Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 69


__ADS_3

'Now and forever,'


(gambar ada di story' igeh aku ya, 🀭)


Adalah kalimat yang tersemat di story' WhatsApp milik Arga. Miana duduk meraih ponselnya kembali. Lalu, Miana memanggil Arga yang masih terduduk di atas pasir. Tengah menggu lum senyum di sana.


Dengan langkah pelan, Arga berjalan sambil mengibaskan sisa parsir yang menempel di celananya. Sesampainya di hadapan Miana, Arga lekas mengajaknya pergi dari sana. Masih dengan pakaian yang sebagian telah basah. Arga mengajak Miana membeli baju. Tidak ada perdebatan lagi dari Miana. Mengingat ia tak membawa baju ganti.


Arga tidak mau, Miana sampai sakit karena ulahnya.


Keduanya lekas berpisah untuk membersihkan diri pada kamar mandi umum yang tersedia. Sampai Arga lebih dulu selesai, menyusul Miana lima menit kemudian.


"Udah?" tanya Arga dan mendapat anggukan sebagai jawaban. Ia lekas memindai Miana dari ujung kepala hingga sampai ke kaki. Melihat jaket Miana masih tersampir di lengannya. Arga lekas meraihnya dan memakaikan asal di bahu Miana. "Udah mulai dingin hawanya," ucap Arga. Seolah tahu, akan wajah terkejut Miana.


Miana tersenyum. Lalu membiarkan tangannya berada dalam genggaman Arga lagi.


Senja mulai nampak. Arga sempat menanyakan pada Miana, bagaimana jika sampai rumah sudah larut. Miana tidak mempermasalahkannya. Baginya, tak masalah memanfaatkan waktu libur. Kapan lagi? Berada sedekat ini dengan Arga, tentu dapat memberi kebahagiaan tersendiri.


Mereka memutuskan pulang. Saat sudah menyempatkan solat di tempat yang ia lewati. Keduanya lantas mencari tempat makan.


Kedai seafood menjadi pilihan Miana. Awalnya Arga menolak keras. Berfikir tidak higienis makan di tempat-tempat pinggir jalan.


"Yakin, tempat ini buat makan kita?" tanya Arga setelah pelayan pergi menyiapkan pesanannya.


Keduanya duduk pada tikar lesehan.


"Cobain, dulu, deh. Baru komentar," jawab Miana berbinar. Ia melihat pelayan meletakkan dua porsi ikan bakar di hadapannya.


Arga memerhatikan Miana makan dengan lahap. Barulah ia mulai mencuci tangan pada wadah yang tersedia. Sedikit ragu, tapi Arga mulai meniru cara makan Miana. Makan dengan tangan. Baru pertama kali ini Arga makan tanpa alat seperti sendok atau sumpit.


"Enak," aku Arga saat satu suapan sudah mendarat sempurna dalam mulutnya.


"Apa gue, bilang." Miana menyuapkan satu suwir ikan pada mulut Arga, membuatnya terhenyak.


Melihat wajah kekasih hati yang tak berhenti mengulas senyum, Arga tak ingin mengecewakannya.


Canggung. Ini pertama kalinya ia mendapat suapan dari wanita. Selain dari Oma dan sang mama sewaktu kecil tentunya.


"Rasanya jadi lain saat makan dari tangan kamu."


"Eh, tangan gue bersih, loh." Miana segera bersiap menyangkal tuduhan Arga jika ia akan mengkritiknya.


"Semakin lezat, Sayang." Arga lekas memberikan kejelasan maksudnya.


Mendengar kata sayang dari mulut Arga membuat Miana merona. "Ihh." Miana menepuk lengan Arga sambil menggerutu. Menutupi reaksi tubuhnya. "Bikin kawatir aja, sih."

__ADS_1


Setelah puas menggoda Miana , Arga lekas melanjutkan makannya hingga habis.


Arga melihat piring Miana sudah bersih, hanya tersisa duri ikan di sana. "Lapar apa doyan?"


"Laper banget aku. Dari siang belum makan."


"Kenapa nggak ngomong, sih?" protes Arga dan Miana hanya menggeleng menampilkan senyumnya.


"Pantesan kurus," gumam Arga dan Miana masih dapat mendengarnya.


Setelah membayar, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Miana.


"Nggak percaya amat, sih. Ini aku udah di depan pintu, loh, Arga."


Benar adanya, Arga memarkir motor di luar pagar sedangkan ia mengantar Miana sampai di depan pintu.


"Cuma mau mastiin, kamu selamat sampai rumah tanpa terluka sedikitpun."


"Kamu,"


"Kenapa? Aneh, ya? Manggil aku-kamu."


Miana menggulum senyum mendengar itu. Arga lekas pamit pulang. Setelah Miana melambai dan menunjukkan jari tangan membentuk finger love pada Arga.


☘️


Sehabis upacara, Miana mendapati Riska tengah memasang wajah sewot padanya. Bahkan sapaannya tidak di hiraukan oleh sahabatnya itu. Melengos pergi begitu saja. Miana sampai mengejar Riska dengan berlari.


Arga hanya melirik tingkah Miana kali ini. Sedikit kesal karena ia bahkan belum sempat berbicara padanya. Hanya tadi pagi mereka sempat berbalas beberapa pesan saat sarapan.


Melihat Riska masuk ke dalam kelas, Miana lekas menyusulnya. Kelas masih sepi, karena mayoritas siswa masih berada dihalaman sekolah. Masih ada jeda waktu sebelum jam pertama dimulai.


Saat sampai kelas, Riska sudah duduk pada bangkunya, Miana duduk di hadapan Riska dan memegang lengan sahabatnya. "Kamu kenapa, Ris?" tanya Miana sungguh-sungguh. Ia takut melakukan kesalahan tanpa ia sadari.


Riska terbelalak. "Lo nggak tahu kesalahan apa yang udah Lo perbuat?" pekik Riska.


Miana menggeleng semakin bingung. "Gue bener-bener nggak tahu apa salah gue, Ris."


Riska membuka ponsel dan menunjukkan layar pada Miana. "Ini apa maksudnya?" tanya Riska. Ia tidak bodoh mengartikan sebuah kata yang berada di atas potret sahabatnya. Story' milik Arga.


Semalam, Miana sudah meminta Arga untuk menghapus postingannya. Dengan dalih, menjaga perasaan Angel. Orang yang sampai saat ini mungkin masih menyukai Arga. Arga menurut meskipun sudah ada beberapa teman sekelasnya yang sudah melihatnya. Dan Riska salah satunya, ia menscreen shortnya. Kali ini, Miana baru menyadari sesuatu.


Miana tersenyum, berusaha membujuk Riska yang tengah bergelung kesal. Miana menyesal melihat Riska seperti itu. Sebagai sahabat, Riska tentu kecewa ia tak memberitahukan perihal jadiannya dengan Arga. Baginya itu masalah serius. "Riska, Lo tau gue, kan? Gue nggak bisa sembunyiin apapun dari Lo. Gue udah berniat kasih tahu, Lo. Begitu kita ketemu."


Miana tersenyum meyakinkan Riska. "Percayalah, Lo orang pertama yang gue kasih tahu soal ini."

__ADS_1


"Tapi Bayu dkk sudah, tahu, Miana!" Riska mengalihkan pandangan pada pintu masuk lalu kembali pada sahabatnya. "Termasuk, Bian," imbuh Riska.


"Cepat tau lambat, mereka pasti juga tahu. Gue nggak mau bicarain ini di telfon, nggak enak."


"Gue udah kecewa Lo sembunyiin soal Sisil. Dan ini yang kedua kalinya, Miana."


"Maaf, Ris," sesal Miana.


Beberapa detik keduanya diam. Sampai Riska kembali membuka suara. "Apa Lo bahagia?" tanya Riska. "Nggak usah di jawab. Gue lebih tahu Lo di banding diri Lo sendiri." Riska tersenyum.


"Makasih, Ris." Miana berhambur memeluk Riska yang masih bersekat meja. "Lo udah maafin gue."


Riska mengangguk. Sejujurnya ia tak benar-benar marah. "Cerita sekarang!" Riska melirik arloji di pergelangan tangan. "Masih ada waktu. Buruan!"


Miana menoleh sekilas. Teman-teman yang lain belum nampak satupun yang kembali ke kelas.


Miana lekas kembali menatap Riska. Ia sampai merona kala mengingat malam itu. "Sabtu malam, Arga ajak gue ke kota tua. Gue yang gak pernah liburan ini, pasti seneng dong. Di sana dia ajak gue jadian. Selama ini dia enggak terima gue, karena ia nggak mau gue yang minta ke dia. Dia nggak mau aku yang memulai. Jadi ... disana ia yang memulainya."


Riska ikut bahagia melihat Miana. "Arga aneh nggak, sih. Ribet amat," keluh Riska.


"Lo, tau. Cara Arga kasih perhatian ke gue itu juga beda, Ris. Bicaranya pun masih sama. Nggak ada kesan halus atau di manis-manisin, gitu." Miana tertawa. Membuat Riska pun ikut tertawa.


Suara gaduh di luar kelas membuat atensi Riska dan Miana kompak menoleh pada pintu. Di sana beberapa siswa-siswi mulai masuk. Termasuk Angel.


Angel mendekati Miana, dan menepuk kasar lengan Miana. "Puas Lo bikin Arga di hajar sama Bian."


Miana tak lekas menjawab Angel. Ia cepat berlari di ikuti Riska di belakangnya. Di depan kelas, sebagian siswa memegang kedua tangan Bian. Sedangkan di sisi yang lain, ada Arga dengan keadaan yang sama. Miana lekas mendekati keduanya. "Ini apa-apaan, sih!" Miana melihat Bian dan Arga bergantian. Sudut bibir Arga terlihat sobek. Begitu juga dengan Bian. Bisa di pastikan keduanya terlibat adu jotos sebelum ini.


Bian menghentakkan tangannya yang di pegangi oleh Arkan dan Bayu. Ia menatap kecewa pada Miana lalu masuk ke dalam kelas. Di ikuti oleh Arkan dan Bayu.


Miana lekas memandang lekat pada Arga yang masih bergeming di tempat. Roy melepas perlahan cekalan tangannya mengetahui Bian sudah tidak ada di hadapan Arga.


"Mereka berantem, kaya anak kecil. Lo urus pacar baru, Lo." Roy bicara sambil berlalu.


Tinggalah Miana dan Arga di sana. Karena teman-teman yang lain sudah masuk kelas.


Miana menyentuh sudut bibir Arga. Nyeri melihat sedikit darah yang tertinggal di sana. "Ar–,"


"Ssssstt." Arga menyentuh bibir Miana dengan jari telunjuknya. Dan menggeleng. "It's oke," kata Arga mencoba tersenyum.


Arga melirik di ujung koridor. Ada Pak Bambang berjalan membawa setumpuk kertas di lengan kirinya. "Masuk, Miana! Kita akan latihan ujian."


☘️


Maapkeun baru bisa up.

__ADS_1


aku mau cerita, nih, ya, dikit.


Aku kayak nerocooos terus nggak, sih. Seolah bicara sendiri. bagaimana tidak, kalian no coment. 😒 sedih banget tau.


__ADS_2