
Tangis pilu terdengar saat jenazah Surya di angkat dan di bawa ke ambulans. Rumah yang tak begitu luas itu kini penuh dengan pelayat yang mengikuti kemana ambulans membawa Surya ke tempat peristirahatan terakhir.
Miranti pingsan dan di bawa tetangga dan kerabat jauh untuk tetap di rumah. Sedangkan Miana dan Sisil masih kuat bersama rombongan ke tempat pemakaman umum yang ada di kota. Tak begitu jauh dari perumahan.
Ada Riska, Nika, Thea dan Hazel yang mengikuti mobil jenazah. Bayu, Bian dan Arkan juga turut serta di sana. Beberapa perwakilan mahasiswa terlihat datang. Sebagian besar adalah teman-teman Miana di asrama.
Jenazah Surya mulai di kebumikan. Dengan di pimpin oleh pemuka agama. Semua orang yang mengantar pun turut serta bermunajat terkhusus untuk lelaki yang meninggalkan dua anak perempuannya menjadi gadis-gadis yatim.
Dengan sisa-sisa Isak tangis, Miana berusaha kuat dan tetap memeluk Sisil yang begitu terpukul. Ada sesal yang begitu dalam, terlihat dari cara Sisil meratapi gundukan tanah yang sudah bertabur bunga mawar yang mendominasi.
Satu persatu pelayat meninggalkan tanah pemakaman. Tersisa Miana, Sisil juga enam sahabatnya. Dengan sabar keenam teman Miana dan Riska membujuk keduanya agar lekas pulang.
"Ikhlaskan, Miana. Agar jalan yang di lalui papa mudah. Jangan lepas papa dengan tatapan berlebihan. Beliau akan sedih." Nika menenangkan Miana dalam pelukannya. Sementara yang lain pun juga merasakan duka Miana.
"Sil, duluan ya, Kak," kata Sisil yang sudah berdiri diantara Thea dan Hazel.
Miana mengangguk. "Temani mama, Sil."
Thea dan Hazel membawa Sisil pulang.
Arkan dan Bayu pun mulai beranjak karena ada pertemuan penting dengan dosen.
"Kuat ya Miana, semua hanya titipan. Dan akan kembali pada pemiliknya." Bayu menepuk bahu Miana beberapa kali dan lekas menariknya selelah menyadari tatapan sinis dari Bian.
Dasar posesif nggak lihat sikon, batin Bayu.
"Makasih, Bayu. Mohon maaf bila ada salah kata dari papa." Miana tersenyum diantara lelehan air matanya dan mendapat gelengan dari Bayu.
"Kita pamit dulu," ujar Arkan.
"Kalau masih mau tinggal beberapa saat, boleh, kok. Aku temenin." Nika kembali mengelus lengan Miana.
"Jangan kawatir, gue juga masih mau nemenin Lo, Beib," timpal Riska seraya merapatkan tubuhnya pada Miana. Sedangkan Bian masih terus memandangi gundukan tanah yang basah itu. Dan sesekali beralih pada Miana yang ada di depannya. Nika sempat membimbing Miana berdoa kembali agar lebih menata diri.
Sedangkan di sisi lain pemakaman, dua pasang mata tengah memandangi suasana haru di depan sana. Salah satu dari dua orang di pintu masuk pemakaman, menyeka sudut matanya yang berair. Sedangkan sosok di sampingnya pun sesekali mengusap punggung sang papa. Suasana hatinya tak kalah sesak. Merasakan duka wanita yang tengah duduk di antara tiga temannya.
Melihat pergerakan Miana beserta teman-temannya, lelaki berhidung mancung yang di sembunyikan di balik masker putih dengan pakaian serba hitam menjak sang papa untuk menepi. Agar keempat manusia seumuran dengannya tak menyadari keberadaannya.
Saat Miana melintas, ingin rasanya ia mendekat dan memberi dukungan seperti yang di lakukan oleh ketiga temannya. Semua itu urung ia lakukan sebab ia yakin kehadirannya tak berarti apa-apa.
☘️
__ADS_1
Empat tahun berlalu. Langit ibukota sore itu terlihat bertemankan mendung dan rintik kecil. Suasana duka masih terasa meskipun peristiwa pilu itu telah berlangsung cukup lama.
Di bawah batu nisan bernamakan Surya Permana. Sosok kesayangan Miana telah beristirahat, selamanya.
"Papa, maafin Miana baru bisa jenguk papa lagi setahun terakhir ini. Miana dapat tugas dari Pak Pram buat anak perusahaannya di Solo." Miana kembali menata susunan bunga mawar yang ia letakkan sedari tadi, setelah merapal doa. "Meskipun begitu, Miana tetap mendoakan papa. Miana harap, doa Miana sampai ke papa. Kemarin, Miana juga ke makam mama bersama Bi Num, Pa."
"Hari ini,.Sil wisuda, Pa. Dan Miana tadi sudah menghadirinya. papa pasti bangga, deh. Melihat Sisil sekarang ini."
Miana masih betah berada di sana, seolah tengah bercerita pada Surya. Baginya dapat bercerita seperti ini membuatnya lebih baik.
"Kak,"
Suara yang Miana kenali membuat Miana mengalihkan pandangan dari batu nisan di depannya.
"Sil," lirihnya seraya berdiri.
Sisil berhambur memeluk sang kakak. Sudah lama sekali ia tak bertemu. Sejak mama menyalahkan sang kakak dan membuat saudara satu-satunya terusir dari rumah. "Kakak apa kabar?" tanya Sisil seraya melerai pelukannya.
"Aku baik. Sangat baik."
"Selama tinggal dengan Bi Num, kenapa jarang telepon!"
"Kan aku kerja, Sil." Setelah kematian sang papa. Miana kembali berlajar keras. Ia bahkan mendaftar akuisisi percepatan belajar. Sehingga Miana dapat lulus lebih cepat.
Miana terkekeh. "Itu mobil kantor, Sil."
Sejenak keduanya saling melempar senyum lalu Sisil kembali terlihat sedih. "Maafin mama, Kak. Sejauh ini mama masih terus menyalahkan kamu."
Miana berusaha memahami Miranti. Setahunya dulu sang mama meninggalkan papa masih bernafas. Tapi begitu ia kembali ke rumah sakit, papa sudah tiada. Ia kecewa karena di saat-saat terakhir papa justru ada saat bersama Miana, anak dari istri pertamanya. Marah dan kecewa terus tumbuh membuatnya semakin membenci Miana. Hingga pada akhirnya mengusir Miana dari rumah.
"Nggak apa, Sil. Kita doakan saja, mama akan melunak seiring berjalannya waktu."
"Kamu masih begitu baik bahkan atas semua yang mama dan aku lakukan pada kamu, kak. Seharusnya rumah itu kamu yang punya. Kamu udah berjuang banyak buat lunasin rumah itu. Ayo pulang kak," bujuk Sisil.
Miana tersenyum lebar. "Tiap lebaran, aku pulang kok, Sil. Cuma hanya sampai gerbang."
Sisil berbelalak."Kenapa nggak coba masuk!"
"Nggak, Sil. Aku nggak mau mama lebih marah ke aku."
"Dia udah punya tempat pulang." Suara Bian mengalihkan pandangan Sisil dan Miana. Ada Bian yang datang mendekat dengan baju toga yang masih melekat. "Rumah keluarga gue."
__ADS_1
"Move on, Bi. Masuk rumah tuh, cari yang kosong. Jangan yang udah ada penghuninya." Sisil terkekeh saat perumpamaan yang ia ucapkan.
Bian mengabaikan Sisil. "Gue udah lulus, nih. Nggak ada ucapan selamat, gitu," sindir Bian pada Miana.
"Serius anda sudah lulus, Pak,' goda Miana pada Bian dengan muka kusut.
"Lo nggak hadir di acara penting gue! Awas, aja ya! Gue nikahin ntar!"
"Pak Pram nggak akan ijinkan itu, Bi."
"Gue paksa, lah."
"Bian. Lo masih ya nggak berubah." Sisil mulai protes. "Ini di pemakaman, kalau mau ajak ribut jangan di sini," lanjutnya.
Miana mengajak Sisil dan Bian meninggalkan pemakaman. Ketiganya melajukan mobil masing-masing. Dan memutuskan untuk bertemu di kafe.
Bian sudah berganti pakaian. Begitu juga dengan Sisil. Akan terlihat aneh bila mereka masih mengenakan pakaian wisuda saat di kafe.
"Jadi apa rencana kamu setelah ini?" tanya Miana pada Bian yang tengah menyesap blue ocean.
"Ikut Lo, ke solo lah."
"Kalau Lo ke solo, gue yang di Jakarta."
"Sampai kapan Lo mau hindarin gue, Miana. Sampai sekarang Arga nggak datang cari Lo. Berharap sama yang nggak pasti itu bikin sakit. Sudahi saja sampai di sini."
Jujur Bian begitu sakit melihat Miana menutup diri pada siapapun yang mendekatinya. Bahkan Miana kini tengah kehilangan sifat aslinya yang riang dan cerewet.
Seberapa besar usaha Bian mengisi hati Miana yang kosong. Miana hanya menganggapnya saudara sendiri karena Papa memberikan pekerjaan dan kepercayaan pada Miana. Beberapa kali Miana magang di AMD Corp membuat papa begitu menyukai kinerjanya.
Agar Bian terus fokus pada kuliahnya, Pram mengatur agar Miana berkerja di anak perusahaannya di kota Solo.
Sisil mengehela nafas melihat satu orang tengah berusaha mendekat sedang sisi lain ingin menjauh karena tak ingin memberi harapan. "Jadi gue disini buat jadi saksi perdebatan kalian," keluh Sisil.
"Udah, Sil. Abaikan aja."
"Gue nggak nyangka, kita bisa jadi seperti ini, Kak." Sisil menerawang, mengingat kegilaannya dulu merebut Bian. "Gue kekanakan banget," sesalnya.
"Kalau Lo nggak mengacau dulu. Pasti gue masih sama Miana sekarang, Sil." Kali ini Bian mengungkapkan apa yang dulu ia selalu ia sesalkan.
"Udah-udah. Jangan di perpanjang.' Miana menengahi bibit pertengkaran Bian dan Siisl.
__ADS_1
Miana masih menyimpan harap pada Arga. Empat tahun sudah ia tak bertemu muka denganya. Sempat berfikir untuk melupakan Arga. Tapi, semakin ingin ia melupa semakin lekat pula ia mengingat Arga. Sedangkan ia yang sudah di beri kepercayaan dari Pak Pram sudah menganggap Bian layaknya saudara sendiri.
☘️