Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 23


__ADS_3

☘️☘️☘️


Arga memberi kecupan singkat di pipi Sari, yang sedang menikmati secangkir teh dan menikmati tayangan televisi di ruang tengah. Ia lantas pergi ke dapur untuk mengambil satu gelas jus melon yang sudah di siapkan oleh Bi Ida. Membawa satu gelas itu setelah mengucapkan terimakasih pada asisten rumah tangga paruh baya itu.


Duduk bersandar di sofa yang sama dengan Sari. Ia gemas sekali pada Oma yang sedang menggerutu mengomentari alur sinetron pada layar, jika tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Omaa, ngapain, sih? Kaya', beneran aja. Semua itu sudah ada scenarionya. Oma nggak perlu repot-repot merencanakan alur sendiri," ucap Arga sambil meletakkan satu gelas kosong pada meja di sampingnya.


"Ck. Kamu ini, bagaimana Oma nggak kesel, raut wajah jahat udah jelas begitu, masih aja nggak peka. Dasar sinetron! Huh."


Oma kesal, akhirnya ia menekan asal remote control dan tanpa sengaja menampil seseorang yang sangat ia kenali. Begitu menoleh pada sang cucu, ia mendapati netra Arga juga tengah menatap tajam pada sosok yang sedang jumpa pers di layar.


Wanita berusia empat puluhan yang masih terlihat cantik itu, tengah menjawab pertanyaan beberapa para wartawan terkait dengan unggahan di akun sosmed miliknya. Terlihat jelas, potret Arga yang tengah memegang tropi piala dan piagam penghargaan di sana. Caption di sana tertulis 'juara di hati mama'.


Seketika rasa sesak dan juga hawa panas menghampiri Arga, dengan cepat ia meninggalkan ruang tengah. Meninggalkan Oma yang masih terpaku dengan mata tidak beralih dari layar sebesar 32 inci itu.


Mengapa baru sekarang mama mengakuinya sebagai anak. Mengapa mama begitu tega meninggalkan ia saat ia masih membutuhkan belaian kasih sayangnya waktu itu. Mengapa mama begitu egois padanya, padahal papa sudah berusaha meraih tangan mama dengan tangis berderai. Mengapa? Mengapa?


Lalu, baru sekarang mama mengakuinya sebagai anak. Padahal beberapa tahun lalu saat ia datang bersama papa dalam keadaan tak berdaya juga suhu tubuh meninggi, dirinya terus abai. Lalu dengan kejam, orang-orangnya mengusir papa yang terus berucap maaf.


Terlalu banyak pertanyaan yang terus berada dalam benak lelaki berusia delapan belas tahun itu. Jika bertanya pada Papa, maka selalu saja jawaban dari papa tidak dapat memuaskannya.


"Papa yang salah. Papa sudah kehilangan maaf dari mama. Maafkan papa, Arga."


Selalu saja kata itu yang keluar dari mulut papa. Membuatnya di ambang tanya yang selalu mengusik hatinya dari tahun ke tahun. Ia sudah remaja hampir berusia dewasa. Papa harusnya segera menjelaskan saja apa yang terjadi hingga mama meninggalkannya juga papa, pergi bersama pria lain. Sampai kebencian itu, begitu tersemat pada dirinya. Hingga dirinya begitu dingin dan sangat membenci perempuan.


☘️☘️☘️


Di sekolah, tatapan semua siswa tertuju padanya. Arga hanya mengeryit memindai beberapa teman-temannya yang memandang terkagum-kagum padanya. Namun, tidak sedikit dari mereka menatapnya iba.


Sampai pada ruang kelas, beberapa siswa menyadari keberadaan Arga yang baru saja mendaratkan tubuh pada bangkunya. Mereka asyik menatap ponsel masing-masing sesekali memandang antusias pada Arga.


"Ga, gue nggak nyangka, loh. Ternyata Lo itu anak artis ternama. Keren banget mama, Lo, Ga. Aktingnya juga sukses bikin gemas orang jika melihatnya." Angel berucap dengan antusias tanpa perduli wajah Arga yang kian mengeruh.


"Ga, jadi Lo nggak tinggal sama bokab ,Lo," ungkap Yeslin.


"Wahh, ternyata seleb cilik yang lagi naik daun itu sodara, Lo, Ga. Boleh mintain folbek buat gue, donk."


"Nggak nyangka, sih, Ga. Ternyata Lo mandiri banget, hidup tanpa mama," Ammy ikut menimpali.

__ADS_1


"Yah, berarti gosip tentang Sarah Wijaya yang merebut suami orang itu bener, donk!" Hazel berkomentar.


"Salah, Zel. Mereka udah resmi bercerai, jangan ngawur kamu!" sanggah Thea.


"Wah, nggak nyangka gue bisa punya teman sekelas sama anak artis."


"Pantesan, Ga. Lo itu over good looking banget, mama Lo cantik walau udah nggak muda lagi,"


Miana. Ia hanya terdiam memerhatikan beberapa temannya terfokus pada layar gawai masing-masing. Sesekali dari mereka melirik Arga yang duduk tepat di belakang bangkunya.


Miana tidak berani berbalik sekedar melihat objek cerita mereka, mengingat kekesalan Arga kemarin masih belum mereda. Kini teman-temannya berkomentar tanpa filter. Sosok yang mereka bicarakan tentu besar kaitannya di sana. Mulut netizen warga +62 tentu tidak di ragukan lagi, terlebih sudah ada undang-undang untuk kebebasan berpendapat.


Cuitan berbagai respon teman-temannya, seakan membuka luka lama seorang Argaza Galang Danendra. kembali ternganga. Ia terdiam dengan rahang mengeras. Gemeletuk giginya beradu seolah sedang mengerat mangsa. Ia tidak menyukai suasana ini. Lebih baik ia di kenal sebagai anak single parents, tanpa dunia mengetahui asal usulnya. Inilah yang tidak ia sukai, jika publik mengenalnya sebagai anak artis. Anak seorang artis yang tega berpaling pada pria lain dengan mengabaikan anak kandung dan suaminya.


Selama ini Arga cukup diam mendengarkan berbagai gosip miring tentang mama. Sikap materialis dan kehidupan glamornya. Belum lagi, gosip receh hilir mudik berada di layar kaca. Entah itu sungguhan atau hanya upaya untuk mendongkrak namanya. Namun, di unggahnya foto dirinya pada akun sosial media milik Mama, menyisakan tanya besar. Untuk apa?


Ia menghela nafas berat. Melepaskan beban puluhan ton yang menghimpit. Dengan perasaan carut marut, ia mengikuti pelajaran meski ia paksakan.


Selang dua jam, ia keluar kelas sekedar untuk menetralkan emosinya yang hampir meledak. Arga mengayun langkah lebar sembarang arah. Hingga akhirnya ia berhenti di rooftop sekolah.


Tidak tahan menahan sesak di dada ia menghantam dinding beton di sisi rooftop.


Miana tidak tinggal diam. Kata hati tergerak untuk mengikuti Arga. Mengingat kemarin, Arga tengah menunjukkan sisi kemanusiaan padanya. Terlebih saat ia menjadi objek tarik menarik dua tangan besar orang yang bersikukuh mengantarnya, Arga lah yang lebih dulu melepaskan genggaman tangan saat ia mengaduh kesakitan.


Melalui hal itu, tentu Miana dapat mengambil kesimpulan jika di antara mereka terdapat satu orang yang lebih perduli dengannya. Ingat, perduli. Seperti perkiraan Miana.


Dan kali ini, Miana juga akan menunjukkan sisi perdulinya pada sosok tersudut terkait unggahan seorang artis yang menyiratkan hubungan darah pada teman sekelasnya itu.


Ia berjalan pelan, mendekati Arga yang duduk bersandar pada dinding beton. Dengan menenggelamkan wajahnya pada tumpukan lengan yang bertumpu pada kedua lututnya. Nafasnya naik turun, seolah ia sedang mengendalikan perasaannya.


"Lo mau ikut berkomentar juga!"


Suara Arga menghentikan langkah Miana. Melihat Arga dengan posisi seperti itu, namun dapat menyadari kehadirannya, hal itu membuat Miana sedikit menipiskan bibirnya, meski ia sudah berjalan sangat pelan Arga dapat merasakan kehadirannya.


Miana tidak berani bersuara. Ia ikut duduk bersandar pada dinding itu. Namun, dengan kedua kaki bersimpuh. Menghirup udara segar di atas rooftop seakan menenangkannya.


"Tempatnya nyaman, ya, Ga."


"Pantes, selain gue ternyata ada Lo yang nyaman juga di sini."

__ADS_1


Miana tersenyum, melirik Arga yang masih betah dengan posisinya. Meski tarikan nafas sudah berangsur halus.


"Sayang banget, tempat se sejuk ini, hanya menjadi tempat rongsokan meja kursi bekas." Miana terkekeh." Harusnya, sewaktu dulu gue ikut OSIS, gue usulin tempat ini buat rapat. Biar nggak monoton di dalam ruangan terus."


"Oh, iya. Kemarin, teman gue nanyain Lo, Ga."


"Sepertinya dia naksir sama Lo,"


Miana melirik Arga kembali, ia memikirkan topik apa yang dapat menggugah perhatian temannya yang selalu terlihat santai namun sangat ketus bila berbicara itu.


"Ah, gue jadi makin banyak saingan donk, selain Angel di kelas, juga ada mbak Puji di toko. Ck, apa gue nyerah aja, ya,"


Berhasil. Satu pergerakan di susul pergerakan lain dari Arga kini telah tampak. Harusnya Miana, lega. Temannya tidak berlarut-larut meratapi masalah yang ia sendiri tidak tahu.


Arga melirik sinis pada Miana. Namun, Miana segera menampakkan wajah termanisnya. Tersenyum tulus pada Arga. Satu tangan Miana masuk pada saku seragamnya dan mengeluarkan satu lolipop di sana.


"Mau, nawarin. Tapi cuma satu," ujar Miana memelas.


"Tapi karena Miana baik hati, ini buat Lo aja ,Ga." Miana memberikan permen dengan satu tangkai berbalut bungkus plastik.


Sudut bibir Arga sedikit terangkat, lalu menunduk sekilas di susul suara terkekeh darinya. Setelah puas melepas tawa tertahan, Arga menatap serius pada Miana yang kini tengah melipat bibir bawahnya ke dalam.


Mendadak, Miana menarik tangannya dari hadapan Arga dengan perasaan berdebar. "Mati, gue! Dia mau ngapain? Mana gue di sini hanya berdua," batin Miana. Matanya melirik sisi kanan dan kirinya.


"G–ga. G–gue nggak bermaksud menghina, Lo. G–gue sungguh-sungguh cuma mau nawarin. Kalau Lo, nggak mau y–ya udah."


Arga sedikit mencondongkan badannya perlahan pada Miana.


"E, itu. Ga, kita ke kelas, yuk. Bentar lagi jam nya pak Bambang."


Miana perlahan beringsut dan berusaha berdiri. Namun, sesuatu terjadi di luar perkiraannya akibat terlalu lama terduduk, kakinya terasa kesemutan.


Bruk!


..._tbc_...


🤗 santai dulu sambil ngeteh, yuk BESTie. insyaallah besok up lagi.


vote sama komentar, boleh baget, ya

__ADS_1


__ADS_2