Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 35


__ADS_3

☘️


Sesuai permintaan Dharma, Miana kini menemani Arga yang masih betah memejamkan matanya.


Lima menit sudah berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda Arga terbangun. Miana bingung hendak melakukan apa. Niatnya berkunjung untuk mengetahui keadaan Arga. Namun, rupanya ia harus menahan keinginannya itu sesuai saran dari perawat tadi.


Duduk diam, sambil memerhatikan luka di wajah membuat Miana tanpa sadar mengagumi pahatan mahakarya Tuhan pada makhluk bernama Arga. Meskipun sebagian wajah tertutup kain kasa, itu tidak mengurangi mata menelisik paras rupawan rivalnya di kelas.


Decitan pintu yang terbuka, baru membuat Miana mengalihkan perhatiannya pada perawat yang datang membawa nampan berisi makanan untuk Arga. "Sudah waktunya makan pagi, Mbak. Em.." Perawat itu tampak ragu, terlihat dari tangan yang menunjuk pada Miana.


"Saya temannya, Sus. Yang semalam di bawa ke sini bersama pasien ini." Miana menjelaskan pada perawat yang terlihat sungkan menafsirkan kehadirannya.


Perawat itu tersenyum canggung. Dan meletakkan nampan di nakas. "Bisa di bangunkan, temannya, ya ,Mbak. Soalnya harus minum obat."


"Iya. Saya bangunkan segera, Mbak."


Sepeninggal perawat, Miana seperti mempunyai alasan untuk membangunkan Arga. Ragu sempat hinggap di benaknya. Pasalnya, ini baru pertama kalinya ia membangunkan seorang lelaki yang memang jauh dari kata akrab untuknya.


"Ga, bangun dulu." Dengan mengguncang pelan lengan Arga, Miana menggigit bibir bawahnya, menghilangkan rasa gugupnya.


"Ga," panggilnya lagi.


"Arga,"


Satu, dua hingga panggilan ke-tiga barulah Arga membuka matanya. Sedikit menyipit untuk menyesuaikan pencahayaan. Seingatnya, papa tadi baru datang dan membuat Oma dan Opa pulang.


"Maaf. Tapi Lo harus bangun untuk makan, Ga."


"Gue juga minta maaf, semalam nggak nungguin Lo sampai sadar."


Arga masih bergeming sambil mengerjab beberapa kali. "Lo siapa?"


Deg. Jantung Miana seperti berhenti berdetak. Ada apa ini? Kenapa Arga tidak mengenalinya.


"Gu-gue Miana, Ga. Lo nggak ngenalin gue!" Panik dan menoleh ke mana saja, mencari sosok siapapun untuk di mintai tolong. Nihil, tidak ada satu orang pun di sana, di ruang itu nyatanya hanya mereka berdua. Lalu mata berhenti di tombol darurat. Ia segera meraih tombol itu agar dokter dapat segera datang untuk memeriksa keadaan Arga.


Namun, sebelum tangan Miana meraih apa yang menjadi tujuannya. Tangan Arga lebih dulu mencekamnya.


Arga menelisik wajah Miana hingga badan dan berakhir pada tangan yang ia tahan. Mencari-cari luka yang sekiranya ada akibat kerasnya tarikan tangannya semalam. Dalam hati ia bersyukur, tidak ada luka serius pada teman yang berusaha ia selamatkan semalam.


Sedikit tidak tega, melihat wajah Miana yang terlihat panik. Namun, entah kenapa ide jahil itu muncul begitu saja.


"Ga," panggil Miana. Menyadarkan diamnya si pasien.


"Lo mau apa?" tanya Arga.

__ADS_1


"Gu_gue mau panggil dokter. Kata suster tadi Lo udah sadar dan hanya perlu pemulihan. Tapi sekarang kok, Lo nggak ngenalin gue,"


"Gue nggak perlu dokter. Gue perlu makan."


"A-apa? Makan?"


Miana melirik makanan yang berada di atas nakas. Perlahan rasa panik itu menguar melihat mata Arga yang memohon.


"Jadi, gue nggak perlu panggilin dokter buat Lo?"


Arga menggeleng untuk menjawab pertanyaan Miana.


Miana mengambilkan piring berisi nasi, ada satu butir telur rebus juga di dalamnya. Satu mangkuk yang lain, terdapat sayur yang sengaja di pisah. Melihat tangan kanan Arga yang berbalut perban dan terdapat jarum infus di pergelangan tangannya. Ragu Miana untuk memberikan piring berisi nasi itu pada Arga.


"Gue, atur dulu brankar Lo biar nyaman, ya," tawar Miana dan mendapat anggukan.


Arga tersenyum tipis melihat wajah yang masih menegang. Seolah menjadi hiburan untuknya. Apalagi melihat Miana berinisiatif untuk mengatur posisinya agar nyaman untuk makan.


"Gue nggak bisa makan." Semakin jahil saja, Arga mengerjai Miana. Kapan lagi ia dapat menganggunya. Jika di sekolah, selalu saja ia yang terganggu dengan mulut imut tapi berisik itu. Dan inilah saat untuk membalasnya, pikirnya.


Miana mengeryit dan terlihat memikirkan sesuatu.


"Lo bisa suapin gue nggak?" tanya Arga santai saat masih melihat Miana bergeming cenderung menahan gelisah.


Miana tersenyum lebar menghilangkan kecanggungan. "Bi_bisa kok. Mau sayur?" tawar Miana.


Satu suapan pertama, meski tangan sedikit thermor. Miana terus saja memerhatikan Arga. 'Bahkan saat makan pun, dia semakin tampan saja, sih,' batin Miana.


Arga makan dengan tenang dan tanpa banyak bertanya. Akan tetapi, tidak dengan Miana. Ia merasa takut. Sebab sepertinya keluarga Arga belum mengetahui jika Arga lupa ingatan. Hal itu di perkuat dengan tenangnya Arga menerima setiap makanan yang akan ke mulutnya. Meski wajahnya terkadang bergerak kemana saja.


Jika Arga tidak mengingatnya, pasti ia akan mengucap kritikan perihal keteledorannya semalam. Namun, kali ini ia diam saja. Tidak seperti saat Arga mendatanginya dulu di toko karena kesalahannya.


Dharma yang akan masuk ruang rawat anaknya tertahan di bibir pintu yang sedikit terbuka. Terlebih pintu bermaterial kaca transparan itu dapat dengan mudah terlihat melalui lapisan kaca yang jelas diantara kaca yang buram.


'Sungguhkah itu Arga?' batinnya dengan bibir tidak berhenti mengulas senyum. Ia tahu anak lelakinya itu sungguh enggan berteman dekat pada siapapun. Apalagi dengan perempuan. Sedikit lega mengetahui perkembangan anak lelakinya selama tiga bulan terakhir di Indonesia.


Sedangkan di dalam sana. Arga menghentikan suapan yang kembali akan di berikan padanya. "Udah cukup," tolaknya.


'Duh, gue harus gimana, nih? Keluarganya udah tahu belum, ya, kalau Arga nggak inget apa-apa.'


"Oke. Sekarang obatnya, ya." Cekatan Miana meletakkan piring dan meraih obat sesuai petunjuk yang di berikan perawat tadi dan memberikannya pada Arga.


Meskipun hati belum tenang karena respon Arga masih datar. Berbeda sekali jika bertemu di sekolah. Tidak pernah berkata selembut itu. Yang ada, hanya sindiran dan kata-kata yang selalu ketus jika berucap.


Selesai memberikan obat. Miana kembali merapikan bekas makan dan menyisihkan dari nakas. "Mau buah?" tawarnya pada Arga.

__ADS_1


Arga melirik sekilas pada sebuah apel di tangan Miana. "Nanti, saja," tolaknya.


"Gue nggak tahu, Lo suka buah apa. Maknya asal aja aku belikan yang sekiranya Lo suka.


'Deh, mulai lagi mulut beo-nya,' batin Arga.


"Itu, jidat Lo kenapa?" tanya Arga. Ia juga mengarahkan dagu pada Miana.


'Bener-bener nggak bisa dibiarkan. Gue harus panggil dokter. Dia benar-benar nggak inget gue kenapa,' ungkapnya dalam hati.


Saat pikirannya berkecamuk, lelaki paruh baya masuk dan berdehem, membuat Miana sedikit menjauh dari brankar Arga.


"Sudah makan ya rupanya?" Dharma melirik piring yang sudah hampir bersih di nakas.


"Iya, Om. Sudah minum obat juga," terang Miana.


"Oh, makasih ya, Mi..?" ucap Dharma tertahan.


"Miana," jelas Miana mengingatkan.


"Oh, ya. Miana, ya." Dharma mengangguk beberapa kali.


"Tapi, Om. Arga tadi kok nggak ngenalin saya, ya?" lirih Miana.


"Apa?" tanya Dharma tidak percaya.


Dharma menggulum senyum. Lalu melirik anaknya yang tengah meraih ponselnya di nakas.


Miana yang tanggap segera mengambilkannya untuk Arga.


"Ngomong -ngomong, gimana nih kelakuan Arga di sekolah? Apa mungkin sering membuatmu tidak nyaman?"


Pertanyaan dari Dharma tentu membuat Miana mengeryit lalu sekilas melirik Arga yang memandang datar pada papanya.


"E, Arga, dia, baik, Om. Jarang ngomong. Tapi sekalinya ngomong pasti ketus banget. Dia juga suka menyendiri dan cenderung santai." Miana berkata jujur sesuai apa yang ia katakan dan membuat Arga membelalakkan matanya.


"Kenapa Lo nggak bilang kalau gue juga saingan terberat Lo di kelas? Yang jelek-jelek aja di omongin. Giliran baiknya nggak Lo singgung," protes Arga.


Miana menyadari sesuatu. "Jadi, Lo ingat? Lo nggak lupa siapa gue?" pekik Miana. Namun, mata begitu berbinar mengetahui Arga baik-baik saja.


"Ck. Papa, nih," decaknya frustasi. Merasa ulahnya dapat terbaca oleh sang papa dan di ketahui Miana.


Dharma yang awalnya menggulum senyum akhirnya sudah tidak tahan lagi dan berakhir terbahak. Ia benar-benar terhibur. Bahkan ia lupa kapan terakhir kalinya ia dapat tertawa selepas ini. Merasa berhasil membongkar sisi jahil Arga adalah suatu kepuasaan darinya.


Ya, dia selalu memanfaatkan kebersamaannya dengan Arga jika sedang di Indonesia. Ia tidak mau Arga merasa jauh atau kekurangan kasih sayang darinya. Sebisa mungkin ia selalu menjaga hubungan baik dengan anak laki-laki satu-satunya.

__ADS_1


Meskipun demikian, Miana yang sedikit mengerti dirinya tengah menjadi objek kejahilan Arga tidak merasa keberatan sedikit pun. Yang ada, ia cukup lega walau sedikit merasa malu.


☘️☘️☘️


__ADS_2