapat sambutan saat baru pulang bekerja. Tubuh lelahnya kian bertumpuk seiring mendapati kemarahan sang mama.


Miranti semakin hilang kendali saat isak tangis Sisil tertangkap di indera pendengarannya. Ia mendekati anak sulungnya yang masih mengenakan seragam toko. Kedua tangannya memegang wajah Miana dengan mata marah menyala. Ia putar wajah itu agar terfokus pada Sisil yang sedang meringkuk di tempat tidurnya.


"Lihat!" Miranti menunjuk Sisil yang kini semakin terisak, menenggelamkan wajahnya pada bantal.


Miana baru pulang bekerja, dan ia bingung dengan apa yang terjadi dengan adiknya. "Sisil,"


"Gara-gara kamu, dia di campakkan sama Bian. Puas kamu, sekarang. Puas!" Miranti mendorong Miana hingga tubuhnya terjerembab di lantai.


"Nyonya," pekik Bi Num.


"Diam kamu! Jangan ikut campur urusan keluargaku. Ini bukan ranahmu! Pergi," perintah Miranti ketika Bi Num hendak masuk ke kamar Sisil.


Dengan ketakutan, Bi Num terpaksa pergi. Namun, melihat wajah Miana yang berusaha tersenyum di sana membuatnya semakin diremas hatinya.


Keberadaan Bi Num tadi seharusnya mengingatkan Miranti untuk lebih mengendalikan diri. Namun, Miranti seolah tidak terusik. Padahal, tetangga di samping rumah bisa saja mendengar gaduh di rumahnya.


"Sil. Apa yang terjadi?" tanya Miana mulai beringsut untuk duduk.


"Jangan pura-pura kamu!" Miranti kembali menghardik Miana.


"Ma, Miana benar-benar nggak tahu apa yang terjadi," sanggah Miana ikut meninggikan suaranya. Lelah, lelah hati dan raganya menjadi sasaran sang mama.


Sisil bangun dan menjambak rambut Miana. "Bian putusin gue, Kak! Dia putusin gue," raung Sisil. Perlahan cengkeraman tangannya mengendur seiring tubuhnya yang sengaja ia hempaskan di lantai. Sebagian rambutnya menghalangi wajah cantiknya yang telah berantakan.


Sakit di pangkal rambutnya belum hilang. Sekarang Miana ikut merasakan sakit melihat keadaan Sisil. Yang ia takutkan terjadi, Bian pasti terpancing amarah sehingga ia memutuskan Sisil secara sepihak. "Kamu bikin salah apa sama dia, Sil," batinnya.


Sedangkan Miranti terduduk di atas kasur beralaskan dipan. Ia memegangi pangkal hidungnya yang ikut berdenyut menghadapi anak bungsunya.


Meskipun meragu, perlahan Miana meraih bahu Sisil untuk sekedar menenangkannya. Tidak ada penolakan. Yang ada, isak tangis Sisil semakin sering dan bergetar.


"Tenang, Sil," ungkap Miana.


Miana mengelus punggung Sisil dengan sayang. Ia bahkan hampir lupa, kapan ia terakhir memeluk Sisil seperti ini.


"Bian pasti balik lagi ke kamu."

__ADS_1


"Pasti dia nggak tahu apa yang ia lakukan."


"Aku bisa bantu apa buat kamu?"


"Cukup, Kak!" Sisil kembali mendorong Miana. Tatapan frustasi sekaligus sendu tersemat di sana.


"Kenapa sih, Kak. Kamu harus jadi saudara aku. Kenapa, sih!" Sisil berdiri dengan tangan menunjuk-nunjuk ke wajah Miana.


Tentu hal itu seakan menjadi tamparan tak kasat mata untuk Miana. Jauh lebih sakit dari tamparan tangan sang mama. Sisil bahkan telah menyesal bersaudarakan dirinya.


Dengan sisa hati yang remuk tak berbentuk ia menumpu tangan pada meja belajar Sisil untuk berdiri.


"Sil, dengan apa yang kamu perbuat sama aku. Sekalipun, aku nggak akan menyimpan dendam sama kamu, Sil. Tapi, saat kamu menolakku hari ini. Ini jauh lebih sakit, Sil." Miana meremas dadanya yang kian terasa sesak.


"Kamu pantas dapet itu, Kak. Kamu, tahu!" Sisil kembali menunjuk Miana meskipun air mata tetap berderai. "Setiap cowok yang gue suka itu pasti suka sama kamu. Itu yang bikin aku nyesel punya saudara kayak kamu!"


Miranti yang sedari tadi diam menahan gemuruh dalam dadanya ikut berdiri di antara keduanya.


"Sisil. Simpan air mata kamu. Kamu nggak perlu takut lagi sekarang. Karena memang Miana bukan saudara kandung kamu!"


Waktu seakan berhenti. Suara-suara dari luar rumah perlahan menghilang. Sepi, sunyi. Seolah seisi kota mendadak mati.


Baik Sisil, Miranti atau Miana semua terdiam. Terlebih dengan Miana, hatinya mencelos mendengar pengakuan Miranti. "Apa?"


Miana memandang Miranti, dengan air mata yang mulai menganak sungai di pipi. "Apa aku salah dengar?" lirih Miana.


"Mama sadar dan sangat sadar." Miranti tersenyum sinis.


"Miranti!" Suara tegas dan berat dari Surya membuat seisi kamar mengalihkan perhatiannya. Terlihat Surya baru saja datang dari bekerja, lengkap dengan kemeja serta jas yang sudah ia letakkan di lengannya. Tas kerja juga masih dalam genggaman.


"Papa," lirih Miana, Miranti dan Sisil serempak.


"Ada apa ini? Kenapa semua ribut di sini?" tegas Surya. Ia letakkan apapun yang ia bawa pada meja belajar Sisil lalu kembali memindai kekacauan yang ada.


"Anak kesayangan kamu ini berulang kali menyakiti Sisil. Sekarang, apa mama masih pantas anggap dia anak!"


"Cukup Miranti!" Surya berteriak. Matanya bergantian melihat kedua anaknya, sama-sama berbalut air mata.


"Pa, apa benar Miana bukan anak papa -mama?" tanya Miana dengan sendu. Berharap apa yang sudah berputar dalam benaknya dapat di tepis oleh sang papa.


"Mia–"


"Sudah waktunya untuk jujur, Pa! Dia sudah besar. Dia sudah dewasa." Miranti memeluk bahu Sisil yang masih sesenggukan.

__ADS_1


"Miranti!" Surya hendak melayangkan tangannya pada pipi Miranti. Namun, dengan cepat Miana menahan tangannya.


"Jangan, Pa. Mia, mohon, jangan!" Miana menangis semakin erat menggenggam tangan Surya.


"Lihat!" Surya membentak Miranti dengan mata membulat sempurna berkilat amarah yang ditahan. Tangan menunjuk Miana yang sedang memegangi sebelah tangannya. "Dia yang kamu anggap bukan anak kamu ini, lebih sayang kamu!" Tekan Surya di akhir katanya.


"Kita sudah sepakat dari awal Miranti. Kita tidak akan membahas ini lagi. Apa kau lupa!"


Miana melepaskan tangan Surya dengan perlahan. Awalnya ia ingin menepis kenyataan baru dalam hidupnya. Tapi Surya telah memperkuat dugaannya. Bibirnya terkatup rapat. Ia sudah lelah menangis. Namun, reaksi tubuhnya berkata lain. Tubuhnya bergetar seiring air mata mulai berderai kembali.


Miranti, Sisil dan Surya hanya bisa terdiam dengan pemikirannya masing-masing.


"Jadi, Miana anak siapa, Pa?"


Surya menoleh dan menatap penuh pada Miana. Begitu juga dengan Sisil.


Surya bergeming seolah baru tersadar sesuatu. "Apa yang kamu bicarakan, Mia. Kamu itu anak papa. Anak papa!" Surya meraih Miana dan membawanya ke pelukannya. "Tidak ada yang boleh menyangkal ini. Karena memang kamu anak Papa."


"Papa nggak perlu berbohong," lirih Miana.


"Miana. Jangan menguji Papa."


"Sekarang, kembali ke kamar. Dan jangan pikirkan ini," perintah Surya sedikit merendahkan suaranya pada Miana. Perlahan ia melepas pelukannya. Memberi ruang pada anak sulungnya untuk menangkan diri.


Dengan cepat, Miana segera keluar dari kamar Sisil. Begitu sampai di kamarnya, ia segera berhambur pada Bi Num yang sudah ada di sana.


Wajah tua itu juga tidak ada bedanya dengan Miana. Bagaimanapun, ia berusaha menahan air matanya. Namun, air asin dari kelenjar lakrimasi itu tetap keluar sebagai bentuk emosional dari dalam dirinya.


☘️


"Kenapa Lo putusin Sisil?" tanya Bayu.


Bian sedang menyesap gilingan tembakau berperisa mint, yang ia letakkan di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Ia hisap lalu mengeluarkan perlahan dalam bentuk asap tipis dari dalam mulutnya.


Bian hanya melirik sekilas dan memutar bola matanya. Tanpa berniat menjawab pertanyaan sahabat rasa saudara, yang ia kenal sejak masuk SMA. Bayu duduk di atas motor. Tidak jauh darinya duduk.


"Ck. Ngeri gue kalau Lo udah begitu." Bayu pun ikut menekan pemantik api, lalu menyulutnya di ujung gilingan. Dengan cepat asap putih mengepul melayang bebas di udara. Ia memindai kelap kelip lampu kendaraan yang bergerak seiring tujuan masing-masing.


Hening di antara mereka semakin tertelan dengan berisiknya suara yang berasal dari knalpot kendaraan.


Hilir-mudik kesibukan penduduk ibukota tidak mengganggu keduanya. Seakan sudah menjadi irama malam 'sepi' mereka. Bukan mereka tepatnya, tapi hanya Bian saja. Sedangkan untuk Bayu, dia adalah definisi teman sejati di kala susah juga senang. Beruntung saja, pacar Bayu–Riska, tidak pernah protes meskipun selalu di nomor duakan. Dia sudah kebal dan paham.


Bian menggilas Putung rokok dengan sepatu sport berwarna putih miliknya. Ia membenahi jaket berbahan kulit yang membalut tubuhnya. Turun dari pilar jembatan setinggi satu setengah meter dan menghampiri Bayu. "Cari cewek, yuk!"

__ADS_1


☘️


Ck Ck Ck, aku juga cewe' loh, A' Bian.🤭


__ADS_2