Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 85


__ADS_3

"Miana. Jadi gimana?" Nika melingkarkan tangannya di lengan Miana. "Lo mau ikut saran Bian buat ikut magang di perusahaan papanya Bian?" lanjutnya.


Miana mengehela nafas dan mengangguk kaku. Sedangkan Nika pun hanya bisa mengusap lengan temannya, memberi semangat. Sambil terus berjalan.


"Awas jangan cinlok, kamu."


Miana terbelalak sedangkan Nika malah tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Canda, Miana," lanjut Nika terkikik.


Bagaimana mungkin aku bisa lupakan Arga. Sekalipun itu Bian, aku sudah tak ada rasa yang tertinggal untuknya, ungkap Miana dalam hati.


Sejak hari itu, Miana dan Nika berpisah. Miana magang di Perusahaan AMD Corp, perusahaan milik papa Bian. Sedangkan Nika ikut magang di perusahaan kakaknya.


Miana tak bisa mengelak tawaran Bian. Dirinya tidak mungkin untuk pulang ke rumah dan ikut magang di hotel tempat papanya bekerja. Ia akan kesulitan bila saja harus berkonsultasi pada dosen pembimbing. Kebetulan Miana mendapat dosen pembimbing yang super perfect dan tak mau berkomunikasi melalui phone. Jadilah seminggu ini Miana magang tugas pertama di AMD Corp.


Selama beberapa hari ini Bian cukup dekat dengan Miana. Meskipun seringnya Miana di buat kesal oleh Bian karena tugas-tugas yang sering kali dilimpahkan padanya. Mau tak mau, ia tetap membantunya. Tak ada alasan bagi Miana untuk menolak permintaan Bian. Karena sering kali ia juga membutuhkan bantuan Bian. Tanpa ia tahu memang tujuan Bian agar selalu dekat dengannya.


☘️


"Silakan kembali bekerja ke tempat masing-masing." Pram menutup meeting pagi ini. Ia segera keluar ruangan meeting. Melirik salah satu peserta meeting yang sedari tadi ia perhatikan diam-diam.


Miana menemani kepala divisi admin purchasing turut hadir dalam meeting tadi. Sedangkan Bian saat ini bergabung dengan divisi keuangan. Meskipun ini adalah perusahaan papanya. ia tak bisa sesuka hati memilih jabatan sendiri. Karena Pram tahu kemampuan Bian sejauh ini seperti apa.


"Miana, hasil meeting pertama tadi kamu buat analisisnya, ya. Trus untuk tugas kuliah kamu, kamu boleh mengcopynya."


"Tapi, ini melanggar kode etik perusahaan, tidak, ya, Bu Hefi?" tanya Miana pada kepala divisinya.


"Ya jelas, tidak. Analisis itu kan, beragam. Bisa jadi analisis setiap orang itu berbeda. Beda sama laporan keuangan. Nah, itu baru rahasia perusahaan." Tutup Bu Hefi seraya menuju bangkunya.


Setelah mendapatkan penjelasan dari Bu Hefi, Miana lekas kembali peda kubikelnya.


Layar di depan mata masih menyala. Ia harus berfikir penuh agar tepat menyimpulkan pergerakan produk yang beredar di lapangan.


Beberapa menit berjalan ia sedikit terusik oleh derap langkah kaki yang mendekat pada kubikelnya.


Bian datang dan langsung duduk di samping Miana. Lelaki berjas hitam itu terlihat malas duduk bersandar di samping Miana dengan menutup mata dengan lengannya.


Tatapan teman- teman dalam divisi itu tidak berani menegur. Sudah bukan hal baru lagi, Bian seperti itu. Sejak seminggu yang lalu, ulahnya membuat Pram kesal bahkan beberapa kali ia di panggil langsung menghadap papanya.

__ADS_1


Terdiam cukup lama, Bian kesal karena Miana tak juga menegur atau menayangkan keadaannya. Ia bahkan sudah menumpu kedua lengan di meja yang sama dengan Miana. Sedangkan Miana sendiri hanya melirik sekilas saja lalu kembali peda pekerjaannya.


"Miana, gue di sini , loh. Di tanya kek, kenapa kek! Malah di diemin aja."


Bu Hefi melirik dari mejanya dan geleng-geleng kepala.


"Kerja, Bi. Ngapain sih, kamu. Bukannya kamu harus ikut papamu meeting sesama branch?"


"Lo lupa, gue udah di pindahkan ke divisi keuangan." Satu hari ia berada dalam pengawasan Pram, Bian tidak betah. Dengan alasan yang di buat-buat, Bian mengatakan jika ia di pindahkan.


"Bian, gue rasa itu bukan keinginan papamu. Aku yakin ini pasti karena ulahmu sendiri." Miana sudah paham.


Bian tak menjawab, ia hanya memeriksa ponselnya dan berbalas pesan pada Bayu dan kawan-kawannya.


Miana kini menatap Bian yang melirik malas padanya. "Bian, nilai kompetensi Lo di sini mungkin bisa dimanipulasi. Tapi enggak bila di kampus, Bi." Miana mengingatkan.


"Itu dia maksud gue kesini." Bian mendekat sedikit berbisik. "Urusan kampus, Lo harus bantu gue, seperti biasa." Bian menaikkan sebelah alisnya.


"Wani Piro(berani berapa)!" canda Miana.


"Cih, otak bisnis, Lo, udah mulai jalan, sekarang." Bian berdecih malas.


"Putra bapak Pramudiastoro, anda itu bukan anak-anak, lagi. Lihat penampilan anda. Anda adalah pria dewasa. Anda juga anak lelaki satu-satunya dari Pak Pram, perusahaan ini nantinya akan ada di tangan anda, Bapak Aksabian Mahendra. Cobalah anda konsekuen atas apa yang udah anda jalani. Anda adalah harapan keluarga."


Bian terdiam merasa tertampar keadaan. Meskipun ia menyangkal. Nyatanya memang seperti itu seharusnya.


Bian malas berada di dunia bisnis seperti ini. Apalagi, ia harus mengikuti kemanapun papanya pergi berkunjung ke anak perusahaan di bawahnya. Melakukan sidak dari satu tempat ke tempat yang lain. Asisten branch manager yang ia pilih ternyata tak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Akhirnya Ia lebih tertarik berada dalam divisi. Seperti Miana contohnya.


Akhirnya, Bian beranjak malas setelah ia di cari kepala keuangan.


Beranjaknya Bian dari samping Miana membuat Hefi berdehem. Mencari atensi Miana.


"Miana,"


Ia yang merasa di panggil segera mendekat ke kubikel Bu Hefi. "Ibu panggil saya?"


"Udah, nggak usah formal begitu. Nggak ada orang lain," bisiknya.

__ADS_1


Miana mengangguk menahan senyum. Bagaimana bisa, belasan orang temannya dalam satu divisi itu di anggap tidak ada orang.


"Bian itu, pacar kamu?" tuduh Bu Hefi tanpa ba-bi-bu.


"Ah, bukan, Bu," sangkal Miana kembali menegakkan tubuh dari posisinya yang tadi sedikit menunduk.


"Itu, tadi. Kok deket baget, kayaknya."


"Dulu saya teman sekolah, Bu."


Bu Hefi manggut-manggut.


Di banding kepo begini, harusnya Bu Hefi segera mengerjakan saja pekerjaannnya itu. Batin Miana.


"Mm, Bu Hefi. Bukannya setelah ini kita harus memastikan barang yang datang." Miana mengingatkan pekerjaan selanjutnya.


"Biar di urus anak-anak. Kita harus ketemu vendor sehabis ini. Nggak lama kok, paling satu jam."


Lepas dari Bu Hefi, Miana segera menuntaskan laporannya. Ia harus mengikuti atasannya itu setelah ini.


Perbatasan Jakarta dan Jawa barat siang itu tak begitu terik. Kemacetan tak terlalu parah, walaupun mendekati jam makan siang.


Selama perjalanan, Bu Hefi menerangkan pada Miana tentang menjaga sikap dan atitudenya pada vendor. Karena poin tersebut adalah salah satu tugas admin purchasing.


Miana sedikit mengabaikan ponselnya yang bergetar. Mengingat pentingnya yang di sampaikan oleh atasannya di balik kemudi.


Sampai di salah satu cafe tempat bertemunya dengan pihak vendor. Miana baru bisa memeriksa ponselnya. Pesan beruntun dari Bian membuatnya mendengkus. Ia katakan ia juga tengah bersama kepala divisinya menyusulnya. Keterkaitan antara divisi purchasing dan divisi keuangan membuat kesempatan seperti ini akan terus berlangsung.


Lima menit kemudian, tiga orang tim keuangan datang. Ada Bian salah satunya.


Meeting dimulai. Berdiskusi mengenai kepuasaan sekaligus segala keluhan dari masing-masing pihak. Dalam hal ini, Miana sudah diminta secara khusus untuk mewakili Bu Hefi. Melalui diskusi singkat saat dalam perjalanan tadi, Miana sudah bersiap dengan trik-trik agar menjaga hubungan baik dengan pihak vendor selaku penyedia barang.


Kecakapan Miana dalam berdiskusi dan bernegosiasi, tanpa sadar membuat semua yang ada di sana berdecak kagum.


'Kali ini cerewetnya kamu patut di apresiasi, Miana. Tak salah gue pilih Lo buat gabung di AMD Corp, batin Bian di balik senyum simpulnya.


☘️

__ADS_1


maaf baru bisa up🙏


__ADS_2