
Bian," lirih Miana.
"Ikut, gue. Na!" Bian meraih tangan Miana.
Sedangkan Miana mengernyit heran. "Ada apa?" tanya Miana saat sebelah tangannya sudah ada di tangan Bian. Tatapan datar kedua mata Bian melihat penuh pada Miana tanpa berniat menjawabnya.
Meskipun Miana melakukan perlawanan ,tangan Bian begitu erat menahannya. Ia sebentar menoleh pada Arga karena merasa tidak nyaman. Dalam benak ia meminta tolong lewat bahasa mata.
Berbeda dengan respon Arga. Terkejut tentunya. Namun ia berusaha tenang, hanya tangan yang mengepal di bawah meja. Apalagi melihat Miana berkali-kali menoleh ke arahnya. Sedangkan ia masih diam di bangkunya.
"Sakit, Bian." Miana semakin meronta. Namun, tidak menghalangi niat Bian.
Yang ada, Bian semakin mengeratkan genggaman. Dan membuat Miana semakin takut.
"Gue, salah apa lagi Bian?" tanya Miana kembali dan tetap tidak mendapat jawaban, meskipun ia mengulangi pertanyaan yang sama.
Tepat di depan kelas, Bian sedikit kesusahan untuk mengambil langkah kembali. Ia menoleh untuk memastikan apa yang tengah menghalanginya dan membuatnya berhenti begitu juga dengan Miana. Ternyata ada tangan lain yang menahan Miana. Tidak ia perdulikan. Meskipun Arga ada di sana memasang wajah santai seperti biasanya, juga menahan sebelah tangan Miana.
"Stop. Ikut campur urusan orang, Ga!" Bian memasang wajah mengintimidasi ada Arga. Sedangkan Arga terlihat santai dengan senyum tipis seperti biasanya.
"Apa Lo lupa? Lo, yang ambil Miana dari gue."
"Jangan paksa gue untuk hajar Lo, ya, Ga!"
"Nggak masalah. Urusan gue sama Miana belum selesai dan Lo udah seret dia. Lain kali, kalau Lo mau ambil seseorang. Pastikan dulu dia selesai dulu dengan urusannya."
Bian geram dan mendorong bahu Arga. "Siapa Lo, ngatur-ngatur gue!"
"Lo bisa bicara baik-baik." Arga mengangkat satu tangan Miana. "Ini akan gue lepas jika dia berkenan pergi sama, Lo."
"Lo suka sama Miana?" tanya Bian menyelidik. Dan Arga hanya menarik senyum tipis.
Bian berganti menatap penuh pada Miana. "Gue cuma mau ngomong bentar. Dan ini penting!"
Dengan menelan ludahnya yang terasa tercekat. Miana bergantian melihat Arga dan Bian. Seperti tidak ada pilihan. Kedua pasang mata elang yang berdiri di samping kanan dan kirinya begitu menunggu keputusannya.
Terakhir Miana memandang wajah Arga, seolah meminta izin. Tunggu? Meminta izin untuk apa? Tentu saja, karena memang pembicaraannya dengan Arga belum selesai karena Bian menggangunya. Oh, sepertinya keadaan ini, kembali terulang.
"Gue pergi sama Bian, dulu, ya, Ga. Nanti pulang sekolah kita bicara lagi."
__ADS_1
Arga terlihat berfikir sejenak dan berganti melihat Bian. "Pastikan jangan berbuat hal yang merugikan reputasi anda, putra pemilik yayasan, yang saya hormati." Kata Arga seraya melepaskan tangan Miana. Ia tidak perduli dengan wajah Bian yang kian menegang, terlihat menahan amarahnya.
"Baik-baik, Lo," ujar Arga pada Miana. Ia langsung kembali ke dalam kelas tidak menunggu jawaban Miana.
Kini, Miana beralih pada Bian. Seolah Bian pun juga tanggap pada keinginannya.
Tetap dengan langkah lebar, Bian membawa Miana untuk berjalan. Dan tujuannya adalah ruang UKS. .Sampai di sana, ada dua orang siswi dengan wajah terkejut pada seraut wajah masing-masing.
Miana melirik Bian, dan menghela nafas. "Bian, wajah kamu menakutkan mereka." Miana mencoba memperingatkan Bian.
"Enggak, kok, Miana. Kita sudah selesai. Dan akan keluar. I-iya, kan," kata siswi berambut bob pada temannya yang sedang menahan kesakitan dan mendapat anggukan.
Segera keduanya pergi dari ruang itu. Menyisakan Bian dan Miana.
Bian melepaskan tangan Miana setelah memastikan pintu UKS tertutup sempurna.
"Bian, ada apa?" tanya Miana penasaran. Ia tidak dapat menebak apa isi hati mantan pacarnya. Bian tidak mungkin membawanya dengan kasar jika memang ia tidak membuat kesalahan.
Bian melipat kedua tangannya dan memandang penuh pada Miana. Terdapat jarak aman di antara keduanya. Namun, hal itu masih membuat Miana sedikit takut.
"Pertama, kau pembohong besar Miana." Bian menunggu respon Miana, tidak ia temukan selain mata membulat dari wajah cantik mantan pacarnya. Dan hal itu, membuat Bian tersenyum masam lalu menggeleng samar. Bian dapat memastikan bahwa itu merupakan pembenaran dari yang ia ketahui sebelumnya.
"Tunggu, Bian. Apa maksudnya?" pekik Miana mulai tidak terima terhadap tuduhan yang ia terima.
Senyum Bian terukir manis tapi itu justru mengerikan untuk Miana.
Wajah ketakutan Miana, kini semakin membuat Bian tertawa. Hal lucu itu, membuat kedua tangan Bian mengacak tatanan rambut yang sebelumnya sangat rapi menjadi sangat berantakan.
"Ternyata Lo masih seimut ini," ungkap Bian setelah menguasai reaksi tubuhnya. Seolah mendapat hiburan baru. "Sayang banget, kita udah jauh. Apa Lo nggak ada niatan pengen balikan sama gue, sekarang?"
Walaupun wajah tampan itu diliputi senyuman, Miana reflek menggeleng dan saat ini semakin takut melihat Bian.
"Hei, jangan takut." Bian mendekat dan dengan cepat memegang kedua bahu Miana, dan memasang senyum seakan meyakinkan Miana. "Gue disini akan menceritakan segala kebodohan gue. Dan satu-satunya orang yang membuat gue seperti ini hanya satu nama. Miana Aludra." Bian menyeringai dan melepaskan tangan. Ia berjalan menuju pintu UKS dan menguncinya.
Sejujurnya Miana takut, tapi ia segera menguasai reaksi tubuhnya dan berusaha tenang. Karena dulu, sewaktu ia masih menjadi pacarnya, Bian tidak pernah berbuat hal macam-macam.
"Apa Miana kini berganti watak menjadi pendiam? Kenapa hanya diam saja?"
Bian kini mengintari Miana dan itu sungguh membuat Miana berkali-kali mengambil nafas agar kembali tenang dan tetap bergeming.
__ADS_1
Maina memberanikan diri menahan satu lengan Bian. "Sebenarnya apa maksud Lo bicara berputar-putar terus seperti ini, Bian?"
Bian berhenti dan kini keduanya berhadapan, meskipun Bian harus menunduk dan Miana sedikit mendongak. Tidak ada ketakutan lagi di wajah Miana, agar urusannya dengan Bian lekas selesai dan keluar dari suasana yang tidak nyaman.
"Sisilia Pramita. Dia adik Lo."
Deg. Miana kini tidak dapat menutupi keterkejutannya. Bahkan ia sampai mundur berapa langkah dari Bian. Dia bahkan tidak sadar, reaksi tubuhnya mengundang Bian untuk mengukir senyum tipis kembali. "Benar, ternyata," gumam Bian.
"Kenapa, Miana. Lo terkejut?" sarkas Bian dengan pandangan sayu. "Lo adalah kakak yang baik. Tapi Lo juga kakak yang jahat, Miana."
Miana memandang Bian seolah menyangkal pendapat Bian tentangnya. "Bagaimana bisa Lo rela, adik Lo dapat pacar dengan seribu kepalsuan seperti Gue. Gue nggak bisa sayang sama dia secepat itu. Dari dulu, bahkan saat Lo coba nolak gue dengan Sisil sebagai alibinya. Gue nggak bisa, Miana. Gue bukan Bian yang sebelumnya. Dan itu sejak ketemu sama Lo."
Bian segera membuang muka saat wajah Miana terlihat menyesal. "Harusnya gue sadar dari dulu. Saat Lo selalu menggunakan banyak alasan. Sengaja buat diri Lo jelek. Seperti itu sayang Lo ke adik Lo sampai mengabaikan sayang gue ke, Lo!"
"Gue minta maaf untuk itu," tegas Miana sekaligus dengan wajah menyesal.
Bian tersenyum miris. "Dan bodohnya gue, nggak selidikin semuanya dari awal." Ia menumpu tangan pada dinding dan menunduk dalam-dalam.
"Kenapa Lo buat gue jadi menyesal sekarang, Miana. Sia-sia gue mencoba sayang ke Sisil dan bisa sadarin perasaan Lo."
"Bian, semua nggak sesederhana yang Lo bayangkan. Gue udah rasain sakitnya Lo abaikan selama ini. Gue nggak berharap lebih, Bian. Kita bisa temenan seperti biasanya. Dan gue akan lebih bahagia jika Lo bisa sayang dengan tulus ke Sisil."
"Lo, egois!" Bian kembali berhadapan dengan Miana. "Lo nggak bisa atur perasaan gue, Miana. Dan Lo nggak bisa paksain itu!" Bian memijat pangkal hidungnya. "Kenapa Lo harus ngalah sama Sisil? Karena dia adik Lo? Adik macam apa dia selalu jelekin Lo di depan gue. Itu yang Lo sebut sebagai adik. Hahh?"
Miana menggeleng cepat. "Sisil nggak sejahat itu, Bian. Gue bisa lihat sesayang apa dia sama Lo. Hanya Lo nggak mau mengerti dia."
"Lo pikir gue anak kecil! Yang bisa di atur-atur!" Bian mendekati Miana dan membuat Miana melangkah mundur hingga terduduk di brankar.
"Bian. Bian. Jangan begini," tahan Miana.
"Lo tau, Miana. Gue bisa aja cari cewek berapapun yang gue inginkan. Tapi gue masih sayang Lo. Gue udah berubah, Miana. Dan itu sejak ketemu Lo."
"Bian. Gue lebih nyaman kalau kita temenan seperti biasanya."
"Masih karena Sisil?"
"Ya." Miana berucap mantap.
Bian meraup wajah dengan kasar. "Pergilah!"
__ADS_1
☘️☘️☘️