Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 6


__ADS_3

Beberapa teman sengaja menjaga jarak dengan Miana perihal foto itu. Namun, Miana tidak mau ambil pusing. Karena memang ia tidak melakukan apa yang mereka perkirakan. Miana hanya berharap mereka akan bersikap seperti biasanya jika mereka memang mengenal Miana dengan baik, termasuk Bian.


Miana belum bisa menjelaskan apapun pada Bian. Bian seolah sedang sengaja menjaga jarak dengannya. Bagi Miana semua akan percuma, watak Bian yang keras tidak mudah menerima penjelasannya terlebih apa yang sudah Bian lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Meski Miana memang sedih, karena Bian yang memutuskannya sepihak. Ia tidak mau berlarut larut.


"Mungkin ini saatnya aku merelakan Bian agar Sisil dapat bahagia dan kembali menjadi adik yang manis dan baik yang telah lama aku rindukan."


☘️


Grup dadakan yang di buat Miana mendadak sedikit ribut karena Miana mengajak ketiga temannya berkumpul di depan pertokoan yang sudah di sepakati. Mereka memutuskan untuk mendatangi rumah produksi pembuatan meubel. Tempatnya masih dalam kota. Jadi mereka putuskan untuk mengerjakan tugas dengan cepat, tanpa menunda-nunda lagi.


Waktu satu jam di rumah, Miana gegas membersihkan diri dan menyempatkan makan bersama mama dan Sisil.


"Ma, Sil mau ke daerah A untuk tugas wawancara, Sil mau tambahan uang, nih. Kali aja nanti ada kebutuhan mendesak. Takut uang Sil nggak cukup," pinta Sisil pada Miranti.


"Ck, kamu harus hemat, donk, Sil. Kamu mau di hukum seperti Miana," ujar Mama. Tidak lupa mama melirik Miana yang masih makan dengan tenang.


"Mama," rengek Sisil menunjukkan wajah melas.


Miana tentu tidak melewatkan kesempatan ini juga. "Mia, juga donk, Ma. Mama tahu sendiri, ATM Mia masih ada di mama," pinta Miana memohon. Meski ia masih punya simpanan dari hasil menyisihkan uang saku sendiri dan akan menggunakannya jika ia terdesak saja.


"Kamu, lagi, ikut-ikutan! Jatah mama juga ikut berkurang kalau begini. Padahal mama besok masih ada arisan, musti bayar cod juga pesanan Mama. Belum lagi, minggu depan jadwal mama ke salon. Kalian ini, ah, bikin pengeluaran mama makin membengkak," cerocos mama menyebutkan pengeluarannya.


"Mama. Sama anak sendiri itung-itungan," decak Sisil.


"Diem kamu!" Mama mengulurkan tiga lembar pecahan seratus ribuan pada Sisil. "Nih, jangan lupa bikin SW biar papa tahu, ya, pengeluaran mama ini buat kamu beneran!"


"Tengkiyu, mama," Sisil memeluk mama dan mengecup pipi mama sekilas lalu beranjak dari duduknya.


"Sil pergi dulu." Sisil berucap sambil melangkahkan kakinya dari ruang makan. "Duluan, ya, kak," teriak Sisil lagi.


Kini, tinggalah Miana dan mama di meja makan. Ia menampilkan senyumnya dan berharap ia juga dapat uang tambahan dari mama.


"Buat Miana ada, 'kan, Ma?" pintanya pada Mama.

__ADS_1


"Ck, aduuh, bkin pusing, Mama aja, sih!' Mama mengulurkan satu lembar uang seratus ribuan pada Miana. "Nih, jangan lupa nanti mampir di kedai martabak kesukaan mama, ya," pinta Mama di balik terealisasinya permintaan Miana.


Sama saja. Miana menatap selembar uang itu di samping piringnya. Dalam hati ia sedih, bukan karena mama meminta dia untuk membelikannya martabak. Tapi, kenapa dari dulu mama selalu membedakan ia dan Sisil. Dalam hal apapun. Seperti kali ini dan terjadi berulang kali. Namun, meski begitu Miana tetap bersyukur, mungkin dengan ini mama akan lebih melembutkan sikap padanya. Karena ia telah menjadi anak penurut.


"Makasih, ya, Ma semoga nanti martabak kesukaan mama masih buka atau nggak kehabisan." Miana mencium tangan mama dan bermaksud memeluk atau mencium pipi mama seperti yang di lakukan Sisil.


"Nggak usah cium-cium, Mama, deh! Mama nggak suka sama parfum kamu!" sengit Miranti.


Miana mencium bau tubuhnya. Parfum yang ia gunakan adalah parfum aroma vanilla yang ringan dan membuat rileks. Namun, mama tetap tidak suka. "Wangi kok, Ma," bela Miana sedih.


Dalam hati, Miana merasa gamang. Kenapa mama seolah tidak mau berdekatan dengannya. Pemikiran seperti itu sudah ada sejak ia bersekolah dasar. Namun, seseorang yang selalu mengingatkan ia untuk jadi anak yang periang dan menepikan pemikiran buruk, tidak terasa membentuk Miana menjadi gadis yang ramah dan selalu berfikir positif hingga masa remajanya.


Mama melirik malas pada Miana.


Miana meringis, mengangguk. "Miana, pergi dulu, ya, Ma. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab mama sekenanya sambil menyantap makan siang lagi.


Begitu Miana memakai jaket dan memakai helm bogo berbentuk lucu itu, suara Bi Num mengalihkan perhatiannya. "Mbak Mia, tunggu."


Bi Num, wanita paruh baya itu sudah mengapdi pada keluarga Surya sejak 15 tahun yang lalu. Dua tahun sejak Miana lahir. Hanya sesekali Bi Num cuti, saat ia melahirkan anak semata wayangnya, yang saat ini berada di kampung.


"Iya, Bi. Mia pamit dulu, ya." Mia menjabat tangan Bi Num lalu mencium tangan.


Miana sudah biasa melakukan itu dari kecil. Mungkin anak majikan mencium tangan seorang ART masih begitu langka. Bahkan sangat jarang. Namun, tidak bagi Miana. Sejak ia masih TK dan seorang guru memberinya pengajaran menghormati orang yang lebih tua. Hal itu selalu Miana lakukan. Hal itu membuat wanita yang di panggil BI Num oleh Miana itu merasa tersentuh hingga membuat Bi Num menganggap Miana seperti anak sendiri.


"Ini dari Bibi. Buat tambahan uang jajan." Bi Num menyelipkan beberapa lembar uang pada saku Miana.


Miana terkejut menengok uang dalam sakunya. "Bibi tahu ATM ku di sita, ya," ujar Miana sendu.


"Jelas tahu, Mbak. Makanya jangan sedih, masih ada Bibi, di sini." Bi Num menepuk dadanya, memperlihatkan tingkah jenakanya bak orang kuat. Wanita bertubuh gemuk itu sedang menguatkan anak majikannya yang di perlakukan berbeda oleh ibunya sendiri.


Miana terkekeh, lalu Segera menaiki motor matic kesayangannya.


☘️

__ADS_1


Miana menepikan motornya, sedikit celingukan karena teman-temannya belum menampakkan diri di tempat perjanjian. Lima menit Miana menunggu, Angel datang di antar ojol. Berbincang sebentar perihal kesiapan pada Miana. Tidak lama sebuah motor gede datang dengan Rio yang muncul di balik helm full face warna hitam. Rio dan Angel sudah siap dengan segala peralatan mereka masing-masing. Tidak banyak, Rio mengeluarkan tripod, note book untuk mencatat hal-hal penting. Sedangkan Miana sudah siap dengan leptop dan kelengkapan lainnya di dalam ranselnya.


Hingga mereka menyadari bahwa sepuluh menit lamanya menunggu Arga.


"Ck, Lo, telpon lagi, sana!" Rio menoleh pada Miana agar ia menelpon Arga.


"Gue aja, deh, Mia," usul Angel dengan senyum menggulir ponsel. Lalu meletakkan pada telinga.


Sambungan telepon masih berdering. Dengan harap mereka semua menunggu.


Honda Brio berwarna putih menepi di belakang Miana, Angel dan Rio berada. Lalu lelaki jangkung muncul dari balik pintu kemudi. Celana jeans, kemeja kotak-kotak yang di gulung sampai siku membalut tubuh tinggi seorang, Arga. Tidak lupa ekspresi santai pada wajahnya membuat Angel dan Miana sedikit kesal.


"Itu dia," ujar Angel. Ia mendekati Arga dengan wajah sedikit cemberut. "Di telponin dari tadi kok nggak di angkat, sih, Ga." Angel bersungut, Miana dan Rio pun ikut mendekat.


"Ya, kan, gue udah di sini." ucap Arga santai. Matanya menelisik dua motor di balik Miana dan Rio.


"Kita berangkat pakai mobil gue aja, motor kalian di titipin di minimarket depan itu." Tunjuk Arga pada minimarket yang tidak jauh dari mereka berada.


Tidak ada keributan lagi, Angel segera masuk mobil. Rio dan Miana memarkirkan motor masing-masing.


Agra menunggu dua temannya masuk mobil. Lalu melajukan mobilnya ke arah rumah produksi sesuai pembahasan mereka di grup chat tadi. Meskipun Arga hanya sekali berkomentar, sesungguhnya ia juga menyimak. Dia ikuti pembagian tugas yang Miana bagikan.


Tidak ada keributan antara Arga dan Miana seperti hari sebelumnya, karena dua orang di sisi mobil yang sama itu masih berada di pikiran masing-masing.


Rio dan Arga duduk di depan, sedangkan Miana dan Angel duduk pada dua kursi di belakang.


Sesekali, Rio yang duduk di samping Arga di depan mengarahkan Arga sesuai petunjuk maps di ponselnya.


"Tumben Lo anteng, Na. Jangan-jangan, Lo belum makan, yah," selidik Rio. "Atau Lo masih sedih di putusin Bian." Kembali Rio mengutarakan pendapatnya karena merasa sikap ceriwis Miana mendadak hilang.


"Nggak apa, gue lagi pengen diem aja." Miana menyandarkan kepalanya pada pintu mobil. Ia masih teringat perlakuan mama tadi, sedih tidak dapat di elakkan. Anak mana yang tidak akan sedih bila orang tua sangat jelas membedakan kasih sayang mereka. "Masih jauh, nggak, sih?" tanya Miana melirik ponsel Angel.


"Tinggal tiga kilo aja," sahut Angel karena ikut memantau lokasi pada aplikasi ponselnya.


Arga melirik spion dalam di atasnya. Ia melihat Miana yang bertopang dagu memandang ke arah luar mobil, seperti memikirkan sesuatu. "Kalau diem, manis juga," batin Arga.

__ADS_1


"Oke gue siapin, surat tugasnya dulu." Miana kembali mencari satu map berisi surat tugas yang sudah di bubuhi tanda tangan kepsek.


☘️


__ADS_2