Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 13


__ADS_3

☘️☘️☘️


Tidak seindah yang dibayangkannya seperti dalam mimpinya, Pak Bambang memuji proker Miana bersama kelompoknya. Yang ada malah sebaliknya. Pak Bambang menyayangkan kesalahan kecil pada penulisan pelaporan. Namun, tidak buruk juga hasil yang di dapat. Semua terselamatkan karena Arga ternyata sudah membawa print out yang sudah di revisinya.


"Alhamdulillah. Makasih, ya, Ga. Nggak tahu jadinya jika nggak ada, lo," ucap Miana. Jangan lupa senyum semanis madu ikut serta di sana.


Arga hanya melirik malas pada Miana. Sedangkan Angel sudah memasang wajah genit.


"Semoga, jika nanti ada kerja kelompok lagi. Gue satu tim lagi sama lo, ya, Ga!" Angel bermaksud melingkarkan tangannya di lengan Arga.


Namun, belum sempat hal itu terjadi Arga sudah memasang wajah sinis. "Nggak usah nempel-nempel gtu, bisa, 'kan!" Arga terlihat marah. Melipat tangannya bawah dada.


Miana mencari cara aman. Meringis dan menarik pelan Angel untuk ke mejanya. Tidak lupa kursi yang sedari tadi di bawanya berkumpul di meja Arga, ikut ia bawa. "Jangan di usik. Tadi pagi gue juga udah kena komplain, Ngel."


Angel mencurutkan bibirnya kesal. Setelah itu pembelajaran berganti dengan mapel lainnya, di susul munculnya wanita berjilbab anggun mengenakan seragam khaki bersiap memulai pembelajaran.


☘️


"Kenapa, sih, Bian. Nggak bisa, ya, lembut dikit aja!" Miana menghentakkan tangan Bian yang sedikit membuat tangan Miana sakit karena terlalu kuat menggenggamnya.


"Kamu kalau nggak di paksa, nggak bakalan mau nemuin aku, 'kan!" Bian mengunci Miana di antara kedua tangannya menempel pada dinding ruang laboratorium. Sengaja, agar Miana tidak pergi begitu saja darinya.


"Gue bisa jelasin. Tapi, kenapa nomor aku, kamu blok!"


"Kenapa?" Miana memukul dada Bian meluapkan kesal. Namun, tetap saja Bian masih diam bergeming pada tempatnya.


"Diam, Miana! Aku ini masih kesal sama kamu. Tapi kamu diam aja nggak ada itikad baik buat lurusin soal itu. Gue ragu, Miana. Lo nggak bener bener cinta sama gue." Bian menahan tangan Miana yang terus memukulnya. "Atau memang, kamu senang putus dari aku!"


"Gimana bisa! Nomor aku, kamu blok. Apa kamu lupa!"


'Sebenarnya aku udah lelah Bian. Lelah karena harus sembunyi sembunyi seperti ini. Juga, aku nggak mau membuat Sisil terluka lagi dan lagi. Gue nggak mau makin di benci Sisil,'


"Kamu, tahu. Aku sayang sama kamu."


"T-tapi aku enggak ..." Miana menjeda kalimatnya saat mata tajam Bian menatap nyalang.


"Sekarang. Aku udah nggak sayang kamu, Bian. Maafin aku." Miana merasakan tangan Bian merenggang.

__ADS_1


"Apa?" Lirih Bian. Tidak menyangka Miana akan melepaskannya semudah ini.


"Iya. Bian. Tidak selamanya yang terlihat baik itu baik. Dan yang terlihat jahat itu buruk. Seperti halnya aku. Aku mgkin ada sisi baiknya. Namun, mungkin saja aku banyak sisi buruknya pula. Maka dari itu jauhin aku. Aku nggak mau nama baik kamu jadi rusak karena aku dan terlebih mengenai foto itu."


'Kenapa kamu pasrah sekali tanpa pembelaan lagi, Mia? Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?' batin Bian.


"Bisa-bisanya kamu begini sama aku! Kamu benar-benar murahan," lirih Bian penuh penekanan. "Ingat, Mia. Kau, sudah mempermainkanku. Dan aku nggak akan maafin itu."


Miana tidak kuasa menatap mata Bian yang sudah terpercik kemarahan.


"Tatap mata gue, dan bilang sekali lagi, jika Lo nggak sayang gue. Bilang!" Teriak Bian sambil memukul tembok di samping Miana. Sontak saja hal itu membuat Miana memejamkan mata. Dadanya berdegup ketakutan. Bian telah kembali pada sifat aslinya. Seperti sebelum bersama Miana dulu. Kasar dan dingin.


'Aku masih sayang kamu, Bian. Tapi aku juga nggak mau jauh lagi dari Sisil. Aku udah capek melihat Sisil berulah dan jauh dari sifat aslinya.'


"Ma-maaf, Bian."


"Hhhhhaaarrrghh," teriak Bian kembali. Ia memalingkan wajah dan mengusapnya kasar.


"Maafin aku, Bian. Aku lebih sayang papa. Aku mau jadi anak penurut. Aku ingin fokus sama sekolah. Ku harap kita masih dapat berteman seperti yang lain, Bian." Miana berlari menjauh dari Bian yang masih berdiri termangu. Tidak percaya pada kenyataan kali ini. Bian yang biasanya mempermainkan perempuan dengan memutuskan hubungan sepihak jika sudah bosan pada pacar-pacar sebelumnya, kini kali pertama ia terkesan merengek dan berharap lebih pada Miana.


Sesekali hanya pergi ke Mall. itupun tidak jauh-jauh dari buku. Jika bukan buku pelajaran, atau buku penunjang, Miana akan lari pada novel jajaran novel yang baru terbit. Tujuannya adalah menambah wawasan. meskipun tidak akan pernah menjadi nyata di


Selain itu, hanya dengan mendengar celotehan Miana menerangkan beberapa mata pelajaran ia sudah sangat bahagia. Mapel yang begitu rumit menurut Bian, ternyata sangat mudah bila di pahami dengan Miana yang memberikan trik-trik penyelesaian. Sesekali makan bersama walau dengan selera Miana yang aneh-aneh.


Seorang putra mahkota seperti Bian begitu mengagumi gado-gado yang ternyata sangat enak menurutnya. Ia yang biasa memakan sushi, sashimi, gyoza, mandu dan berbagai macam makanan yang menjadi favoritnya dapat dengan cepat menyukai makanan lokal khususnya gado-gado.


"Makanan apaan beginian?"


"Kamu yakin, higienis tempatnya kek gini?"


"Kalau kamu mau. Ya, makan aja. Aku sih, ogah!"


"Jangan, yank. Gue takut sakit perut!"


Begitulah Bian yang dulu. Sangat menghindari makanan yang di jual oleh pedagang kaki lima atau kedai kecil di pinggir jalan. Tidak lama hal seperti itu terhempas begitu saja sejak mengenal Miana.


"Ayo, Bian. Coba dulu, kaya' cara aku tadi," pinta Miana. Ia menyodorkan soal matematika pada Bian.

__ADS_1


"Malas." Ia malah menyalakan ponsel dan bersiap bermain mobile le**nd, sebuah aplikasi permainan online.


Miana menarik cepat ponsel Bian. Dan mengantongi dalam jaket Hoodie berwarna mint yang ia kenakan. "Bian. Ayolah. Aku janji, kapan-kapan, aku mau jika kamu ajak jalan."


"Beneran?"


"Iyyaa. Ayok! Makanya belajar yang benar dulu!"


Suara bel masuk pada pengeras suara di sudut sekolah telah menguat seantero sekolah. Membuat lamunan Bian tentang Miana tersadar. Tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, ia berjalan gontai menuju kelasnya.


Sampai di kelas candaan Bayu dan Roy ia abaikan. Ia terus diam dengan wajah datar tidak menimpali sedikitpun. Membuat ketiga temannya yang awalnya berisik menjadi ikut terdiam menerka dalam pemikiran masing-masing.


Sama halnya dengan Miana. Sesekali ia melirik pada Bian. Memastikan bahwa mantan pacarnya itu akan baik-baik saja.


Pembelajaran pada jam terakhir dalam keadaan tertib. Termasuk Arga diam dan masih menyimak penjelasan guru di depan kelas. Tapi melihat pergerakan teman di depannya ia mengeryit. Sambil melirik sesuai arah pandang Miana pada Bian, lantas membuat Arga sedikit menyimpulkan sesuatu.


"Miana bisa jawab, Bu." Arga berkata dengan tiba-tiba. Membuat seorang guru memberi pertanyaan pada Miana. Tentu saja Miana salah tingkah karena tidak terfokus pada pelajaran. Miana melirik kesal pada Arga dan terpaksa berjalan ke depan untuk menuliskan jawaban atas pertanyaan yang tertera di papan white board depan kelas.


☘️


Sore hari. Miana sudah bersiap untuk bekerja. Setelah mendapat seragam baru dan mendapat pengarahan dari seniornya. Kini ia sudah bersiap memulai bekerja. Ia mulai menghafal letak barang-barang sesuai dengan kelompoknya.


Jika sedang senggang dari pengunjung, ia merapikan produk yang tersisa dan menatanya kembali agar terlihat full display. Jika produk telah kosong, ia mengambil beberapa stok di gudang untuk mendisplay pada rak.


Hari ini Miana bekerja bersama tiga teman yang lain. Sesekali berbincang dan sedikit bergurau jika toko dalam keadaan sepi. Sebagian dari mereka ada yang sudah menikah dan punya anak dan menjadikan pekerjaan ini menjadi pekerjaan utama. Ada juga seorang mahasiswa yang butuh uang jajan untuk menunjang biaya hidup, karena jauh dari orang tua dan tinggal di kost.


Pasang surut kehidupan sudah menjadi jalan masing-masing. Semua sedang menjalani skenario dari Sang pemilik kehidupan. Baik Miana dan teman-teman barunya di toko. Apalagi mengingat permasalahan keluarga, Miana tidak bisa diam saja. Dan ini jalan yang ia pilih. Ia tidak lagi mengandalkan kartu debit dari papa. Selain karena sudah di sita oleh mama. Ia berniat untuk sedikit membantu papa, dengan mencari kerja part time di sini.


'Dalam keadaan seperti ini, bisa-bisanya mama malah pergi liburan,'


☘️


Seperti otornya yang butuh healing ya, Miana. heduhh .


Terimakasih atas dukungan teman-teman. Dan maaf jika tidak bisa setiap hari update. 😍


semoga hari-hari BESTie semua menyenangkan ❤️

__ADS_1


__ADS_2