Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 96


__ADS_3

Melihat Arga memeluk Miana membuat Bian berdesir. Ia yang baru saja turun dari SUV metalik hitam mendadak mematung sejenak. Sebelum ia memalingkan wajahnya menunduk.


"Ya. Akuu kalah, Arga. Aku kalah."


"Seberapa keras aku membuatnya bahagia, nyatanya tetap kau orang yang dia harapkan."


Bukannya ingin lebih merasakan sakit lagi. Tapi Bian kembali menatap raut bahagia yang terpancar dari wajah Miana. Ia ingin menjadi saksi kebahagiaannya.


"Seberapa kuat aku membuat kalian jauh, nyatanya kalian tetap bersama lagi."


Ya. Bianlah yang memberi jalan bagi Arga agar memberikan jaminan beasiswa yang seharusnya ia miliki. Ia gunakan kekuasaan dan kekuatan sang papa untuk membantu Arga. Pembiayaan full selama kuliah beserta biaya di dalam asrama yang seharusnya Arga miliki dapat beralih untuk Miana.


Bian memberikan penawaran pada Arga. Ia akan menyetujui permintaan Arga asalkan dia mau menjauh dari Miana dengan alasan agar Miana dapat terfokus pada kuliahnya. Semua itu agar usaha Arga tak sia-sia.


Arga menurut, dengan rasa takut yang teramat ia melepaskan Miana. Tidak. Tidak sepenuhnya ia melepaskan Miana. Ia masih sangat menyayanginya. Ia bahkan tak mengucapkan apapun karena ia memang tak pernah rela untuk melepaskan Miana


Ia paksa Zaki agar adiknya mau menjadi teman Miana. Ia gunakan Nika untuk menjadi mata Arga di Indonesia.


Ya, apapun yang Miana alami selalu Nika sampaikan pada Arga. Seperti itulah Arga menjaga Miana. Meskipun caranya sangat menyakiti Miana.


☘️


Sudah beberapa hari ini, Miana lembur. Tanggung jawab kepala divisi keuangan yang kini tersemat padanya membuat Miana mengemban tanggung jawab yang besar.


Selama itu pula, Bian selalu singgah di ruangan Miana. Padahal, pekerjaannya sendiri sudah beres sejak tadi. Entah apa maksudnya, Ia hanya merebah di sofa panjang setelah ia selesai bersibuk dengan ponselnya.


Suara ketukan pintu membuat Miana membuka suara untuk langsung masuk. Ada petugas kebersihan datang membawa dua box makanan merk restoran ternama yang di letakkan di meja dekat sofa.


Tanpa harus bertanya siapa yang memesankan makanan itu, Miana sudah tahu jika itu adalah ulah Bian.


"Bi!" Miana sedikit mengguncang bahu Bian yang tinggal mengenakan kemeja abu muda tanpa jas. Meski sepanjang kaki jenjangnya masih terbalut celana panjang yang senada dengan jas yang teronggok di tangan sofa. "Bangun, Bi. Makananmu udah datang." Miana kembali mengguncang bahu Bian dan di jawab gumamanm malas khas bangun tidur.


"Jam berapa, sih?" tanya Bian begitu ia duduk sambil menyipitkan mata.


Lihat, baru bangun tidur saja ia sudah sangat mempesona. Beruntung Miana kini sudah memantapkan hati pada satu nama. Sehingga bagaimanapun Bian menyiapkan perhatiannya. Miana semakin merasa memiliki saudara. Ya, sebatas saudara.


Sayangnya, tidak begitu dengan Bian. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bila Miana benar-benar hanya menganggapnya saudara.


Bagaimana jadinya, mantan pacar jadi teman rasa saudara. Itu adalah rasa tulus agar Bian dapat terus dekat dengannya.


Itulah cara Bian membuat Miana tidak benar-benar meninggalkannya.


"Makan dulu, yuk! Udah selesai kan, kerjaan kamu?" ajaknya pada Miana saat melirik gadis yang sudah kembali ke mejanya lagi.


"Masih belum lapar, Bi. Kamu aja dulu. Nanggung, nih!"


Bian berdecak. "Biar aku pecat saja siapa yang bikin kamu harus kerja lembur begini."


"Bi," seru Miana memperingatkan. Membuat Bian beranjak dari sofa.


"Udah di temenin, juga. Nggak kasihan apa! Hargai, kek!" Bian menggerutu tidak jelas.


"Bi, mau makan aja, ribet banget, sih."


"Ya, makanya, kita makan sama-sama." Bian mendekat lalu menarik tangan Miana.


Meski berdecak samar, Miana tak mencoba melawan Bian. Ia turui saja. Jika di pikir-pikir, akan sangat mengecewakan jika ia menolak pemberian Bian.


Keduanya makan dengan tenang, sesekali membahas pekerjaan mereka jika kebetulan saling melibatkan dua divisi yang berbeda.

__ADS_1


"Semalam, kamu jalan lagi sama Arga?" tanya Bian saat masing-masing makanannya sudah habis, tinggal box-nya saja.


'Iya, Bi. Ketemu sama mamanya."


Ya, sejak Arga mendoktrin Miana masih kekasihnya, ia kembali mempertemukan kedua wanita beda usia itu. Respon Sarah begitu antusias saat kembali bertemu dengan Miana. Miana tak lagi bertemu dengan Sarah karena kuliah dan kesibukannya.


"Miana," panggil Bian. Menghentikan tangan Miana yang sedang mengemas bekas makan.


"Kenapa, Bi?"


Bian menumpu dia suku pada lututnya. "Apa Arga ada cerita sesuatu tentang aku?"


Miana mengernyit curiga. "Enng. nggak. Cerita gimana maksudnya?" cecar Miana dan justru membuat Bian gelagapan.


Jika aku jujur, apa Miana mau maafin aku?


☘️


Miana turun dari mobil Bian dan melambai sembari mengucap terimakasih. Ia masih berdiri memastikan Bian sudah keluar dari mulut gang dan bertemu jalan raya.


Saat akan melangkah dering ponsel dalam tas selempang, membuatnya merogoh benda pipih itu seraya melangkah masuk melewati halaman kost yang tak terlalu luas. Foto profil Arga sudah menyambutnya begitu ia menggeser icon hijau di sana.


"Iya, Ga,"


"Baru pulang?"


Miana tertegun sejenak. Bagaimana Arga bisa tahu ia baru pulang sedangkan sedari tadi ia tidak berbalas pesan sama sekali.


"Kok, tahu?" Miana duduk pada sofa lipat di samping meja. Melepas sepatunya dan melepas satu kancing teratas karena merasa gerah.


"Aku nungguin, dari tadi."


"Apa untungnya aku bohong, sih?"


"Trus sekarang, udah pulangkah?" tanya Miana sembari mendaratkan tubuhnya kembali di sofa.


"Aku di depan kamar kamu," kata Arga kemudian.


"Hah!" Segera Miana membuka pintu kamarnya dan benar ia mendapati Arga sedang duduk pada kursi kayu di teras.


Arga tersenyum lalu mematikan sambungan telepon.


"Hobi banget sih, datang mendadak begini. Kalau aku nggak di kost gimana, coba," sembur Miana.


Berjalan pelan, Arga menyimpan ponsel dalam sakunya."Memang kamu ada tempat untuk pulang, selain ke sini?" tanya Arga. Bukan bertanya, tetapi sengaja memancing Miana untuk jujur.


"Ada, Ga." Miana menunduk dan meremas kedua tangannya. Jujur ia takut jika Arga akan menilai buruk terhadapnya.


"Terkadang aku pulang ke rumah, keluarga Bian." Miana melirik lelaki di sampingnya yang terlihat tenang, namun wajahnya masih diam menunggunya menuntaskan ceritanya.Arga diam, masih menunggu Miana selesai bercerita.


Melihat raut wajah Miana yang tak tenang membuat Arga menarik Miana untuk duduk pada kursi panjang di teras.


"Arga, aku bisa jelasin." Miana memberanikan diri menatap Arga.


Anggukan kepala dan seraut wajah tenang oleh lelaki di sampingnya membuat Miana mulai menata untaian ceritanya.


Dengan menghela nafas, Miana mulai menerawang. "Waktu papa sehabis di kebumikan..." Miana akhirnya menceritakan sebab hubungan ia dan sang mama semakin memburuk. Juga bagaimana ia hidup di asrama selama tiga tahun dan satu tahun terakhir ia ikut tinggal di rumah orang tua Bian, menemani Raya. Tentu Miana juga menceritakan bagaimana Bian sampai pindah tinggal ke apartemennya agar Miana mau tinggal di sana selama di Jakarta. Miana lebih sering bekerja di anak cabang Solo. Jikapun ia ke Jakarta, hanya sebatas untuk acara event besar dan meeting penting. Baru saat Bian lulus, ia di paksa untuk lebih banyak kerkutat di kantor pusat.


Arga tersenyum setelah Miana selesai bercerita. Tanpa keinginan untuk menyela barang sedikitpun.

__ADS_1


"Ga, aku nggak mau kamu mikir macem-macem sama aku."


"Kenapa harus mikir macam-macam? Aku mikirnya satu macam aja." Arga terkekeh di akhir kalimatnya. "Aku makin cinta sama kamu. Aku suka kejujuran kamu. Aku suka semua yang ada pada diri kamu," ucapnya tulus.


"Arga ih. Aku udah jujur, tau. Jangan godain aku terus." Tanpa sadar Miana menendang tungkai kaki Arga hingga ia sedikit mengaduh.


"Aku percaya kok sama kamu. Bahkan rasanya sekarang aku harus berterima kasih sama Bian dan keluarganya."


"Kenapa kamu yang harus berterima kasih?" ujar Miana sedikit protes.


"Karena mereka udah menjaga kecintaanku dengan baik."


Seketika itu, wajah Miana merona. Entah di dapat dari mana, kata-kata manis yang keluar dari mulut Arga. Saat Arga ingin meraih bahu Miana, dengan segera Miana menjauh.


"Kenapa?" tanya Arga sedikit kecewa.


"Aku baru pulang, Ga. Aku mau mandi dulu bentar ya! Kamu jangan kemana-mana, kamu harus ajak aku ke kota tua lagi malam ini."


Tanpa menunggu jawaban Arga, Miana berlari ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Membiarkan Arga duduk di teras sendiri.


Tanpa ia tahu, penampakan Arga di sana justru menjadi daya tarik tetangga kost yang mayoritas adalah kaum hawa. Beberapa dari mereka bahkan sengaja mondar mandir berjalan melewati halaman kost Miana. Mungkin sengaja cari perhatian.


Baru setelah sepuluh menit kemudian, Miana sudah bersiap dengan wajah riangnya. Arga tak ada niatan untuk menolak permintaan Miana. Karena ia juga sudah menantikan kebersamaannya kali ini.


Selama satu empat puluh menit, mereka sampai di tempat tujuan. Keduanya lantas berjalan menyusuri tepian danau buatan itu dengan sebelah tangan yang saling tertaut. Nyaman sekali.


"Miana," panggil Arga.


"Hmm," jawab Miana sedikit mendongak pada Arga hingga mata mereka bertemu. Dengan langkah pelan keduanya sejenak saling memandang tanpa ada yang mau mengakhirinya.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanyakan saja,"


"Apa kamu cinta sama aku?"


Pertanyaan Arga membuat Miana menghentikan langkahnya. Di ikuti oleh Arga. Hingga keduanya berdiri berhadapan.


"Kamu tanyakan hal yang kamupun sudah tahu jawabannya!" Miana sedikit terheran.


Arga tersenyum. "Lebih tepatnya, aku ingin dengar kamu bilang itu sama aku sekarang."


Miana terbelalak. Lalu dengan cepat ia menunduk agar wajah penuh rona kemerahan itu tak dapat Arga lihat.


"Heii." Arga menyentuh dagu Miana agar kembali menegakkan wajah.


Namun, sebelum hal itu berhasil Arga lakukan, Miana lebih dulu berlari meninggalkan Arga dengan menahan senyumnya.


Arga tersenyum semakin lebar. Ia yakin kekasihnya itu tengah menahan senyumnya. Dengan langkah lebar ia menyusul Miana yang sudah berjalan lebih dulu.


"Miana, ayolah," teriak Arga sedikit memohon.


"Kejar aku kalau bisa," tantang Miana yang tengah berjalan mundur.


Arga tersenyum licik dengan mata tegas siap menghujam tepat di hati Miana.


"Aduhh," keluh Arga tiba-tiba.


..._tbc_...

__ADS_1


__ADS_2