Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 15


__ADS_3

...


Sebelas langkah menjauh dari kelas. Miana dan Arga di kejutkan suara guru berwajah jenaka di bibir pintu. "Hei, kalian!"


Miana dan Arga berbalik dengan wajah berbinar. Dalam benak keduanya berharap guru itu berubah pikiran dan mereka dapat bebas hukuman. "Iya, Pak," ucap mereka bersama.


"Jangan lupa ,hormat sama bendera, ya! Dua puluh menit aja," ujar Pak guru sambil tersenyum mengejek lalu mengibaskan tangannya, tanda mengusir.


Wajah berbinar itu mendadak menjadi keruh dengan mulut mencurut kesal. Tidak lupa Miana juga menghentakkan kakinya sambil melirik Arga di sampingnya yang terlihat santai. "Semua gara-gara, Lo, Ga! Ck, sebel!" Miana mengeluh namun tetap berjalan menuju halaman sekolah.


Posisi menghormat pada bendera, keduanya merasakan betapa teriknya matahari pagi ini. Meskipun masih pada jam sepuluh pagi. Namun, terasa begitu panas menyengat kulit.


"Ga,"


"Hm,"


"Habis ini. Lo harus traktir gue, soto sama lemon tea dua gelas."


"Bodo, amat. Lo, bukan bini gue ngapain gue harus kasih makan, Lo."


"Heh, ini semua gara-gara Lo, ya!"


"Kok, gue? Harusnya gue yang nyalahin, Lo. Kalau Lo nggak berisik, pasti semua ini nggak akan terjadi."


Miana menginjak kaki Arga, kesal.


"Aduh," keluh Arga.


"Masih salah nggak mau ngaku," ketus Miana.


Ujung siku Arga sengaja mendorong sisi kepala Miana. Miana yang jauh lebih pendek dari Arga tentu tidak dapat menjaga keseimbangannya hingga sedikit bergeser dari tempatnya.


"Ish. Kalau nggak punya uang ya tinggal bilang nggak sanggup gitu aja! bukannya jahil! Susah bener," cetus Miana.


Arga yang tidak terima hanya mendengkus kesal. "Itu mulut apa alarm mode on, sih. Ngoceh, mulu."


"Iya, ini diem."


Satu menit hingga sepuluh menit mereka lewati dalam diam. Sesekali Miana menghela nafas dan tangan kirinya bergerak mengibas mengusir rasa gerah.


Sementara Arga hanya melirik pergerakan Miana. Sudut bibirnya tertarik beberapa centi ketika melihat bibir Miana cemberut seperti dapat di kuncir saja.


Miana memutar bola matanya. Capek. "Panas, baget, ya, Ga. Biasanya nggak gini-gini amat," keluh Miana.


"Mana tadi sarapan cuma dikit. Nggak dapat uang jajan pula,"


"Duh, miskin banget, sih, aku,"

__ADS_1


"Andai tadi bilang sama Bi Num. Pasti di bawain bekal."


Miana terus bergumam meski yang di ajak bicara hanya diam tak acuh.


"Bi Num siapa?" tanya Arga. Entah mengapa ia sedikit tertarik mendengar keluhan Miana.


"Ya, Bibi, gue lah." Miana melirik Arga dan tatapan keduanya bertemu. Lalu dengan segera Miana kembali tenang. "Bibi yang udah gue anggap seperti ibu gue," lanjut Miana.


"Ibu, Lo , sendiri, kemana?"tanya Arga.


"Mama, ada. Dia sangat sibuk," lirih Miana. Terdengar lirih sekali. Mengingat mama tidak pernah memperhatikan Miana.


Arga menaikkan sebelah alisnya. "Hidup itu di syukuri. Masih untung Lo punya mama."


"Emang, Lo, nggak punya mama, Ga?" tanya Miana penasaran.


"Nggak,"


Miana menjadi terenyuh. Memerhatikan Arga yang berdiri lebih tinggi darinya. "Maaf, Ga. Gue nggak bermaksud mengingatkan tentang mama Lo. Gue nggak tahu," sesal Miana.


Terdapat jeda beberapa menit mereka terdiam.


"Tinggal dua menit. Habis ini gue yang traktir, Lo."


Miana berbinar mendengar pernyataan Arga dan tersenyum senang.


Begitu pesanan datang, Miana lekas menyambar satu gelas lemon tea dan meminumnya hingga tandas. Merasa lega dahaganya terobati, Miana kembali tersenyum. ''Alhamdulillah. Berasa kek buka puasa, ya, Ga."


"Lebai," gumam Arga. Ia sudah terfokus pada semangkuk soto di depannya. Sesekali melirik Miana yang tengah menikmati menu yang sama dengannya. Tanpa bicara.


'Kalau diem begitu ,manis juga,' batin Arga.


Seisi kantin mendadak ramai. Karena memang sudah waktunya istirahat dan makan siang. Beberapa teman sekelas yang melihat keduanya hanya tersenyum mengejek. Termasuk Angel yang langsung duduk di sebelah Arga. "Gue juga mau di hukum. Asal sama Lo, Ga."


"Jauh-jauh dari gue," pangkas Arga.


Melihat wajah kesal Arga, Angel mendengkus kesal dan beranjak dari duduknya. Mencari bangku yang lain.


Sementara Miana mendadak sesak melihat Bian yang tengah berjalan bersisihan dengan Sisil. Udara sekitar terasa panas apalagi melihat Bian tersenyum lembut pada Sisil. Tanpa terasa matanya mulai memupuk cairan bening yang siap merangsek keluar.


Arga yang melihat reaksi Miana lantas berbalik dan menemukan jawabannya. "Mau nambah apa lagi?' tanya Arga sengaja mengalihkan perhatian Miana.


Tersadar tengah terpaku terlalu lama. Miana segera menyesap lemon tea ke dua di depannya. "Ga, makasih ya, traktirannya. Besok kalau gue udah kaya. Gue traktir balik, deh." Miana tersenyum sambil meringis mengedipkan matanya.


'Gila nih, cewek. Tadi melow hampir banjir. Dan dalam sekejap bisa tersenyum bahkan tertawa. Cewek aneh,' batin Arga.


"Hebat, ya. Gue di tinggal. Malah berduaan di sini." Riska datang dengan mencebikkan bibirnya. Merasa di hianati oleh sahabatnya. Biasanya jika ke kantin. Miana selalu bersama Riska. Sembari bercanda sekaligus bercerita tentang masalah masing-masing. Namun, karena sebuah hukuman sahabatnya tega ke kantin tanpanya. Hanya sebagai alibi karena ia kecewa karena tengah di abaikan oleh Bayu.

__ADS_1


"Ohh, ampun, BESTie. Besok-besok pasti gue akan ajak Lo, kok. Tadi itu darurat banget," cicit Miana. Tidak lupa ia mengatupkan kedua tangannya memohon agar menambah kesan dramanya.


Selanjutnya Miana beranjak dari duduknya ingin mengejar Riska yang tengah merajuk. "Ga, nambah lolipop satu, ya. Makasih banyak," ujar Miana sambil berlalu mengambil satu lolipop di meja dekat kasir, lalu mengejar Riska.


Arga menarik sedikit tersenyum melihat tingkah Miana. Beberapa detik yang lalu ia begitu sedih melihat Bian bersama Sisil. Namun, dengan cepat raut wajahnya kembali ceria saat bertemu dengan Riska. "Ajaib," gumam Arga sambil beranjak menuju kasir membayar pesanannya.


☘️


Pulang sekolah, Miana gegas menuju minimarket yang tidak begitu jauh dari sekolahnya. Ia langsung menuju ke sana tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu. Miana hanya memberi pesan pada Bi Num dan mama jika ia masih ada urusan.


Pada Bi Num, Miana menceritakan perihal pekerjaannya dan mendapat sebuah tangisan tertahan melalui sambungan telepon singkat tadi.


"Kenapa sampai bekerja, sih, Mbak Mia. Kalau Mbak Mia kekurangan, bibi siap bantu, Non. Bibi ada tabungan. Meski tidak banyak." Begitulah suara dari sambungan telepon Bi Num yang segera di jawab oleh Miana. Bekerja untuk mengisi kegiatan positif daripada cuma main-main setelah sekolah.


"Terimakasih. Selamat datang kembali."


Ucapan terima kasih pada pembeli selalu menjadi penutup sebuah transaksi. Tidak lupa wajah ramah selalu hadir di wajah Miana, walau sejatinya ia sudah merasa sangat lelah. Apalagi tadi sempat datang beberapa barang dari supplier produk homecare yang cukup banyak dan supplier dari perusahaan roti.


Sesekali Miana menghitung jumlah uang. Jika sudah banyak maka dengan segera ia menyetor pada Mbak Dini yang terkadang stay di ruang kantor, agar tidak begitu banyak menahan uang yang cukup besar pada loker kasir.


"Mas Hamdan, udah makan?" tanya Miana dari meja kasir.


Lelaki bernama Hamdan yang baru saja mendisplay minuman dingin pada chiller itu mendekat sambil melipat karton sebuah merek minuman.


"Kenapa? Lo udah lapar?" tanya Hamdan balik.


Miana meringis dan mengangguk. "Saya nitip kasir, ya. Mau makan sama sholat magrib sekalian, nih!"


"Beres." Hamdan mengangkat ibu jarinya.


"Mbak Puji, aku tinggal dulu, ya." Miana berlalu dari kasir dan mendekati Puji yang sedang melakukan kegiatan first in first out pada sebuah produk susu kaleng.


Miana selalu menyematkan panggilan Mas atau Mbak pada orang yang lebih tua atau senior di tempatnya bekerja sebagai rasa hormat.


"Mbak. Apa banyak yang expired?" tanya Miana begitu mendapati Puji menurunkan beberapa kaleng susu dari rak.


"Ada beberapa, nih. Nanti kamu belajar bikin laporan berita acara buat return item ini, ya." Puji mengangkat satu kaleng dengan menunjukkan batas exp pada bawah kaleng.


"Hati-hati, Mia. Jika sembari menscan kita harus sekalian melihat tanggal expired date yang ada di atas atau di bawah kardus atau kaleng," terang Puji. Teman senior yang sudah lebih lama bekerja di sini.


"Assiiiaapp, Mbak. Aku sholat sama makan dulu, ya."


Selesai sholat, Miana menyempatkan mengecek ponsel dan betapa terkejutnya ia mendapat room chat kelasnya. Melihat sebuah foto yang menampilkan seorang cewek dengan seragam yang sama tengah mencium setangkai bunga mawar dan di depannya terdapat seorang lelaki yang sangat tidak asing baginya.


..._tbc_...


☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


nah nah nahhh, siapa tuh?? 🤔🤔🤔


__ADS_2