Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 84


__ADS_3

☘️


Memikirkan Arga tak ada habisnya. Bertanya pada Sari, sang Oma pun tak ada titik terang. Sedangkan Miana terus berputar-putar pada pemikirannya sendiri. Kesalahan apa yang ia perbuat sampai tak sepatah katapun yang Arga ucap saat ia pergi.


"Mikirin apa, sih, Miana?" tegur Nika. Sedari tadi Nika memperhatikan Miana yang sedang melamun meskipun laptop di depan mata masih menyala.


Miana tersenyum sambil menggeleng. "Nggak apa, Nik. Lagi bingung ide aja ini mau pakai format apa biar beda sama yang lain."


Nika mendengkus dari kasurnya. Sudah tiga hari, Miana selalu terlihat melamun. Bahkan terkadang, sampai tak fokus di kelas.


Kini mereka mempunyai kasur busa sendiri-sendiri, kebijakan dari pihak asrama yang telah membaharui perabot yang sudah tak layak.


Sesuai Peraturan baru, mahasiswa yang tinggal di asrama akan mendapat fasilitas satu kamar masing-masing. Tapi Nika kemarin merengek pada Miana untuk tetap tinggal satu kamar.


Melihat bagaimana Nika terlihat benar-benar takut jika sendirian Miana jadi tak tega. Sehingga keduanya masih tinggal satu kamar.


Nika mendekati Miana. Ikut merebah tengkurap di samping Miana yang tengah kembali fokus pada tugas.


"Bulan depan kamu mau magang di mana?" tanya Nika perihal tugas dosen. Magang satu minggu untuk observasi tugas pertama.


"Belum tahu, Nik. Aku pengen balik ke Jakarta dan magang di tempat papa. Tapi belum telpon lagi, sih. Nggak tau, ah. Belum lagi nanti kalau ada tugas atau konsultasi dadakan sama dosen pembimbingnya. Mana jauh, kan!" Miana lanjut mengetik.


Nika terlihat manggut-manggut. Sore itu mereka gunakan untuk mengerjakan tugas. Sampai waktu magrib, keduanya lantas bergantian untuk mandi.


Beruntung antrian tak begitu banyak. Mungkin mahasiswa dengan fakultas lain sedang ada tugas di luar atau bahkan ada yang belum pulang.


Nika selesai lebih dulu. Ia ke kamar dan berganti pakaian. Melihat ponsel Miana berkedip, membuat Nika melihat sekilas. Nama Aksabian telah memanggil. Entah mengapa ia terlihat tak suka. Dengan ponselnya Nika memfotonya.


"Gelagat, Bian tuh. Kelihatan banget kalau masih suka Miana." Nika bergumam sambil bertukar pesan.


Miana datang dan mengajak Nika solat bersama. Setelahnya, Nika dan Miana membawa pakaian kotor masing-masing untuk di Loudry di samping komplek kampus, sekalian jalan-jalan malam.


Miana melihat-lihat penjual batagor, nasi goreng, empek-empek dan masih banyak lagi pedagang kaki lima yang lainnya.


"Jajan, yuk!" Nika menarik Miana mendekati pedagang somay.


"Aku jajan di kantin aja, Nik," tolak Miana. Dia harus berhemat agar tak boros.


"Aku traktir, deh." Nika tetap memaksa.


"Bneran?" Miana berbinar dan Nika pun membalasnya.


"Iyya,"


Setelah Nika membayar dan menerima pesanannya. Keduanya kembali berjalan ke tempat laundry yang tak begitu jauh. Sekalipun agak jauh mereka pun tak mempermasalahkannya sekalian cuci mata.

__ADS_1


"Ku pikir, kamu agamis banget. Nggak bisa di ajak asyik. Duniamu seputar kuliah, belajar dan mengaji."


"Karena jilbabku?" tebak Nika dan Miana mengangguk.


"Jilbab tuh, identitas kita sebagai muslim. Menutup aurat itu wajib bagi wanita muslimah."


Benar. Dan itu membuat Miana tersindir.


"Maaf, Miana. Bukan maksud gue ngatain ,kamu. Semua orang punya prosesnya sendiri-sendiri. Dulu aku juga nggak pakai jilbab. Tapi sejak ayahku meninggal, aku mulai menata diri. Kasihan ayahku di sana, bila aku masih juga belum menutup aurat."


Miana tersenyum Seraya mengangguk membenarkan. Dari guru agama di SMA dulu juga pernah bilang begitu. "Jujur aku kesindir banget. Entah, aku belum berfikir kesana." Ada sesal di relung hati Miana. Mengingat cara ia berpakaian dulu. Rok di atas lutut. Terkadang ia memakai atasan tank-top.


Baru setelah kuliah di sini. Miana mulai berpakaian sangat sopan. Selain karena lingkungan tapi ia juga mulai nyaman dengan celana kain dan jas almamater. Terkecuali jika hari Sabtu, biasanya para mahasiswa dapat berpakaian bebas pantas.


Nika merapikan posisi jilbab bagian depan agar menutup dada. "Kamu tahu! Kejahatan dan kasus-kasus di tv itu terkadang bukan karena ada niat pelakunya, loh,"


"Tapi karena ada kesempatan, kan," tebak Miana menirukan gaya host jaman dulu tentang kriminal. Ia tertawa sambil menutup mulutnya yang memegang jinjingan somay. Nika pun ikut tertawa. Karena setelah Miana terbahak, ia jadi mengaduh karena pipinya terkena panas somay.


"Ih, hati-hati, dong."


"Kamu, sih."


Miana diam teringat akan Arga dulu yang protes saat ia memakai rok. Membuatnya tersadar dan baru kali ini Miana membenarkan sikap ketus Arga waktu itu.


☘️


"Sendirian, aja."


Suara dan gerakan Bian duduk di samping Miana membuatnya terkejut. Sembari memegangi dadanya, Miana protes karena Bian begitu mengejutkannya.


"Ngagetin aja, sih. Gimana, kalau laptop gua jatoh, Bi!" Miana sedikit membentak pada Bian yang terlihat cengengesan.


"Gampang, tinggal gue beliin."


"Beli laptop kayak beli permen aja, Lo, Bi."


"Tinggal gesek atau tekan yes aja, nanti sore nyampai." Bisa mulai menunjukkan sombongnya.


"Pergi, Lo!"


"Galak Amat, sekarang, Bu." Bian menyelipkan candaan agar Miana tak jadi meledak.


"Jaga jarak aman deh," usir Miana yang mulai risih Bian duduk dekat-dekat.


Bian menautkan alisnya. "Wah, ini nggak bisa di biarin, nih." Bian berdiri berkacak pinggang. "Sejak Lo gaul sama itu anak bungkus kue, Lo jadi aneh."

__ADS_1


"Aneh, kenapa!" Miana paham Bian menyindir Nika. "Nika ya, bukan Mika nama teman gue," ralat Miana.


"Terserahlah, mau siapa, gue nggak perduli." Bian memijat pangkal hidungnya. "Yang jelas Gue tersinggung Lo kaya' jijik gitu ke gue!"


"Bukan jijik, Bi. Emang nggak enak aja duduk dekat-dekat. Sodara bukan, suami juga bukan. Di lihat anak yang lain juga nggak pantes aja." Suara Miana mulai merendah.


Bian kembali duduk dan melipat tangan di dada. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi taman.


"Nggak ada kelas, Lo?" tanya Miana berusaha mencairkan suasana. Bian dan Miana memang ada di fakultas yang sama. Namun, kelas mereka berbeda.


"Nggak. Dosennya ada seminar." Bian menumpu siku di lututnya. Lalu melihat pada laptop yang ada di pangkuan Miana. Wajah gadis itu terlihat serius dengan jari tangan menari-nari disana.


"Telpon gue nggak ada yang Lo angkat kemarin. Chat gue juga nggak Lo bales. Sibuk apa sih?"


"Oh, gue lupa. Kemarin sempat di ingetin sama Nika. Tapi habis itu gue makan somay rame-rame di depan kamar sama anak yang lain. Jadi lupa." Miana meringis dan menoleh sesaat pada Bian.


Nika datang menghampiri Miana. Dan Bian lekas pamit pergi karena merasa tidak nyaman jika ada Nika.


"Nanti gue chat, ya, Mantan. Harus Lo bales, kalau nggak gue samperin ke asrama."


Itu kata Bian saat ia beranjak tadi membuat Nika mendelik pada Miana. "Gelagat deketin mantan dapat di tebak."


"Ih, apasih, Nik." Miana tertawa dan lekas menagih kopi cup yang ia pesan pada Nika dan lekas meminumnya. "Kamu kenapa , sih, nggak suka gitu sama Bian.?"


Nika terlonjak, namun segera ia memasang gesture santai kembali. "Nggak suka gayanya aja."


Kejujuran Nika membuat Miana tersenyum. "Kamu akan lebih nggak suka lagi jika lihat Arga, Nik."


"Pacar, Lo, itu?"


"Iya, dia itu lebih menyebalkan loh, dari Bian. Orangnya datar dan cuek banget."


Binar yang keluar saat Miana menceritakan tentang Arga membuat Nika menebak jika Miana masih menyimpan harapan yang begitu besar pada seorang yang di katakan Miana pergi tanpa kata, itu.


"Emm. Kamu nggak mau lupain aja, Arga-mu itu? pancing Nika dan membuat Miana menoleh cepat.


"Gue udah janji buat nggak ninggalin dia, Nik."


"Tapi dia yang ninggalin kamu, Miana."


Miana tersenyum menerawang. "Pasti dia punya alasannya," ucapnya yakin dan membuat Nika ikut tersenyum.


☘️


Siang gaiiisss, kasih like, vote dan komentarnya dong, 😍🤗 aku doain semoga rejekinya lancar, Deket sama jodohnya. aamiin 🤭

__ADS_1


__ADS_2