Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 68


__ADS_3

"Dan Lo nggak sakit hati. Atas semua perlakuan mama dan sodara Lo?" tanya Arga. Setelah mendengarkan semua cerita dari gadis di sampingnya.


"Bohong, jika gue bilang, nggak sakit hati, Ga," jawab Miana.


Miana menceritakan hal-hal yang ia alami selama ini. Bahkan untuk alasan Sisil yang merusak hubungannya dengan Bian dulu. Ia juga mengklarifikasi soal foto yang dulu sempat heboh di awal kelas 12. Sampai sebutan gadis murahan turut serta ikut tersemat dalam namanya. Berusaha tak begitu memperdulikan. Toh, memang dia tidak melakukan hal yang rendah selama ini. Lambat-laun, teman-teman sekelasnya jera dengan sendirinya.


Kini Arga mendapatkan jawabanya. Pertanyaan yang dulu selalu berputar di pikirannya sudah terungkap oleh sosoknya langsung. Dulu, ia berusaha mengabaikannya dan tidak tertarik dengan kasak kusuk yang beredar di kelas barunya waktu itu. Merasa bukan urusannya.


Arga mengangsurkan satu botol isotonik pada gadis berambut panjang di sampingnya.


"Makasih, Ga."


Tidak ada raut sedih berlebihan yang ia dapat di wajah imutnya. Padahal, ketidakadilan yang ia dapatkan bisa saja membuat orang lain menutup diri. Tapi, gadis di sampingnya itu tidak menunjukkan hal itu. Cenderung ceria dan periang. Atau memang, ia hanya bersembunyi di balik sikap rame-nya itu?


"Habis ini, kita kemana? Gue mau ajak jalan-jalan, Lo." Arga bertanya setelah Miana menutup botol.


Miana menyapu sekelilingnya. Taman kota yang menjadi tempatnya bersama Arga untuk mengungkap semua hal yang Arga tanyakan. Setelah ketegangan kecil di rumah tadi.


"Gue pengen ke Ancol." Jawaban Miana membuat Arga kini mengeryit menatapnya.


"Kenapa Ancol?"


"Karena, terakhir gue kesana saat gue sekolah TK."


Arga tentu terkejut mendengarnya. Setelah itu ia memahami dari cerita Miana. Yang Arga tangkap, banyak masa kecil hingga beranjak remaja bersama Bi Num. Maka ia tak heran, Miana begitu merasa kehilangan saat Bi Num, memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.


"Ok. Kita jalan sekarang." Arga berdiri, mengulurkan tangannya. Ada senyum tipis sekali di wajahnya.


Miana tak lekas meraih tangan Arga. Ia hanya menipiskan bibirnya. Binar kebahagiaan tidak dapat ia tutupi. Tidak akan melewatkan kesempatan ini. Miana menerima uluran tangan Arga. Sejenak Arga mengeratkan tangannya. Membuat Miana tersenyum lebih lebar, menampilkan jajaran gigi tersusun rapi di sana.


"Makasih, Arga."


'Cantiknya,' batin Arga. Tentu saja, Arga tidak biasa menyuarakan apa yang ada dalam pemikirannya.


Ia lekas membawa Miana sesuai keinginannya. Meninggalkan taman kota menuju Ancol. Panasnya ibukota tidak begitu mengganggu dua insan yang tengah melambung bersama. Keduanya begitu menikmati setiap putaran sepasang roda yang beradu di aspal jalanan.


Sesekali Arga merapatkan kedua tangan Miana. Agar dapat melingkar sempurna memeluk punggungnya.

__ADS_1


Beruntung, Miana menggunakan masker. Sehingga setiap rona wajahnya dapat tersamarkan. Begitu juga dengan Arga. Ia berlindung dari penutup helm full face yang ia kenakan.


"Kenapa nggak pakai jaket, sih? Panas, kan jadinya," ujar Arga saat berhenti di lampu merah.


"Nggak apa, udah biasa," sahut Miana.


"Beli, jaket, dulu, gimana?" tawar Arga. Ia menyempatkan menoleh penuh pada Miana.


Di tatap sedekat itu membuat Miana salah tingkah.


"Ng... nggak usah, Arga." Miana berusaha menolak. Karena memang tidak masalah baginya berpanas-panasan.


"Tau gitu, aku bawa mobil tadi."


"Nggak apa, lebih nyaman seperti ini."


Ucapan Miana terdengar menggelikan bagi Arga. Ia pasti mengartikan lain maksud Miana.


"Kamu, modus banget, bisa peluk-peluk aku, kan." Arga melirik Miana dari kaca spionnya.


"Arga, ih." Miana menepuk keras punggung Arga. Wajahnya jelas memerah karena malu atau lebih tepatnya salah bicara.


Tidak lepas dari perdebatan lagi, keduanya seolah sudah begitu biasa dengan ribut kecil seperti itu. Miana berusaha menolak karena harga di sana bisa untuk dua potong baju di supermarket saat diskon. Tapi, Arga tak menghiraukannya. Akhirnya, pilihan jatuh pada jaket jeans warna senada seperti yang Arga kenakan. Hanya saja, tidak ada motif dan gaya sobek-sobek di sana.


Empat puluh menit mereka sampai di tujuan. Karena hari Minggu, tentu di sana sangat ramai.


Hari sudah memasuki waktu Ashar. Miana mengajak Arga untuk melakukan kewajibannya terlebih dahulu. Setelahnya kedua bertemu di halaman masjid di area itu. Lantas memilih berjalan menyusuri pantai.


Arga tidak membiarkan tangan mereka terlepas lama. Selalu ia menautkan kembali kedua tangan itu jika sebentar saja terlepas. Seolah ingin menunjukkan bahwa Miana adalah miliknya.


Bila keadaan hening sejenak. Keduanya sedang bersibuk merasakan setiap debaran jantungnya. Inikah kata orang, tentang indahnya jatuh cinta?


Bagi Arga ini adalah pertama kalinya ia jatuh cinta. Tidak dengan Miana. Ia pernah mengalami hal ini sebelumnya, pada Bian. Orang yang di rebut paksa oleh adik kesayangannya.


Tidak akan melupakan kenangan itu. Sampai kapanpun, Bian pernah ada di dalam cerita hidupnya. Dan sekarang, ia harus menjaga apa yang telah ada dalam genggamannya.


"Mikir apa, sih?" tanya Arga memecah keheningan.

__ADS_1


"Lagi, mengenang tempat ini aja. Ternyata, sudah lama sekali gue nggak kesini."


Arga beralih meraih bahu Miana. "Duduk sana, yuk!" Arga menunjuk sebuah tempat yang di sediakan oleh pihak wisata.


Dua buah kelapa muda sudah tersaji di depan mereka. Duduk bersisihan sambil mengamati lalu lalang pengunjung dan suasana khas pantai. Deburan ombak yang saling bersahutan menjadi irama menenangkan yang sudah lama tak Miana dengar.


Lengkingan suara anak-anak yang bermain pasir atau saling berkejaran menjadi fokus Miana saat ini. Ia mengenang saat ia bersama keluarganya di sini. Papa dan mama begitu asyik berfoto bersama Sisil. Sedangkan ia akan menjadi pengambil gambar saja. Hanya ada satu, dua foto saja keberadaan dirinya dalam potret keluarga itu. Ia sudah berhasil mencetaknya dan ia simpan dalam buku catatannya. Itupun atas inisiatifnya sendiri.


Sungguh kentara Miranti membedakan kasih sayangnya sejak kecil. Namun, hal itu selalu Miana tepis dengan adanya sakit yang di alami sang adik. Mungkin memang Sisil harus mendapatkan perhatian khusus. Begitulah pemikiran positifnya selama ini.


Diam-diam Arga mengamati gerak-gerik Miana. Setelah selama empat puluh menit berlalu, ia hanya bisa melihat wajah sang kekasih hati melalui spion motor. Itupun, masih tertutup masker.


Atensi Miana beralih pada ponselnya yang terus bergetar. Ia membuka ponselnya dengan mengetikkan kode. Arga jadi teringat akan hal itu. Tapi ia tahan karena Miana terlihat berbalas pesan.


"Siapa?" tanya Arga mulai memupuk cemburu.


"Bian, dia tahu kita udah jadian."


"Oooh," jawab Arga singkat.


"Kok, nggak terkejut dia dapat darimana?" tanya Miana. Ia simpan ponselnya pada mini backpack miliknya. Lalu ia letakkan pada meja di depannya.


"Gue update story' tadi." Arga menggulum senyum memerhatikan wajah Miana yang terbelalak.


Miana lekas kembali mengambil ponselnya. Benar, Arga tengah mengunggah story pada story' WhatsApp. Potret Miana yang tengah berpose. Ia terbelalak, menyadari potret dirinya saat di kota tua semalam. "Ihh, nyuri foto gue!" Miana mendaratkan cubitan di lengan Arga. Meskipun Arga sudah berusaha menghindar. Nyatanya lengannya masih terkena sasaran Miana.


"Caption-nya juga, gaje banget." Semakin gencar saja melancarkan aksinya. Hingga Arga harus melarikan diri dari Miana.


Aksi kejar-kejaran, tak dapat di elakkan. Cukup sulit, namun akhirnya Miana mendapatkan Arga dengan menarik kaosnya. Hingga Arga terjatuh di air.


Beruntung, sebelumnya Miana meletakan benda pipih kesayangannya itu di meja. Jika tidak, pasti dia akan meraung karena ponselnya pasti juga akan tercebur bersamanya.


Arga tertawa saat Miana menggelitik pinggangnya. Keduanya sudah basah dengan air laut. Berbaur dengan pengunjung lain di pinggir pantai. "Ampun... ampun. Oke gue nyerah," putus Arga.


Miana melepaskan Arga dan berjalan kesal menuju bangku sebelumnya. Tapi, meskipun kesal wajahnya tak berhenti bersemu mengingat caption yang Arga tulis.


☘️

__ADS_1


Kira-kira, apa caption Arga, ya???


__ADS_2