Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 58


__ADS_3

☘️


Sejak melihat Miana bersama Bian tiga hari yang lalu, Arga selalu menghindari kontak mata pada Miana. Meskipun Miana selalu mencoba berbicara apa saja. Terutama selalu soal pelajaran. Ia selalu menjawab dengan ketus. Apa Arga sedang cemburu?


"Gue suka Lo, Ga." Ucapan Miana beberapa hari yang lalu memang sempat mengganggu Arga. Tapi, ia selalu menghindar. Bahkan terkesan tidak mau mendengarnya. Padahal, sudut hatinya tengah bersorak. Namun, sudut hati yang lain seperti menolak. Entahlah. Arga tidak tahu apa maunya.


"Makanya, belajar yang bener. Lupakan hal-hal yang menganggu. Termasuk perasaanmu yang nggak penting itu "


Itulah kalimat yang ia ucapkan, saat Miana mencoba berbasa-basi materi baru soal matematika kemarin. Ia yakin, Miana memang hanya ingin berbasa-basi. Tidak bisa diam saja. Karena memang sudah wataknya dia selalu nerocos bak mulut beo.


Sedikit menyesal ia telah mengatakan hal itu. Jika ia ingin Miana melupakan perasaannya. Lantas bagaimana dengan perasaannya sendiri? Ingin mendekat sekaligus ingin menjauh, itulah yang ia rasakan.


Istirahat ke-dua, Miana mencoba mengajaknya bicara. Tapi Arga sengaja mengeluarkan buku-bukunya. Mencari kesibukan. Ia membaca materi dan seolah sedang sibuk berlatih soal.


Sampai brownis ketan hitam kesukaannya ada di atas buku yang ia letakkan di meja. Ia hanya melirik benda itu dengan ekor matanya. Tentu pelakunya adalah Miana. Ia berniat mengambil itu dan memakannya, karena memang belum makan apapun dari pagi. Namun, tak sengaja ia menjatuhkan buku yang ia pegang dan mengenai kemasan mika itu hingga terjatuh.


Arga terkejut, niat hati ingin mengambilnya. Tapi melihat mata Miana yang berkaca seolah menahan memaksanya untuk menatap penuh manik mata indah itu. Ia terpaksa menghentikan niatnya. Sampai Arga melihat Miana berlalu begitu saja dari hadapannya.


Sadar dengan keadaan, Arga segera mengambil kemasan kue kesukaannya. Sedikit tersenyum melihat kue itu masih utuh dan tidak rusak.


☘️


Miana tengah membereskan alat-alat untuk mengecat kamar barunya. Di bantu Riska, ia melakukan renovasi cat dinding kamarnya.


Tiga hari sudah Miana menempati rumah baru. Di perumahan yang sama dengan Arga. Namun, hanya berbeda blok. Tidak ia rencanakan, karena memang ini murni pilihan Surya.


"Sore nanti, Lo juga berangkat kerja?" tanya Riska. Ia menghentakkan kakinya pada kasur milik Miana karena sahabatnya tengah bersibuk dengan ponselnya.


"Kerja, lah. Bisa habis kena sindiran Oca. Kalau gue nggak berangkat." Miana meletakkan ponselnya. Dan kembali beranjak untuk membereskan buku-bukunya. Tidak banyak barang-barang dalam kamarnya. Hanya satu lemari pakaian, satu rak buku dan satu meja belajar dengan kursi kayu.


"Dari tadi Lo sibuk terus sama HP, loh. Chating sama siapa sih?" tuding Riska mulai kepo.

__ADS_1


"Ada pesan dari Bian. Minta di kirim file yang kemarin. Punya dia kehapus katanya."


"Dehhh, alasan Bian aja, tuh." Riska kini duduk bersandar pada dasboard tempat tidur Miana. Ia meletakkan bantal pada pangkuannya. "Kata, Bayu. Bian udah banyak berubah, loh. Apalagi soal nilai-nilainya. Lo itu emang pawangnya Bian, deh. Sayang aja, pakai putus segala. Kenapa nggak balikan aja, sih!"


Panjang lebar Riska berbicara seperti itu. Berharap Miana menimpali dan berceloteh banyak hal seperti biasanya. Riska merasa aneh jika Miana hanya diam saja seperti ini. Seperti bukan Miana yang ia kenal.


Miana menatap sekilas pada sahabatnya yang terus bercicit ria. Ia sedang tidak mau menanggapinya. Dalam benak, ia memikirkan sikap Arga yang semakin dingin dengannya. Apalagi kalimat Arga begitu meremehkan perasaannya. Sehina itukah perasaannya? Sampai Arga tega berbicara hal itu.


Miana bukan type orang yang mau menyimpan perasaan sendiri. Ia tidak mau terbebani. Sehingga apa yang ia rasakan akan ia ungkapkan.


[Ga, Lo sakit gigi?]


[Apa sedang puasa ngomong?]


[Ga, gue kangen debat sama Lo.]


Beberapa pesan yang Miana kirim saat di sekolah tadi bahkan belum di baca. Di sekolah Arga selalu bersibuk dengan buku dan buku di sekitarnya. Seolah sedang membatasi dunia luar agar tak menganggunya.


"Malah ngelamun!" Tepukan dari Riska mengembalikan lamunan Miana.


"Ngagetin mulu, sih," dengus Miana kesal.


"Eh, eh. Gitu doang Lo ngambeg. Lalu apa kabar gue di sini tiga jam nemenin Lo ngecat kamar Lo. Tapi, begitu selesai Lo malah asyik sendiri dengan hp, loh! Dan lagi, Lo malah ngelamun saat gue kasih saran-saran sama Lo. Kesel mana, coba!" Riska tak kalah kesal melihat respon sahabatnya.


Melihat Riska yang bersungut meluapkan kekesalannya, Miana menjadi merasa bersalah. Sampai ia berkaca-kaca karena tanpa sadar tengah mengabaikan sahabatnya yang ia paksa ke rumah barunya sejak sepulang sekolah tadi. Hari ini mereka pulang lebih awal. Sehingga Miana memanfaatkan waktu ini untuk memupuk kebersamaannya dengan Riska seperti dulu. Kesibukan bekerja beberapa bulan terakhir ini merupakan salah satunya.


"Maafin gue." Miana menunduk dan segera mendapat pelukan dari Riska.


"Nggak apa, gue nggak marah beneran, kok. Cuma kesel aja, jiwa Lo kayak nggak ada di sini." Riska menepuk bahu Miana lalu melerainya perlahan. "Kenapa, sih? Coba cerita! Kali aja gue bisa kasih solusi."


Miana mengangguk dan mengajak Riska duduk pada sisi kasurnya. "Arga jadi dingin lagi ke gue," ungkap Miana. Sedangkan Riska masih diam bersiap mendengarkan curhatan Miana yang belum selesai.

__ADS_1


"Memang, sikapnya dia itu selalu datar terkesan santai. Tapi akhir-akhir ini, dia seperti ngehindarin gue. Tepatnya sejak gue bilang suka sama dia." Miana mulai memupuk cairan bening di matanya. Pikirannya kembali terbayang saat Arga terdiam lama dan mengucapkan kalimat menyakitkan padanya. "Arga, bilang. Perasaan gue ini nggak penting dan gue harus lupain ini. Padahal saat itu gue cuma basa-basi aja nanya materi Bu Alin. Tapi jawabannya sungguh di luar dugaan." Miana menghapus kasar setetes air matanya yang terjun bebas di pipi.


Riska mengangguk mengerti. Ia juga baru menyadari kesungguhan Miana tentang perasaannya. Awalnya, ia sempat mengira jika Miana hanya merasa nyaman saja dekat dengan Arga. Apalagi, saat itu, Miana berkali-kali di buat sakit oleh Bian yang terang-terangan sengaja menoreh luka pada sahabatnya.


"Maafin gue yang nggak ngertiin, Lo, ya, Na." Riska menawarkan pelukan pada Miana dan segera mendapat balasan. Sejenak dengan posisi seperti itu. Riska segera melerai pelukannya dan menelisik wajah sahabatnya. "Apa yang Lo rasain sekarang?"


"Gue kangen dia. Gue pengen bisa chatting seperti biasa lagi. Walaupun isinya tak lebih dari perdebatan. Tapi gue nyaman seperti itu. Gue juga pengen dia kembali terbuka sama gue. Nggak diem-diem begini," ungkap Miana panjang lebar.


"Mungki ada sesuatu yang bikin Arga nggak nyaman sekarang ini. Dia kan maniak buku-buku dan pelajaran sekarang. Lo nggak nyadar apa, dia ambisi baget kan, buat nyaingin, lo. Dan terbukti, nilai Lo setingkat lebih rendah dari dia."


Penjelasan Riska mulai Miana resapi dengan baik. Apa saja yang keluar dari mulut Arga seolah sedang berputar-putar dalam pikirannya.


Hal itu terbawa sampai saat ia mulai bekerja di cafe. Ia bahkan terkadang melamun, dan lagi-lagi, Bagus-lah yang mengingatkannya.


"Ngelamunin Arga, kan?" ucap Bagus. Hal itu membuat Miana berjingkat dan menggeleng cepat.


Bagus menyodorkan nampan pada Miana. "Jangan sering-sering melamun, ada pasang mata yang ngawasin Lo dari tadi," bisik Bagus seraya berjalan membawa pesanan pelanggan.


Miana mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh cafe. Tidak ada yang ia kenali. Hal itu menyadarkan Miana, jika Bagus hanya menggodanya saja.


Posisi duduknya saat ini tentu bisa mengawasi seisi cafe. Hanya ada pilar kecil-kecil dari kayu yang menjadi penyekat ruang dapur cafe dan area cafe. Ada dua kursi berjajar kosong di sampingnya. Biasanya, di isi oleh waiters jika sedang senggang, tidak begitu ramai pengunjung.


Miana lekas melirik beberapa gelas kotor pada wastafel. Ia segera membersihkannya sebelum kembali datang piring dan gelas kotor lebih banyak.


"Heh, memang Lo itu adalah tanggung jawab Mas Bagus. Lo udah di rekomendasikan langsung sama mbak Dini. Tapi Lo nggak bisa seenaknya kerja santai-santai di sini, ya! Gue ini sepupu paling dekatnya Mbak Dini jadi jangan macam-macam sama gue! Lo ,tetep juga dalam pengawasan gue ,ngerti, Lo!"


Itu peringatan Seli, saat ia menabrak bahunya dengan sengaja. Miana menghela nafas berat. Beruntung gelas dalam genggamannya tidak jatuh membentur lantai. Jika sampai jatuh, bisa di pastikan ia akan mendapatkan omelan dari Oca ataupun Seli. Lebih parah dari itu, ia pasti akan di potong gaji. Tanpa protes, Miana lekas melanjutkan pekerjaannya kembali. Menikmati setiap detiknya menjadi pelayan cafe yang menjadi sumber utama uang jajannya. Bahkan lebih dari itu. Ia bisa ikut membantu sang papa untuk mengangsur rumah barunya.


☘️


Maaf, maafin aku, ya. baru bisa up 🙏.makasih yang masih mau nungguin. bentar lagi mulai masuk konflik. tunggu aja 🤭

__ADS_1


__ADS_2