
☘️
Setelah mengantarkan Angel, Arga berlanjut mengantarkan Rio dan Miana di minimarket. Dua puluh menit kemudian ia sampai di kediaman Sari, Oma Arga. Ia langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Begitu keluar dari kamar mandi, ia mendapati Oma sudah duduk di tepian kasur king size miliknya.
"Oma," panggil Arga seraya menggosok rambut dengan handuk kecil di tangan kirinya lalu meletakkan asal pada sofa.
Arga mendekati wanita berusia tujuh puluhan yang tersenyum teduh tanpa beralih dari tempatnya. Arga memeluk sekilas wanita itu dan mendapat cubitan pada ujung hidungnya.
"Cucu Oma, sudah besar, badannya bagus persis seperti papa." Oma melirik tubuh Arga yang tersembunyi di balik bathrobe.
"Tapi gantengan aku, 'kan," sahut Arga tersenyum jumawa.
"Iya, tentunya. Karena kamu juga anak Sarah." Raut wajah Oma berubah seketika ketika mengingat wanita bernama Sarah.
"Oma, jangan ingat dia lagi!" Arga mundur selangkah dari Oma, bahkan tanpa sadar telah meninggikan suaranya. Saat ia tersadar wanita tua yang ada di hadapannya hanya diam dan mulai memupuk cairan bening di pelupuk matanya, Arga segera kembali meraih tangan yang sudah mulai keriput itu pada genggaman tangannya.
"Maaf, Oma. Arga hanya nggak ingin Oma sedih jika ingat wanita itu. Arga sayang sama Oma melebihi apapun. Jadi, jangan mengingat apapun yang membuat kita sakit."
Oma tersenyum, mengelus kepala Arga. "Arga, bagaimanapun. Dia itu mama kamu, orang yang telah melahirkan kamu. Jangan benci dia, jangan kamu kotori hati kamu dengan kebencian seperti ini Arga."
Arga hanya bisa mendengkus, menahan rasa kesalnya. "Oma, sudah makan?" tanya Arga mengalihkan pembahasan.
"Belum. Nunggu cucu Oma satu-satunya, ini." Oma kembali mencubit ujung hidung Arga dengan sedikit senyuman.
Arga menjadi terenyuh. Sosok Oma adalah satu-satunya wanita yang beberapa tahun yang lalu menjadi pengobat rindu yang tersimpan di dasar hatinya pada sosok mama. Tiga belas tahun yang lalu, mama pergi meninggalkan papa dan dirinya saat berusia lima tahun waktu itu. Arga menjadi orang yang amat sulit di dekati. Hanya Oma dan Opa yang menjadi orang tua dan orang terdekatnya. Sebelum ia di bawa ke Indonesia, di usia yang begitu sangat kecil ia kerap mendengar keributan papa dan mama. Apalagi saat kepergian mama sore itu setelah mama marah besar dan memberikan amplop besar pada papa, mama pergi bersama seorang pria dan hingga kini tidak ia temui lagi jejaknya. Lebih tepatnya Arga tidak ingin mengenal lagi wanita itu. Hal itulah, yang membuat Arga selalu dingin pada setiap wanita kecuali pada Oma.
"Kamu, menangis!" Suara Oma mengembalikan ingatan Arga. Arga tersenyum dan menggeleng samar, mendongakkan wajah dan beberapa kali mengerjab agar cairan bening yang sedari tadi berada di sudut matanya tidak luruh. "Nggak, Oma. Arga hanya sangat berterima kasih sama Oma, yang selalu menjadi orang yang paling mengerti Arga."
"Ayo, kita makan." Lanjut Arga tidak sampai hati mengabaikan ajakan wanita yang selalu tangguh itu. Meskipun ia sudah makan bersama dengan teman-temannya, ia tetap harus ikut makan bersama Oma agar tidak mengecewakannya.
"Yakin, kamu mau makan dengan pakaian seperti itu!" Oma Sari menunjuk bathrobe yang di kenakan Arga dan membuat Arga terkekeh menyadari penampilannya.
"Oke. Oma tunggu di bawah, ya." Oma lekas berlalu dari kamar Arga, pun dengan Arga yang mencari baju ganti.
Di waktu yang sama, seorang gadis telah memarkir motor maticnya bersebelahan dengan dua mobil yang sangat ia kenal. Ia lekas ke dalam rumah karena sudah tidak sabar bertemu dengan papa. Tidak lupa ia meraih martabak telor pesanan sang mama pada motornya.
__ADS_1
Begitu ia melintas ruang keluarga, ia segera berhambur pada pria paruh baya yang sudah berdiri merentangkan kedua tangannya. "Papa. Kapan papa sampai?" tanya Miana setelah melepas pelukan pada papa.
"Satu jam yang lalu." Surya masih menatap teduh putri pertamanya. Setiap bertemu atau pada sambungan telepon, Miana selalu menanyakan kabarnya terlebih dahulu memperlihatkan keperduliannya.
"Capek pasti, ya. Tapi papa sehat, 'kan?" tanya Miana melihat papa dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Iya, lumayan capek."
"Papa harus jaga kesehatan meskipun papa sibuk, ya."
"Dari mana kamu, jam segini baru pulang?" tanya papa meneliti penampilan Miana. Beruntung Miana mengenakan celana jeans dengan blouse tanpa lengan yang masih di balut sweater berwarna hitam. Jika saja papa melihat Miana yang mengenakan rok di atas lututnya. Pasti akan banyak lagi sambutan panjang mencecarnya.
"Ya begitu, kelakuan anak kesayangan kamu. Tiap hari pulang telat, terus!" Suara mama memutus pertanyaan papa dan membuat raut wajah ceria itu berubah masam.
Miana lalu memberikan pesanan pada mama. "Ini, Ma Mama beruntung loh, lima menit Mia telat, kedai itu pasti sudah tutup."
Kesal yang tadi berada di wajah Miranti lenyap begitu mendapati martabak kesukaannya. Tanpa ba-bi-bu langsung aja ia membuka dan mencomot satu potong ke dalam mulutnya.
"Miana. Papa tanya, kamu dari mana?" ulang Papa.
"Tapi dia tidak semalam ini pulangnya," hardik Papa.
"Ini karena Miana makan dulu tadi, Pa."
"Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu, sana," titah papa.
"Kalau gitu, Miana langsung ke kamar aja, Pa, Ma."
Papa mengangguk lalu duduk pada sofa di samping Miranti setelah Miana berlalu dari ruang keluarga. Kini tinggallah sepasang suami-istri itu. Berbincang menyingung pekerjaan papa.
"Ma, papa mohon mulai sekarang mama berhemat dengan pengeluaran mama. Perusahaan sedang dalam masalah, Ma. Dan papa ikut menanggung keadaan yang ada. Papa harus membantu menyelamatkan saham kita agar tetap aman. Jadi tolong, Ma. Bantu papa, ya," jelas Papa.
Miranti melirik sinis pada Surya, "Papa ini bagaimana, sih. Selama ini apa mama pernah menghambur-hamburkan uang? Mama ini malah membantu Papa, loh. Mama arisan kesana kemari, 'kan juga untuk investasi. Mama beli perhiasan, beli berlian kan juga untuk investasi! Papa pikir mama ini belanja-belanja itu nggak ada sisi baiknya! Papa juga, kan, yang dapat pujian kalau mama terlihat modis dengan perhiasan yang mama kenakan. Papa tetap memiliki nilai plus dan nggak malu bila mama nanti ikut makan malam dengan rekan bisnis, Papa! Heran deh, hal begini kok di bahas terus, sih!' Mama melipat kedua tangannya, kesal.
"Ma, tapi nggak harus tiap minggu, 'kan, belanja barang-barang branded. Buat apa, sih, Ma? Yang ada mama cuma numpuk barang."
__ADS_1
Miranti menepuk kasar lengan papa. "Pa, kenapa, sih, sekarang papa mulai itung-itungan! Buat apa? Kita juga begini aja, 'kan, nggak tambah kaya!"
"Lagian, mama nggak mau, ya, jika mama sampai kalah saing dengan jeng Mira. Bisa turun, donk pamor mama. Dan papa juga yang kena. Mau begitu?" ancam mama dengan menyebut nama teman sosialitanya.
"Ma, cobalah untuk bersyukur-,"
"Udah deh, Pa. Perusahaan ya urusan papa. Mama dan kebutuhan mama jangan di kait-kaitkan, donk!" Mama beranjak meninggalkan papa seorang diri.
Tanpa mereka tahu. Miana yang akan membawakan wedang jahe kesukaan papa, mendengarkan semua pembicaraan kedua orangtuanya. Miana sedikit bersembunyi kala mama melintas di sampingnya.
Perlahan Miana menedekat pada papa yang masih duduk memijit pelipisnya. Miana merasa iba melihat wajah lelah papa dengan urusan kantornya. Begitu sampai rumah, papa kembali di sambut omelan mama. "Di minum dulu jahenya, Pa. Mumpung masih panas," ucap Miana begitu meletakkan cangkir transparan pada meja.
Sejenak papa terkejut, melihat sekitar dan kembali pada Miana yang tersenyum hangat.
"Mia nggak jadi ke kamar?" selidik papa mengetahui Miana masih mengenakan baju yang tadi dipakai.
"Belum. Melihat papa capek dan lesu, Miana berinisiatif aja untuk buatin wedang jahe dulu."
"Papa tengkar lagi sama mama?" imbuh Miana.
"Enggak, Mia. Papa hanya berbeda pendapat aja sama mama," kilah Papa.
Miana hanya melihat papa dengan sayu, antara kasihan rasa bangga. Bangga karena papa selalu menutupi permasalahanya dan seolah terlihat baik-baik saja. Berbeda dengan Mama yang menunjukkan sisi sebaliknya, yang menuntut Miana atau Sisil untuk mengerti permasalahan keluarga mereka, terutama keuangan keluarga.
Begitu papa merasakan embusan wangi aroma jahe dalam cangkir yang masih mengepulkan uap panas itu, tangan papa segera meraih cangkir itu. "Ini buat papa?" tanya papa memastikan.
Miana mengangguk cepat dan tersenyum merasakan sapa hangat papa lagi.
☘️☘️☘️
Hai hai, maaf baru up.
ish, Saia ini kepedean banget yah, emang siapa yang nungguin.wkwkwkwk , 🤭
kali aja ada yang mau mampir' dan kasih like, komentar sama vote nya, Saia mengucapkan hatur nuhun 🙏🙏
__ADS_1