Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 38


__ADS_3

"Lutut , Lo, kenapa?" tanya Arga.


Sedangkan lawan bicaranya hanya meringis, seraya membenahi duduknya.


"Jatuh," jawab Miana asal. Ia memilih mengeluarkan flashdisk dan laptop dari dalam backpacknya.


"Ck. Lo itu bisa jaga diri nggak', sih? Sebentar-sebentar jatuh. Lama-lama badan Lo penuh luka-luka, tau, nggak," ujar Arga sambil bergidik.


Tangan yang tadinya akan menekan tombol power, terhenti begitu saja mendengar celoteh Arga. Miana menyunggingkan senyum dengan mata menyipit. "Emang Lo mau jagain gue? Kalau gue nggak bisa jaga diri?" ungkapnya jahil.


"Gila, Lo,"


"Tapi ngomong-ngomong, Lo kok perhatian banget sama gue, Ga. Jangan-jangan ,Lo udah naksir gue, ya,"


Tidak terima akan kesimpulan Miana, Arga mencubit ujung hidung Miana seraya bergumam, "Itu nggak akan mungkin," ucapnya lalu melepaskan tangannya.


"Ihh, sakit tau," keluh Miana memegangi hidungnya. "Tapi, jika benar. Gue bisa pikirkan baik-baik. Urusan Angel yang naksir berat ke Lo, mungkin bisa gue atasi," goda Miana tersenyum lebar.


Tidak puas sampai di situ. Miana menumpuk kedua tangan pada meja dan menyandarkan dagu disana. Mata semakin menyipit seiring bibir juga menipis. Ia memerhatikan wajah Arga yang memerah, ia juga sedikit terkekeh tanpa suara.


"Selain Lo bawel, Lo juga kepedean ternyata, ya," sahut Arga. "Dengerin, ya. Gue paling anti sama perempuan. Mereka nggak ada yang tulus."


"Oma juga perempuan, loh, Ga." Miana. mengingatkan.


"Pengecualian, jika buat Oma."


"Dih. Orang kok lempeng kek papan selancar plus keras kaya' batu," cetus Miana. "Fans Lo di sekolah juga banyak yang ghibahin, Lo, Ga. Mungkin, mereka kehilangan pemandangan bagus di kelas."


"Gue kok, curiga. Lo juga punya maksud tersendiri deketin gue," tuding Arga.


Miana menegakkan duduknya, wajahnya berubah masam saat Arga menuduhnya seperti itu. "Ga, jangan asal ya kalau ngomong. Gue ini tulus bantu, Lo. Gue perduli sama Lo, karena Lo nggak masuk udah tiga hari. Terlebih, Lo sakit karena nolongin gue. Jadi gue insiatif kasih tugas dari Bu Alin ke sini."


"Jadi, Lo kesini cuma karena balas Budi," tuduh Arga.


"Lo bilang, Cuma! Gue rela nggak kerja demi rasa bersalah sekaligus terimakasih gue buat Lo, Ga."


"Gue nggak tahu apa yang terjadi dengan Lo, sampai sepicik ini memandang remeh perempuan." Entah mengapa Miana kesal mendengar tuduhan-tuduhan Arga padanya. Ia meraih backpack lalu berdiri hendak meninggalkan tempat itu.


Ya, lebih baik ia segera pulang karena niatnya disalah artikan.


Arga melirik pergerakan tangan Miana dan juga wajah masamnya. Merasa bersalah karena mungkin cara mengungkapkan sedikit candaan itu, begitu menyinggung gadis berambut panjang di hadapannya.


"Gue mau pulang," ujar Miana seraya melangkahkan kakinya.


Arga semakin risau, ia tidak tahu mengapa Miana terlihat kecewa. Niatnya mencoba sedikit bercanda. Namun, tak di sangka. Justru ialah yang memercikkan api perdebatan hingga membuat Miana benar-benar kesal. Inginnya menghentikan langkah Miana. Namun, ia hanya berdiri terdiam di tempat, tidak punya alasan.

__ADS_1


"Gue terlalu kecewa sama mama," ungkap Arga.


Ucapan Arga menghentikan langkah Miana.


"Gue punya alasan mengapa gue nggak gampang percaya sama orang. Terlebih itu perempuan."


Miana membalikkan badannya. Hal pertama yang ia lihat pada wajah Arga adalah sebuah raut kekecewaan yang teramat. Ia menurunkan egonya lalu berjalan kembali menuju tempatnya semula. Berdiri berhadapan dengan Arga.


"Apa Lo mau cerita ke gue?" tawar Miana.


Arga menundukkan wajahnya tanpa menjawab tawaran Miana, lalu memutar badan, fokusnya melihat air tenang di dalam kolam. Sedangkan Miana menelisik gerak tubuh Arga yang memunggunginya.


"Mama ninggalin gue sejak gue berumur satu tahun. Gue ingat betul saat itu mama pergi tanpa perduli ke gue yang meraung dalam gendongan papa. Lain hari, gue sakit. Suhu badan gue meninggi, kata papa. Tapi yang gue ingat saat papa membawaku menemui mama, yang ada ia hanya mengabaikan papa. Sejak saat itu, gue begitu membenci perempuan."


Seketika, Miana begitu terenyuh mendengar pengakuan Arga.


Ingatan Miana berputar pada perlakuan Miranti padanya. Ia tersenyum, lebih pada memberi kekuatan pada diri sendiri. Ia masih yakin, mama mempunyai alasan tersendiri dalam mengungkapkan rasa sayang padanya.


"Ga, gue yakin. Ada satu masalah yang nggak Lo tahu. Nggak ada seorang ibu yang membenci anaknya, Ga. Hewan pun akan bersikap berbeda jika itu tentang anaknya."


"Coba Lo tanyakan padanya, Ga. Dan pastikan Lo dapet jawaban darinya," imbuh Miana.


"Gue nggak Sudi ketemu dia lagi."


"Bagaimanapun dia ibu Lo, Ga." Miana memberanikan untuk menyentuh punggung Arga, meyakinkan. "Selama ini Lo nggak ngerti apa yang dia alami, Ga. Lo tahu kemana harus mencarinya, kan,"


"Selama Lo masih di kuasai dendam. Lo nggak akan dapat jawabannya, Ga. Yang ada, Lo hanya mengira-ngira. Cobalah membuka hati Lo. Kasih kesempatan padanya untuk menjelaskan semuanya. Jika Lo terus bersikap seperti ini, kesalahan satu orang akan Lo limpahkan pada siapa saja di sekitar Lo."


Setelah menata hati agar terkesan bersikap netral, Miana berdiri di samping Arga. Terdapat jarak disana. Miana juga melakukan hal yang sama, yaitu dengan menatap air tenang pada kolam.


"Jika Lo nolak mama Lo. Maka, tak ada ubahnya Lo dengannya, Ga."


Kali ini Arga tidak setuju hingga ia melirik tajam pada Miana.


Sayangnya hal itu tidak membuat Miana berhenti menyuarakan pendapatnya. Ia justru mengulas senyum lebar. "Sekarang, bayangkan diri Lo jadi gue, Ga. Gue punya adik, gue punya papa dan mama. Keluarga gue lengkap. Gue nggak tahu sejak kapan, sikap mama begitu bertolak belakang. Gue berada di rumah yang sama. Tapi ia begitu menyayangi adik gue, sedangkan sikapnya ke gue selalu ketus dan terkesan kasar. Mereka nggak bersikap adil ke gue, Ga."


Miana kini membalas tatapan mata Arga yang sejak tadi memerhatikannya, terlihat tenang. Raut wajah marah itu sudah tak ada di sana. Membuat Miana merasa lega. "Jadi hidup siapa yang lebih beruntung?"


☘️☘️☘️


Esoknya, Miana menyusun tugas yang sudah ia cetak. Hari ini Bu Alin mengampu di jam kedua. Jadi, ada waktu sedikit untuk merevisi kembali tugasnya.


Arga juga sudah masuk sekolah. Terlihat, penghuni belakang bangkunya itu, sikapnya kembali seperti semula. Dingin dan selalu datar.


Berbeda saat ia mengunjunginya kemarin. Miana jadi mengetahui sisi lain dari Arga. Terlebih, alasan dia selalu dingin pada Angel atau beberapa temannya yang terang-terangan berusaha mendekatinya.

__ADS_1


Saat jam istirahat, Riska membujuk Miana untuk ikut ke kantin. Meskipun ia tidak merasa lapar. Tapi melihat wajah Riska yang terus merengek, ia pun menyetujuinya.


Di kantin, Miana sempat bertemu Bian di pintu masuk. Seperti biasa, Sisil pun turut disampingnya. Bersama Bayu, Roy dan Arkan.


Mungkin seperti itu yang di inginkan Bian padanya dulu sebagai pacar. Bisa di ajak kemanapun bersama-sama. Tapi, semua itu tidak dapat di lakukan oleh Miana. Jangankan jalan berdua, jikapun bisa pasti saat Sisil sedang lengah saja. Alhasil, hal itu mungkin yang membuat Bian bosan dan jenuh. Ya, seperti itulah yang ada dalam pikiran Miana.


Sejak Bian menolongnya beberapa hari yang lalu, Miana sengaja menjaga jarak agar Sisil tidak salah paham lagi dengannya.


Ada tiga kantin besar di sekolah ini. Masing-masing menyediakan 25 meja dengan empat kursi yang mengelilinginya.


Miana hanya duduk berdua saja dengan Riska. Melihat Riska makan dengan lahap membuat mode keponya tak tertahankan. "Bunda nggak masak, ya! Sampai anak satu-satunya kelaparan seperti nggak makan sebulan?" canda Miana dan Riska menggeleng cepat.


Begitulah ia memanggil Rini–mama Riska dengan sebutan yang sama. Kedekatan mereka begitu akrab. Dulu, Miana sesekali menginap di rumah Riska. Tapi, semenjak kelas dua belas ini, ia hampir tidak pernah menginap di sana. Hanya melepas rindu melalui chat atau video call saja jika Rini sedang merasa rindu dengan Miana. Terlebih, Rini sesekali ke luar kota untuk pengobatannya.


"Tega, Lo ngatain gue. Gue udah mohon-mohon, kelaparan dari tadi juga. Lo nya malah malas-malasan." Meskipun sambil mengunyah baso mercon menu andalan di sana, sama sekali tidak menggangu Riska untuk protes. Riska sempat melihat Bian sesekali memerhatikan ke arahnya. Bukan padanya, lebih tepatnya pada Miana. Namun, Riska segera mengabaikannya.


Miana hanya terkekeh melihat sahabatnya tersiksa karena menahan rasa pedas.


"Puas-puasin ngetawain gue." Riska mengambil paksa ice cola milik Miana. "Lo pesen lagi, deh! Gak tahan gue sama pedesnya," imbuh Riska.


Diantara sensasi rasa pedas pada lidahnya, matanya kembali menangkap gerak tubuh Bian, tapi Bian mengalihkan perhatian saat ia menangkap arah pandangnya.


Sedangkan Miana, semakin tergelak saja melihat wajah Riska yang memerah. "Ututuuuuu, kacian anak Bunda. Kepedesan yak," ungkap Miana dengan nada mengejek. Lalu di balas Riska dengan mengerucutkan bibirnya.


"Teman gada akhlak," sahut Riska sedikit kesal. Sejurus kemudian mereka tertawa bersama.


"Makanya, nggak usah di paksain buat suka pedas. Makan versi aman aja. Kalau Lo sakit perut, gue juga yang repot, 'kan,"


"Gue pengen kaya' Lo, Na. Beberapa waktu lalu, keknya nikmat banget liatin Lo makan beginian."


"Ya kali, selera kita beda, Sayang," rayu Miana.


Riska masih kembali fokus pada makannya. Meskipun Miana semakin menerocos bercerita tentang kemarin soal dia tidak masuk kerja, dan memilih menjenguk Arga. Riska hanya menanggapi dengan anggukan dan menyimak saja.


Pesanan ice cola yang ke-dua datang dan Miana berterima kasih. Saat Riska kembali menegakkan wajahnya dan kembali mendapati Bian masih memandangi Miana. Riska berinisiatif untuk mengingatkan Miana.


"Na," panggil Riska.


"Hm?" gumam Miana yang kini tengah mengaduk-aduk minumannya.


"Bian liatin Lo, tuh." Riska menggunakan dagunya untuk memberi kode pada Miana.


Miana tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Masa'?" tanya Miana tak percaya. Miana menahan diri untuk tidak memutar badannya. Ia takut ada Sisil disana. "Ada Sisil nggak di sana?" bisik Miana.


"Ada. Tapi posisinya aman buat Lo."

__ADS_1


Secepatnya Miana memutar lehernya sesuai petunjuk Riska. Dan benar saja, Bian begitu salah tingkah saat dia tertangkap mata Miana.


☘️☘️☘️


__ADS_2