Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 50


__ADS_3

☘️


Miana sampai di kelas dan langsung mendapat tarian penyambutan dari sahabat terbaiknya –Riska. Riska biasa dengan antusias berlebih bergelayut memegang lengan Miana. Entahlah kenapa harus ada adegan seperti itu. Apa mungkin ada yang kurang jika dia tidak nempel-nempel seperti anak koala saja.


"Eh, udah denger gosip belum?" sembur Riska saat Miana mendaratkan bokongnya. Sedangkan Riska langsung memutar kursi tempatnya.


Sebelumnya, Miana menyempatkan melirik meja kosong di belakangnya. 'Belum berangkat, yah? Padahal udah bel masuk, kan',' Miana sedikit mengkhawatirkan Arga.


"Gosip apa? Kek emak-emak, hobbi gosip." Miana meletakkan tas punggungnya dengan hati-hati saat melepaskan dari badannya.


"Yeyy. Kamu bakalan tertarik pokoknya." Riska sudah duduk sambil memainkan gantungan kunci pada tas ransel milik Miana. "Angel kembali di tolak sama Arga."


"Udah yang ke empat kali keknya!" Mata Riska kini sudah melirik sang objek pembicaraan yang duduk berdekat dua baris dari tempatnya. Beruntung mulut bocor Riska tertelan dengan kasak kusuk celotehan teman yang lain.


Terkejut tentunya. Hingga tanpa sadar, Miana melongo saja di tempatnya.


"Heh!" Riska mengibaskan telapak tangannya di depan Miana. "Hobi baru, ya. Suka ngelamun deh! Lo kenapa, sih?"


"Ya... Gue kaget. Ya, kaget, gue." Dengan belibet Miana menjawab.


"Nah, kan. Mendadak jadi blo'on jika Lo sedang jatuh cinta!" Riska mencebik sesaat. Wajah cerah itu semakin berseri saat Bayu baru datang beserta Bian, Rio dan Arkan.


"Oia, yah. Gue sempet lupa jika semingguan ini, Lo sengaja di tahan di perpus sama si pemerintah otoriter, noh." Tunjuk Riska dengan dagu ke arah Bian yang masih hahahihi bersama Arkan.


Miana hanya mengangguk dengan tersenyum semanis mungkin agar terlihat antusias. Padahal ia masih merasakan perih yang teramat di lengan kirinya.


"Lo kenapa, sih. Cengar cengirr, begitu?" tanya Riska sambil memindai penuh wajah Miana.


Perlahan Miana mengangkat tangan kirinya ke atas meja. Di sana terlihat jelas perbedaan warna kulit Miana begitu kontras. Bahkan sedikit menghitam pada lengan kirinya.


Riska sontak menutup mulutnya yang refleks mangap karena begitu terkejut. "Kenapa bisa begini?" pekik Riska mengundang kehebohan yang lain.


Miana menempelkan jari telunjuknya pada bibir Riska. "Ssttt. Gue nggak apa-apa." Miana berkata sangat lirih agar teman yang lain tidak kembali menelisik.


Riska harus menahan rasa penasarannya saat Bu Alin datang dan memulai pembelajaran.


Kelas sudah berlangsung lima belas menit. Arga baru datang dan berbicara lirih pada Bu Alin. Seperti sedang mengungkapkan alasannya terlambat. Detik berikutnya Bu Alin mengangguk dan mempersilakan Arga menuju bangkunya.


"Yyah, kenapa nggak di hukum, Bu."


"Iya, dia telat, tuh."


"Bu Alin pilih kasih. Nggak asik,"


"Hehhh. Bisa nggak sih, diam, dulu," pangkas Angel sengaja meninggikan suaranya.


"Hallo halloooo. Harap tenang ya para audience. Bukan waktunya sekarang menghakimi teman, ya. Bu Alin harap, kalian semakin dewasa. Apalagi, kurang dari empat bulan lagi kalian sudah lulus. Oke! Sekian dan terimakasih. Kita lanjutkan lagi belajarnya." Bu Alin mengayun tangan kanan. Mempersilakan Arga agar segera menuju bangkunya.


Keadaan kembali tertib dan terkondisikan kembali. Miana memutar sedikit badannya untuk melihat Arga yang sudah pada tempatnya. "Kenapa terlambat, Ga?"


Sedikit malas, Arga tetap membuka mulutnya. Tidak tega melihat wajah sayu Miana yang terlihat memelas. "Nggak apa. Oma masuk rumah sakit pagi ini."

__ADS_1


"Oma sakit apa?" tanya Miana pelan.


"Sedikit gejala stroke ringan."


"Miana!" Panggilan Bu Alin membuat Miana segera kembali ke posisi semula. Ia tampilkan senyum terbaik agar Bu Alin kembali jinak melupakan mode singanya.


Sejenak, Miana harus menahan keinginannya untuk ingin tahu lebih lanjut keadaan Sari dari Arga.


☘️


Saat sang surya bertahta tepat di tengah hari. Miana mencari-cari Arga. Setelah ia berhasil beralasan untuk tak dapat belajar di perpustakaan bersama Bian.


"Miana," panggil Angel. Dengan berlari kecil ia menghampiri Miana di koridor, depan kelas IPS 2.


"Mau ke mana?" lanjut Angel setelah mensejajarkan langkah Miana yang mulai bergerak kembali.


Miana terlihat berfikir, ia tidak enak hati jika akan mengungkapkan tujuan sebenarnya. "Em, jalan aja. Mungkin ke perpus," jawab Miana berdusta.


Keduanya masih tetap berjalan dengan pikiran masing-masing. Hanya suara berisik siswa siswi yang tengah bermain basket di halaman. Juga suara candaan beberapa siswa di sisi koridor.


Miana tetap tersenyum ramah saat berpapasan dengan beberapa siswa. Hingga Angel yang lebih dulu membuka suara, membuatnya menoleh penuh pada Angel yang kini sudah berganti model rambut lagi, bergaya keriting gantung berwarna kecoklatan.


"Gue udah nyerah ngejar Arga."


"Kenapa?" tanya Miana. Meski sudah tidak terkejut lagi, Miana tetap menanyakan alasannya.


Angel berhenti berjalan begitu pun dengan Miana. Keduanya berdiri berhadapan. Miana sedikit lebih tinggi dari Angel sehingga ia perlu menelisik dengan baik wajah Angel yang bermuram durja.


Miana mengerjab, tetap bergeming mencerna dengan baik maksud perkataan Angel.


Mengingat Angel yang sekarang telah berubah, Miana tak segan untuk membuka hati padanya. Angel yang sombong dan sok cantik itu, kini sudah tidak ada lagi.


"Lo nggak percaya juga?" tanya Angel karena Miana terlihat ragu-ragu untuk mempercayainya.


Angel sedikit terkekeh. "Aneh, ya. Seharusnya gue benci, Lo. Karena, Lo, Arga nggak bakal buka hatinya buat gue. Tapi... rupanya benar apa kata Arga. Lo punya sesuatu yang orang lain nggak punya."


"Maksudnya?" selidik Miana masih belum mengerti.


Angel mengangkat bahunya. "Jawaban yang tepat, ada pada Arga. Dan lagi, Lo juga suka ke Arga, kan! Jadi kenapa kalian nggak coba jalan sama-sama?" ujar Angel.


Miana menarik sudut bibirnya, juga menggeleng samar. "Nggak mungkin, Arga suka gue, Ngel! Yang ada dia benci banget sama gue. Entah karena salah apa gue ke dia."


Angel menepuk bahu Miana. "Gue yakin, Lo bisa buat harinya Arga lebih berwarna." Angel berlalu begitu saja. Meninggalkan Miana yang masih berdiri mematung.


Tak ingin memikirkan kata manis Angel, yang sempat membuat suasana hatinya jadi sejuk, ia segera mengayun langkah kembali. Miana teringat satu tujuannya, rooftop.


Benar saja, Arga ada di rooftop sekolah. Tidur di atas meja panjang dengan satu lengan menutup sebagian wajahnya. Sepertinya meja sisa di ruang perpustakaan yang tidak di pakai lagi karena sebagian cat sudah kusam.


Meskipun hati semakin berdebar entah apa sebabnya, Miana yakin menghampiri Arga. Ia melangkah dengan pelan agar tidak menggangu jika Arga memang sedang tertidur.


Miana duduk membelakangi Arga. Ia merasai embusan angin di sana. Ia sudah lama tidak ke rooftop karena tak sempat. Baginya, di sini adalah tempat paling tenang di antara keriuhan yang ada di sudut sekolah.

__ADS_1


Arga terjaga tanpa melepaskan lengan di atas wajahnya. Saat kursi sedikit berdecit karena seseorang tengah menduduki kursi kayu yang sudah tak kokoh lagi. Ia melirik dengan ekor matanya, dan sesaat sadar Miana yang ada di sana. Barulah ia sedikit merasa lega.


"Nggak jadi guru privat lagi, Lo."


Ucapan Arga membuat rasa nyaman Miana terusik lalu memutar badan. "Lo kenapa diemin gue, Ga? Gue ada salah apa sama, Lo?" tanya Miana begitu menuntut. Ia sengaja melupakan pertanyaan Arga yang seharusnya ia jawab.


Arga mendengkus kesal. Ia alihkan lengannya untuk ia satukan dengan lengan yang lain agar menjadi sandaran kepalanya. Sedangkan Miana masih betah memandangi mata Arga yang menyipit. Menyesuaikan dengan cahaya matahari yang sebagian terhalang mendung yang tak begitu pekat.


"Gue nggak suka ya, rumah tinggal gue di ketahui orang banyak. Terlebih jika niat mereka hanya bikin hidup gue tambah ribet."


Kini, Miana mengerti alasan Arga mendiamkannya berhari-hari. Selanjutnya Arga menceritakan bagaimana Angel beserta puluhan paket berbagai jenis yang setiap hari datang ke rumahnya. Angel juga berkali-kali datang ke rumahnya. Namun, Sari yang menemuinya. Karena Arga memang tidak berniat memberi harapan palsu pada Angel.


"Gue minta maaf, Ga. Gue nggak tahu, ternyata Lo emang orang yang tertutup. Dan nggak mudah membuka hati."


Arga beranjak dari tempatnnya. Berjalan pelan dan berhenti di pagar besi sisi rooftop. Sengaja menghindari wajah imut yang mengganggu setiap malamnya. "Lo belum jawab pertanyaan gue tadi."


"Pertanyaan yang mana?" Miana berusaha mengingat pertanyaan Arga yang belum ia jawab.


"Udahlah. Mending Lo pergi. Jangan sampai pacar Lo itu bikin keributan di sini. Dan salah paham dengan keberadaan Lo di sini." Arga akhirnya mengungkapkan apa tengah bersarang di benaknya.


Entah mengapa Miana kesal karena pernyataan Arga yang tidak ada benarnya. Ia berdiri menghadap punggung Arga dan bersiap menyangkal yang sudah di tuduhkan. "Pacar mana, Ga? Gue sama Bian nggak pacaran. Gue cuma bantu dia belajar, nggak lebih. Bian hanya ingin memperbaiki hubungan gue dan dia agar tak perang dingin lagi, Ga."


Meskipun terdengar nada meninggi dari Miana, tapi sudut bibir Arga sedikit terangkat. Lega, ia merasa seperti sepasang kekasih yang sedang berdebat dan mencari penjelasan.


Arga berbalik dan sedikit menampilkan senyumnya. "Kenapa Lo harus jelasin itu ke gue." Arga memasukkan kedua telapak tangan dalam saku celananya.


"Ya... karena Lo udah salah sangka ke gue. Dan gue nggak mau Lo mikir gue yang nggak-nggak." Sedikit tertahan Miana mengungkapkan alasannya.


"Kenapa, jika gue mikir Lo yang nggak-nggak?" selidik Arga dan membuat Miana membatu di tempat. "Kenapa?" tanya Arga seraya mendekat pada Miana.


"Ya,... " Miana semakin mundur seiring Arga yang kian mendekat. Ia memutar mata ke segala arah agar tak terlihat wajah gugupnya di mata Arga.


"Kenapa, Miana?" ulang Arga untuk yang keempat kalinya. Matanya mengunci wajah Miana yang perlahan memerah. Ia menikmati wajah merona yang begitu gugup di depan sana. Dan membuat Arga semakin tertarik, ingin lebih dekat lagi dan lagi.


"Ga, Lo mau apa?" takut Miana karena ia sudah tertahan di penghujung tembok.


"Jawab, kenapa?" lirih Arga lebih lembut. Ia kini sudah berada tepat di depan Miana. Ia menumpu kedua tangannya, sengaja mengunci Miana agar tidak pergi lebih cepat.


"Mau jawab, nggak? Kalau Lo nggak mau jawab gue nggak tahu, ya. Apa gue bisa nahan buat nggak cium lo, di sini."


"Jangan." Miana reflek menutup bibirnya.


Arga menaikkan sebelah alisnya, terlihat menuntut.


"Gue suka Lo," ucap Miana dan detik selanjutnya ia terbelalak. Benar-benar menutup mulutnya yang sangat jujur mengakui perasaannya.


☘️


Duuuuaaarrrrrr, 🤭🤣🤣🤣


ikuti igeh aku ya, informasi up selalu ada di story' ku @rna.darkchoco.14

__ADS_1


__ADS_2