Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 76


__ADS_3

☘️


Hari yang di nanti telah tiba. Hari pengumuman kelulusan. Setiap siswa yang biasa berisik menjadi lebih tenang. Tidak ada hati yang tak gundah sebelum nama-nama mereka di sebutkan sebagai siswa yang telah lulus.


Tidak terkecuali dengan kelas XII IPA 1, kelas Miana. Meskipun mayoritas adalah siswa berprestasi dengan nilai unggul sekaligus kelas favorit, mereka tetaplah manusia biasa yang memiliki rasa resah pada umumnya. Apalagi bila menyangkut sebuah pencapaian.


"Miana!" Riska duduk dengan menggeser kursinya sehingga dapat berhadapan dengan Miana. "Dari tadi gue perhatiin, itu muka tegang amat."


"Gimana nggak tegang, Ris. Gue masih resah mikirin nilai gue. Kamu tahu, kan. Kalau aku nggak dapetin besaiswa utama itu, gimana aku bisa nerusin kuliah."


Riska menggenggam tangan Miana. "Gue yakin seratus persen, kalau Miana punya nilai tertinggi se kelas tiga."


Miana terdiam meremas jari-jarinya. "Tapi..."


"Lo takut kesaing sama Arga, pasti, kan!" Riska mencoba menebak alasan utama Miana tak kunjung tenang. Ia juga tahu, perihal keluarga Miana yang berharap banyak pada Miana. Apalagi, Riska pernah mendengar langsung saat Miranti menekan sahabatnya kemarin. "Jika kamu nggak dapetin besaiswa utama itu. Jangan harap kamu mau minta tambahan biaya kuliah sama papa. Papa udah kesusahan untuk Sisil, kamu jangan nambah-nambahin beban, Papa, ya," sentak Miranti sore itu saat Riska mengantar Miana pulang.


"Gue harus dapetin biasiswa penuh itu, Ris. Kita semua tahu biaya kuliah sekarang tidak sedikit. Aku bisa saja dapat biasiswa dari yayasan, tapi itu nggak akan mencangkup untuk biaya pendukung lainnya. Apalagi, gaji di cafe tidak seberapa."


"Duh, Miana. Aku juga cuma bergantung dari perusahaan Mama. Jadi aku nggak bisa bantu. Kamu tahu sendiri, setelah papa cerai dari mama, papa udah lepas tangan."


Miana mengangguk dan balas memegang tangan Riska.


Arga belum terlihat batang hidungnya. Beberapa kali Miana mengirim pesan, tak satupun di buka olehnya. Di sisi lain, di meja Bian pun juga sama adanya. Kosong tak berpenghuni. Padahal, Arkan, Roy dan Bayu yang biasa menempel di sekitar Bian-pun sudah terlihat haha hihi di meja masing-masing.


"Arga kemana, ya," gumam Miana.


Sedangkan Riska hanya menengok dari tempatnya duduk. Ia segera berbalik kala wali kelasnya sudah masuk kelas.


Sesi yang di tunggu pun tiba. Bu Alin akan mengirimkan file nilai se kelas tiga setengah mereka menerima kertas pengumuman masing-masing. Semua siswa mengiyakan dengan kompak. Satu persatu nama siswa di panggil oleh Bu Alin. Barulah saat di panggil nama Arga, sosok itu baru datang dan duduk di bangkunya.


"Silakan di buka!"


Instruksi Bu Alin membuat seisi kelas menjadi hening. Tak berlangsung lama, kini seisi kelas menjadi gaduh dengan ucapan syukur. Bahkan untuk yang sering malas-malasan saat pelajaran pun baru merasakan keharuan saat di titik ini.


Di susul notifikasi grup kelas yang berisi transkip nilai seluruh kelas dua belas mendadak riuh yang berlipat-lipat.


"Selamat, Miana. Kamu dapat nilai tertinggi." Riska memeluk tiba-tiba membuat Miana terkejut sambil menitikkan air mata.

__ADS_1


Arga yang melihat kekasihnya menangis haru hanya bisa tersenyum masam. Bukan karena ia tak bahagia. Tapi itu karena hal lain. Ia melirik pada Bian yang bersekat dua meja di samping kanannya. Tidak ada wajah permusuhan. Yang ada wajah datar itu tetap membalas tatapan Arga.


Sorak sorai masih memenuhi seisi kelas. Bahkan untuk tujuh ruangan kelas XII yang lain.


Ada grup besar yang memberi pengumuman jika nanti malam akan ada ceremonial pelepasan siswa sekaligus wisuda kelulusan. Hal itu di sambut antusias oleh seluruh siswa.


Riska bahkan tengah menyeret Miana untuk melesat ke pusat perbelanjaan untuk membeli gaun. Miana hanya melambai dan mendapat balasan lambaian dari Arga di sertai kode ponsel yang di angkat tinggi. Menandakan aja mengirimkan pesan. Miana bahkan belum sempat berbincang dengan Arga di kelas tadi.


Miana menyempatkan untuk menelfon Arga tapi tak mendapat sahutan. Meskipun ia mencobanya berkali-kali.


"Masih belum tersambung?" tanya Riska di balik kemudi dan mendapat gelengan pelan.


"Coba WhatsApp, dong," saran Riska lagi.


"Udah, tapi enggak di balas, Ris. Padahal tadi udah janji." Miana merasa sedih saja. Ia mencoba memalingkan wajahnya pada jalanan di sampingnya.


Riska jadi merasa bersalah. Dan berkali-kali mengucapkan maaf karena ia melupakan soal Arga adalah pacar Miana. Tentu saja, Miana menyangkal rasa bersalah Riska dengan menceritakan chat sebelumnya juga tak ada yang terbalas.


Rasa resahnya sedikit teralihkan saat Riska mengajaknya memasuki outlet satu ke outlet yang lain. Setelah puas berkeliling barulah mereka sepakat memilih kebaya berwarna maroon.


Saat hendak membayar Riska berubah pikiran lalu mengganti dengan warna lain namun dengan model yang sama.


"Lo sih, enak. Nah gue, duit gajian habis buat beliin satu set kebaya ini," dengus Miana lemas.


"Sekali-kali, beli baju bagus, 'napa! Dua juta, masih cukup lah, buat beli pertalite sama jajan."


"Pertalite naik, Ris."


"Satu Indonesia, juga tahu, Miana." Riska mencubit pipi Miana sambil terus berjalan.


"Eh-eh, makan dulu, dong! Kok kita udah mau ke basemant, sih," protes Riska menyadari arah tujuan mereka akan ke tempat parkir mobilnya.


"Makan di rumah aja, gimana?" tawar Miana. Jujur resah yang bersarang di hatinya belum reda karena tak juga mendapat balasan dari Arga.


"Ya, elah. Irit, banget, kamu." Riska semakin mengeratkan lengannya di tangan Miana." Gue yang traktir." Riska menepuk dadanya jumawa.


"Oh, beneran?" seru Miana antusias.

__ADS_1


"Iyyaaaa," pungkas Riska.


Keduanya lantas menuju food court dan merayakan kelulusannya. Saat Miana membahas Bayu, Riska berdecak malas karena ternyata mereka sedang menjaga jarak.


"Ih, marahan, gitu, maksudnya?" goda Miana seolah ikut sedih.


☘️


Malam ceremonial pelepasan siswa membuat halaman sekolah di sulap menjadi gedung diadakannya acara. Semua siswa terlihat lebih cantik dari biasanya. Ada dua baris dimana untuk siswa dan orang tua duduk.


Miana berangkat satu mobil dengan Surya, Miranti dan Sisil. Mereka tak lagi menyembunyikan fakta yang ada. Karena semua siswa sudah tahu hal itu. Beruntung, mereka semua tak begitu mempermasalahkannya. Meski Sisil sempat di jauhi oleh kedua sahabatnya.


"Miana," sapa Bian. Ia berjalan menghampiri Miana yang baru saja sampai. "Hai, Sisil," sapa Bian pada Sisil yang muncul di belakang Miana.


"Hai, Bian." Kompak keduanya menjawab.


'Kamu cantik banget, Miana,' batin Bian. Ia tak mau memantik emosi jika mengungkapkan pendapatnya di saat seperti ini. Mengingat ada mantan yang lain juga di hadapannya. Bukan, bukan. Lebih tepatnya kedua kakak beradik itu semua adalah mantannya.


Munculnya Miranti dan Surya, mau tak mau membuat Bian juga menyapa sekedarnya pada kedua orang itu.


Mereka bertiga lekas menuju bangku yang di sediakan. Dengan Bian berpisah untuk bergabung dengan yang lain. Sedangkan Surya dan Miranti menuju bangku khusus wali murid.


Di saat seperti ini Miana selalu teringat Bi Num, karena di beberapa kesempatan dulu. Bi Num-lah yang menjadi walinya.


"Miana." Teriakan Riska membuyarkan lamunan Miana. Ia menyambut pelukan Riska dan segera melerainya dengan meneliti penampilan masing-masing.


"Gaun, Lo. Kok beda?" tuding Riska sinis bercampur curiga. "Curang ih, katanya janjian tadi. Sebel, deh. Aku!" Riska menggerutu dan mendudukkan dirinya kasar. Mode ngambeg. Tidak sungguhan.


"Riiis. Ini kebaya pemberian Arga. Dan gue nggak mau dia kecewa," jelas Miana.


"Lo udah, baikan ma dia?"


"Emang kita marahan?" Miana balik bertanya.


"Ya, katanya, Arga gak balas wa, Lo." Riska kini menatap antusias pada Miana mengabaikan pembawa acara yang sudah membuka acara. "Cerita, itu! Gimana Arga bisa so sweet juga ternyata. Sampai bisa kepikiran kasih Lo baju itu." Mode kepo Riska sudah tak terbendung lagi. Melihat kebaya berwarna hitam yang sangat pas membalut tubuh sahabatnya dengan anggun.


"Emm, kasih tahu nggak ya," goda Riska dan malah mendapat cutbitan. Lalu tergelak bersama.

__ADS_1


..._tbc_...


bersambung dulu, ya 😘 nanti aku lanjut lagi, insyaallah


__ADS_2