
☘️
Setelah selesai makan malam bersama Sari dan Sofyan, Arga tak lantas menuju kamarnya, ia keluar lewat pintu samping yang langsung terhubung dengan halaman sekaligus kolam renang.
Terdapat tiga pohon mahoni yang tidak begitu besar, berdiri menjulang di tepi pagar setinggi dua meter itu, sehingga jikapun siang hari terasa terik, karena keberadaan pepohonan itu membuat rumahnya cukup sejuk.
Dharma, sang papa sengaja memilih kompleks perumahan type A. Ia memilih type rumah yang cukup besar dengan halaman yang cukup, meski tidak begitu luas.
"Anak cowok, malam Minggu di rumah aja. Nggak laki banget," cetus Sofyan di ambang pintu.
Sontak membuat Arga yang berdiri di tepi kolam renang berbalik melihat sang opa, yang semakin mendekat.
'Duh, pasti akan kena ledekan opa lagi, nih! Ayo mikir Arga! Mikir,' batinnya.
"Opa nggak tahu, ternyata kamu tidak semanis opa waktu muda." Sofyan melirik Arga yang masih diam bergeming.
"Opa, setiap orang mempunyai ciri khas masing-masing." Arga menyangkal sambil menatap pantulan cahaya rembulan pada kolam.
"Jadi, beneran masih jomblo?" ledek Sofyan.
"Arga hanya belum siap, Opa." Memang, tidak pernah terlintas di benak Arga untuk berpacaran. Buat apa? Baginya, wanita begitu rumit. Ingin di mengerti dan egois.
Kekecewaan karena mama meninggalkannya waktu itu sungguh membuat Arga begitu membuat spekulasi sendiri terhadap perempuan. Sehingga Arga selalu menutup diri dan dingin pada wanita. Sehingga jika ada yang begitu terang-terangan mendekatinya maka hanya rasa muak yang begitu mempengaruhinya.
"Kamu ganteng, cool, pinter. Nggak mungkin cewek-cewek nggak terpesona sama kamu. Atau jangan-jangan memang kamu yang sengaja menutup diri, Ga," hardik Sofyan seraya tersenyum.
"Opa, seorang laki laki tidak bisa di sebut 'laki' jika ukurannya adalah mempunyai pacar atau tidak." Arga mengusap wajah dan menghadap opa.
"Lagipula, Arga nggak tertarik sama pacaran, Opa Buang-buang waktu." Arga menghela nafas singkat.
"Sejujurnya, Arga ingin punya banyak teman. Tapi pengalaman di Aussie dulu, membuat Arga nggak bisa deket sama sembarangan orang. Dan Arga, lebih nyaman jika sendiri."
Sofyan menghela nafas berat. Kekecewaan yang di alami Arga dari kecil begitu membekas sehingga ia terlalu selektif untuk memilih teman. "Tidak semua orang itu sama seperti mamamu atau sahabatmu yang telah mengecewakanmu, Arga. Tidak semuanya."
Sofyan menepuk bahu sang cucu. "Jadi, benar-benar tidak ada yang kau anggap teman di sekolahmu sekarang ini?"
Arga menggeleng, tapi pikirannya justru tertuju pada gadis berisik yang duduk tepat di depan bangkunya. Seketika ia tersenyum samar lalu menoleh pada Opa.
"Opa, Arga keluar sebentar, ya!" Tanpa menunggu jawaban Sofyan. Arga berlalu ke kamarnya dan tidak memperdulikan Sofyan yang tersenyum lebar seraya menggosok dagunya.
Sampai di kamar, Arga meraih benda pipih di atas nakas lalu ia mendudukkan diri pada kasur king size di tengah ruang kamar berukuran 5x5 itu.
__ADS_1
Satu pesan yang ia kirim pada kontak bernama 'si brisik' itu tidak juga mendapat balasan. Ia melirik penunjuk waktu pada ponselnya yang masih menunjukkan kurang dari pukul sembilan malam. Lalu ia mengetikkan pesan yang kedua.
Sama. Tidak ada balasan. Bahkan tidak juga tanda centang dua itu berganti warna biru, tanda pesan sudah di baca. Ia merebahkan tubuhnya dengan kaki tetap menjuntai di sisi kasurnya hampir menyentuh lantai marmer berwarna abu itu. "Apa dia udah pulang, ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Arga hampir terlelap, saat notifikasi ponselnya berdering beberapa kali. Ia tersenyum begitu pesannya mendapat balasan. Ia ketikan beberapa huruf sebagai balasan pula. Namun, senyuman itu lekas berganti saat pesannya pun lekas di balas kembali. Arga berdecak saat Kalimat menyebalkan yang ia terima.
Meski sedikit kesal, Arga cepat menyambar jaket Hoodie favoritnya. Tidak lupa, dompet serta ponsel ia simpan dalam saku celana jeans-nya.
Berlalu dari kamar dan mencari keberadaan oma yang sedang di ruang tengah bersama opa yang sedang berbicara dalam sambungan telepon. Terlihat dari ponsel yang menempel pada telinga hingga pipi kiri Sofyan.
"Arga keluar sebentar, Oma."
"Arga. Mau kemana?" teriak Sari. Namun, segera reda karena Sofyan mengingatkan istrinya itu untuk tenang dan kembali duduk.
Arga berlalu dan lekas ke carport dan mengambil motor dan bersiap keluar gerbang, setelah pintu gerbang di bukakan oleh Deri–sopir Oma.
"Makasih Kang," ucap Arga seraya memutar tuas gas membelah jalanan bergabung dengan pengendara lainnya.
Saat ia sampai di minimarket tempat Miana bekerja, ia hanya menemukan Ibnu yang baru saja tiba dengan motornya. Saat Arga menanyakannya, Ibnu ternyata berniat ikut nonton bersama teman-teman. Namun, tiba-tiba tidak enak badan dan kembali ke toko.
Ibnu yang mengetahui Arga adalah teman sekolah Miana, memberi tahu jika Miana tidak ikut bergabung dengan yang lain. Karena memutuskan untuk pulang.
Arga tersenyum kecut mendengar penuturan Ibnu. Ia memeriksa ponselnnya kembali saat Ibnu pamit untuk masuk ke dalam toko dan menutup kembali pintu rolling door.
Tidak begitu jauh dari toko. Arga dengan cepat menemukan Miana. Miana terlihat manis dan imut dengan celana panjang berwarna gelap dan sweater rajut berwarna soft pink yang ia kenali. Tangan Miana yang masih terlihat sibuk dengan ponselnya dan senyum kecil selalu menghiasi wajahnya selama jari tangannya menggulir layar ponsel.
Arga menepikan motornya seperti yang lain dan mencoba untuk bergabung bersama Miana yang terlihat asyik meski seorang diri saja, tanpa satu teman pun bersamanya.
"Hm, meski sendirian. Dia terlihat senang." Arga menyimpan kedua telapak tangan pada saku hodie. "Dan, apa itu? Meskipun tidak sedang melayani customer, dia tetap saja tersenyum. Benar-benar, cewek aneh."
Arga melihat pergerakan Miana begitu tergesa-gesa kembali pada motornya. Saat Arga berjalan mendekat berusaha untuk mengehentikan Miana sejenak, ia melihat Miana membungkukkan badan tanpa turun dari motor.
Suara klakson di ikut sebuah mobil yang melaju kencang dari sisi belakang membuat Arga kembali tersadar dan dengan cepat ia meraih Miana menepi kembali di sisi jembatan. Namun, badannya menghantam sisi mobil dan membuatnya tersungkur pada aspal jalanan.
Perih dengan kepala yang berdenyut luar biasa seketika menderanya. Ia merasakan tubuhnya di angkat beberapa orang. Pandangannya kabur dan dari pelipisnya terasa basah meskipun ia telah menyekanya berkali-kali.
Pikirannya hanya tertuju pada Oma dan Opa, hal itu membuatnya merasa bersalah karena tidak pamit dengan benar. Lalu, ia kembali mengingat Miana yang ia tarik sekuatnya. Selamatkah si berisik itu? Atau justru ia telah mencelakainya? "Mia-na," lirihnya.
☘️☘️☘️
Setelah Ambulance membawa Miana dan Arga ke rumah sakit terdekat. Arga di bawa ke ruang IGD agar segera mendapatkan penanganan tercepat. Begitupun dengan Miana. Namun, melihat luka pada wajah dan kepala Arga, Dokter membawanya ke ruang khusus sehingga terpisah dengan Miana.
__ADS_1
Miana telah selesai mendapatkan pemeriksaan dari dokter. Ia mendapat tiga jahitan di pelipisnya. Karena terdapat luka menganga akibat tergores plat motor yang terparkir di sisi jembatan.
Beberapa pesan dari pemilik mobil yang menyerempet Arga membuat Miana sedikit lega. Motornya kini berada di tempat yang aman. Begitupun dengan motor Arga. Beruntung biaya rumah sakit juga sudah ditanggung tanpa melibatkan polisi.
Setelah pusing yang ia rasakan berangsur mereda, Ia keluar kamar ruang tindakan dan bertemu perawat di ambang pintu. Segera ia menanyakan ruang korban yang tadi bersamanya, ia kembali berterima kasih pada perawat setelah mendapatkan informasinya.
Miana berjalan di lorong dan berhenti di persimpangan. Ia ikuti sesuai arahan perawat untuk menemukan ruang Arga di rawat.
Begitu sampai di depan pintu. Miana memutar handle dan melangkahkan kakinya. Sepi. Tidak ada orang di sana hanya ada Arga yang terbaring tak berdaya berselimut khas rumah sakit.
Miana mendekati tempat Arga terlelap. Terdapat kain perban mengelilingi dahi hingga belakang kepala Arga. Alat bantu pernapasan membungkus hidung hingga mulut Arga.
Alat deteksi detak jantung pada monitor membuat perhatian Miana terfokus disana. Ia sedikit dapat bernafas lega mengetahui pendeteksi itu bergerak normal.
Miana meraih kursi yang tersimpan di bawah brankar dan duduk di samping Arga. Pikirannya begitu berantakan menyadari keteledorannya membuat satu temannya berakhir di pembaringan rumah sakit.
Pandangan Miana berhenti di tangan Arga yang berada di sisi badan, begitu jelas terdapat perban yang membelit di sana, bisa di pastikan tangan itu untuk tumpuan saat ia tersungkur. Manik mata Miana kembali pada wajah Arga yang sebagian dalam balutan perban. Tanpa terasa bulir bening di sudut matanya jatuh mengingat Arga yang hanya hidup bersama Oma-nya saja di rumah.
"Kenapa, Lo, nolongin gue, Ga?" ungkap Miana. Tidak bisa menahan rasa sedihnya.
"Seharusnya, Lo biarin aja gue yang ketabrak. Mungkin dengan begitu Mama dan papa akan perhatian ke gue."
Miana tersenyum miris mengingat perlakuan Miranti terhadapnya yang jauh dari kata sayang. "Mikir apa, sih, gue! Yang ada gue nanti nggak bisa kerja. Dan mama akan semakin benci ke gue karena cuma numpang hidup doang."
"Maafin, gue, ya, Ga,"
Perasaan bersalah terus membuat Miana takut. Bagaimana jika ia di salahkan atas hal ini? Bagaimana cara ia membayar biaya rumah sakit jika ia harus menjadi pihak yang paling bertanggung-jawab? Bagaimana jika Arga mengalami luka serius? Dan bagaimana jika keluarganya mengetahui hal ini. Miranti dan Surya pasti akan sangat kecewa.
Sendirian. Miana begitu membutuhkan dukungan untuk hal ini. Ia mengingat ponselnya dan mencoba mencari kontak papa. Namun, ia urungkan. Ia beralih pada kontak Bu Num. Ya, hanya pada Bi Num, yang ada dalam benak Miana saat ini. Semoga saja Bi Num dapat membantunya.
Derap beberapa kaki yang mendekati pintu ruang rawat Arga segera tertangkap pada pendengaran Miana. Di susul pintu terbuka dan munculah dua orang, pria dan wanita yang berusia enam puluhan mendekati ranjang Arga, membuat Miana berdiri dan memberi ruang pada mereka.
Miana dapat menebak jika itu adalah Oma dan Opa, Arga. Ia tidak bisa berkata-kata. Apalagi melihat dua orang itu begitu terpukul melihat kondisi Arga.
"Arga, bangun, Nak." Sari tidak kuasa menahan air matanya. "Pasti sangat sakit, ya. Opa, bagaimana ini? kita harus telepon Dharma, Pa."
Surya mencoba menenangkan Sari, dengan memberikan tepukan di punggungnya. "Sudah, jangan peluk-peluk Arga, dulu. Kita tidak tahu bagian mana yang sakit,'kan!"
Sari menurut dan memilih duduk pada bangku yang sebelumnya di pakai Miana. Ia menoleh pada sosok lain yang sebelumnya tengah menunggu cucunya.
"Kamu siapa?"
__ADS_1
..._tbc_...
😫😫😫 entahlah, yang penting kalian dukung aku ya, aku Mohon bantu like dan komentarnya, 🙏🙏