Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 19


__ADS_3

☘️


Arga di paksa mengantar Oma ke minimarket tidak jauh dari rumah. Awalnya Arga menolak. Namun, pesona lirikan Oma Sari mampu membuat Arga merelakan keseruan di depan laptop dan mematikannya. Bahkan saat ia akan berganti dengan celana jeans, Oma sudah tidak sabar, sehingga ia hanya mengikuti Oma menggunakan celana panjang rumahan yang membungkus kakinya. Sedangkan kaos oblong berwarna hitam pada atasannya.


Di sinilah Arga, mengikuti gerak langkah Oma memilih berbagai produk dan membuat penjaga toko yang sedang menata produk selalu tersenyum mendengar omelan Oma padanya.


"Gimana mau dapat cewek. Kalau mandi aja enggan! Ck, dasar anak muda. Persis Dharma waktu muda. Oma jadi rindu papamu ,Ga."


"Tadi, Arga habis teleponan sama papa, Oma." Meraih satu pouch cairan pencuci mobil dan meletakkannya pada troly belanja.


"Benarkah?" sahut Oma cepat. "Ck. Kenapa ke Oma nggak telepon! Dasar anak kurang ajar. Minta di jodohin lagi, tau rasa!" Oma masih melanjutkan acara bergumam. Arga sedikit risih karena beberapa pembeli di sana tengah memerhatikannya karena ocehan Oma.


"Oma, udah jangan di bahas di sini. Malu, kan," bisik Arga membelai bahu sang nenek yang masih membahas dirinya yang enggan mandi karena cuaca dingin lengkap dengan hujan turun cukup deras.


"Oma. Spagheti boleh?" pinta Arga meraih beberapa bungkus mie berbentuk lidi itu. Tidak lupa ia memeriksa tanggal kadaluarsa pada kemasannya. Sengaja mengalihkan pembicaraan Oma.


"Ambil. Tapi jangan keseringan bikin mie, lho. Nggak Baik buat kesehatan!" Oma menghardik Arga.


"Laksanakan." Arga menempelkan telapak tangan kanan sekilas di pelipis, seolah menghormat pada komandan.


"Ck. Minyak goreng masih aja mahal." Tangan Oma memeriksa label harga minyak goreng pada rak.


"Mau jadi apa rakyat kecil, apapun di buat mahal. Untung Oma nggak kekurangan. Tapi bagaimana dengan masyarakat menengah ke bawah. Heran."


Arga hanya menahan tawa mendengar keluhan Oma. Ia masih setia mendorong troly belanja sambil memindai jika saja ada keperluan yang harus ia beli.


"Oma. Ngapain sih, repot-repot belanja. Kan, ada Bi Ida?" ucap Arga.


"Haiis. Selama Oma masih sehat dan bisa ngelakuin sendiri, ngapain nyuruh orang lain, sih?" sahut Oma. Ia kembali meraih satu kemasan kecap yang tadi sudah di letakkan. Sambil merilik promo yang ada. Menang banyak, karena dapat free tepung bumbu. Siapa juga yang tidak tergiur dengan promo?


Saat mencari satu produk multivitamin, tanpa sengaja manik mata Arga menangkap sosok yang sangat tidak mungkin berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Bukan karena di mana ia berbelanja, melainkan orang yang ia kenal tersebut memakai seragam toko dan tengah melayani transaksi di depan meja kasir.


Sedikit memicingkan mata pada sela-sela rak untuk memastikan matanya tidak salah melihat. Sosok di depan sana tengah ramah dan tidak berhenti mengulas senyum pada customer seraya menawarkan berbagai item promo. Rambut tergelung rapi dan tersemat cekip kecil menghiasi tatanan rambut hitam kecoklatan itu, menampilkan leher jenjang yang putih bersih. "Tumben dia cantik," gumam Arga.

__ADS_1


Tanpa di sadari, Arga tersenyum, memerhatikan cara Miana berbicara dengan pembeli. Sangat pas dan cocok dengan karakternya yang cerewet.


"Itu, benar-benar, Miana. Si Berisik?"


"Dia, kerja?"


"Nggak mungkin. Dia tak terlihat semiskin itu untuk bekerja. Barang-barang perlengkapan sekolanya tidak menunjukkan dia siswi miskin?"


"Ahh, Kenapa aku jadi mikirin dia, sih!"


Arga masih berperanng dengan pemikirannya sendiri lalu berganti merutuki kebodohannya. Ia yang biasanya cuek pada siapapun apalagi dengan makhluk yang berjenis perempuan kecuali Oma, mendadak tertarik pada teman sekelasnya. Orang yang amat ia hindari karena mulut renyah itu.


Oma menyudahi kegiatannya dan berdiri mengikuti antrian. Karena keadaan cukup ramai maka, antrian cukup panjang.


Mata Arga tidak berhenti memerhatikan Miana yang dengan cekatan menscan produk-produk yang di beli oleh customer. Sisi tangan lain ia gunakan untuk mengetikkan kode barcode bila scanner tidak dapat mendeteksi.


Selesai dengan transaksi antrian di depannya. Arga mengikuti Oma menarik troly pada kasir.


"Kartu membernya ada, Bu?" ucap Miana tertahan. Matanya melirik seorang yang berdiri di samping seorang ibu-ibu paruh baya namun masih terlihat modis. Dia Arga.


"Ini, Mbak." Oma Sari memberikan kartu member pada Miana.


'Ku pikir mamanya. Ternyata Omanya. Oh, Agra pernah bilang mamanya udah nggak ada, ya. Hampir saja aku lupa.'


Miana kembali terfokus pada satu troly keranjang penuh yang berada di depan Arga. Ia menahan diri agar terlihat biasa saja seolah tidak kenal dan bersikap wajar. Menawarkan produk promo unggulan di toko sembari menscan belanjaan yang di sodorkan. Sedikit terbantu karena Arga mau membantu meletakkan berbagai macam belanjaan yang di beli Oma pada meja kasir. Tangannya beberapa kali menyelipkan anak rambut yang menjuntai pada telinganya. Lidahnya mendadak kelu untuk sekedar mengucap terima kasih karena sedikit terbantu.


Sedangkan Arga sendiri hanya memerhatikan dalam pikirannya sendiri, kiranya ada apa dengan si Berisik di kelasnya ini hingga ia bekerja, saat masih menyandang status pelajar.


Selesai menscan barcode dan menyebutkan nominal belanjaan pada wanita yang menyebut Oma pada Arga itu, Miana menerima uang cash yang di ulurkan Oma. Mengembalikan sisanya dan mengucap terima kasih dengan mengatupkan kedua tangannya. "Terimakasih. Silahkan datang kembali."


Arga meraih dua kresek plastik dari tangan Oma. Seolah tidak membiarkan Omanya kerepotan membawa belanjaan.


Samar-samar, Miana mendengar suara "Sama-sama," dari teman sekelasnya yang terlihat acuh itu.


Miana menipiskan bibirnya dan bersemu. Bukan karena malu, melainkan karena sikap manis Arga pada Oma. Matanya enggan berpaling dari Arga hingga sampai pada mobil Honda Brio berwarna marun di halaman parkir toko. Membukakan pintu pada Oma dan melindungi kepala Oma agar tidak sampai menyentuh sisi pintu mobil. Hujan masih betah mengguyur bumi, sehingga percakapan di luar tidak dapat ia dengar.

__ADS_1


Miana kembali terkesiap saat Arga melihatnya dari luar. Meskipun masih terhalang dinding kaca di samping meja kasirnya. Merasa malu karena tertangkap mata Arga, saat ia masih memerhatikannya dari dalam toko. Beruntung di belakang Arga tidak ada antrian customer lainnya sehingga tidak menghalangi kegiatannya. "Sweet banget, sih." Miana tersenyum mengingat perlakuan Arga pada Omanya.


"Lihatin, siapa, sih?" tanya Hamdan. Ia yang sedari tadi hanya memerhatikan Miana dari lorong mie instan karena sehabis mendisplay di sana bergerak mendekati meja kasir Miana. Melihat gerak-gerik Miana yang terlihat salah tingkah di balik meja kasir, membuatnya ingin tahu.


"Ah. Em, itu, teman aku ternyata." Miana hanya meringis sambil melirik ke arah Puji yang rupanya juga memerhatikannya.


"Lo, kenal, donk harusnya?" tanya Hamdan.


"Ya. Kan teman sekelasku, Mas."


"Kok, cuek aja?"


"Emang, harus gimana?" tanya Miana polos.


"Ya, tawarin produk promo, donk. Kesempatan, kan. Pasti dia ngerasa nggak enak buat nolak,'kan."


"Hm, iya juga, sih,"


Setelah Hamdan kembali pada pekerjaannya, Miana pun juga segera meraih kemoceng kecil dan membersihkan rak di belakang kasir, agar lebih mudah terjangkau kembali ketika ada customer yang akan membayar.


☘️


Setelah sampai rumah.Arga menurunkan belanjaan Oma dan membawanya ke dalam rumah. Memberikan pada Bi Ida agar di masukkan ke dalam lemari pendingin bagi minuman dingin, telur dan beberapa buah. Sedangkan untuk beberapa bahan makanan kering di susun pada kitchen set.


Oma sudah ke kamar dan Arga pun mengayun langkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia merebahkan diri di kasur dan menarik ponselnya dari saku celananya. Tangannya bergerak menggulir layar mencari kontak Si brisik pada room chat WhatsApp pada benda pipih itu.


'Apa gue tadi salah lihat?'


Begitulah yang ia ketikkan pada room chat Miana. Ia berfikir untuk mengirimkannya atau urung. Masih penasaran saja karena hampir satu bulan menjadi teman sekelas Miana. Tidak terlihat penampilan siswa kurang mampu pada diri Miana. Kenapa alasannya bekerja adalah salah satu hal yang menganggu pikirannya. Lama terlarut dengan perkiraannya, Arga terlelap memasuki alam mimpi, menjemput esok hari dengan rutinitas hari senin yang menyapa.


☘️☘️☘️


I like Monday.


Kalau jaman aku sekolah dulu, I hate Monday. karena apa? melepaskan hari Minggu yang santuui dari tugas sekolah itu seperti tak rela saja.

__ADS_1


__ADS_2