Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 49


__ADS_3

☘️


Seperti biasanya, Miana membantu Bi Num menyiapkan dagangannya. Meskipun sudah mengenakan seragam OSIS lengkap dengan atribut yang ada.


Satu dasi menjuntai panjang sampai di bawah dada. Sementara kaki berbalut shock putih pendek dan sepatu sport berwarna putih.


Bi Num selesai menyimpan balado telor dalam wadah stainless steel berbentuk persegi panjang. Tanpa diminta, Miana membawanya ke depan rumah. Ia letakkan di meja persegi lalu kembali ke dalam rumah.


"Sopnya tinggal kasih garam, Mbak," ucap Bi Num mengingatkan.


"Iya, Bi." Miana lekas memberi beberapa sendok makan garam ke dalam panci. Tidak lupa ia memeriksa rasanya setelah mengaduknya.


"Aduh. Kok ke asinan, yah," keluh Miana.


Bi Num yang sedang menata mendoan dan timus dalam wadah, gegas menghampiri Miana. "Coba, Bi Num, tes rasanya!"


Bi Num ambil satu sendok lalu ia letakkan sedikit kuah di atas telapak tangan dan mulai mengecap rasanya. "Eh, iya, Mbak," ujar Bi Num sedikit terkejut. "Biasanya, mbak Mia selalu tepat loh, soal rasa. Ini kok rada aneh." Bi Num lekas memberi tambahan air agar rasa asin tidak terlalu over taste.


"Maaf, Bi," sesal Miana.


"Eh, nggak apa." Bi Num melirik anak majikannya. Senyum terbit tetap ada di sana untuk mengurai rasa bersalah Miana.


"Ehm, biasanya, nih. Kata emak Bi Num, di kampung dulu. Kalau anak perawan masak trus ke-asinan itu tandanya pengen nikah loh. "Bi Num mengungkapkan mitos Jawa yang sering menjadi bahan candaan di kampung halamannya.


"Ah, masa' gitu, Bi?" selidik Miana. "Tapi Miana masih sekolah, loh, ini."


"Ya. Atau mungkin Mbak Mia sedang jatuh cinta," ungkap Bi Num. Dengan masih tersipu, Bi Num mengusapkan tissu pada mangkuk besar.


"Hah? Yang benar saja," gumam Miana.


"Mbak Mia sedang jatuh cinta, rupanya."


Tetiba seraut wajah ketus nan datar melintas dalam benak Miana. Sampai sekarang, Arga tidak ada niatan untuk membalas pesannya. Miana bahkan sudah meminta maaf, meskipun melalui chat serta pesan suara, bila tanpa sengaja berbuat salah pada Arga. Namun, yang ada. Arga masih tetap diam tak acuh saja.


"Ngelamun, kan'," goda Bi Num memecah lamunan Miana.


Tidak ingin Bi Num menebak-nebak lebih jauh lagi, Miana gegas kembali pada sayur lodeh yang baru saja di tuangkan dalam wadah.


"Miana bantu bawa ini ke depan, aja, ya, Bi." Miana beralih pada satu wadah sayur lodeh. Tanpa menunggu jawaban Bi Num.


Baru saja melangkah menyingkap tirai. Miana di kejutkan dengan kehadiran Sisil yang akan masuk ke dapur.


"Akhh," keluh Miana. Panas dan terasa terbakar mengenai lengan kirinya. Beruntung sebagian sayur tidak tumpah mengenai badannya yang lain.


"Kak," pekik Sisil. "Sil, nggak sengaja, Kak," sesal Sisil sambil membantu Miana membersihkan sisa kuah di tangan Miana.


Bi Num lekas menghampiri kegaduhan lalu mengambil alih wadah sayur dari tangan Miana. Miranti dan Surya juga datang menghampiri Miana yang kini duduk seraya meniup tangannya yang terasa terbakar.


"Kenapa bisa begini, Mia." Surya lebih terlihat panik ketika melihat Miana hanya meringis menahan rasa sakit.


"Jangan di siram air, Kak! Tahan sebentar!" Sisil berlalu menuju kamarnya.


Meski sebagian tangan memerah dan rasa perih begitu terasa, Miana tidak menghiraukan itu. Ia lebih merasa tersentuh saat Surya yang ikut mengibaskan tangan dan Sisil terlihat panik.


Sisil berlalu pergi ke kamarnya dan kembali membawa satu kemasan tube. Di lihat dari kemasannya, jelas itu adalah cream lidah buaya.


"Di oles ini, Kak." Tangan Sisil cepat meraih tangan Miana dan mengoleskan pada bagian tangan yang memerah. "Perih sebentar, tapi nanti nggak melepuh, kok, Kak,"

__ADS_1


"Ssssshh," desis Miana menahan perih. Ia tidak menangis namun matanya berkaca-kaca.


Hal yang tidak Miana duga kembali membuatnya terpaku di tempat duduk.


"Num! Mulai sekarang, mending kamu nggak usah jualan lagi," teriak Miranti berapi-api.


"Lihat Miana jadi terluka karena tiap pagi bantuin kamu," bentak Miranti pada Bi Num. Tangan berkacak pinggang dengan mata seperti mau loncat keluar.


Panik masih belum mereda, Bi Num kini semakin tertekan rasa bersalah. Ia tidak bisa berbuat banyak, hanya dapat menunduk takut. "Maaf, Nyah."


"Maafmu nggak bisa buat sakit Miana langsung lenyap!" Miranti semakin meledak-ledak.


"Ma, Miana nggak apa-apa kok," ungkap Miana menenangkan sang mama.


"Udahlah, Ma. Mama ini malah bkin tambah gaduh." Surya ikut merasa terganggu mendengar lengkingan suara istrinya.


"Maaf, Nyah. Saya tahu, saya akan bawa Mbak Mia berobat." Raut sedih tidak bisa Bi Num sembunyikan. Meskipun Miana sudah berucap tidak apa-apa.


"Nggak perlu. Lebih baik kamu nggak usah jualan lagi. Kamu sengaja ya emang mau jelekin image saya. Biar tetangga tau kalau kamu cari tambahan uang karena saya nggak sanggup gaji kamu."


Bi Num kini jadi terisak. "Bukan begitu, Nyah."


"Kamu pikir saya nggak tahu! Pasti kamu ghibahin saya di depan ibu-ibu kompleks sini kan!"


"Saya tidak begitu, Nyah," tepis Bi Num.


"Ma. Udahlah ,Ma. Kenapa jadi kemana-mana, sih." Surya berupaya menenangkan Miranti.


"Tenang gimana, Pa. Kalau tangan Miana nggak melepuh. Kita nggak akan capek-capek ngeluarin duit buat berobat kan! Kita bisa pakai uang untuk keperluan yang lain!"


"Ma, uang bisa di cari. Kenapa, sih, mama ini." Surya masih sabar menenangkan istrinya.


Miana terbelalak mendengar perkataan Miranti. "Ma,"


"Tolong. Miana. Kali ini nurutlah sama mama. Mau sampai kapan kamu membangkang sama mama!"


"Cukup, Nyah. Jangan lagi membentak Mbak Mia. Walaupun saya hanya pengasuhnya. Saya ikut sakit melihat perlakuan nyonya pada mbak Mia."


Plakk.


Miranti menampar Bi Num. Sontak membuat Surya dan Miana beranjak dari duduknya.


Miana langsung menghampiri Bi Num dan menangkup kedua pipinya. "Bi Num, maaf." Miana melupakan tangannya yang sakit. Ia tetap menenangkan Bu Num yang sudah berderai air mata.


"Ma, mama kenapa, sih! Bi Num nggak salah, Ma," bela Miana.


"Miranti. Jika kamu punya masalah. Jangan lampiaskan pada orang lain. Papa sudah bilang, untuk bersabar, Ma."


"Sabar, Papa bilang! Papa nggak tahu gimana tersiksanya mama nggak bisa ngumpul sama teman mama, Pa! Harusnya, Papa, tuh ngaca sekarang. Papa udah nggak bisa ngebahagiain mama. Mikir, Pa!"


"Ma–"


"Cukup, Pa. Mama mau papa minta Bi Num nggak usah kerja di sini lagi. Kalau papa nggak mau, lebih baik mama yang keluar dari sini." Miranti bersungut dan kembali masuk ke kamar di ikuti Surya.


Bi Num masih di balut resah, saat di luar sana pelanggannya sudah menunggu. Bisa di pastikan mereka juga ikut mendengar keributan yang terjadi di dalam rumah.


Miana kini juga ikut terisak dalam pelukan Bi Num. Sementara Sisil hanya bisa terduduk diam di tempatnya.

__ADS_1


"Udah, Mbak Mia. Bibi nggak apa-apa. Sekarang kita ke dokter, ya. Masih ada waktu sebelum ke sekolah." Bi Num beralih pada Sisil. "Non Sisil juga, ya. Bibi minta maaf bila banyak salah sama non Sisil," terang Bi Num dan Sisil mengangguk sebagai jawaban.


☘️


Setelah Miana selesai di periksa dokter di klinik terdekat, ia lekas menurut saat Bi Num menemaninya untuk menunggu angkutan umum untuknya.


Dengan tangan Miana yang hampir melepuh, ia tidak bisa membawa motor saat ke klinik maupun ke sekolah. Sehingga angkutan umum yang menjadi pilihannya.


"Mbak Mia, yakin bisa sekolah?" tanya Bi Num dan mendapat anggukan.


"Sekolah juga tinggal deket, Bi. Makasih ya,"


"Jangan kerja, dulu, ya. Biar sembuh dulu tangannya."


"Iya, Bi. Selesai sekolah, Miana langsung pulang."


"Bibi minta maaf, ya. Gara-gara bibi mama dan papa jadi ribut."


Miana menggeleng cepat. "Ini bukan salah Bibi. Papa sama Mama memang akhir-akhir ini ribut karena uang. Papa juga sempat marah saat tahu Miana berkerja dan menyalahkan mama soal ini, Bi. Terlebih, Bibi tahu sendiri, Miana belum bisa ngasih mama uang lagi. Jadilah mama melampiaskan pada siapa saja kekesalannya."


"Yang sabar, ya." Bi Num menepuk bahu Miana dengan sayang. "Dan jangan pernah membantah mama dan teruslah jadi anak baik. Doakan mama dan Sisil agar lembut hatinya."


"Iya, Bi."


"Satu lagi, jangan pernah benci sama Non Sisil. Tugas Mbak Mia adalah mengembalikan sikap lembutnya seperti dulu."


"Miana nggak pernah benci sama Sisil, Bi."


"Ya. Kalian harus rukun, yah."


Miana semakin kagum dengan Bi Num yang terus memberikan nasihat yang baik padanya.


''Itu angkotnya datang." Bi Num segera berdiri untuk melambai pada angkutan yang semakin mendekat.


"Miana pamit, Bi."


Bi Num balas memeluk Miana dan tak kuasa menahan pelupuk matanya yang memburam akibat air mata yang memaksa keluar.


"Bi, Miana nggak papa, kok. Bi Num kok malah nangis, sih," ujar Miana sambil melerai pelukan.


Bi Num mengangguk dan tidak mau bersuara lagi. Takut jika ia makin terisak dan membuat anak majikannya tidak jadi ke sekolah. Mengingat lembutnya hati Miana.


Miana tersenyum seraya memasuki angkutan . Dari dalam angkutan yang perlahan bergerak menjauh, Miana melambai pada Bi Num yang tengah memeluk diri di trotoar.


Sampai suara penghuni angkutan mengalihkan perhatiannya dari Bi Num yang kini sudah tak terlihat lagi. "Tangannya kenapa, Neng?"


"Kena kuah sayur, Bu," jawab Miana.


"Ohh, telat dikit. Pasti makin melepuh, tuh."


"Alhamdulillah sudah di obatin, Bu."


"Kan, sayang. Cantik -cantik tangannya ada bekas lukanya, nanti," timpal ibu-ibu yang lain.


Miana hanya tersenyum untuk menghargai mereka yang terlihat ikut simpati melihat lukanya."


☘️

__ADS_1


Tidak bosan aku mengingatkan untuk tekan Like dan tinggalkan komentar di sini. Nuwun 🙏


__ADS_2