
☘️☘️☘️
Ucapan Angel tak main-main. Ia benar-benar menunjukkan rasa sukanya terhadap Arga. Meskipun dia harus mati-matian untuk menahan tangannya, agar tidak ada kontak fisik, seperti menempel atau memegang tangan pujaannya.
Kemarin ia memberikan satu bekal burger untuk Arga. Ia sengaja mengemas apik wadah itu agar Arga terenyuh.
Dan hari ini, ia berniat untuk memesankan makanan via gofood. Ia mengirim langsung ke alamat Arga. Kemarin ia memaksa Miana untuk memberikannya. Tentu dengan ancaman kooperatif seperti katanya beberapa hari yang lalu.
"Lo nggak bisa sembunyikan alamat Arga ke gue, Na. Apa Lo mau, gue ngatain Lo mau main curang."
"Enggak gitu, Ngel. Gue takut Arga marah ke gue," sangkal Miana.
"Gue nggak akan bilang jika Lo, yang ngasih ke gue." Angel masih berupaya mendesak Miana. Hal itu membuat Miana diam memikirkan sesuatu seraya berdecak.
"Please," desak Angel. "Setidaknya, Lo ngasih gue kesempatan, Na. Meskipun harapannya masih fivety-fivety." Angel tertunduk lesu memainkan ujung seragam OSIS–nya yang sengaja ia keluarkan.
"Ngel. Sebenarnya, Lo nggak perlu kaya' begini. Karena gue nggak akan rebut Arga dari siapapun. Gue tau, Arga itu nggak ada suka-sukanya sama gue. Lo lihat sendiri ,kan! Hampir tiap hari gue sama Arga ribut hal-hal sepele."
"Tapi kok gue, ngelihatnya lain, ya, Na." Angel melirik kursi di koridor lalu duduk di sana dengan wajah keruh. Miana menggeleng pelan dan ikut duduk di samping Angel.
"Jangan jadi cenayang. Sok nebak-nebak isi hati orang," hibur Miana. Ia menepuk bahu Angel. "Ya udah. Nih, alamatnya gue kirim wa," putus Miana dan Angel kembali memasang wajah berbinar.
"Sejak kapan Lo jadi Deket sama Angel?" tuduh Riska yang muncul tiba-tiba memasang wajah masam. Miana tidak tahu darimana asalnya Riska. Karena tadi ia sempat cari-cari di kantin dan tidak menemukannya. Akhirnya, Miana bertemu Angel dan mendapat desakan hingga tiba di koridor kelas sebelas.
Miana menggeleng cepat seraya menenangkan sahabatnya. "Gue cari-cari, Lo tadi."
"Terus?" desak Riska.
"Ih, kok jutek ,gitu, sih." Miana mencubit pipi Riska dan di tepis segera. Fokus mereka terjeda karena Angel pamit pergi.
"Hati-hati, loh, sama Angel!" Riska memperingatkan Miana soal Angel. Merasa dirinya maupun Miana tidak seakrab itu dengan salah satu teman sekelasnya itu.
☘️
"Oke. Gue harus tiru gaya Miana. Sedikit berisik dan no nempel-nempel. Arga bisa ilfil. Dan gue nggak mau itu."
Angel kembali menepukkan sentuhan bedak agar lebih merata. " Miana pake lipstik apa, sih! Bisa pink ke-orenan gitu?" tanyanya pada diri sendiri. Sambil mengacak peralatan make-up di meja riasnya. Ia menemukan lipstik warna peach dan mengaplikasikan di bibirnya.
"Perfect," puji Angel pada diri sendiri setelah melihat pantulan dirinya di cermin.
Sedangkan di tempat yang berbeda. Pagi hari Miana masih berkutat dengan sayur lodeh, rica ayam, rendang daging, tumis-tumisan, dan aneka gorengan yang sudah tersedia di meja depan rumahnya.
Miana sedang membantu Bi Num Melayani pembeli. Rata-rata pelanggan Bi Num adalah ibu-ibu kompleks yang malas masak atau mereka yang memilih berhemat. Terlebih harga bumbu-bumbu yang kian menggila di pasaran.
"Ada lagi, Bu?" tanya Miana pada wanita yang menggendong anak seusia satu tahun.
"Udah Neng Miana, gorengannya di hitung dulu atuh. Takutnya kelebihan seperti kemarin," jawab wanita yang bersiap mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
__ADS_1
"Oh, kemarin itu. Itu bonus dari BI Num karena ibu beli banyak." Miana memandang kagum pada Bi Num yang juga tengah mengemas sayur dalam plastik. Jiwa dermawan Bi Num masih melekat walau keadaan dirinya juga masih jauh dari kata berkecukupan.
"Kita permudah urusan orang maka Allah akan mempermudah urusan kita," kata Bi Num suatu malam sebelum tidur. Pagi sebelumnya, ada tetangga yang sangat membutuhkan uang untuk keperluan sekolah anaknya. Bi Num yang melihat ibu dan anak tengah sedikit ribut di depan gang sengaja menghampiri untuk menanyakan permasalahan mereka. Terlihat anak lelaki duduk memeluk kakinya dengan sesenggukan. Saat di tanya, ia tengah di tolak oleh pihak sekolah karena belum membayar uang SPP. Hati Bi Num lekas iba, dan rela memberikan separuh uangnya pada ibu–anak itu. Meskipun ia harus mengurangi belanja bahan jualannya. Hal itu membuat Miana terkagum-kagum dan begitu beruntung mempunyai Bi Num.
"Mbak Mia, udah bantuinnya! Ini udah siang, loh. Ntar terlambat lagi sekolahnya," ucap Bi Num mengingatkan dan mengembalikan fokus Miana.
Bi Num mengambil kresek dari tangan Miana untuk meneruskan menghitung gorengan.
Miana melihat arloji dan meringis. "Kalau gitu, Miana pamit Bi. Daaah," pamit Miana sambil berlalu meraih helm dan menjalankan motornya.
"Bi Num, jika orang nggak kenal Bi Num. Pasti orang mengira, Neng Miana anak Bi Num," ungkap ibu-ibu berdaster polkadot.
"Mbak Mia, sudah saya anggap anak sendiri, Bu," sahut Bi Num. Ia sempatkan memanjangkan lehernya untuk melihat Miana yang sudah berlalu, hampir di ujung gang.
"Lebih, cocok jadi anak Bi Num, ya, Sri," timpal ibu-ibu yang lain.
"Ho'oh, deketnya itu loh. Kalau di inpotainment, chemistry-nya dapet," imbuh ibu yang lain.
"Udah-udah. Malah ngegosip. Tuh, Nyonya rumah ngintip-ngintip tuh." Ibu-ibu berjilbab bergo memberi kode untuk menghentikan obrolan.
Kegiatan Bi Num berjalan kembali seperti semula. Setelah pelanggannya bergantian terlayani dan membayar pesanannya.
☘️
Sampai di sekolah, Miana gegas menuju kelasnya. Dari arah berlawanan Miana melihat Bian bersama Arkan dan Bayu yang berjalan tenang bak model di catwalk. Ketampanan paripurna anak ketua yayasan itu sudah tidak di ragukan lagi. Maka tak dapat di sangkal bila Bian menjadi idola sekolah sekaligus orang yang paling di hindari jika tidak ingin berurusan dengannya.
Belum sempat Miana mendaratkan duduknya, Bian sudah berdiri di samping Miana dengan menenteng ransel di tangan kirinya.
"Nanti ke kantin bareng, ya. Ada yang mau gue omongin," ucap Bian menampilkan senyumnya.
"Kenapa nggak di sini, aja?" tanya Miana mulai merasa tidak enak karena hampir seisi kelas menatap ke arahnya.
"Kenapa? Lo takut seisi kelas tahu kalau Sisil itu–"
"Iya. Nanti gue tunggu di kantin," potong Miana cepat. Ia tidak mau Bian membongkar identitasnya di depan semua orang. Ia tidak mau Sisil semakin membencinya dan merasa kerdil di bandingkan dengan dirinya. Ya, ternyata alasan utama Sisil tidak mau seisi sekolah tahu jika mereka bersaudara adalah Sisil tidak mau di bandingkan dengan sang kakak tentang kemampuan akademiknya yang terlampau jauh dari Miana. Miana tidak ingin membenarkan rumor yang beredar di kelas sebelas, beberapa bulan yang lalu karena kehadiran Sisil di kelas favorit di rasa janggal. Apalagi, nilai Sisil hanya stardar rata-rata saja.
Bian pergi menuju bangkunya dengan menggulum senyum kemenangan. Ia sempatkan melirik Arga yang terlihat santai seolah tidak terganggu sedikitpun dengan aksi pemaksaannya pada Miana tadi.
Miana terduduk lemah karena tadi ia sempat menangkap mata Sisil yang menatap nanar padanya. Miana tidak bisa berbuat apa-apa, ia jauh lebih perduli dengan harga diri Sisil. Mengingat segala cara sang adik untuk dapat satu kelas dengan Bian waktu itu. Tentu saja dengan campur tangan Surya sewaktu masih menjadi donatur di sekolah ini.
Sesuai janjinya, Miana pergi ke kantin bersama Riska untuk menemui Bian. Disana Bian sudah duduk pada bangku dan hanya seorang diri.
Saat Miana memindai teman-teman Bian, ia menemukan mereka berada di bangku yang berbeda. Tidak jauh dari tempat Bian.
"Itu mereka kenapa nggak gabung sama-sama di sini, Bi?" tanya Miana sedikit was-was.
Bian hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban tak acuh saja.
__ADS_1
"Sayang. Duduk sama aku sini, yuk!" Seperti tanggap dengan keadaan, Bayu sedikit menarik Riska menjauh dari Miana.
"Yang. Tapi Mia–" Riska tak rela meninggalkan Miana bersama Bian.
"Udah. Kita awasin dari sini," pangkas Bayu. Ia mendudukkan Riska tepat di sampingnya. Bergabung dengan Arkan dan Rio.
Miana duduk dengan hati-hati. Ia sempatkan melihat sekeliling kantin memastikan sesuatu.
Pemilik kantin datang dan meletakkan pesanan di meja. Dua mangkuk gado-gado dan dua lemontea dingin sudah tersaji di sana. Miana menjadi tersentuh saat Bian masih mengingat makanan favorit mereka dulu. Tanpa sadar, Miana menipiskan bibirnya.
Hal itu tidak lepas dari mata tegas Aksabian Mahendra, yang sejak tadi tidak berpaling dari Miana. Ia rasakan sejuk mengelilinginya. Dapat makan berdua dengan Miana yang masih di cintanya.
"Di makan, Miana. Jangan hanya dilihat!" Bian memperingatkan Miana dengan matanya. Tangannya sudah memegang sendok, bersiap menyantap makanannya.
Miana memaksa tersenyum. Ia masih bimbang akan bersikap seperti apa. Terlebih, pikiran masih menebak -nebak tujuan Bian kali ini. "Lo yang bayar, kan'," tanya Miana mencoba mencairkan suasana. Ya, mana mungkin Bian minta Miana untuk membayar. Tentu itu hanya pertanyaan basa-basi.
Bian terkekeh mendengar perkataan Miana. Ia sampai menutup mulut dengan punggung tangan. "Lo masih sama, ya." Bian kembali terkekeh hingga matanya menyipit.
Miana terhenyak sejenak, lalu segera menguasai diri. "Ya kali power rangers , bisa berubah," ucap Miana sedikit bersungut. Lalu, dengan tenang keduanya makan dan di selingi pertanyaan ringan.
"Gue mau, Lo ajarin gue belajar lagi," ungkap Bian setelah pembicaraan ringan selesai dan gado-gado dalam piring habis tak tersisa.
"Bian, gue harus kerja setelah sekolah. Jadi nggak mungkin gue bisa belajar bareng sama Lo," tolak Miana.
"Gue bisa ganti gaji, Lo, disana."
"Gue tahu, Lo kaya, Bi," sinis Miana.
"Sorry. Bukan maksud gue nyinggung, Lo." Bian mulai memupuk resah. "Lo masih takut sama gue?" tanya Bian kawatir.
Miana menggeleng. "Nggak ada yang gue takutkan selama kita masih sama-sama makan nasi," jawab Miana. "Gue bener-bener nggak bisa, Bi," lanjutnya.
Bian diam memerhatikan penuh pada Miana.
"Bukan juga, karena Sisil, Bi." Miana seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Bian.
"Miana. Empat bulan lagi kita ujian kelulusan. Apa Lo nggak mau berbagi ilmu sama gue. Kita bahkan pernah dekat soal ini. Sungguh gue nggak ada maksud lain."
Bian ingin menggenggam tangan Miana. Sekedar meyakinkan. Tapi ia urungkan. Ia tidak mau, usaha memperbaiki hubungannya dengan Miana menjadi sia-sia.
"Gue janji, gue nggak akan banyak menyita waktu Lo, kok."
Lama Miana berfikir, akhirnya ia mengangguk sebagai jawabannya. Ia tidak tahu harus membagi waktunya. Tapi menolak Bian dengan kesungguhannya, ia tidak setega itu untuk melakukannya.
☘️☘️☘️
selamat malam. tolongn Like smaa komentarnya dong, 🙏 biar penulis makin semangat buat update.
__ADS_1
besok udah Senin, waktunya bantu vote aku ya. dengan tekan vote, hadiah, lalu like. gumawo🙏