Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 22


__ADS_3

☘️☘️☘️


Lomba OSN (Olimpiade Sains Nasional) telah di mulai. Para peserta tengah bersaing dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Mencurahkan semua fokus demi nama baik sekolah mereka masing-masing.


Begitupun dengan Miana dan teman-teman yang lain yang mewakili SMAN 89 Kota A. Di ruang terpisah, tiga mata bidang itu, kini tengah menjalani penjurian. Sementara seluruh peserta lomba tengah menikmati makan siang, setelah mengikuti kegiatan.


Tiga puluh menit kemudian, pengumuman hasil lomba di umumkan.


Hingga nama sekolah SMAN 89, dengan mata pelajaran matematika menempati posisi wahid. Tangis haru menyelimuti ke enam wakil sekolah tersebut. Sujud syukur di lakukan Ammy dan Bella. Dua gadis berjilbab itu, seolah menunjukkan betapa kebahagiaan tanpa melupakan Sang Penciptanya.


Pemandangan berbeda terjadi pada Arga dan Miana. Mereka yang tengah duduk bersisihan itu refleks saling berpelukan, tanpa sadar. Tangis haru Miana mengingat perjuangannya membagi waktu belajar di tengah pekerjaan dan tugas rumah. Karena sementara Bi Num belum pulang dari desa. "Alhamdulillah, Ga. Kita berhasil menjadi juara," desis Miana. Di antara Isak tangisnya.


Sementara Arga hanya mengangguk haru seraya tersenyum. Satu tangannya memeluk Miana dan satu tangan yang lain mengepalkan tangannya ke atas. Di susul tepuk tangan meriah dari peserta lomba berbagai daerah.


Sementara lampu blitz tengah memotret keduanya. Banyak wartawan lokal turut hadir di sana mengabaikan momen OSN tahun ini.


Tepukan dan panggilan nama di belakang Miana, mengalihkan perhatiannya dari Arga lalu beralih pada kedua teman wanita perwakilan sekolahnya, Ammy dan Bella.


Arga menyadari, pelukan tanpa sadar tadi terurai darinya. Ia hanya dapat merasakan bahagianya menjadi juara, harapan dari Dharma, sang papa. Sesaat ia menggeleng samar tanpa merasa terbebani akan pelukan singkat tadi.


Meskipun hanya sekilas dan seperti tanpa sadar, Arga begitu bahagia melihat satu temannya sudah kembali ke aslinya, riang dan selalu murah senyum itu.


Kemarin, Arga sengaja menunggu Miana di depan Toko. Hingga membuat Miana menghampirinya. Ia yang tengah merasa risau karena Miana menghilang saat selesai bimbingan, tanpa sadar mencecar habis pada Miana. Perihal guru pembimbing yang amat enteng memberi sangsi pada siswa yang mengabaikan tugas. Guru itu kembali memberikan pembekalan tambahan dadakan. Sedangkan Miana sudah pulang untuk bekerja. Sialnya, ponsel Miana dalam mode diam. Membuat Arga, yang sudah mengetahui keberadaan Miana segera menemuinya.


"Lo, gila. Besok itu, kita OSN! OSN, Miana! Lomba bergensi tingkat Nasional. Ini menyangkut nama baik sekolah kita. Bisa-bisanya, Lo bekerja! Mementingkan uang. Lo itu pelajar. Tugas Lo, hanya belajar. Bukan bekerja." Arga berbicara panjang lebar dengan kesal.


Sementara Miana hanya terdiam sambil menunduk. Wajah lelah itu terlihat lesu tanpa ada niatan membela diri. Ia memang salah karena takut menjadi bahan gunjingan teman toko, bila sering kali terlambat datang.


"Sekarang. Lo ikut gue menemui Pak Zul. Beliau udah nunggu kita di sekolah!"


"Trus gimana cara gue iz–"


"Gue yang, ngijinin, Lo," sahut Arga cepat. Ia berlalu ke dalam toko dan bertemu langsung pada Mbak Dini. Menjelaskan semua, termasuk perihal ketidaktahuan Miana jika masih ada jam bimbingan.

__ADS_1


"Ya Allah, Miana. Kenapa kamu nggak ijin kalau ada kelas lanjutan. Apalagi ini lomba nasional. Lain kali ,kamu jangan merasa nggak enak bila mau ijin, ya," ungkap Dini.


Miana tidak banyak berbicara. Ia hanya terus mengangguk mendengar nasihat dari managernya.


Sesuai ijin dan saran dari Mbak Dini, Miana lalu berganti seragam cepat dan bersiap untuk ke sekolah kembali.


Saat Miana ingin menaiki motornya. Tangan Arga lebih cepat meraih sebelah tangannya. Lalu membawa Miana untuk menaiki motor sportnya.


Protes Miana, tidak di hiraukan oleh Arga. Ia tetap menarik tuas gas kembali ke sekolah. Tepukan kasar pada punggungnya seolah tidak terasa. Malah dengan sengaja ia menambah kecepatan.


Kaena takut, motor sport Arga melaju begitu kencang, Miana hanya dapat memejamkan matanya dengan memeluk erat punggung berbalut jaket bomber itu dengan mulut merapal doa.


Tidak sampai lima menit, mereka sampai di sekolah. Arga tidak membiarkan Miana kembali meluapkan protes dengan menarik tangan Miana, membawanya ke ruang perpustakaan.


Dengan nafas tersengal-sengal, keduanya menemui Pak Zul, guru pembimbing umum yang bertanggung jawab langsung pada enam siswa wakil seolah mereka. Empat teman yang lain juga tengah berada di sana, tengah mengikuti bimbingan dari guru berkumis tebal yang sudah dalam mode siaga menyambut kedatangannya bersama Arga.


"Maaf, Pak. Tadi saya mencari Miana yang sudah kembali ke rumah. Dan nomornya masih dalam mode diam. Sehingga tidak mengetahui jika bapak menghubunginya. Maafkan kami, Pak." Arga terpaksa berbohong agar Miana tidak mendapatkan peringatan lebih keras karena tengah lalai dengan kewajibannya.


Miana melirik Arga, terkejut karena Arga lebih banyak bicara dari biasanya. Terlebih, dia sedang membantu menutupi kegiatan lain yang mungkin saja akan mendapat surat peringatan dari sekolah. Dan ia tidak mau itu terjadi. Apalagi jika pihak sekolah akan menegurnya langsung pada papa.


"Makasih, Ga. Udah mau bantu nutupin kecerobohan gue." kata Miana setelah kelas berakhir. Tangannya masih sibuk mengemas soal-soal latihan dan memasukkannya dalam backpack. Empat teman yang lain sudah pulang satu persatu ke luar ruang lebih dulu.


"Hm,"


"Ga," panggil Miana lagi, tidak puas dengan respon Arga.


"Ck. Iya, bawel! Asal, jangan di ulangi lagi."


Sudut bibir Miana terangkat. "Apa, Lo berharap masih ada bimbingan serupa lagi? Deket terus sama gue, gitu?" hardik Miana tersenyum jahil. "Setahu gue, ini kan bimbingan terakhir dan besok kita sudah lomba, kan," lanjut Miana makin melebarkan senyumnya. Sengaja menggoda Arga.


"Mmm, jangan bilang, Lo suka sama gue, Ga?" hadik Miana makin menjadi.


Apa itu? berharap? suka? Arga membelalakkan matanya, berkacak pinggang, menggeleng yakin dan menatap tajam Miana.

__ADS_1


Pletak!!


Satu tangan Arga terangkat, memukul kening Miana dengan pulpen.


"Aaauh," keluh Miana.


"Heh. Lo mikir apa? Lo, tuh, kege-eran banget sih jadi cewek! Kalau bukan karena nyelametin kita semua di sini, gue juga ogah cari, Lo. Masih untung gue bantu nutupin kelalaian, Lo. Kalau nggak, pasti Lo udah dapat surat peringatan dari sekolah!"


"Canda, doang, Ga," bela Miana. Mengangkat jari telunjuk dan tengah membentuk huruf 'V'.


Mengabaikan Miana, Arga meraih tas punggungnya, berlalu dengan cepat meninggalkan ruang perpustakaan. Ia harus segera pulang ke rumah karena waktu semakin sore. Oma juga sudah mengirimkan banyak pesan. Menanyakan keberadaannya.


Di parkiran sekolah, Arga cekatan memakai jaket dan kembali memposisikan tas punggungnya. Helm full face berwarna hitam itu tidak ketinggalan melengkapi perlindungan berkendaranya.


Arga bersiap melesat keluar sekolah, dan sekilas melihat Miana yang tengah berlari ingin menghampirinya. Ia tidak memperdulikannya. Terlebih ia masih sedikit kesal dengan respon Miana beserta candaannya.


Selang beberapa meter Arga melaju meninggalkan kawasan sekolah, Arga memukul asal tangki motornya. Bagaimana dengan Miana? Ia tidak membawa motor. Bagaimana cara dia bisa pulang? Ah masa bodoh! Begitulah pemikirannya.


Sementara Miana hanya bisa meringis dengan nasibnya. Mengingat ulahnya yang membuat Arga kesal hingga berakhir mengabaikannya. Ia tidak bisa ikut menumpang kembali ke toko. Bagaimana dia bisa pulang? Motor berada di toko. Ponsel juga masih tertinggal di toko, karena sedang di isi daya. Uang yang tersisa hanya lima ribu rupiah pada saku kantongnya. Tidak akan cukup untuk membayar ojek.


"Ck. Sial banget, sih, aku " akhirnya dengan mulut menggerutu Miana berjalan kaki di sisi trotoar.


Suara rem berdecit di samping Miana, membuatnya menoleh dengan segera. Takut ada yang ingin berbuat jahat. Namun, kekawatirannya menguap begitu mendapati lelaki berjaket bomber dengan helm yang rapat menutup kepala. Ia yakin dia Arga. " Ternyata si ketus itu, nggak setega yang gue kira. Nggak tega, kan! Dia ninggalin gue," batin Miana.


Miana tersenyum lebar. Namun, begitu penutup helm terbuka ia mendadak membelalalakan matanya dengan mulut terbuka.


"Butuh tumpangan?" tawar suara dari dalam helm.


"Bian," lirih Miana. Lantas ia mengembalikan mimik wajah kembali seperti semula.


Namun, suara klakson di belakang Bian mengalihkan perhatian Miana dari Bian. Ada Arga yang datang dengan penampilan nyaris sama dengan Bian. Hal itu membuat Miana mengutuk diri. Bisa-bisanya dia lupa, Bian yang dulu juga selalu menggunakan motor jika bersekolah. Hanya saat bersamanya dulu Bian menggunakan mobil. Ia paham akan niatan mantan pacarnya itu, agar dapat membuat Miana nyaman saat ia ingin mengantarnya pulang. Namun, yang ada. Ia hanya bisa memberi berkali-kali kekecewaan pada Bian dengan penolakannya.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Maaf,


kemarin, gak bisa up 🙏🙏🙏


__ADS_2