
☘️☘️☘️
Langit tidak selalu cerah. Kadang mendung pun tidak mau kalah menampakkan diri. Pun pada lautan, tidak selamanya akan tenang tanpa gelombang yang menghiasinya. Sesekali ombak bergulung-gulung menampilkan sisi keindahan. Namun, ombak pun dapat datang pada sisi menyeramkan bila di sertai badai. Alam membuktikan bahwa ia juga turut mengalami perubahan. Seperti halnya Bian, walau ia yang dulu begitu tidak menyukai Sisil, sekarang perasaannya pun berubah iba ketika gadis yang selalu ia abaikan ternyata begitu menyukainya. Walau tidak seindah Miana menghiasi hari-harinya dulu. Ia memutuskan untuk menerima ungkapan perasaan Sisil padanya waktu sepulang sekolah dua hari yang lalu.
Seolah memanfaatkan keadaan. Bian yang masih merasa cemburu melihat Miana tengah makan berdua di kantin dengan Arga, ia juga ingin membuktikan pada Miana bahwa ia pun dapat dengan mudah berganti hati.
Bangga dapat melihat wajah terkejut Miana yang seolah masih tidak rela saat melihatnya bersama Sisil, membuat Bian semakin bersemangat, melihat Miana semakin terluka dan menyesal adalah tujuannya menerima Sisil.
Sementara Miana, kini sudah tidak berniat untuk berlarut-larut meratapi sedihnya. Karena di balik itu semua kini ia dapat melihat senyum ceria Sisil di dalamnya. Walau terkadang wajah ketus sang adik masih saja terlihat tidak ramah, setidaknya Sisil tidak membuat ulah lagi.
Teringat saat ia pertama kali jadian dengan Bian. Ia pulang mendapati seragamnya sudah koyak tidak berbentuk bekas sayatan benda tajam.
"Sil, apa yang kamu lakukan? pekik Miana.
"Aku hanya ingin kakak tahu, seperti itulah hatiku jika lihat kakak sama Bian. Koyak tak berbentuk!'
Lain hari, tugas yang seharusnya sudah sempurna dan siap untuk di kumpulkan esoknya mendadak hangus terbakar di dalam kamar.
"Sil. Kau keterlaluan! Bagaimana nilaiku nanti jika tak mengumpulkan tugas ini." Miana meratapi tugasnya yang kini tersisa abunya saja.
Hingga berakhirlah Miana tidak ikut seleksi lomba karya ilmiah kala itu. Miana kesal dan marah pada Sisil. Hingga terjadi keributan dan mendadak membuat Sisil kambuh karena sakit sesak nafas. Hal itu membuat papa kecewa dan marah padanya, mengabaikan kegagalannya mengikuti lomba bergensi saat itu. Soal Sisil, entah karena hal keributan itu atau memang kesehatan Sisil sedang drop, akhirnya Sisil harus di rawat.
"Kalian ini meributkan hal remeh apa! Lihat! Adikmu kesakitan, Mia! Apa salahnya, sih, kamu ngalah!" Mama marah dan menarik rambut Miana.
"Sil bakar tugas aku, Ma," bela Miana.
"Kamu bisa mencetaknya ulang, 'kan! Kamu pinter tapi nggak punya otak!" Mama mengumpat di lorong rumah sakit. Membuat Miana berlari pulang karena kecewa dengan tindakan mama. Menyentaknya di depan umum. Padahal ia juga anaknya. Kesalahan apa yang di buatnya hingga ia selalu membuat mama meledak-ledak setiap berhadapan dengannya.
Tidak hanya itu, Sisil bahkan tega mengurungnya dalam gudang saat sudah berjanji menemui Bian. Hingga berjam-jam Bian menunggu di cafe hingga berakhir dengan kemarahan Bian.
☘️
Sering kali Sisil menyabotase ponsel Miana. Hingga berakhir ribut dengan Bian. Namun, seperti batu permata yang terus di gosok hingga terbentuk dan menampakkan indahnya. Seperti itu pula tiga bulan Bian mengenal Miana, semakin indah saat Miana dapat dengan mudah menyembuhkan kecewanya. Cara Miana meminta maaf, seperti perhatian-perhatian kecil padanya.
Saat itu Miana membawakan bekal untuk Bian, hal yang sangat ia harapkan dari seorang mama yang begitu sangat sibuk dengan dunianya sendiri. Bian marah karena Miana melupakan janjinya temu di cafe untuk melihat temannya tampil mengisi acara pembukaan cafe malam harinya.
"Tadaaa! Mau makan bekal sama aku?" tawar Miana.
Bian mengabaikan Miana yang terlihat sibuk membuka kotak bekalnya.
Bian lebih terkejut karena Miana menyodorkan sepotong lumpia sayur ke mulutnya. Merasakan pagi tadi belum sempat sarapan, akhirnya ia luluh karena marah pun juga perlu asupan makanan.
Apalagi melihat Miana yang menyangga dagu memerhatikannya makan, membuat Bian tidak kuasa berlama-lama dengan kekesalannya.
Esoknya. "Bian, maaf. Habis sekolah aku bantu tugas kamu," rayu Miana. Berusaha meruntuhkan kekesalan Bian saat Miana sibuk dengan tugas kelompoknya sendiri. Miana paham, karena ada Dev dalam kelompoknya. Seolah memahami Bian yang sangat pencemburu itu.
"Kamu sengaja bikin aku marah dengan terus deketan sama Dev!"
"Gimana nggak deketan Bian. Aku sama. Dev, satu kelompok diskusi."
__ADS_1
"Kamu suka, dapat perhatian dari Dev!"
"Bian, nggak gitu,"
"Nggak. Aku tetap marah sama kamu!
"Bian, please," pinta Miana. "Aku traktir makan baso." Miana mengedipkan kedua matanya, memohon pada Bian.
"Kurang," Bian melirik malas dan bersiap mengeluarkan sebatang rokok. Seolah memancing Miana. Mencari perhatian lagi.
Dengan cepat Miana menarik pelan sebungkus gilingan tembakau itu. "Katanya udah janji nggak ngerokok lagi."
"Sekali lagi kamu bantuin, Dev. Aku bakal ngerokok lagi."
"Sehabis proker praktek kimia ini, pasti aku nggak deket Dev lagi."
"Janji," tuding Bian
"Asal nggak satu kelompok lagi sama dia." Miana meringis menyandarkan dagu pada tumpuan tangan pada meja, memandang Bian yang masih merajuk.
"Ck. Bisa nggak, sih, Miana. Kamu jauh-jauh dari Dev. Dia itu suka ke kamu!"
Kembali Miana menghela nafas sembari menegakkan duduknya. "Tapi, Miana sukanya sama Bian."
Bian tidak kuat menahan tawanya. Hingga akhirnya tawa renyah pecah sembari mencolek ujung hidung Miana dan langsung mendapat tatapan kesal dari Miana.
"Sekarang udah nggak marah, 'kan?"
"Hah. Oke. Makan baso plus jalan-jalan ke mall."
"Deal,"
Ya. Kesan seperti itulah yang membekas di hati Bian. Kini di balkon kamarnya ia kembali merenung mengingat masa bersama Miana.
Ceklek. Suara pintu terbuka dan menampilkan Raya yang memakai hot pants berwarna hitam dan juga kaos berwarna senada, sehingga sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
"Ngelamun, lagi," celoteh Raya.
"Papa jadi pulang?" tanya Bian. Mengabaikan pertanyaan adiknya.
Sedangkan Raya hanya diam dan mengikuti Bian yang menumpu kedua siku pada pagar besi balkon kamar kakaknya.
"Ck. Kalau ada orang nanya itu, di jawab!"
"Kakak juga Mengabaikan pertanyaanku," sentak Raya tidak terima.
Bian hanya terkekeh melihat wajah kesal Raya. "Aku tahu kamu kesepian juga. Makanya punya pacar!"
"Emang Kakak punya pacar?" tekan Raya.
__ADS_1
"Jelas."
"Siapa?"
"Ada."
"Siapa, kak!" Raya menggoyang Legan Bian memaksa untuk jujur.
"Sisil."
☘️☘️☘️
Miana hanya tersenyum kecut melihat Bian tengah duduk bersisihan dengan Sisil, memerhatikan ponsel pada genggaman Sisil. Seperti tengah asyik dengan memerhatikan layar pipih itu tanpa perduli pada hatinya yang perih. Riska juga tengah mojok berdua dengan Bayu di bibir pintu. Keduanya saling berdebat lalu tertawa, seperti itu seterusnya.
Begitu Miana kembali mengedarkan pandangan pada seisi kelas. Beberapa bangku kosong tiada penghuni, karena pemilik bangku tengah ke kantin atau pergi ke manapun memanfaatkan waktu istirahat. Saat ia memutar sedikit badannya, ia mendapati Arga tengah menatapnya. Sontak Miana terkejut karenanya.
"Ke-kenapa, Ga?" tanya Miana.
Arga hanya mengangkat sebelah alisnya. Melihat sekitar lalu kembali pada Miana yang masih dalam posisinya. "Ada yang salah?"
"Ya. Eng- nggak, sih. Cuma, Lo natap gue begitu. Ku pikir apa gue ganggu, Lo."
"Papan tulis juga ada di depan."
"Ya... Lo, lihatnya ke gue." Tunjuk Miana pada diri sendiri.
"Ge-er."
"Hah, apa?"
Mengabaikan Miana, Arga pergi dari tempatnya. Berjalan ke luar kelas. Meninggalkan Miana yang masih bergeming memikirkan tindakannya. "Gue. Ge-er!" Miana menggeleng cepat. "Jelas-jelas, dia natap gue, 'kan?" gumam Miana.
Miana hanya mengangkat bahu. Lalu mengeluarkan novel yang sudah berkali-kali ia baca. Karena suka pada kata-kata yang di pakai salah satu penulis kesukaannya. Terlebih makna dan pesan yang disampaikan oleh penulis di dalamnya.
Mengisi waktu istirahat dengan membaca novel adalah kebiasaan Miana, jika tidak ada tugas urgent, atau jika tidak ada ulangan. Menurutnya dunia halu di dalam novel seolah menjadi hiburan di tengah dunia yang sebenarnya. Belajar, tugas sekolah, bekerja. Ya, setumpuk rutinitasnya itu juga butuh hiburan agar tetap waras. Belum lagi jika di rumah, mama akan selalu menanyakan hal yang sama setiap hari.
"Apa papa tahu, kamu kerja?"
"Pokoknya. Awas saja sampai kamu ngadu ke papa! Mama nggak mau ya di salahin!"
"Segitu nggak percayanya, mama ke aku," keluh Miana.
☘️☘️☘️
Selamat sore, salam waras untuk kita semua. ku harap cerita recehku dapat membantu meredakan ruwetnya rutinitas kita sehari-hari ya , BESTie. 🤭
like,
komentar,
__ADS_1
dan jangan lupa kasih aku hadiah. biar makin semangat 😍😍😍🤭