
☘️
Baru saja Miana dan Arga tiba di Jakarta setelah berkunjung ke Solo untuk berziarah ke makam sang mama. Ia juga berkunjung ke rumah Bi Num sekaligus memintanya untuk datang di hari pernikahannya.
Keduanya tak lantas pulang, mereka juga mengunjungi makam Surya tepat di waktu ashar.
Begitu Arga mengantarkan Miana kembali ke tempat kostnya, Sarah sudah berdiri di halaman kosnya dengan wajah tak ramah.
Arga sudah kawatir saat Sarah memintanya untuk bicara berdua dengan Miana.
Meski di liputi rasa was-was, Arga menurut karena mendapat anggukan samar dari Miana. Ia pergi dari sana meninggalkan Miana dan Sarah berdua.
Tak banyak basa-basi yang di lontarkan Sarah, ia langsung saja mengungkap apa saha yang ingin ia katakan.
"Rasa sakit ini datang begitu saja. Coba bayangkan bagaimana kamu menjadi aku yang tak juga mendapatkan cinta dari suami sendiri! Juga bayangkan bagaimana kamu memdapati suamimu berkali-kali mengigau menyebut nama wanita lain saat tidurnya! Hal itulah yang masih aku rasakan sakitnya, Miana."
"Miana minta maaf atas nama mama, Ma." Miana mengatupkan kedua telapak tangannya dengan tulus.
"Jangan coba-coba menyebutku mama!" Dengan melengking Sarah membentak Miana. Beruntung penghuni kost yang lain sedang pergi bekerja, jika tidak sudah pasti keduanya akan menjadi tontonan di sana.
Kali ini Miana berlutut mengatupkan kedua tangan dengan air mata terus mengalir di kedua pipinya. "Maafkan Miana, ma–maafkan mama Miana yang tak berdaya dengan rasa cintanya pada Om Dharma sebelum menikah dengan ma–,anda Nyonya. Juga maafkan rasa keduanya yang tanpa sengaja membuat anda sakit karenanya. Sungguh, mamapun pasti juga tak pernah tahu perasaan Om Dharma padanya. Karena sejak menikah dengan papa, mama Miana tak pernah bersua kembali pada Om Dharma hingga ajal menjemputnya."
"Berhenti mengarang cerita bohong, kamu!"
"Itulah yang telah di ceritakan oleh orang yang menemani mama dan yang mengurus Miana sejak kecil, Nyonya." Bi Num adalah wanita yang di maksud Miana.
"Dia berbicara fakta, Sarah!" Dharma datang Dangan nafas memburu. Membuat Sarah dan Miana terkejut.
Dharma meraih keduanya bahu Miana untuk berdiri. "Jangan lagi kamu merendahkan dirimu, Nak!"
"Miana tulus ingin meminta maaf untuk mama, Om." Miana memaksa tersenyum dan menghapus air matanya.
Dharma kembali menatap Sarah.
"Sejak mempunyai Arga, aku tak lagi memikirkan siapapun Sarah! Seluruh hidupku sudah aku berikan pada putraku sejak saat itu. Jadi, bila tanpa sadar aku telah menyebutnya dalam tidurku, itu hanyalah perasaan dari alam bawah sadarku."
"Jika rasa benci itu masih berada di hatimu, maka orang yang paling tepat adalah aku. Gadis ini tak mengerti apa-apa. Jadi, jangan jadikan dia alasan akan kesakitanmu.,"
☘️
Hari-hari Miana yang seharusnya bahagia kini di selimuti kabut hitam tebal. Bagaimana tidak, Sarah yang dulu begitu dekat dan mendukung hubungannya kini berbalik menentang pernikahannya.
"Kamu melamun?" tanya Bian seraya ikut duduk di tepi kolam tempat Miana duduk.
Miana tersenyum tipis dan menggeleng samar. "Bukan apa-apa, aku hanya sedang menenangkan diri." Miana menoleh pada Bian yang kini memakai kaos hitam agak longgar dan celana training berwarna putih. "Kapan datang?" lanjutnya.
"Lima menit yang lalu. Ke kamar ganti baju, trus kata tuh bocah kamu juga pulang. Jadi, aku cari kamu kemana-mana. Eh, taunya di sini." Bian tersenyum tak melepaskan pandangannya pada Miana. "Nyesel nggak percaya sama tuh anak," lirihnya.
"Raya?" tebak Miana sedangkan Bian mendongakkan dagunya ke atas. Miana mengikuti kemana arah dagu Bian dan mendapati Raya ada balkon atas.
__ADS_1
"Minta duit yang banyak sama boss dadakan Kak. Manfaatin aja tuh boss baru, biar sedihnya ilang," teriak Raya.
"Masuk, lo. Ngapain nguping!" Bian kembali menjadi mode tom dan Raya sebagai jerry, yang tak pernah akur seperti tokoh kartun. Dari interaksi kedua saudara kandung itu membuat Miana sedikit tersenyum.
Miana mengalihkan pandangannya pada air kolam yang tenang dan memantulkan cahaya lampu yang terlihat epik di lihat. "Sama saudara sendiri, nggak ada akur-akurnya."
"Tapi meski begini, aku nih kakak yang baik, tau. Dua hari yang lalu aku ngegrebeg cowok Raya yang lagi jalan sama cewek lain. Habislah tuh, kunyuk!"
Miana menoleh cepat. "Kamu apain? Kamu pukulin!"
"Nggaaakk! Cuma aku kasih pelajaran dikit." Bian mengelak. Sedikit bagi Bian, tapi bikin anak orang jadi lebam-lebam pasti jadi hal besar, kan?
Bukan pujian yang Miana keluarkan melainkan omelan dari Sabang sampai Merauke yang ia layangkan. Bian jadi tersenyum, setidaknya Miana tak lagi murung karenanya.
Hingga dering ponsel Miana membuatnya pamit ke kamar pada Bian.
Lelaki setinggi 180cm itu tersenyum sendu melihat punggung Miana menjauh. Mengapa kau berusaha kuat padahal hatimu rapuh. Kau masih punya orang-orang yang perduli denganmu. "Nggak akan ku biarkan kamu sedih berlama-lama, Miana."
Bian mengambil ponsel di saku trainingnya dan mulai melakukan panggilan pada seseorang. Ia berbicara serius untuk waktu yang cukup lama.
Tiga puluh menit, Bian memutus sambungan telepon. Ia lalu bergegas ke kamar. Memang tak salah ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena bersamaan dengan Miana yang tengah menuruti keinginan Raya agar ia mengunjunginya.
Malam kian merambat. Membuat langit malam kian pekat gelap. Malam ini tak banyak kerlip bintang di sana.
Dari balkon kamarnya, Arga menataap satu-satunya bintang yang paling terang di sana. Seandainya Miana mau di ajak bertemu, pasti malamnya tak akan sesepi ini.
Tiga hari yang lalu Miana mengatakan padanya untuk memikirkan ulang rencana pernikahannya yang sudah 90% beres. Ia tahu pasti sang mama telah menekannya hingga Miana–nya menjadi takut dan sulit di temui.
☘️
Kopi yang sudah dingin itu menjadi bukti seberapa lama kedua lelaki itu berbicara. Arga dan Bian yang biasanya tak pernah akur saat di sekolah dan selalu dingin saat bertemu di masa sekarang kini nampak lain di malam ini.
Arga telah menceritakan semuanya masalahnya pada Bian. Bianlah yang membuatnya membongkar hampir semua aral melintang yang membuat Miana tak dapat ia temui.
Kini terjawab sudah, tanda tanya besar yang sejak tadi mengganggu Bian.
Bian bersedekah menatap Arga tanpa ekspresi. "Aku paham apa tugasku. Tapi aku ragu apa kamu bisa melakukan tugasmu dengan baik, sedangkan seminggu lagi hari pernikahan kalian!"
"Aku akan berusaha, Bian. Aku nggak tahu lagi bagaimana membujuk Miana untuk tak menyerah. Tapi aku tahu bagaimana Miana. Ia akan memerhatikan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri."
"Ya. Itulah Miana."
☘️
Dengan Riska, Miana menceritakan bagaimana Sarah menghampirinya dan mengungkapkan perasaannya. Miana bisa apaa selain mendengar dan kesakitan ya. Hari bahagia yang ia impikan harus terputus karena ia tak mampu berbahagia tanpa restu orang tua. Ia menyerah.
"Tapi, kamu salah jika mendiamkan Arga, Beib. Komunikasi adalah salah satu mempertahankan kepercayaan di antara kalian. Jika kamu menutup jalannya untuk sekedar bertanya kabar dan berdiskusi tentang masalah ini, bagaimana bisa kalian akan bersama-sama mempertahankan apa yang kalian impikan selama ini."
Nasihat Riska menjadikan Miana berfikir sejenak. Riska pun sependapat dengan Bian yang juga rela pulang demi menyadarkan Miana.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Miana membuka satu akses blokir pada Nomor Arga.
Benar saja, tak lama Arga melakukan panggilan pada ponselnya. Begitu banyak pertanyaan yang Arga tanyakan mengenai keadaannya. Dari suaranya yang memburu bisa Miana simpulkan jika Arga tengah sama kacau sepertinya. Hanya saja, Miana lebih banyak berdiam dengan kepala berpikir begitu keras agar tak menyakiti siapapun.
Sebuah pernikahan tanpa doa dari orang,-orang terdekat seperti berlayar tanpa bahan bakar. Terombang-ambing tanpa tujuan. Sedangkan tujuan pernikahan itu adalah mendapatkan keberkahan di dalamnya.
"Sayang, tolong jangan seperti ini. Kita musti sama-sama buat luluhin hati mama. Kita harus sama-sama Miana. Jika hanya aku yang ingin sedangkan kamu tak ingin. Maka semua ini sia-sia. Tak akan ada artinya bagaimana sekuat tenaga aku berusaha jika kamu tak ikut berusaha. Tolong jangan menyerah. Aku tak sanggup lagi jauh darimu,"
Miana mengangguk meskipun Arga tak melihatnya. "Iya Arga, maafin aku," ucapnya parau. "Kita akan bicara sekali lagi pada mama."
Sore harinya, Miana bersama Arga berkunjung ke rumah Sarah untuk meminta restu. Dengan angkuhnya Sarah masih bersikukuh tak mau melepas restunya.
"Ma, Arga ingin mama menjadi salah satu saksi dimana Arga mendapatkan kebahagiaan Arga, Ma. Jadi jangan biarkan Arga menjadi anak durhaka yang membenci ibu sendiri. Arga sayang sama mama, Arga nggak ingin hubungan kita rusak seperti dulu lagi."
Arga menoleh pada Miana yang masih terdiam mengeratkan kedua tangannya pada lengannya. Ia kecewa karena Sarah masih terdiam memandang lurus ke depan di depan jendela besar lantai dua rumahnya.
Perlahan genggaman tangan Miana yang mengendur membuat Arga sedikit kawatir memandangnya yang mukai sesenggukan.
☘️
Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia itu telah tiba. Dengan meneliti para saksi yang hadir di akaca sakral itu Arga mencari-cari sosok Sarah, namun tak ia temukan.
Sementara di sisi lain ruangan, tepatnya kamar. Miana yang di temani Riska dan Nika mencoba menenangkannya. Berkali-kali pula kedua temannya itu mencoba menekan air matanya yang mengalir dengan tissue agar tak merusak riasan.
"Pasrahkan saja pada pemilik hati seluruh manusia, Miana. Kamu udah meminta maaf bahkan untuk kesalahan yang bukan kau buat, pun pada mama Sekar." Riska mengelus punggung Miana dan mencoba membersarkan hati sahabatnya.
"Doakan Nyonya Sarah agar melunak hatinya dan melepaskan dendamnya," imbuh Nika seraya membenahi jilbab Miana yang terbungkus Singer di kepalanya. Ya, Miana telah memakai jilbab mulai saat ini. Meski penata rias masih di sana, Nika hanya berusaha memberikan dukungan terbaik sebagai teman terdekatnya.
Seruan kata sah dari para saksi menjadi tanda bahwa Miana kini resmi menjadi istri dari Arga Zayn Manggala.
Miana terisak di pelukan Nika. Ia bahagia namun juga sedih bersamaan. "Aku takut tak mendapatkan berkah dari mama, Ris. Karena aku menikah dengan anaknya tanpa restunya."
"Kata siapa kamu tak mendapatkan berkah dari mama!"
Ucapan seseorang di bibir pintu kamar Miana membuatnya menegakkan kembali duduknya. "Nyonya Sarah," lirihnya dengan dada berdegup tak karuan.
"Panggil aku mama," ucap Sarah dan membuat Miana berdiri dan kembali air matanya mengalir semakin deras.
Sarah mendekat dan memeluk Miana. "Mama merestui kalian," lirihnya seraya menghapus air matanya. "Ya. Mama yang egois melimpahkan kesalahan pada orang lain di dalam kekurangan mama, maaf."
Baru Miana sadari di belakang Sarah ada Dharma, Hana dan Bian yang rupanya tadi mengantar Sarah menuju kamarnya yang ada di rumah Pram.
Ya, acara akad nikah itu berada di kediaman Pram atas permintaannya. Bukan, bukan. Lebih tepatnya Bianlah dalang dari semua ini. Bian ingin memberikan yang terbaik pada Miana sebelum Miana menjadi tanggung jawab Arga. Ia ingin Miana tak kekurangan kasih sayang keluarga. Ia ingin benar-benar menjadi orang yang berguna untuk Miana. Inilah caranya menyiapkan hal terbaik yang ia bisa.
Kedatangan Arga bersama Pram membuat dua orang yang tengah berpelukan itu segera terlepas.
Arga berhenti di samping Bian dan menepuk bahu Bian sekilas untuk mengucap terima kasih dengan suara rendah dan mendapat anggukan dari Bian. Baru ia mendekati Miana yang kini sudah berusaha tersenyum agar tak kembali mengalirkan air mata bahagianya. Tangan Arga terulur dan di sambut Miana untuk di cium, lalu Arga mengecup sekilas kening Miana yang sebagian tertutup singer warna putih di kepalanya.
"Hai Nyonya Arga, berhentilah menangis di hari bahagia kita."
__ADS_1
...End...