Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 62


__ADS_3

☘️


Malam ulang tahun Bian, berjalan lancar. Acara tiup lilin juga sudah di wakilkan oleh Raya di teras rumah. Bian tidak mau, dan ia hanya memotong beberapa kue untuk orang-orang terdekat. Salah satunya adalah Miana.


Saat itu Arga yang tengah berdiri di samping Miana hanya bisa tersenyum kecut. Rasa tak rela sempat hinggap di hatinya kala ia melihat Miana bergabung bersama keluarga Bian. Terlihat akrab dan sangat hangat. Perlahan ia mencari tempat paling ujung agak menjauh dari keramaian.


Untuk sampai di tujuan dengan selamat, ia harus menghindari tawaran bergabung dari cewek-cewek cantik yang berbusana berbeda dari hari biasanya. Tentu, di sekolah mereka akan mengenakan seragam kemeja dan rok yang pantas. Sedangkan saat ini, mereka seolah sedang mengeksplor sisi lain mereka.


Sampai di kursi taman. Dengan berbekal satu gelas Boba. Arga duduk di sana melihat riuh beberapa teman sekelasnya dan beberapa orang yang tidak ia kenali.


Lama ia diam di sana, Arga melihat Miana yang tengah bergerak celingukan mencari seseorang. Dengan yakin, hatinya ingin menebak jika dialah sosok yang Miana cari. Namun, ia takut kenyataan tidak berpihak padanya. Ia kembali menyesap rasa dingin Boba berperisa latte di hadapannya. Mengabaikan Miana di sana. Berharap rasa panas yang sempat menyelimutinya segera berangsur dingin. Sedingin ice Boba.


Miana segera menangkap sosok di ujung halaman. Ia lega setelah mengetahui Arga tak meninggalkannya. Tadi, Ia sengaja mengajak Arga untuk berangkat bersama. Meskipun ia tahu Arga tidak menyukai pesta dan keramaian, Miana tetap memaksa. Sekaligus mencari kesempatan agar bisa lebih lama bersama Arga.


Dengan mengendap Miana bergerak mendekati Arga. Belum sampai tangannya berniat mengagetkan Arga. Arga sudah lebih dulu berbalik. Sayangnya, tangan Miana-lah yang sangat beruntung dapat tertangkap tangan orang yang ia cari.


"Eh, ketauan," ringis Miana. Ia menggigit bibir bawahnya karena malu. Hanya saja ia terlalu pintar menyembunyikannya sambil terkekeh. Dia masih rela tangannya tertahan di dalam genggaman tangan dingin pujaannya. 'Nyaman,'


"Udah selesai, urusan Lo?" tanya Arga sambil melepaskan tangan Miana. Wajahnya tetap santai namun sedikit memerah.


"Emm, udah, sih."


"Kalau gitu, kita balik!" Dengan cepat Arga menyeret Miana dari halaman samping rumah Bian. Tempat diadakannya jamuan makan.


"Ta..tapi, kita pamit, dulu."


"Nggak usah." Semakin lebar saja langkah Arga. Ia segera menghampiri mobilnya dan membukakan pintu untuk Miana.


Sedangkan Miana tak tahu harus berbuat apa, ia lalu mengetikkan pesan pada Bian dan Raya untuk pamit. Melihat wajah Arga yang datar membuat Miana dilanda resah.


Arga masuk di balik kemudi dan melirik sekilas pada Miana. "Sorry, kalau tadi gue tarik Lo terlalu kenceng," ucap Arga tulus dan menunduk. Dalam hati ia bersungguh sungguh, menyalahkan diri sendiri tidak bisa mengendalikan rasa aneh dalam tubuhnya.


"Ng... Nggak kok, Ga. Gue yang minta maaf. Gue juga baru sadar kalau ini udah terlalu malam." Miana berucap polos. Tidak ingin terlalu percaya diri menafsirkan pemikirannya.


"Hm," jawab Arga singkat lalu menjalankan mobilnya.


☘️


...


"Bilang aja, Lo uring-uringan karena gue tinggal tidur, kan!" Arga merapikan tatanan rambutnya sambil terus berjalan.

__ADS_1


"Yeee, nggaklah! Tidur, ya , tidur aja." Miana mendorong lengan Arga.


"Nah, tadi Lo kesel sampai pukul-pukul gue!" Arga balas menarik ujung backpack Miana.


"Nggak mukul, ya gue! Lo nya aja yang ngeselin." Miana membenarkan kedua tali backpacknya. Mulut juga tengah komat kamit karena kesal menjadi tersangka.


"Dih, beo-nya ngambek. Harusnya gue yang protes, karena Lo udah ganggu pagi hari gue." Arga tersenyum dan kembali menarik backpack Miana.


"Enak aja, samain gue sama beo," sungut Miana dan membuat Arga terbahak.


Seperti biasa, Miana tidak membiarkan Arga tenang. Ia suka membuat hidup Arga ramai. Meskipun Arga kesal, tapi sesekali ia juga tertawa. Sampai sesekali Miana mendorong Arga dengan sikunya. Begitupun dengan Arga, ia sesekali menoel bahu Miana hingga terhuyung. Namun, dengan segera ia tarik kembali agar tak jatuh. Manis sekali.


Keseruan mereka berangsur berhenti, kala Bian diam di depan kelasnya. Menatap tajam sampai tak berkedip melihat Arga dan Miana yang kian mendekat.


"Lo jadian sama dia?" tuding Bian pada Miana. Hal itu lantas membuat Miana dan Arga berhenti.


Wajah Bian kini menatap penuh pada Arga. Sontak hal itu membuat Miana bingung dan hanya memandang Arga dan Bian bergantian. Memang dirinya tidak jadian dengan Arga. Hanya saja sejak malam di mall itu, ia dan Arga terlihat akrap seperti normalnya teman satu kelas. Meskipun tetap saja, sering kali mereka beradu argumen dan sedikit keributan.


Sementara Arga, tetap tenang dengan wajah santainya. Dalam hati ia menertawakan reaksi Bian. Terlihat kembang kempis, menahan sesuatu. Matanya tetap tajam dengan kedua tangan di lipat di dada.


Arga melirik siswa lain yang tertahan di balik pintu atau di jendela kaca. Tidak berani mendekat. Apalagi, wajah Bian tidaklah bersahabat. Mendekat dengannya, berarti mencari masalah.


Bian mendekati Arga dan berbisik sesuatu. Wajahnya tegas dan tak ada raut bercanda. Namun, sebaliknya Arga bersikap santai seperti biasanya.


"Kalian bicarain apa!" Miana melerai Bian yang terus merapatkan tubuhnya pada Arga. Sedikit takut, karena ia cukup tahu siapa Bian.


Bian diam dan terlihat kecewa. Karena Miana jelas terlalu kawatir pada Arga. Tak tahan melihat itu, Bian segera berlalu menjauh dari kelas. Arkan dan Bayu yang biasa bersamanya tidak terlihat di sekitarnya.


Miana segera menekan Arga agar menceritakan apa yang Bian katakan. Namun, Arga hanya bungkam. Ia malah menarik tangan Miana untuk masuk kelas.


☘️


Beberapa hari sudah berlalu sejak kejadian Bian menghadang Miana dan Arga di depan kelas. Bian sudah bersikap biasa saja pada Miana. Terlihat hangat dan selalu mencari alasan menahan Miana di kelas untuk mengajarkan materi yang belum di pahaminya. Sepertinya hanya modus.


Hal itu Arga sadari, ancaman Bian dulu tidak main-main. Ia tak bisa lagi menggunakan waktu istirahat bersama Miana di rooftop.


Tiap kali melihat Miana bersama Bian, hatinya seperti terbakar. Namun, selalu ia bersembunyi dengan baik di balik wajah santainya. Tanpa orang lain tahu ia seperti menyimpan bara di dalam tubuhnya.


Di tambah lagi, Sarah kembali gencar mengunjungi rumahnya dan memaksa Arga memberi waktu untuk bersamanya.


"Arga, tolong buka hati kamu buat mama, Nak. Kita sudahi kebencian kamu. Kita bicara dari hati ke hati."

__ADS_1


"Saya sudah besar sekarang. Saya tahu mana yang palsu dan mana yang sungguhan. Nyonya Sarah." Arga masih berusaha menepis tangan Sarah.


Sementara Sarah masih yakin menahan lengan anak lelakinya. "Jangan kamu pikir, papamu orang yang benar. Dan mama yang salah, Arga. Kamu harus dengar dari sisi yang lain."


Arga masih diam tapi sudah tak memberontak.


"Percayalah, Arga. Mama hanya ingin dekat dengan kamu. Bukan mau menjelekkan Papa. Kamu..." Sarah mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Arga. "Kamu itu, anak mama dan papa. Sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Mama hanya ingin menjalin hubungan baik dengan kamu. Tiada mantan anak, atau mantan ibu, Arga! Di dalam tubuh kamu, ada darah mama. Jadi tolong berikan kesempatan pada mama."


Arga berdecak berkali kali, mengingat pertemuannya dengan Sarah sewaktu sang mama mengunjungi Oma. Pikirannya sedang berperang ingin menjauh sekaligus ingin mendekat. Tidak di pungkiri, ia juga merindukan sosok Ibu. Tapi, rasa sakit di tinggalkan seolah sudah melekat padanya.


Diam dan menyendiri adalah tempat ternyaman seorang Arga. Satu tempat di sekolah, telah menjadi tujuannya menyepi dari keramaian.


"Dorrr!" Miana menepuk cepat bahu Arga.


Tak ada rasa terkejut sedikitpun karena Arga sudah mengetahui kehadiran Miana tanpa ia berbalik.


"Kok, Lo nggak kaget, sih, Ga." Miana menggerutu dan bergerak duduk di samping Arga. "Pura-pura, kaget kan bisa," lanjutnya.


Ya, Arga cukup tahu keberadaan Miana dari parfum yang Miana pakai. Tanpa berbalik pun ia sudah dapat menebaknya.


"Kenapa Lo kesini?" tanya Arga tanpa melihat Miana.


,"Ya, nyusul, Lo lah. Emang mau ngapain lagi?"


Arga berdecak, berdiri dan mengayun langkah. Ia sedang tak mengerti dirinya. Keberadaan Miana selalu ia tunggu-tunggu. Namun, keberadaan Miana juga membuat Arga merasa harus menjauh.


"Ga," panggil Miana dan tidak dihiraukan Arga.


"Tungguin." Miana sudah menuruni tangga rooftop. Mengikuti Arga.


"Ngapain sih ngejar ngejar gue,! Kaya'nggak ada kerjaan," ujar Arga.


"Gue akan tetap ngejar Lo sampai, Lo, Nerima gue," ucap Miana yakin.


"Mimpi," sahut Arga. 'Gue takut ini hanya mimpi,:


"Sekalipun hanya dalam mimpi. Gue akan tetap ngejar Lo sampai waktu memukul mundur gue,"


☘️


Terimakasih yang masih stay di sini. kasih like , trus komentar ya, minimal kasih jejak lah. buat kenanganku,🤗🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2