Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 39


__ADS_3

☘️


Lemon tea dalam gelas masih utuh. Namun, mata Arga masih enggan berpaling dari seorang yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Kemarin orang itu telah mencoba merobohkan dinding kebencian terhadap sang mama. Bertahun-tahun lamanya. Akhirnya, ia mengikuti kata hatinya untuk melepaskan kecewanya menjadi rasa ikhlas. Memaafkan.


Sarah sudah berkali-kali datang dan menemui Arga untuk meminta maaf. Namun, Arga selalu menghindar. Sari–lah yang berulang kali menemui Sarah. Mencoba menguatkan mantan menantunya untuk bersabar. Begitu juga dengan Dharma. Sejak perceraiannya dengan Sarah, enam belas tahun silam. Ia sudah tidak mau berurusan dengan Sarah kembali. Terlebih, anak semata wayangnya benar-benar membenci sang mama. Lalu, hadirnya Miana kemarin beserta pendapat-pendapatnya, membuat pikiran Arga sedikit terbuka.


Setelah Bu Alin mengakhiri kegiatan mengajarnya. Arga berniat untuk berbicara dengan Miana sewaktu istirahat. Ia sempat mengirim chat pada Miana. Namun hanya centang satu, artinya ponsel Miana tidak aktif atau sedang di luar jangkauan. Akhirnya, Arga mencari Miana di rooftop. Sempat kecewa karena Miana tidak ada di sana seperti biasanya.


Kaki berbalut celana abu-abu dengan sepatu sport sebagai alas kaki itu bergerak kesana-kemari, mencari keberadaan Miana.


Selama menyusuri lorong, Arga enggan menanggapi beberapa cewek yang iseng memanggil-manggil namanya.


"Hai. Ga. Aku temenin yuk." Tiba-tiba, Angel datang dan melingkarkan tangannya di lengan Arga. "Mau ke perpus? Ke kantin? Aku siap nemenin kamu," tawar Angel seraya masih terus berjalan mengikuti langkah Arga. Tidak ada kata menyerah, meski Arga tidak menanggapinya.


"Gaaa. Pliss dong, jangan diem gini. Aku care loh sama kamu. Tapi kamunya cuek banget. Salah ku apa sih, ke kamu?" ungkap Angel sedikit merajuk mencari simpati.


Mendadak Arga berhenti, begitu juga dengan Angel yang tersenyum lebar.


"Mau singkirin sendiri atau gue yang singkirin tangan lo?" lirih Arga.


Namun begitu mengerikan di telinga Angel. "Kupikir dia mau nyambut baik usaha gue," batin Angel dan spontan melepaskan tangan Arga dengan tidak rela.


Arga sedikit menarik sudut bibirnya, lega. Saat Angel sudah tidak bergelayut di lengannya. Ia juga sangat risih saat beberapa teman melihatnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Lalu, ia kembali memindai dengan santai, masih mencari sosok Miana.


Arga segera melanjutkan pencariannya. Hingga berhentilah langkah itu di kantin. Ia melihat Miana tengah bersenda gurau dengan Riska. Ingin mendekat, tapi masih ada orang lain disana. Bagaimanapun, ia perlu privasi saat ia menceritakan apa yang masih bergelut dalam pemikirannya.


Setelah memesan lemon tea pada pemilik kantin ia mencari bangku yang kosong. Lagi-lagi ia selalu menyendiri.


Rasa iri begitu menyelimuti Arga. Entah apa yang di ucapkan Riska, hingga membuat Miana tertawa kecil bahkan hingga terbahak. "Gue cari Lo. Tapi ternyata, Lo malah haha-hihi disini." Arga menautkan kesepuluh jari di atas meja.


Tidak lama pemilik kantin datang dan meletakkan pesanan Arga pada meja, membuat Arga segera memisahkan kesepuluh jarinya dan berucap terimakasih pada pemilik kantin.


"Gue ingin jadi alasan Lo buat tersenyum. Tapi sayangnya gue nggak sepintar itu untuk bersiap sama Lo, Na,"


Tangannya hanya bergerak mengaduk lemon tea, dengan mata masih fokus pada Miana yang sedang salah tingkah. Arga mengikuti gerak tubuh Miana dan menemukan Bian bersama teman-temannya duduk tidak jauh dari tempat Miana.


Tanpa sadar, Arga mengeratkan tangannya pada gelas. Sensasi dingin sudah tidak ia rasakan lagi. Yang ada hanya, gigi mengerat menahan rasa asing dalam diri.


Tidak ingin berlama-lama di sana. Arga berdiri dan meletakkan uang di bawah gelas. Ia berlalu begitu saja tanpa minum apapun.


☘️


Selama pembelajaran Arga masih sukar berkonsentrasi. Setiap melihat Miana dan Bian bergantian, mendadak dadanya terasa panas. Bahkan suhu ruang kelas jelas sudah begitu dingin. Namun, tidak juga meredakan gejala aneh dalam diri Arga.

__ADS_1


Padahal, baik Miana maupun Bian, mereka tengah begitu memerhatikan guru yang sedang mengajar di depan kelas. Hanya saja, Arga tidak mengerti dengan dirinya yang mendadak demikian. Apalagi mengingat apa yang ia lihat sewaktu di kantin tadi.


"Ck. Gue kenapa, sih," decak Arga.


Jarah duduk Miana dan Arga yang dekat, membuat


Miana mendengar Arga berdecak. Ia sedikit memutar badan. "Ga, Lo kenapa?" bisik Miana.


Arga membuang muka dan mendengkus kasar. Sedangkan Miana yang melihat sikap Arga, hanya mengeryit dan mengangkat bahu. "Di tanyain baik-baik, juga," gumam Miana dan kembali fokus pada mata pelajaran.


Pembelajaran berakhir sedangkan seisi kelas satu per satu meninggalkan kelas. Begitu juga dengan Miana yang sudah siap mengaitkan tas punggungnya. Riska sudah merangkul bahu Miana dan menariknya keluar kelas.


Arga ingin sekali menahan Miana sebentar saja, tapi lagi-lagi ia hanya bisa berdecak saat Riska lebih dulu menyeret Miana semakin jauh.


"By the way, kok kamu nggak pulang sama Bayu?" tanya Miana.


Riska memainkan sisi rambutnya dan berujar santai. "Dia sedang menjalankan misi khusus katanya."


"Misi apa?" tanya Miana, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Sedangkan Riska mengangkat bahu, terlihat tak acuh.


"Jangan-jangan, Bayu punya gebetan baru lagi," seloroh Miana.


Riska mendadak berhenti begitu juga dengan Miana, karena Riska melepaskan tangan dari bahunya. "Ih, Miana jangan gitu, ah. Nakut-nakutin gue, tau." Riska manyun dengan kedua tangan dilipat di depan dada.


Miana kembali berjalan di ikuti Riska.


"Ya, pokoknya dari beberapa hari kemarin dia bilangnya gitu. Paling juga dia sedang dalam tawanan mantan Lo."


"Eh, kok bawa-bawa, Bian, sih," protes Miana. Ia melayangkan sedikit tepukan di lengan Riska.


"Habis, Lo ngeselin. Udah ayok aku antar pulang. Motor Lo masih di bengkel, kan!" Riska menarik tangan Miana yang masih meringis lalu mengangguk, menyetujui tawarannya.


"Kemarin aku mau service. Eh, taunya ada masalah pada injeksinya. Ya udah, aku tinggal aja di bengkel. Sore nanti, bisa aku ambil," jelas Miana.


"Mendung, nih. bentar lagi hujan kayaknya," ucap Riska dan Miana mengangguk membenarkan selagi memindai langit yang mulai keabuan.


"Bukannya Lo kerja? Kok mau ambil motor" hardik Riska.


"Kerja, dong. Uang jajan, siapa yang nanggung kalau gue nggak kerja. Lo lupa, kalau Aku punya teman juga di toko," sahut Miana.


"Iya deh, iya," putus Riska. "Sebentar. Masa', ibu nggak ngasih uang jajan?" selidik Riska dan berhenti berjalan.


Mina tersenyum masam dan menggeleng. "Orang aku kecelakaan kemarin aja, dia enggak tahu." Sejurus kemudian Miana menutup mulutnya. Sadar telah keceplosan.

__ADS_1


Sedangkan Riska semakin mengernyit mendekati sahabatnya yang terlihat salah tingkah. "Bentar, deh. Kayaknya ada yang aneh, nih."


Miana menepuk keningnya. "Mati, gue. Hp gue ketinggalan di kelas, Ris. Gue ambil dulu, yah. Lo pulang duluan aja. Kasian Bunda kalau sendirian. Salam buat bunda, yah. Bye." Miana segera memutus begitu saja rasa menyelidik sahabatnya seraya berlalu.


Beruntung Miana mempunyai alasan yang tepat untuk menghindari Riska yang mulai curiga. Ia berlari kembali ke kelas untuk mengambil ponselnya yang ia carger di sudut ruang kelas sejak pelajaran pertama tadi.


Tiba di ambang pintu, Miana mengedarkan pandangannya pada seisi kelas. Ia segera menuju sudut ruangan untuk mengambil ponselnya. "Kok nggak ada?" gumanmnya panik. "Astaga, siapa yang ambil, ya!" Miana kembali memindai loker yang berada di sisi ruangan. "Duh. Bego' baget, sih, Miana!" Rutuknya memukul pelan keningnya. "Auuhh, masih ngilu, banget lagi," keluhnya mengelus bekas jahitan pada pelipisnya.


Miana semakin panik saat hujan deras terdengar di luar ruang kelas. "Akh, mana hujan lagi," keluhnya frustasi melihat ke luar jendela kaca. "Pliss, hujan aja. Jangan ada petir," gumam Miana.


Saat Miana kecil ia sangat menyukai hujan. Baginya saat hujan ia bisa bermain sepuasnya. Begitu juga saat ia menangis, ia bisa bersembunyi dibalik hujan dan tidak ada seorang pun yang tahu jika ia menangis. Namun, semua berubah. Saat ada petir yang menyambar hingga membelah bantang pohon, tepat di sampingnya saat ia tengah bermain hujan.


Miana tidak mau sendirian di dalam kelas. Ia menepikan tentang ponselnya dan berlari ke luar kelas.


Belum sampai di ambang pintu, suara petir begitu menggelar membuat Miana memekik dan terduduk di lantai dengan membekap kedua telinganya. "Aaaaaaakhh," jeritnya.


Terdapat jeda beberapa detik untuk kembali menenangkan degub jantungnya. Mengurai rasa takut terhadap suara petir yang masih menyisakan sedikit suaranya. Sebuah benda keras mendarat pelan di kepalanya. Sontak Miana mendongak untuk melihat benda apa yang telah mendarat di kepalanya. "Bian?" ucap Miana terheran.


"Lo ngapain di sini?" tanya Miana kembali karena Bian tidak juga menjawab pertanyaannya.


"Mau ngasih, ini." Bian mengulurkan benda pipih dari dalam saku celananya.


Melihat sofecase yang sangat Miana kenali, ia segera meraih dengan cepat HP dari tangan Bian dan tersenyum lega. "Akhirnya." Miana bergumam sambil memeluk benda pipih itu dan segera menyadari sesuatu. "Tapi, bagimana bisa ada di, Lo, Bi?"


Bian berjongkok dan memandang intens pada Miana. Ia mendaratkan kedua siku tangan pada kedua lututnya. "Meskipun hanya tiga bulan gue deket sama Lo, tapi begitu banyak hal-hal yang gue tahu saat orang lain nggak tahu sisi lain Lo," ungkap Bian dan membuat Miana terpana melihatnya.


"Bi–,"


"Udah ayo balik! Gue tahu Lo ceroboh. Dan gue juga tahu Lo masih takut sama petir, kan'!" Bian berdiri mengulurkan tangannya pada Miana yang masih duduk di lantai keramik berwarna mint.


Baik Bian maupun Miana, keduanya tidak sadar saat ada mata lain yang berada di bibir pintu, memandang dengan penuh amarah. Keduanya masih ingin berada pada tempatnya. Menikmati suasana yang ada.


Arga datang terenggah karena sempat berlari. Ia melewati gadis cantik yang tengah berdiri di ambang pintu.


Suara berdecit dari sepatu sport akibat pemiliknya menahan langkah membuat Bian dan Miana tersadar dan kompak menoleh tepat pada pintu masuk kelas.


Tangan Bian masih menggantung di depan Miana yang masih terduduk di lantai. Sedangkan Arga segera mendekat dan melakukan hal yang sama pada Miana. Ia lupakan rasa sesak dalam dadanya melihat wajah menyedihkan dari Miana.


Miana melirik Sisil yang masih betah berdiri disana. Kali ini wajah itu terlihat sembab dengan air mata di kedua pipinya.


Miana kembali melihat dua tangan yang menggantung di hadapannya. Dalam rintik hujan sore itu. Batinnya berperang, kiranya tangan siapa yang akan ia raih.


☘️

__ADS_1


..._tbc_...


__ADS_2