Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 52


__ADS_3

Begitu tahu Miana tak membawa motor, Arga lekas memberi tawaran pada Miana untuk pulang. Iba melihat tangan yang masih terlihat kemerahan cenderung menghitam itu terlihat tak nyaman.


Gengsi memang untuk mengakui jika ia memang menyimpan perduli yang begitu besar.


"Mau nebeng, nggak? Kali aja Lo butuh tumpangan." Arga benar-benar menjaga imagenya.


"Lo tuh, mau nganterin gue aja, pake bahasa seribet itu, Ga." Miana seolah tahu, memang Arga merupakan orang yang sulit mengungkapkan suatu kepeduliannya.


"Heh, beda ya artinya. Gue kan cuma ngomong aja, kali aja Lo memang butuh tumpangan. Bukan gue yang maksa anterin Lo!" Arga masih pada gengsi setinggi langit.


Miana menggulum senyum. Seolah tahu jalan pikiran Arga. "Iya, deh. Kalau gitu, gue yang minta tumpangan sama Lo."


Arga melirik malas, lalu berjalan lebih dulu untuk mengambil motornya. Setiap langkah, Arga tak henti mengulum senyumnya.


Dengan cepat Arga menghidupkan mesin motornya lalu menghampiri Miana yang masih menunggu di sisi taman sekolah.


Tanpa banyak berdebat lagi, ia lekas membawa Miana untuk pulang. Meninggalkan pelataran sekolah.


Ia tahu Angel sedang memerhatikan dari kejauhan. Meskipun ia iba tapi jujur adalah pilihan yang paling tepat. Ia sudah lega, setidaknya ia tak melihat seorang wanita harus mengemis cinta padanya. Dan beberapa waktu lalu Arga harus jujur pada Angel, karena Angel memaksa ingin tahu wanita yang Arga sukai.


"Gue udah suka sama seseorang." Begitulah ucapan Arga sewaktu Angel memberikan makan siang, saat Arga hanya diam di kelas.


Sakit. Meskipun begitu, Angel tetap tersenyum. Ia ambil bangku Miana dan duduk di sana. Tetap dengan usahanya. "Gue nggak perduli, Arga. Gue tetep suka sama, Lo."


Dalam hati Arga berdecak. Tak ingin menjadi saksi seorang wanita yang sedang mengemis cinta. Merendahkan harga dirinya. Sudah cukup ia menjadi saksi Surya memohon pada Sarah sewaktu ia masih kecil dulu. Memohon belas kasihan agar mau memikirkan dirinya yang sedang sakit. Sudah cukup. Ia membenci apapun yang bersifat memaksa.


"Gini, ya, Ngel. Pakai logika aja. Buat apa sih mengejar kereta yang sudah jelas tujuannya. Bukankah lebih baik Lo cari armada lain. Lo bisa sampai ke tujuan yang sama namun dengan cara yang berbeda."


"Tujuan Lo punya pacar bukankah untuk menjadi teman spesial yang lebih mengerti Lo, kan. Lalu apa Lo mau nungguin gue yang sudah jelas-jelas gak bisa suka ke Lo. Nggak bisa ngerti Lo. Yang ada, Lo akan jalan di tempat dengan percuma. Lo nggak bisa sampai pada tujuan lo. Lo itu cewek, sayangi diri Lo, Ngel."


Angel diam meresapi setiap kata yang keluar dari Arga. Tidak menyangka akan mendapat umpan balik dari Arga yang menohok hati. Kenapa ia begitu bodoh menghabiskan waktu dan biaya untuk orang yang jelas tak menerima ia menjadi tujuannya.


"Kalau gitu, Lo harus jujur siapa orang beruntung yang Lo sukai itu."

__ADS_1


Arga enggan menjawab. Namun, ia harus menjawab agar Angel menyudahi rasa yang hanya menjadikan obsesinya saja.


"Gue harus tahu. Supaya gue bisa belajar banyak darinya." Angel masih tetap memaksa Arga.


"Dia ... Miana."


Angel sudah tidak terkejut lagi. Sedari awal ia memang sudah melihat raut cinta tak kasat mata dari dalam pandangan Arga pada Miana. Ia sudah tahu. Tapi ia bersikeras untuk mengetahui sendiri dan menyatakannya sendiri.


"Memang ap7a yang istimewa dari Miana?" desak Angel.


Arga sedikit menarik sudut bibirnya. Membayangkannya bagaimana Miana yang ia kenal. "Dia.. tulus."


Satu kata yang terucap dari Arga. Singkat tapi begitu banyak makna di dalamnya..


Arga seolah ingin menunjukkan perkataannya memang benar. Tak sedikitpun di buat-buat. Atau hanya sekedar untuk membuat Angel jera saja. Ia banyak belajar dari Dharma–papanya, agar menjaga perasaan seorang wanita. Sekalipun dengan Sarah, mamanya.


☘️


Miana merasa ada yang aneh dengan Arga. Ia tidak pernah merasa memberi tahu alamat rumahnya yang sekarang.


Tapi kini, tanpa Miana memberi tahu tempat tinggalnya, Arga sudah tahu. Bahkan mereka tengah melewati jalan pintas.


Ia tahan rasa penasarannya, sampai ia tiba di teras rumah. "Helm, Lo." Miana memberikan helm pada Arga. Entah apa maksud sang rival memberinya helm, sedangkan dirinya tak memakai pelindung apapun saat berkendara di jalan raya.


Saat Arga bersiap memakai helmnya. Satu tangan Miana menahan Arga dengan cepat.


"Ga. Darimana Lo tahu rumah gue pindah ke sini?' tuding Miana tepat sasaran hingga membuat Arga bungkam. Ia hanya dapat diam bergeming di tempatnya. Matanya mengerjab bergerak gerak sedangkan otak terus ia paksa untuk memberikan alasan yang paling masuk akal. Tidak mungkin ia mengaku jika ia pernah mengikuti Miana sepulang bekerja. Diam-diam.


Karena Arga tak juga menjawab pertanyaannya. Sebuah kesimpulan hadir dalam benak Miana. "Jangan bilang, Lo ngikutin gue saat pulang sekolah!"


Untuk mengurai rasa gugupnya. Arga berkali kali mengacak rambutnya. "Emm, ya. Nggak juga, sih. Karena waktu itu gue sedang bad mood aja. Pernah asal jalan aja. Nggak tahunya jalan gue tepat di belakang motor, Lo. Ya udah, jalan aja terus. Sampai, Lo belok di gang depan."


Arga melirik motor beserta plat nomor kendaraan yang begitu ia kenali ada di teras samping rumah. Ia tersenyum samar merasa menemukan alasan paling tepat tanpa harus mencari alasan klasik lainnya. "Siapapun bisa tahu kalau ini rumah Lo. Jadi jangan ge-er lagi. Geli gue."

__ADS_1


"Maksud Lo?" telisik Miana.


"Itu motor Lo ada di sana, kan'!" Tunjuk Arga dengan dagunya.


Miana menoleh sejenak pada motornya. Benar ada disana. Ia mengangguk mengerti. Namun, masih belum puas dengan jawaban Arga. "Ohh, gituuu. Kirain Lo emang diam-diam jadi stalker gue!"


"Kurang kerjaan banget," sahut Arga cepat.


Mungkin banyak sekali motor dengan model yang sama. Tapi bagaimana cara mengetahui pemiliknya jika tidak hafal dengan nomor platnya. "Pura-pura nggak perduli itu, ternyata tak selaras dengan kenyataan ya, Ga."


"Dan tingkat percaya diri tinggi itu membuat mulut makin ngelantur, ya, Miana."


"Sesusah itu ya mengakui?" tuding Miana.


Kali ini Arga hanya diam. Tak membalas. Pun tak berniat untuk menyangkal. Karena memang tuduhan Miana benar adanya.


"Dahlah. Gue pulang. Makin lama di sini, lama-lama telinga gue terkena gangguan pendengaran."


"Emang gue mesin penggiling beras, yang ganggu pendengaran Lo," sungut Miana. Kaki juga menghentak kesal atas cibiran Arga.


"Gue langsung balik, ya. Nggak usah bilang makasih, gue ikhlas."


Miana mendengkus seraya mencebikkan bibirnya. "Emang dasar nyebelin, ya."


"Lo lebih nyebelin lagi," balas Arga seraya memakai helm dan mulai menghidupkan mesin motornya. "Nggak usah kerja dulu, sebelum sembuh betul tangan, lo," pesan Arga sambil berlalu pergi.


Setelah Arga tak terlihat lagi. Miana tersenyum meremehkan. "Cara Lo perhatian ke gue beda ya, Ga." Senyum masih selalu terbit pada muka bayi miliknya. Merasakan kebahagiaan tersendiri dapat berdebat dengan Arga.


'Sepertinya, memang gue telah jatuh cinta sama Lo.' Kata Miana dalam batinnya. Ia memegang dadanya, merasai debaran jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.


☘️


"... ada yang sedang jatuh cinta?? Begitulah kiranya" 🤭🤭🤭

__ADS_1


Maap baru up. Sedang tidak enak badan. 🙏🙏


"


__ADS_2