Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 82


__ADS_3

☘️


Ospek hari ke-tiga mulai berjalan. Miana semangat mengikuti setiap sesi yang di lakukan oleh kating senior beserta panitia ospek.


Kali ini pengenalan lingkungan kampus di lakukan oleh kolaborasi antara kakak tingkat dan dosen.


Gedung aula yang cukup menampung ratusan maba (mahasiswa baru), kini di padati peserta ospek dari berbagai daerah.


Dari sana, Miana yang begitu supel tentu dengan mudah dapat banyak berkenalan dengan banyak teman baru. Nika tentu selalu menempel kemanapun ia pergi. Miana tak mempermasalahkan itu. Justru senang, karena kehadiran Nika sama seperti Riska saat sekolah di SMA dulu.


Pagi-pagi sekali Riska sudah menggerutu melalui Vidio call, karena berpikir Miana telah melupakannya. Sahabat selama tiga tahun bersekolah di SMA itu tengah merajuk, menyesali tak dapat kuliah satu kampus dengannya. Tak tega pada sang mama yang tinggal sendirian.


Satu sesi terselesaikan. Miana sudah menghafal yel-yel serta visi dan misi kampus.


Panitia ospek juga memberikan tugas dan misi yang harus diselesaikan oleh siswa.


"Duh, belum apa-apa, udah berat banget, ya," keluh Miana saat berjalan keluar aula bersama Nika.


"Iya. Tapi, nikmati aja. Lama-lama juga selesai." Nika menimpali seraya menggandeng lengan Miana.


"Habis ini, apa?" tanya Miana pada Niika.


"Kita akan mengunjungi both Unit kegiatan Mahasiswa (UKM). Biar kita makin mantap pilih jurusan yang akan kita pilih."


"Aku, sih. Udah Mateng ambil bisnis."


Nika tertawa. "Cakep. Kita sama." Nika melerai tangannya untuk membetulkan jilbabnya. Miana ikut berhenti memerhatikan Nika.


"Nggak gerah, ya, pakai jilbab begitu?"


"Ya enggak dong." Nika kembali mengajak Miana melangkah. "Nyaman banget malah, saat panas begini, contohnya. Lebih adem rasanya."


Miana nyengir karena terik matahari mengenai wajahnya.


"Nah, kepanasan, kan ,kamu." Nika menyibak rambut Miana. "Bawa iket rambut nggak?"


Miana menggeleng polos. "Jarang iket rambut, sih. Kata seseorang, lebih baik di gerai. Takut kelihatan lehernya," papar Miana.


"Arga, ya, yang bilang. Atau, Bian?" terka Nika.


Miana tersenyum. Semalam, sebelum tidur, Miana asyik menceritakan Arga dan Bian. Sengaja agar Nika tak berfikir berlebihan karena kebersamaannya dengan Bian di kafe semalam.

__ADS_1


"Arga," jawab Miana.


"Bian," kata Nika.


Miana berhenti dan mengikuti arah mata Nika. Empat langkah dari tempatnya ada Bian yang tengah melambai padanya.


"Bian,"


"Hai." Bian mendekat dan tersenyum simpul.


"Kok bengong?" tanyanya pada Miana yang masih bergeming.


"Kamu ngapain disini?" tanya Miana.


Bian terkekeh. Melihat pada Nika dan Miana bergantan lalu kembali pada Miana. "Menurut, Lo. Kalau gue disini, ngapain?" tanya Bian balik.


Tentu Miana bingung menjawabnya. Bian sosok yang tak mudah di tebak. Lalu fokusnya beraliha pada name tag yang menggantung di depan dada.


"Lo kuliah disini, juga," pekik Miana.


"Seperti yang, Lo lihat."


☘️


Bahkan di tengah keramaian ini Miana sangat berharap dapat bertemu dengan orang yang ia rindukan kehadirannya itu ada di tengah-tengah ratusan mahasiswa di sini.


Namun, sepertinya angan hanyalah akan menjadi angan. Justru sosok lain yang tak pernah terlintas di benaknya kini ada di antara mahasiswa dengan pilihan prodi yang sama dengannya.


"Ck. Heran deh. Di sekolah, dulu ada Riska yang nempelin Lo. Sekarang, di kampus ada Nika yang jadi bodyguard Lo. Kapan gue bisa sama-sama, Lo?"


Nika dan Miana kompak tertawa. "Ngiri terus nggak enak. Sekali-kali, nganan gitu, Napa." Nika menimpali di antara sisa terkekehnya.


"Makanya, gue kesini mau gabung. Males gue di ikutin cewek-cewek tuh." Bian menoleh sekilas pada tiga gadis yang menjaga jarak aman di belakangnya. Mungkin sedang berghibah karena terlihat sinis saat Miana dan Nika melirik ketiganya.


Wajah Bian memang menawan. Miana sudah tak heran dengan hal itu. Ia akan menjadi daya tarik kaum hawa yang melihatnya. Mereka tidak tahu saja, bagaimana mengerikannya Bian bila tersentuh.


"Duh. Jangan sampai gue jadi sasaran mereka karena mereka pikir kita dekat, ya, Bi. Gue mau kuliah dengan tenang." Miana mulai memasang wajah takut-takut.


"Nggak akan," tegas Bian sungguh-sungguh. "Lo nggak lupa, kan, siapa gue."


"Ya .. seantero SMA 89, memang sudah tahu. Tapi lingkup kampus ini lebih besar, mana mereka tahu, Bi."

__ADS_1


"Udah, Lo santai aja."


"Bi, Lo utang penjelasan sama gue " Miana mengingatkan suatu hal dan Bian mengulas senyum.


Setelahnya, Miana menarik Nika pergi ke kantin kampus untuk makan pagi yang terlambat. Tadi pagi ia tak sempat ke kantin Asrama. Banyak tugas yang ia siapkan bahkan sejak subuh. Akhirnya Miana tak sempat sarapan pagi.


☘️


"Jadi gimana ceritanya?" todong Miana begitu duduk pinggir danau.


Danau kecil di samping area kampus menjadi tempat Miana berbicara dengan Bian. Tak ada Nika di antaranya. Teman sekamar Miana itu masih ada keperluan menyelesaikan administrasi di dalam kampus.


Bian mengulas senyum tipis sebelum bercerita, membuat Miana memicing curiga. "Gue menang trik sama Papa. Papa paksa gue buat ngelanjutin perusahaan saat gue udah lulus nanti. Gue akui, papa memang perfect. Tak di ragukan soal perhitungan. Tapi gue nggak mau ninggalin tanah air. Nggak mau ninggalin cinta gue."


Tersentil hati Miana akan penuturan Bian. Seolah sedang tersindir akan bagaimana Arga mengingkari janjinya. "Lo di paksa kuliah di luar negeri?" tebak Miana.


Bian kembali tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari genangan air tenang di depan sana. "Lo bener. Dan gue nggak mau itu. Gue nyusun strategi aja kasih pilihan sama Papa."


"Lo ngacem nggak mau kuliah?" tebak Miana dan kali ini Bian tertawa hingga matanya semakin menyipit.


Bian menumpu kedua tangan pada kedua lututnya yang ditekuk. Ia sandarkan dagunya disana tanpa meninggalkan senyum tipisnya.


"Gue tersanjung. Ternyata, Lo mengenal gue dengan baik, Miana."


Bukannya bangga, Miana justru terkekeh sejenak lalu menggeleng. "Lo, gila, Bi. Di saat anak yang lain mohon-mohon pengen lanjut sekolah. Lo malah bikin bercanda. Gimana kalau papa Lo beneran nggak sekolahin Lo. Yang rugi siapa!"


"Itu nggak akan Mungkin. Bagaimanapun, orang tua tetap ingin yang terbaik untuk anaknya."


Miana tak mengalihkan atensinya dari Bian. Ia tahu, Bian belum selesai bicara.


"Keinginan gue simple. Gue mau kuliah tanpa di atur oleh papa. Gue udah ikutin sarannya. Dan Lo memperkuat itu. Gue pilih kuliah di sini dan papa langsung kasih ACC. Beres."


"Jadi semalam–?"


"Ya. Gue nggak balik ke rumah papa. Ada rumah nggak jauh dari kampus. Dan gue tinggal di sana sekarang."


Miana mengangguk lega. Setidaknya Bian tak menyia-nyiakan keberuntungan yang telah ada. Jika di bandingkan dengan dirinya, harusnya Bian begitu bersyukur dengan keadaannya.


☘️


Bian masih cinta Miana, tuh, mepet teruss🤭

__ADS_1


__ADS_2