Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 79


__ADS_3

Satu koper berukuran besar dan satu tas ransel telah siap di teras rumah. Saat dirasa barang-barangnya tidak muat untuk di bawa menggunakan motor, akhirnya Miana memutuskan untuk menghubungi Riska untuk membantunya.


Riska di seberang sana tentu sangat senang karena Miana mencarinya saat membutuhkan. Baru saja ia akan berangkat, Bayu dan Bian datang mengacaukan segalanya. Berdalih untuk mengajaknya berlibur, Bayu membuat acara dadakan bersama Riska. Alhasil, Riska mengalah dan memberikan mobilnya pada Bian untuk mengantarkan Miana.


"Kok kamu?" tanya Miana terkejut saat Bian yang datang. Dengan membawa mobil milik Riska.


"Iya, mereka ada acara dadakan. Jadi, gue yang akan anterin Lo."


Miana menyipitkan matanya. "Bian, Lo bikin ulah apalagi?"


Miana sudah menebak, acara dadakan Riska adalah sekenario yang di buat Bian. Tidak mungkin, sahabatnya itu akan ingkar janji. Bila memang ada janji sebelumnya pada Bayu, maka Riska tak akan mungkin berjanji untuk mengantarnya.


"Ck. Nething terus sama gue. Udah ayok, gue yang anterin! Jarang-jarang, kan ada cowok cakep begini nawarin bantuan. Cuma-cuma, lagi." Tanpa ba-bi-bu, Bian meraih koper dan memasukkannya ke dalam bagasi. Miana merasa tak enak dan tetap menolak. Namun, Bian tetap memaksanya.


"Pagi, Om," sapa Bian pada Surya yang sudah berdiri di ambang pintu bersama Miranti.


"Loh, katanya, Riska yang mau anterin. Kok ada Bian, di sini." Surya menjawab seraya menerima uluran tangan Bian.


"Riska ada acara dadakan, Om. Jadi Bian yang antar Miana."


'Ck, sok akrab banget, sih,' decak Miana dalam hati.


Kehadiran Sisil di ambang pintu membuat Miana lega. Jika biasanya ia akan bimbang dengan situasi ini. Tapi, tidak untuk sekarang.


"Sil, jadi anter kakak, nggak?"


Sebuah ide konyol melintas, berharap Sisil dapat mengerti ajakan terselubung darinya.


Sisil mengerjab beberapa kali, melihat pada sang kakak lalu pada Bian dan juga papa. Akhirnya, sebuah anggukan menjadi jawaban Sisil yang membuat Miana lega, tapi tidak untuk Bian. Terlihat kesal namun ia tahan di balik senyum yang begitu jelas ia paksakan.


Penampilan Sisil yang sudah rapi, tak membuatnya terlalu lama untuk bersiap. Hanya mengambil tas cangklong ke kamar sebentar lalu kembali dengan cepat.


"Ayo, Kak."

__ADS_1


Dengan riang Sisil mengambil tas ransel di dekat kaki Miana lalu membawanya masuk ke mobil. "Gue di depan, ya, Bi. Soalnya, kakak gue suka molor kalau di mobil. Jadi nggak asik nanti, kalau Lo di tinggal molor ma dia."


Sisil sengaja tak menunggu jawaban Bian. Seolah tak perduli reaksi ketus yang sudah Bian siapkan.


Setelah ia menerima ucapan terima kasih dari Miana melalui chat singkat tadi, Sisil paham harus berperilaku bagaimana di antara mereka.


Miana tersenyum kecil melihat Bian bergerak malas menuju balik kemudi. Miana lantas pamit pada papa dan mama yang masih berdiri melepas kepergiannya.


Perjalanan di isi dengan perbincangan ringan mengenai universitas dengan segala fakultasnya. Bian yang awalnya di dera kecewa karena acara mengantarkan Miana di kacaukan oleh kehadiran Sisil, jadi sedikit terurai.


"Gue pilih bisnis karena kita hidup nggak jauh-jauh dari ilmu ekonomi bisnis yang di ajarkan, Bi. Nggak mungkin kan, kita hidup terus bekerja pada orang lain. Ada saatnya kita lelah. Berbeda jika kita punya bisnis sendiri, saat kita lelah ingin istirahat, bisnis yang kita bangun sudah bekerja untuk kita. Kita jadi bermanfaat untuk orang lain melalui lapangan pekerjaan yang kita buka untuk orang lain."


Melihat bagaimana Miana menjawab alasannya memilih fakultas Bisnis ekonomi, membuat Bian mengulas senyum dengan segala rencana di angan.


"Lo sendiri, gimana Sil?" tanya Bian sambil melirik pada Sisil yang sedang berselfi ria. Sisil sudah tak canggung lagi berinteraksi dengan Bian. Cintanya yang dulu menggila sekarang sudah punah. Hanya tersisa puing-puingnya saja. Ia sudah lelah berharap pada Bian. Sejauh apapun ia berusaha jika hati Bian masih berharap pada Miana, bukankah itu hanya akan menjadi sia-sia?


"Gue, pengen kuliah di bidang informatika. Gue pengen jadi orang yang paling update dan nggak ketinggalan zaman."


"Lo sendiri?" sengit Sisil menatap tajam pada Bian.


"Gue ...? Nggak tahu. Belum kepikiran. Bisa aja gue kuliah di bidang yang sama, kaya' kakak Lo. Tapi jujur, gue males mikir hal-hal rumit, sih."


Miana dan Sisil kompak membelalakkan matanya. Bagaimana bisa orang bisa berkembang, tapi malas untuk berfikir. Ada-ada saja.


Perbincangan masih terus berlanjut pada hal-hal ringan. Dengan Sisil yang lebih mendominasi. Sedangkan Bian sendiri lebih banyak menyela pendapat Sisil lebih tepatnya. Miana hanya menimpali sewajarnya jika di rasa ada yang harus ia jawab dan harus ia luruskan.


Saat seperti ini, Miana kembali merindu Arga yang selalu menjadi partner debat paling menyebalkan sekagus paling alot untuk di taklukkan. Ia membuka ponselnya dan terus memandangi beberapa foto dan vidio yang ia masukkan pada folder khusus bernama my rival.


'Aku harus tanyakan pada siapa jika ingin tahu kabar kamu, Ga? Kamu menutup akses apapun sampai aku berteman resah setiap saat. Kamu anggap hubungan kita ini apa, Ga? Lantas, bagaimana kesepakatan kita dulu untuk sama-sama terus? Lalu, gimana bisa kamu melakukan hal yang sama seperti mamamu, Ga. Sedangkan kamu tahu sendiri rasanya di tinggalkan.'


Bian terlihat berkali-kali mencuri pandang pada Miana melalui rear version mirror di atasnya. Melihat Miana yang terdiam dan sesekali menatap jalanan membuat Bian di dera rasa getir. 'Ada gue di sini. Tapi pikiran, Lo entah kemana, Miana.'


Menjempuh perjalanan selama tiga jam lima belas menit. Mereka sampai di asrama yang akan menjadi tempat Miana tinggal. Sebuah bangunan bersusun tiga dengan banyak pintu-pintu kamar. Di depannya terdapat halaman parkir dengan satu petak taman kecil berisi tanaman dan beberapa kursi besi yang berjajar. Ada bangunan terpisah dan di ketahui adalah Tempat tinggal kepala Asrama. Ada aula yang tak begitu luas dengan banyak meja di atasnya tikar, memanjang tanpa kursi.

__ADS_1


"Ck. Lo harusnya dapat fasilitas VIP, dengan kamar sendiri. Nilai Lo udah perfect jika hanya untuk mendukung beasiswa yang Lo terima." Suara Bian terlihat meragukan seseluruhan bangunan di hadapannya.


"Ini tuh, udah mewah, Bi. Yang penting tempatnya nyaman dan bersih. Jikapun gue harus ada teman dalam sekamar, bagi gue nggak masalah."


Bian, Sisil dan Miana mulai memasuki area dengan satu koper di tangan Miana yang sudah di ambil alih oleh Bian. Miana sendiri membawa ransel besar di punggung. Lalu Sisil masih bersibuk dengan kipas portabel di depan dagunya. Tidak merasa nyaman karena panas mulai menyengat.


Setelah melapor pada pengurus Asrama dan mendapat kunci. Miana segera mencari nomor yang tertera di gantungan kunci. 21 A yang berada di lantai dua menjadi tujuan ketiga remaja yang masih memindai sekeliling asrama. Ada pagar beton setinggi satu meter sepanjang teras kamar. Tak banyak orang berlalu lalang di sana. Kemungkinan penghuninya sedang memilih tempat ternyamannya, di dalam kamar.


Mulut Bian tak berhenti bergumam mengomentari apa saja yang ia suka sekaligus yang ia rasa tak pantas atau sesuai dengan seleranya.


"Ck. Berprestasi, sih. Naruh sepatu sembarangan." Bian menendang jauh sepatu yang tergeletak asal di depan pintu. Membuat Miana, menepuk bahu lelaki itu lalu mengambil sepatu tak berdosa yang menjadi korban kaki usil Bian.


Jika saja asrama ini di bawah naungan yayasan yang di kelola oleh papanya, Bian akan menambahkan fasilitas yang lebih memadai. Misalnya, teras kamar yang lebih lebar. Jika Bian memperkirakan, saat hujan pasti air yang jatuh pasti akan ikut membasahi lantai teras kamar.


Satu lagi Asrama putra, tepat di depan bangunan ini. Hanya besekat jalan raya yang tak begitu besar. Akses menuju fakultas ekonomi cukup dengan berjalan kaki sejauh dua ratus meter. Melewati minimarket dan rumah pengetikan juga foto copy.


Miana membuka pintu kamar. Satu buah kasur setebal tiga puluh centi dengan lebar seratus delapan puluh centi menjadi pemandangan pertama ketiga remaja yang beranjak dewasa itu. Ada satu lemari plastik, satu meja dan dua buah kursi plastik turut serta menjadi penghuni kamar berukuran tiga kali tiga itu.


"Lumayan. Sayangnya nggak ada AC -nya, sih. Kamar mandi juga di luar. Ck, gak kebayang, gimana antriannya kalau pagi." Bian sudah bergerak kesana-kemari memeriksa detil kamar. "Catnya udah luntur begini."


"Di kasih gratis, ini, Bi. Kalau mau kamar mandi dalam fasilitas oke, ya, kost sendiri."


"Heran, deh. Sejak kapan Lo jadi cerewet kek, kak Mia, sih," timpal Sisil ikut gemas. Ia duduk memeriksa kenyamanan kasur dan wajahnya mendongak pada langit-langit ruangan. Ada satu kipas tempel di sana. Lumayan, begitu pikirnya.


"Permisi,"


Suara di depan pintu mengalihkan atensi Bian, Sisil dan Miana. Seorang pemuda seumuran mereka berdiri tegak. Sepatu pantofel mengkilap, celana bahan berwarna hitam dan kemaja berwarna abu-abu membalut tubuh tingginya. Rambut berpotongan rapi serta senyum terulas di bibir tak terlalu tebal menyempurnakan penampilannya.


Bian menyipitkan matanya, begitu juga dengan Miana yang baru saja meletakkan tas ranselnya. Berbeda dengan Sisil yang justru menatapnya kagum. Senyum di bibir turut serta menyambut sosok pria berkulit sawo matang di bibir pintu.


☘️


Skiiippp. Skippp. Siapa sih, dia?😅😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2