
☘️
Jadwal kerja di cafe masih tertib dari pukul tiga sore hingga pukul sembilan malam. Miana tak mau melepaskan pekerjaannya meskipun papa sudah mencoba melarangnya. Karena harus fokus pada ujian. Jika seperti itu, Miranti hadir seolah membela Miana untuk tetap mempertahankan pekerjaannya.
"Nggak apa, lah, Pa. Mungkin Miana sudah biasa, kan bekerja. Dia akan merasa aneh jika diam di rumah tanpa kegiatan nggak guna. Apa papa mau Miana di rumah terus kerjaannya hanya pacaran kesana kemari. Nggak, kan?"
Miranti tak sedetail itu memperhatikan Miana. Ia hanya ingin sumber pendapatan lain tetap mengalir dan uang jajan juga uang belanja tetap terkondisikan.
"Miana, papa sudah percaya sama kamu. Bukan masalah jika kamu punya pacar sekarang. Tapi tolong kedepankan belajarmu! Papa nggak bisa mengawasi kamu dua puluh empat jam. Papa harap kamu bijak dalam membagi waktu kamu."
Ya, Miana tak bisa menyembunyikan hubungan pertemanan spesial antara ia dan Arga. Karena beberapa kali papa mendapati Arga mengantar Miana pulang dari tempatnya bekerja. Perilaku sopan yang di tunjukkan oleh Arga membuat Surya tak begitu kawatir yang berlebihan akan pengaruh buruk berteman spesial di usia sekolah.
'Hm, aku dulu juga begitu. Tentu anak muda sekarang juga pacaran hal yang lumrah. Hanya saja, aku begitu takut jika hal ini mempengaruhi belajar mereka.' Begitulah yang ada dalam benak Surya saat melihat punggung Arga yang menghilang di balik pintu pagar rumahnya.
☘️
Arga dan Miana tengah makan berdua di kantin. Sesekali mereka membicarakan hal-hal ringan. Tentu disini, Miana yang lebih mendominasi. Tiap hari ada saja tingkah lucu Miana yang membuat Arga menahan tawa. Seperti kali ini, berkali-kali Miana menarik sendok baso yang akan Arga masukkan ke dalam mulutnya. Melihat Arga yang menahan kesal membuat Miana tertawa.
"Suap-in aku, kalau kamu masih, begitu!"
"Ah, enggak, enggak." Miana memindai ke penjuru kantin. Tidak mungkin ia menyuapi Arga. Yang ada, tingkah alay nya akan membuatnya menjadi pusat perhatian. Dan Miana tidak mau itu.
"Piiiss," desis Miana sambil tersenyum. Tangan kirinya membuat jari telunjuk dan jari tengahnya tegak dengan ketiga jari lainnya ia lipat. Menyerupai telinga kelinci.
Barulah Arga dapat makan dengan tenang. Jika bukan karena paksakan dari Miana, ia lebih memilih pergi ke rooftop dan tidur di sana. Daripada berada di kantin yang berisik. Pasti karena banyak yang sedang ghibah.
"Papa kamu, nggak marah, kan, waktu aku udah balik?" tanya Arga sambil menyuapkan baso ke dalam mulutnya.
"Enggak." Miana menyesap ice lemon sambil memerhatikan Arga. "Kenapa emang?" lanjutnya.
"Nggak apa. Takut kamu kena marah aja, apalagi lihat mama tiri kamu yang judes itu. Aku nggak tenang tiap habis anter kamu."
Miana tersenyum. Membuktikan bahwa semua akan baik-baik saja. "Selama kamu nggak aneh-aneh dan aku masih bisa jaga kepercayaan papa. Semua akan baik-baik saja, Ga."
"Kita cuma berdua. Panggil aku sayang, seperti semalam!"
Mengingat hal itu benar adanya, Miana jadi bersemu. Tapi, begitu menyadari keberadaan mereka, Miana melebarkan matanya. "Berdua, gimana? Ini di kantin. Kamu lupa?"
Miana mencubit tangan Arga gemas. "Lagian semalam kan, kita ngomong di telepon. Ya beda lah," sergah Miana.
__ADS_1
"Aku malah ingin kamu ngomong di depan semua orang."
"Gila aja, Ga. Kan ada Angel juga di sekolah ini."
Kamu selalu menjaga perasaan orang lain. Lalu, bagaimana perasaan kamu saat Bian sengaja membuatmu terluka waktu itu.' Arga mengingat saat Miana di abaikan oleh Bian di tengah lapangan basket dan lebih memilih Sisil di awal kelas 12. Arga tersenyum seraya memandang sayu pada wajah imut di depannya.
Keduanya makan dengan tenang, tanpa mereka sadari seseorang tak melepaskan pandangannya pada mereka. Raut wajahnya datar. Tapi dalam hati mengeram kesal. Sesekali menunduk dan menghela nafas berat. Lalu di tegakkan kembali wajahnya. Saat Miana dan Arga tengah tertawa bersama, sosok itu memandang sendu. Teman sebangkunya tak ada yang berani menegurnya. Hanya saling lirik satu sama lain.
☘️
Latihan ujian sudah usai. Saatnya seluruh siswa kelas 12 menjalani hari tenang. Mereka semua terlihat lega dengan nilai yang sudah keluar sebelum pulang sekolah tadi. Termasuk Miana. "Lega, sih. Tapi aku ngerasa kok, kurang maksimal, ya." Miana masih memeriksa tampilan transkrip nilai di layar pipih, yang di kirim pada grup kelas.
Arga menyimpan resah, melihat wajah murung Miana. Tanpa berniat menimpalinya. Ia lekas menarik Miana untuk keluar dari kelas. "Kita jalan-jalan, yuk."
"Ah, mau banget. Tapi kerjaan aku, gimana?"
Setelah itu, keduanya berdebat untuk merencanakan kemana akan pergi. Dan akhirnya, mereka sepakat untuk ke bioskop sore nanti. Awalnya Miana keberatan karena harus izin pada Bagus. Tapi, dengan sok akrabnya Arga menghubungi Bagus dan berbicara melalui sambungan telepon.
Entah bagaimana Arga membujuk Bagus. Teman kerja yang sudah Miana anggap kakak itu menyetujuinya.
"Cuma sehari. Masih ada hari esok buat kerja. Saatnya merefresh otak, Sayang."
Arga tak menjawab tapi terus menarik tangan Miana menuju parkiran.
Dari lawan arah, Bian berjalan dengan raut tegas. Menghadang Arga dan Miana hingga mereka berhenti. Tidak ada sapa dari Bian pada keduanya. Ia hanya terdiam menatap tajam pada Arga. Ia mengabaikan sapaan Miana tanpa melirik sedikitpun.
Bian hanya terus menatap Arga, begitupun dengan Arga. Bian mengeratkan tangannya pada badan backpack yang ia gantung di bahu. Sedangkan Arga semakin erat menggenggam tangan Miana.
"Kalian ini, ada masalah apa, sih?" Miana panik melihat perang dingin kedua teman sekelasnya itu. Sayangnya, kedua orang itu pernah dan tengah ada di hatinya.
Kali ini Bian melirik Miana sekilas. Tangannya kini berganti menarik kerah seragam Arga dan mendekatkan diri. "See, Lo udah lihat nilai yang keluar, kan! Kenapa Lo masih nggak tahu diri," bisik Bian tepat di telinga Arga.
Arga tak kalah tajam menatap Bian. Ia melepaskan tangan Bian dari kerahnya dengan pelan dan tenang. "Gue tahu apa yang harus gue lakuin." Pelan pula Arga berucap begitu.
Sedangkan Miana sudah memandang Arga dan Bian dengan resah, karena beberapa teman sadar dengan kelakuan keduanya.
"Arga, udah." Miana mengingatkan.
Barulah kedua lelaki itu saling melepaskan pandangannya. Segera Arga menarik Miana dan meninggalkan Bian yang masih diam di tempatnya.
__ADS_1
☘️
Sore ini Sarah tengah bersama suami dan anak perempuannya. Jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan. Sarah tengah selesai menandatangani surat perjanjian dengan pihak rumah produksi film. Dengan didampingi suami dan anak perempuannya ia mendatangi meeting sebuah cafe tepat di samping gedung ini.
"Mama, keren banget. Bisa ambil job gede begini. Aku mau juga dong, Ma."
Rengekan Anggi hanya di tanggapi sebuah senyuman dari wanita berusia empat puluhan. Dengan tangan masih mengapit lengan sang suami, Sarah hanya mengucap kata penyemangat agar anak gadisnya, banyak berlatih.
Ketiganya masih berjalan menuruti ingin sang anak. Mereka akan masuk ke dalam outlet dan berkeliling. Hingga akhirnya kedua tangan sudah penuh dengan belanjaan. Bahkan lelaki yang sedang diapit oleh wanita berbeda usia, berwajah tegas itu pun tak segan membantu.
"Ma, bukannya itu, Kak Arga?" cetus Anggi dan membuat ketiganya berhenti sejenak.
"Iya." Sarah menatap sang suami. "Kita samperin yuk, Mas!"
Tanpa protes, lelaki paruh baya yang masih stylish itu menyetujui ingin sang istri dan anaknya.
"Arga."
Panggilan Sarah membuat Arga yang sedang bersama Miana menoleh pada asal suara.
'Mama,' batin Arga.
"Tante. Apa kabar?" sapa Miana ramah. Ia meraih tangan Sarah dan menciumnya. Tak lupa ia juga menyalami Lelaki yang diyakini suami dari Sarah dan gadis cantik dengan rambut berwarna kecoklatan di hadapannya.
Arga? Ia hanya diam bergeming. Tak berniat melakukan hal yang sama seperti kekasihnya. Hanya anggukan sopan ia layangkan pada ketiga orang di hadapan.
"Ah, Arga. Perkenalkan, ini suami mama, Om Andre." Sarah memperkenalkan kedua lelaki berbeda usia itu. Arga menjabat tangan dan memperkenalkan diri juga. Begitupun Sarah memperkenalkan Miana sebagai teman Arga disana.
"Kalian, dari mana? Ah maksudku, kalian hendak kemana?" tanya Sarah pada Arga dan Miana. "Kebetulan kita sudah lelah berkeliling dan hendak cari makan. Kalian mau, ya, makan bersama?" pinta Sarah. Ia mendekati Arga dan memegang lengannya. "Mau, ya, Arga?" Sarah masih berusaha membujuk. Sedangkan Arga melirik Miana dan mendapat anggukan. Hal itu tidak terlepas dari mata Sarah. Dari sini, ia tahu bahwa kehadiran pelayanan kafe yang sempat ia pandang sebelah mata itu begitu berpengaruh pada anak lelakinya.
Lekas Sarah mengajak mereka semua mencari food court yang ada di lantai itu. Setelah menemukan tempat yang pas, mereka berbincang ringan sembari menunggu pesanan.
"Sebagai laki-laki, saya mengakui jika kamu memang tampan, Arga. Dan saya rasa, itu jelas mewarisi mamamu,"
Arga mengangguk kaku. "Terimakasih, Om."
"Saya nggak keberatan, loh. Jika kamu memanggil saya, papa. Saya akan senang sekali. Bagi saya, kamu bukan orang lain, Arga. Kamu anak dari wanita yang sangat saya cintai."
Miris bagi Arga mendengar itu. Seandainya, yang mencintai mama itu adalah papa. Maka, ia akan bahagia melebihi siapapun. Namun, perasaan seseorang bukanlah kuasanya. Ia tidak bisa memaksakan itu pada sang papa. Walau pernah terbesit harap agar kedua orangtuanya dapat bersatu kembali. Tapi melihat perlakuan manis lelaki di hadapannya terhadap mama, Arga pun sudah menyerah bahkan sebelum ia mencobanya.
__ADS_1
☘️