Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 48


__ADS_3

☘️


Belum habis rasa kesalnya pada Miana. Arga di buat lebih kesal dengan Bian yang terus menyindirnya saat di parkiran sekolah.


"Sendirian terus. Kapan berduanya?" ucap Bian dengan bibir menyungging beberapa centimeter.


Perkataannya tidak begitu mendapat perhatian dari sasaran, membuat Bian mencari topik lain. "Gue tau, Lo cemburu karena Miana nggak lagi ada di deket lo."


Sedang Arga yang baru saja melepaskan jaket kulit dan meletakkan di atas tangki motor, balas tersenyum dan enggan menanggapi lebih, meskipun hati mengeram kesal.


Arga abaikan itu dan segera berlalu. Senyum palsu yang sempat terukir tadi berganti raut datar. Pergi secepat mungkin, agar paginya tidak semakin keruh dengan sindiran Bian.


Tidak habis pikir, kenapa Bian yang dingin itu kini sekarang menjadi banyak bicara. Arga menggeleng pelan. Tak mau memikirkan hal itu. Ia juga sedang dalam mood buruk. Sarah terus berupaya agar bisa dekat dengannya. Namun, batinnya menolak untuk itu.


Satu lagi yang membuat harinya terganggu. Apalagi, jika bukan karena Angel yang semakin rajin mengirim berbagai bingkisan. Arga sudah mengira jika Miana lah yang memberikan alamatnya pada Angel. Itulah sebabnya, seminggu ini ia sengaja memasang jarak dengan Miana. Bagi Arga, ketenangannya semakin terganggu akibat seringnya paket berdatangan saat di rumah. Di sekolah pun, Arga juga tidak bisa tenang. Angel semakin tidak tahu diri dan membuatnya frustasi akan menolaknya dengan cara apa.


Pelajaran pagi ini dapat dilalui Arga dengan baik. Meski pemilik bangku depannya sering kali tertangkap netranya tengah mencuri pandang ke arahnya.


Jam istirahat Arga berniat untuk ke perpustakaan. Namun, baru saja ia hendak membuka pintu kaca, pemandangan yang membuat sekitarnya memanas telah menyambutnya di dalam sana. Arga kembali melihat Miana di perpustakaan bersama Bian. Bukan untuk yang pertama kalinya. Bahkan sudah seminggu terakhir ini ia melihatnya.


Arga memukul pelan keningnya dengan kepalan tangan. "Kenapa sih sama gue," rutuknya pada diri sendiri.


Arga tidak mengerti dengan dirinya. Ia yang Mengabaikan Miana. Ia yang tak merespon setiap Miana mengirimkan pesan. Ia juga yang merasa kesal dengan reaksi tubuhnya jika melihat Miana dapat begitu akrab dengan most wanted idola sekolah, Bian.


Arga memutar arah dan kembali kaki jenjangnya melegang untuk ke tempat favoritnya.


"Tempat ini jadi sepi, nggak ada yang ganggu gue lagi," monolognya.


☘️


"Arga kenapa ya, Ris?" ujar Miana pada Riska.


Riska yang tengah bersibuk dengan ponselnya, kini menatap sahabatnya dengan selidik. "Kenapa emang?"


Miana masih menatap Arga yang tengah memakai jaket di parkiran. Ia urungkan untuk ke sana mengingat sikap Arga belakangan ini. Bel waktu pulang sekolah sudah lima menit berlalu. Miana ingin berbicara dengan Arga. Hanya untuk mencari tahu salah apa dia pada teman yang duduk tepat di belakang bangkunya itu. Panggilannya, pesannya bahkan sapaannya selalu Arga abaikan. Seolah dirinya tak kasat mata saja.


"Ya.... gitu. Dia diemin gue." Miana berkata lirih, dengan mata masih tetap terfokus pada sosok tinggi yang akan memasangkan helm di kepalanya.


"Ya, udah. Emang sifatnya dia begitu. Nggak usah Lo ambil hati." Riska mencoba menenangkan Miana.

__ADS_1


"Bukan itu, Ris. Gue chat dia, gue telpon dia. Tapi dia nggak mau angkat padahal sebelumnya sedang online."


Riska mengeryit heran. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Miana, membuat Miana terbelalak.


"Mau apa Lo?" sentak Miana memundurkan tubuhnya. Namun, Riska tidak merasa aneh dan malah menyunggingkan senyumnya. "Bentar... bentar. Keknya gue menemukan hal aneh di sini," terka Riska.


"Nemuin apa?" sergah Miana. Ia urungkan kembali niatnya untuk menghampiri motornya dan duduk di kursi permanen pinggir halaman. Tentu dengan Riska yang masih bergerak menyelidik dan ikut duduk di samping Miana.


"Jangan sok serius gitu, Ris. Perasaan gue nggak enak." Miana memalingkan wajahnya dan di situlah ia melihat Arga sudah keluar melalui pintu gerbang.


Riska pasti juga mengikuti kemana arah mata Miana memandang. "Nah kan. Bener pasti, perasaan gue," ungkap Riska membuat Miana kini memandang sahabatnya tengah tersenyum smirk .


"Apa sih. Perasaan apa? Jangan suka nebak-nebak. Gaje banget," Miana mengecurutkan bibirnya kesal. Entah kesal karena Riska atau karena Arga yang semakin dingin dengannya.


"Fixed. Lo suka sama Arga." Riska mengetuk jari telunjuknya pada bahu Miana.


"Suka gimana!" Miana terbelalak. " Jangan ngarang, ah." Miana salah tingkah hingga mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sengaja menghindari tatapan Riska.


"Dah, ah. Ayok pulang! Gue mau kerja." Miana kembali memposisikan backpacknya dengan benar karena sebelumnya sempat melorot.


"Kan...kan. Mau kabur!" Riska menarik Miana untuk duduk kembali. "Cerita ke gue sekarang. Sejelas-jelasnya!"


"Pake ngeles, lagi. Itu jelasin kenapa Lo uring-uringan gajelas begitu hanya karena Arga ngehindarin Lo. Gue tahu, gue nggak buta, Beib. Mata Lo, suka sedih redup saat Angel makin gencar deketin Arga ,kan! Sedangkan Lo, nggak ada kesempatan buat sekedar bicara atau usilin Arga."


Miana menundukkan wajahnya seraya menangkupnya. "Kok kamu tahu, Ris."


"Hehh." Riska menangkup kedua pipi Miana agar lebih mudah untuk menelisiknya. "Gue ini sahabat, Lo. Kita hampir tiga tahun bersama, Na. Gue lebih peka dari yang Lo pikir."


Miana mengerjab beberapa kali. "Jadi, Lo tau gue suka ke Arga?" tuding Miana dan membuat Riska terpaku sejenak lalu terbahak.


"Riiis. Kenapa Lo ketawa?" Miana mencoba menenangkan Riska yang masih terbahak hingga memegangi perutnya.


"Riska memang paling ahli, buat memaksa seseorang buat jujur. Papi aja bisa gue kalahin, apalagi, Lo." Riska mengucapkan dengan serius, saat sudah bisa menguasai tawanya.


Beruntung, sebagian siswa sudah tidak ada di halaman seluas 20.000 m² itu. Hanya terlihat beberapa siswa saja yang hendak mendekati gerbang sekolah.


Miana memejamkan mata sejenak lalu kembali memasang wajah panik. "Pliss, jangan ngomong ke siapa-siapa. Termasuk Arga." Miana sampai memegang kedua lengan Riska, menunjukkan keseriusannya.


Riska terbelalak melihat Miana yang terlihat memohon. "Ya kali. Gue gila jika sampai begitu. Itu urusan Lo, gue nggak berhak ikut campur soal perasaan Lo, Na."

__ADS_1


"Gue kira, Lo juga maksain gue buat balikan sama Bian seperti Bayu."


Wajah sedih Miana tidak bisa di tutupi lagi. Memang benar ia sudah kembali berbaikan dengan Bian seperti teman yang lain. Ia bahkan masih rutin dan menjadi tutor khusus untuk Bian dalam memperbaiki nilainya. Namun, jika untuk kembali pada Bian, Miana menolak dengan tegas.


Terlebih tadi pagi, Miana sudah mengungkapkan itu pada Bian di akhir kegiatannya. Meski awalnya Bian tidak bisa menyembunyikan kecewanya. Detik berganti kemudian, Bian dapat tersenyum dan menyetujui keputusan Miana.


"Nggak apa. Lo nggak mau terima gue lagi. Asalkan hubungan kita tetap seperti ini."


Miana tersenyum lega. Bian kini sudah lebih dewasa dalam berfikir. Ia tidak bodoh untuk mengartikan usaha Bian dalam beberapa hari ini. Meskipun Ia sempat takut jika Bian akan terus memaksakan diri. "Maaf Bian. Tapi perasaan gue ke Lo, udah nggak seperti dulu lagi."


Bian mengangguk mengerti. "Ya. Gue ngerti itu. Gue sadar udah begitu banyak nyakitin, Lo. Bahkan ngelakuin itu dengan sengaja. Gue minta maaf," ungkap Bian.


"Iya, Bi. Gue seneng lihat Lo seperti ini," ungkap Miana denga tulus.


"Ya udah. Kita balik ke kelas," ajak Miana.


"Tunggu, dulu!" Bian berdiri menghalangi Miana yang hendak beranjak pergi. "Gue juga mau minta maaf lagi."


"Soal?"


"Karena Gue yang memaksakan buat deket lagi sama lo, Sisil jadi kembali berulah. Dan gue tahu alasan Lo di keluarkan dari minimarket."


"Karena Sisil," tebak Miana.


Arga kini hanya dapat bergeming tidak mengiyakan atau menepis tebakan Miana. Mengingat wajah Miana tidak begitu terkejut menghadapi kenyataan yang ia ungkap.


."Lo nggak marah?"


"Gue lebih kenal Sisil di bandingkan siapapun, Bi." Miana tersenyum.


"Gimana gue nggak makin jatuh cinta sama Lo, Na. Lo nggak cuma cantik di wajah, tapi hati Lo juga cantik," batin Bian.


"Miana!" Teriakan Riska mengembalikan lamunan Miana bersama Bian saat jam istirahat terakhir tadi.


"Katanya Lo mau ke cafe! Malah ngelamun," gerutu Riska. Mulut sudah melengkung seperti pantat bebek dan itu membuat Miana terkekeh.


"Jangan marah, Beib. Ayok pulang." Miana merengkuh bahu Riska dan berpisah sampai di lahan parkir. Karena Miana harus ke barisan motor yang udah sangat legang karena mereka pulang saat semua siswa sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Sedangkan Riska menghampiri mobil SUV hitam kesayangannya.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Terimakasih yang masih stay di sini. tolong sertakan komentarnya ya, Beib, gumawo


__ADS_2