Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 11


__ADS_3

"Kalian nggak bisa, ya, libur ribut sehari aja!"


Serentak Riska dan Miana berpandangan lalu kompak menoleh pada Arga. Miana hanya meringis lalu mengedarkan pandangan pada ruang kelas. Ada beberapa teman yang juga memandang kesal padanya.


Miana dan Riska mengatupkan kedua tangannya. "Sorry, semuanya," lirih Miana dan Riska.


Sementara Arga mendengus kesal dan kembali melipat tangannya pada meja untuk menyandarkan kepalanya. Ia lalu bersiap memejamkan mata kembali.


"Ga. Lo, beneran bisa tidur tadi?"


Belum ada jawaban. Miana menoleh pada Riska dan mendapa gelengan kepala. Tanda tidak mengerti.


"Ga. Gajah sama semut kalau beradu menang yang mana?"


Dan masih tidak ada jawaban.


"Dongeng kura-kura sama kelinci waktu lomba lari. Duluan siapa sampainya?"


Sama. Arga masih diam tidak ada pergerakan.


"Beneran tidur, dia, Ris. Tapi dia pakai headset, loh." Miana kembali pada bangkunya dan masih sesekali menoleh pada Arga.


"Udahlah. Nggak penting, kah. Kita udah minta maaf tadi, kan! Lo, sih nggak bisa diem."


"Ya, gue jadi ngerasa bersalah, tau. Lo, ya, yang bikin gara-gara,"


Perdebatan panjang di sertai candaan kembali terjadi pada mereka. Teman di kelasnya yang sudah mengenal Miana dan Riska pun sudah sangat terbiasa akan hal itu. Tapi mungkin berbeda untuk Arga yang merupakan siswa baru.


☘️


Pulang sekolah Miana tidak langsung pulang. Sesuai saran dari Riska ia mendatangi sebuah minimarket milik pamannya. Riska sudah menghubungi paman secara langsung. Awalnya, paman ragu untuk menyetujui permintaan keponakannya. Namun, mendengar penuturan Riska yang ingin membantu Miana karena membutuhkan tambahan biaya sekolah membuat paman menyetujuinya.


Di sinilah, Miana sekarang menghadap manager minimarket. Dengan di antar Riska, dan menemaninya hingga selesai interview sebagai formalitas.


Miana yang selalu ramah dan murah senyum membuat seorang manager bernama Dini Ratna itu tidak ada alasan untuk menolaknya.


"Baiklah, kerja part time buatmu mulai bisa di kerjakan besok setelah kamu pulang sekolah. Sesuai ketetapan dari store ini. Gaji kamu tidak sama dengan mereka yang sudah tetap. Dan, ingat. Meski begitu, kamu harus bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh."


"Sepakat, Bu. Eh, Mba'. Aduh saya bingung mau panggil bagaimana. Karena memang Bu Dini masih terlihat muda." Miana melirik pada Riska dan Dini yang duduk bersekat meja di depannya.


Dini terkekeh dan menggelengkan kepala. Ia merasa terhibur dengan cara Miana berbicara karena dapat dengan mudah menghidupkan suasana. "Panggil saya, Mbak Dini, saja."


"Iya. Mbak Dini."


Interview yang biasanya berlangsung tegang, kini bisa berubah. Serasa berbincang santai.

__ADS_1


"Kalau begitu, selamat bergabung dengan Eska-mart, ya!"


"Siap," ucap Miana menyambut uluran tangan dari Dini.


Setelah mengerti peraturan dari Eska-mart, Miana dan Riska pulang ke rumah masing-masing. Tidak lupa Miana mengucap terima kasih pada Riska yang telah memberikan jalan agar mendapatkan pekerjaan.


Awalnya Riska ragu pada Miana langkah ini. Pikiran dan tenaga banyak terkerahkan jika ia mengambil pekerjaan ini. Dan Riska merasa tidak tega pada sahabatnya. Miana kembali meyakinkan Riska bahwa ia bukan orang yang manja. Apalagi Riska sudah mengenal Miana. Sedikit banyak, Miana sudah menceritakan bagaimana mama dan papanya. Namun, tidak untuk perihal Sisil. Miana tetap menjaga kerahasiaannya untuk itu.


Bi Num, adalah orang yang Miana kenalkan sebagai orang tuanya pada Riska. Karena seringnya Bi Num yang menjadi wali bila ada undangan yang menghadirkan orang tua siswa. Tidak mungkin Miranti mau untuk hadir sebagai orang tuanya. Miranti selalu mementingkan Sisil. Terlebih, Miranti sudah lebih kenal sebagai jajaran donatur untuk yayasan sekolah Miana. Dan untuk hal itu, papa seolah tidak mempermasalahkan.


"Kenapa, sih, Pa. Miana nggak boleh di ketahui orang-orang bila Miana anak papa. Toh, Miana juga nggak melakukan kecurangan. Miana berprestasi karena memang kemampuan Miana sendiri. Tanpa ada kaitannya dengan papa sebagai donatur."


"Itu jika dalam pemikiran kita sendiri, Mia. Pihak sekolah tentu mengerti akan hal ini. Namun, berbeda dengan respon masyarakat umum." Papa masih berusaha meyakinkan Miana. "Tolong, turuti saja mau mama, yah!" Surya mengusap lembut kepala Miana. "Maafin, Papa."


"Kenapa tidak dengan Sisil, Pa?"


"Sisil. Dia tidaklah setangguh kamu, Mia. Kamu dan adikmu itu berbeda. Kamu selalu lebih unggul dari dia. Dalam hal apapun."


"Memang kamu mau, kamu semakin unggul dan adikmu menjadi bahan perbandingan akan hal itu?" tanya Papa.


"Pa. Aku rasa, papa punya alasan lain, lebih dari itu."


"Mia, papa tahu kamu anak yang baik dan lembut. Papa rasa, kamu nggak kan setega itu untuk mengungkap hal ini."


Hanya tersenyum kecut yang dapat Miana berikan sebagai jawaban. Juga nasihat dari BI Num yang selalu ia ingat, untuk menjadi anak penurut dan kakak yang baik.


☘️


Lama mereka beradu beberapa kali putaran, akhirnya Bian-lah yang menjadi first rekor tercepat seperti biasa.


"Gila. Masih aja dia sulit terkalahkan." Bayu melepas helm full face dan meminum air mineral.


"Bahkan di saat pikirannya kacau pun dia malah semakin beringas," tambah Roy.


"Karena bagi Bian. Masalah itu seolah sebagai penyemangat."


Bayu, Arkan dan Roy masih saja terus mengomentari sekaligus memuji Bian. Mereka dapat mengambil sisi baik dari sifat Bian kali ini bahwa masalah seolah bukan menjadi penghambat keberhasilan seseorang melainkan sebagai cambuk untuk menguji seberapa kuat untuk melawannya.


"Kalian pada ngomongin gue," tuding Bian saat mendekat pada ketiga temannya. Bayu mengulurkan atau botol pada Bian dan langsung meneguk habis isinya.


"Kita nggak lagi ngomongin, Lo."


"Pede aja yang di unggulin! Nilai tuh, di perbaikin!"


"Saat di sini, jangan bahas soal nilai. Kita di sini untuk have fun, Man."

__ADS_1


"Gimana? Udah gini aja, kalian nggak ada yang pengen taklukin gue." Bian berkacak pinggang memandang remeh pada Bayu, Arkan dan Roy.


"Capek, dodol! Udah sore, nih. Emak gue pasti udah nyariin gue," kilah Bayu.


Jika mereka masih mau meladeni kegilaan Bian, sampai subuh pun pasti masih Bian ladeni. Ya, hanya ini upaya dia mengisi kesepiannya dari orang tuanya yang sangat sibuk pada pekerjaannya masing-masing. Jika beberapa bulan yang lalu Miana dapat mengalihkan perhatiannya dari hobinya ini. Maka tidak untuk sekarang, apalagi dia tengah menumpahkan rasa kecewanya lewat hal ini.


☘️


Saat teman-temannya sudah pulang. Bian kembali sendiri. Tempat favoritnya kini adalah pada balkon kamarnya. Menikmati angin malam yang dapat menenangkan. Dalam sepi, Bian kembali mengingat kebersamaannya dengan Miana. Gadis manis yang dia perkenalkan pada Papa dan Mama saat ulang tahun ke 17 beberapa bulan yang lalu.


Tidak di sangka respon keduanya begitu hangat pada kekasihnya itu.


"Hallo Tante Hana, saya Miana, teman Bian," sapa Miana. Tidak lupa ia mengulurkan tangan pada ibu dari Bian itu. Saat tersambut, Miana segera mengecup singkat punggung tangan wanita anggun yang tampil fashionable itu. Bibir merah dan tatanan rambut terurai rapi sebahu. Pakaian yang dikenakan terlihat simple namun tetap elegan pada tubuhnya.


"Saya Hana, dan ini suami saya, Pram."


Miana beralih pada pria paruh baya yang masih sangat bugar itu. Memberi sambutan yang sama seperti pada wanita yang berdiri di sampingnya.


"Wah. Bian. Ini beneran teman kamu?" tanya Hana pada Bian.


"Iya.Ma. Miana ini pacar aku."


"O, o. Tumben sekali dengan seleramu kali ini. Beruntung kamu ketemu Miana. Apa kalian satu kelas?" tanya Hana antusias. Meskipun Hana sibuk dengan perusahaan dan sering meninggalkan kedua anaknya di rumah, ia selalu memantau dari ART kepercayaannya.


Jadi, bagaimana kelakuan Bian di luar sana, Hana dan Pram selalu tahu.


Oleh karena itu, melihat Bian yang berubah saat dekat dengan Miana kali ini membuat Hana merasa terheran. Pasalnya yang ia tahu, Bian sering berganti ganti pacar, dan pergi ke tempat yang sangat Hana khawatirkan. Seperti nongkrong dan ikut balap liar.


"Iya untuk tahun ini, Tante. Saat kelas satu saya dan Bian berbeda kelas," jelas Miana.


"Sering-sering main ke rumah ini, ya, Miana. Tante sering dengar dari asisten rumah tangga di sini. Kehadiran kamu, membuat rumah ini menjadi ramai. Apalagi kamu sering ajak Bian dan Raya belajar bersama. Tante senang, pokoknya," ungkap mama waktu itu. Membuat Bian sedikit iri, karena Miana dapat dengan mudah berbaur dengan sang mama.


"Tante bisa saja."


Baru pertama kali bertemu saja, Miana dapat dengan mudah menarik perhatian mama. Jika saja sifat Miana itu ada dalam dirinya, mungkin, Bian akan lebih senang dan merasa di perhatikan.Sehingga ia tidak perlu mencari perhatian mama dan papa dengan hal-hal buruk sebelumnya. Karena bagi Bian, saat ia sedang berurusan dengan pihak sekolah. Mama dan papa akan segera pulang, dan sedikit menjadi sosok orang tua yang perhatian. Sedikit saja.


Bian sedikit menarik sudut bibirnya, mengingat hal itu. Lalu, ia memasukkan kedua telapak tangannya pada saku celananya. Menepis segala pikiran buruk tentang Miana.


"Gue harus lakuin sesuatu."


***


Mau lakuin apa ya, Bian??? 🤔🤔🤔🤔🤭


Pasti Bian mau ingetin untuk like dan komentar nya, pren.

__ADS_1


Eh, ganti lah manggilnya. biar kekinian, begitu kan BESTie? 😍🤗🤗🤗


__ADS_2