Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 83


__ADS_3

Tidak terasa, ospek selama enam hari sudah berakhir. Miana berencana untuk pulang malam nanti dengan grabcar saja agar aman dari hujan. Kota Jakarta tak mengenal musim akhir-akhir ini. Hujan bisa datang kapan saja. Seperti hari ini, ia hendak membawa pakaian kotornya ke laundry. Namun terhalang oleh mood mager karena hujan begitu deras mengguyur kota. Alhasil, Miana mengemas baju-baju kotornya untuk di bawa pulang saja dan di cuci di rumah.


"Jadi, pulang?" tanya Nika pada Miana, saat ia selesai mandi. Ia menaruh pakaian kotor pada keranjang dan mulai membuka jilbabnya.


"Jadi, Nik. Ada urusan yang harus aku selesaikan di rumah." Miana menatap Nika yang tengah menggerai rambutnya.


Rupanya dari kamar mandi Nika harus tetap menutup rambutnya. Baru, saat di kamar ia membukanya kembali. Saat Miana hendak menanyakannya, ternyata Nika habis keramas.


"Urusan?" selidik Nika pada akhirnya. Ia meletakkan handuk di pundak, agar sisa air pada rambut tak mengenai bajunya.


"Apa itu urusan serius?"


Miana menghela nafas. "Ya," lirihnya.


"Ada apa, Miana? Barangkali aku bisa bantu? Apa perlu aku temani kamu pulang?"


Kini Miana menatap Nika. "Serius, kamu mau temani aku?"


Pada akhirnya, Nika sangat antusias untuk ikut Miana pulang. Apalagi, ia baru kali ini akan ke ibukota. Ia pernah bercerita ingin sekali tahu ibukota yang katanya sering macet itu.


"Mau, dong. Kan aku jadi kesampaian lihat ibukota secara langsung."


Miana mengangguk lalu kembali merapikan sisa perlengkapannya pada ransel. Ia juga tengah berbalas pesan pada Bian. Menolak ajakan Bian agar pulang bersama.


Dengan grabcar keduanya bertolak dari asrama menuju rumah Miana. Meskipun sedang weekend, jalanan masih ramai. Sesekali perjalanan jadi tersendat. Padahal jam pulang kantor sudah sejak petang tadi.


"Baru kali ini, aku ke kota besar. Ternyata benar, banyak gedung-gedung tinggi."


Miana tersenyum melihat Nika yang sedang terkagum-kagum. Padahal, Miana sendiri merasa bosan dengan kemacetan yang sudah mendarah daging di sini.


"Miana, nanti kasih tahu aku sekolah kamu, ya!" Dengan berbinar Nika menggoyang lengannya kanan Miana.


"Iyaa. Rutenya emang nanti lewat sekolah aku dulu baru ke rumah."


"Ohh, jadi searah gitu, ya."


Miana mengangguk. " Sebelum melewati sekolah aku, nanti kita juga lewat rumah lama aku. Yang semalam aku ceritakan."


Ya, semalam Miana menceritakan bagaimana ia dan keluarganya di usir oleh petugas bank dan berakhir tinggal di kontrakan. Ia juga bercerita bagaimana kehidupannya bekerja paruh waktu yang akhirnya terkena SP karena tindakan seseorang. Hanya saja, Miana tak mengatakan jika itu tak lain adalah ulah saudaranya sendiri. Baginya, lebih baik menyembunyikan aib atau kejelekan saudaranya. Terlebih, Nika termasuk orang baru yang hadir di hidupnya.


Miana menepati janjinya pada Nika saat melintas di rumah lamanya. Hingga membuat Miana bercerita tentang Bi Num pada Nika pada akhirnya.

__ADS_1


"Nahh, ini nih, kafe Hamber. Tempat aku terakhir kerja." Tunjuk Miana saat melintas di depan kafe tempatnya bekerja selama tiga bulan sebelum ujian.


"Oh, kafe Hamber, ya! Bentar-bentar..." Nika terlihat celingukan memindai lokasi kafe. Seperti tengah mengamati sekitarnya.


"Kenapa?" tanya Miana karena Nika terlihat antusias. Mendengar tentang kafe Hamber.


Nika jadi terkejut melihat Miana sampai merapatkan duduknya. Jelas sekali Miana seperti ingin tahu apa yang ada di benak Nika.


"Ah. Itu ... Aku belum cerita, ya." Nika nyengir saja agar mengurai rasa kawatir yang terlihat jelas dari wajah Miana. "Ada saudara. Katanya kerjanya sekitaran sini. Iya gitu maksud aku, Miana."


"Ohh, kirain ada apa," sahut Miana lega. "Kenapa nggak di W-A aja, sih. Kali aja bisa ketemu."


Entah mengapa saran Miana kali ini membuat wajah Nika jadi gelisah. Nika membenahi jilbabnya yang memang masih rapi, untuk mengurangi rasa gelisah.


Hingga suara sopir menyadarkan Miana dan Nika jika mereka sudah sampai pada tempat tujuan. Keduanya lekas turun dan membayar sesuai tagihan yang tertera melalui aplikasi.


Pintu di buka oleh Miranti. Setelah mengenalkan Nika pada Miranti lekas Miana mengajak Nika untuk ke kamarnya. Tepat pukul 22.00 mereka tiba. Sehingga Nika yang sudah lelah, lekas merebahkan diri di tempat tidur Miana.


"Nyaman banget kamar kamu, Na." Nika memindai seisi kamar yang begitu rapi dan tertata.


"Kalau udah ngantuk, tidur aja dulu. Anggep rumah sendiri."


"Gimana, bisa. Kalau aku butuh apa-apa. Masa' iya aku cari sendiri. Takut aku, sama mama kamu."


Nika terlihat ragu. "Emm .. Maaf -maaf, nih, ya. Itu, keknya mama kamu judes banget. Kan aku jadi takut."


Pengakuan Nika membuat Miana terkekeh lalu geleng-geleng kepala. Ia ikut duduk di dekat Nika. "Mama aku baik, kok. Ya ... Meskipun agak judes, sih."


"Nah, kan. Kamu sendiri ngaku."


Tak ingin pembicaraan melebar kemana-mana, Miana lekas memangkas pembicaraan itu. Miana mengambil jinjingan baju kotornya. "Gue nyuci ini dulu, ya. Kalau haus, depan kamar aku belok kanan, itu ruang makan. Biasanya, aku juga bawa air putih ke kamar, sih. Tapi, belum sempet aja."


Nika mengangguk. Badannya lumayan lelah setelah seharian menyelesaikan ospek hari terakhir hari ini.


Sementara Miana lekas mencuci bajunya. Ia sempatkan menemui Miranti dan menanyakan Surya. Tapi, selalu jawaban menohok yang ia dapat.


"Ngapain, sih. Cari-cari papa kamu! Mau minta duit ya! Makanya, jangan karena kamu udah dapat biasiswa trus kamu enak-enakan nganggur. Kamu pikir biaya makan itu juga gratis! Nggak semua itu dapat di tanggung dengan beasiswa, Miana. Makanya jangan sok-sokan, deh, kamu."


"Ma, Miana hanya cari papa, pengen ketemu."


"Alasan kamu aja! Kamu tuh buruan kerja juga! Mana janji kamu buat bantu papa, lunasi rumah ini? Kamu pergi dari rumah, kamu juga mau lepas tangan, kan!"

__ADS_1


Miana tak mau semakin terluka mengingat apa yang di katakan Miranti. Memang benar adanya, ia pernah berjanji demikian untuk ikut membantu melunasi cicilan rumah. Tapi, saat ini ia tak bekerja. Untuk makan saja, ia harus berhemat. Mengingat tabungan dalam kartu Atm-nya mulai berkurang.


Keduanya tak tahu saja. Jika di balik dinding, ada Nika yang tak sengaja mendengar percakapan ibu-anak itu. Dia yang awalnya ingin membantu Miana jadi terusik karena percakapan di ruang televisi yang begitu mengusik pendengaran.


Nika segera ke kamar Miana. Ia bersibuk pada ponselnya beberapa waktu. Sampai ia mendengar Miana telah kembali di tempat cuci. Ia lekas kembali menghampiri Miana. Tentu saja ia tak akan menampilkan wajah sedihnya. Tak di pungkiri, ada rasa sesak saat melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana Miana di perlakukan oleh ibunya.


☘️


Miana keluar rumah pagi-pagi sekali. Setelah menyiapkan sarapan di meja. Di bantu Nika keduanya berkutat dari sehabis subuh tadi.


Tujuannya kali ini adalah rumah Arga. Bertemu dengan pak Deri di gerbang akhirnya Miana tahu jika Sari sudah ada di sana. Ia lekas mengetuk pintu. Meski dengan dada yang bergemuruh ia tetap berusaha tenang.


Pintu di buka oleh Sari membuat Miana tersenyum lega. "Oma ... ," sapanya.


"Miana?" jawab Sari menyembunyikan raut terkejut.


Keduanya berpelukan sejenak. Lalu Sari mengajak Miana untuk duduk di sofa tamu. Setelah berbasa-basi, Miana tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya atas Arga.


"Sebenarnya, Arga dimana, Oma. Benarkah dia ke Aussie. Benarkah dia kuliah disana?"


Sari mengangguk sebagai jawaban. Sebelum Miana bertanya lebih lanjut Sari memegang lengan Miana dan menggeleng. Seolah sudah tahu apa yang Akan Miana tanyakan.


"Jangan tanya hal itu. Oma pun juga tidak tahu, apa maksud Arga menjauhi kamu, Miana. Selain berkuliah di sana ia juga membantu bisnis papanya yang disana. Jadi, entah sengaja atau tidak. Oma pun juga tak mendapatkan jawabannya."


"Oma pernah menanyakan keputusan mendadak yang ia ambil. Dan jawabannya, membuat Oma bungkam. Tak ingin bertanya lagi."


"Oma, jika Miana ada salah. Harusnya dia bisa tegur, kan! Nggak perlu nge-jauh dari Miana." Dengan mata berkaca-kaca dan suara parau, Miana berucap pelan. "Sampai sekarang, Arga tak bisa di hubungi, Oma. Akses sosial medianya juga di kunci."


"Oma juga sependapat." Sari mengangguk membenarkan, "tapi Arga tetap tak mau mengakui alasannya."


"Oma, Miana mohon. Kasih Miana kontak –,"


"Maaf," lirih Sari sendu sengaja memutus perkataan Miana.


☘️


Miana pulang tanpa hasil. Namun, pertemuannya dengan Sari sudah lebih dari cukup untuk mengetahui bagaimana dan dimana Arga berada.


Satu pesan Sari padanya sebelum ia meninggalkan rumah Arga membuatnya bertekad besar dan tak ingin tenggelam pada rumitnya memahami Arga.


'Kejarlah apa yang jadi impian kamu. Kesampingkan hal-hal yang tak penting. Jangan kamu lemah hanya karena keadaan tak berpihak padamu. Justru itu jadikan semua menjadi pelajaran berharga untuk kamu.'

__ADS_1


☘️


😍😍😍


__ADS_2