
...
Pengakuan Miana bagai oase di gurun Sahara yang panas nan gersang. Meneduhkan seperti payung saat hujan dan panas menerpa. Juga bagai seteguk air yang melegakan di kala dahaga.
Perlahan kedua tangan Arga luruh dari sandaran tembok. Miana memang bukan orang pertama yang mengungkapkan perasaan padanya. Namun, akan berbeda jika dia yang mengungkapkan adalah seorang yang telah lama bersarang di hati. Sayangnya, baru dapat Arga sadari akhir-akhir ini. Apalagi, beberapa hari yang lalu Miana terlihat sibuk bersama teman yang lain dan membuatnya menyimpan bara dalam dirinya.
Arga mengerjab pun tetap sama. Sosok di depannya begitu manis, terlebih candaannya untuk menciumnya membuat gadis itu ketakutan. Sampai, keinginan untuk mengecap rasa bibir mungil yang kerap kali ia sebut beo, begitu memesona dari jarak sedekat ini.
Susah payah Arga menelan salivanya. Sekedar untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering.
Sayangnya, Arga hanya terlalu banyak menggoda rivalnya, sehingga ia sendiri sampai tak sadar sedang tersesat di dalamnya. Sebuah rasa yang menuntut untuk masuk lebih dalam lagi.
Mata sayu itu sedang membelalakkan pupil matanya. Hidung lancip itu begitu indah meskipun terlihat kembang kempis. Kembali beralih pada bibir mungil yang tergigit di bawah. Semakin membenarkan jika ia tengah menyesal karena mengungkapkan kejujuran.
Namun, semua itu runtuh kala Arga melihat kedua tangan sang rival yang begitu kontras. Kini ia tarik tangan kurus itu. "Tangan Lo, kenapa?" tanya Arga.
Bahkan kedua tangan Arga yang tak bisa menjaga image itu sudah berani memegang sebelah tangan yang terkena luka bakar.
"Kena kuah sayur," jelas Miana singkat. Ia lebih lega karena Arga tidak mengungkit kembali setelah apa yang ia ucapkan beberapa saat lalu.
"Ini melepuh. Pasti sakit. Di UKS ada krim yang bagus untuk luka bakar. Gue obatin!"
Tanpa menunggu jawaban Miana, Arga mengajak Miana menuju UKS. Di koridor, mereka sempat bertemu Bian. Dan Arga sengaja menggunakan kesempatan ini untuk menyerang balik ejekan Bian beberapa hari yang lalu.
Arga sengaja merengkuh bahu Miana agar lebih rapat dengannya. Terlihat memaksa agar tak meladeni panggilan Bian.
Sampai di ruang UKS, Arga lekas mencari krim luka sedangkan Miana duduk pada kursi di dekat tempat tidur single satu-satunya di ruang UKS itu.
Miana memeriksa lukanya yang kini lebih menggelap. Di beberapa sisi, terdapat luka melepuh di sertai sedikit air di dalamnya.
"Sinii, tangan, Lo!" Arga sudah duduk di depan Miana dan megoleskan krim pada tangan Miana. Jika biasanya, Miana akan banyak bicara, kini rasa sungkan karena mulut beo-nya telah begitu jujur dan tidak dapat di kendalikan
"Ssssshhh," desis Miana tertahan.
"Tahan sebentar."
__ADS_1
Seperti de ja vu, tapi dengan orang yang berbeda. Namun dengan perlakuan yang sama. Miana merasa begitu bahagia walau dengan luka yang ada. Di rumah, ada Sisil yang terlihat perduli. Bi Num yang selalu setia saat ia sakit. Dan di sekolah, ada Arga. Si cuek yang selalu santai itu juga terlihat perduli padanya.
"Tumben, Lo baik ke gue, Ga."
Arga mengeryit,hingga kedua alisnya hampir bertautan. "Emang, di mata Lo selama ini, gue jahat , gitu!" Arga terlihat tidak suka.
"Bu- bukan begitu, Ga." Miana sedikit panik melihat raut wajah Arga yang memburam. Miana menunduk memerhatikan lengannya. "Dalam banyak peristiwa, Lo justru selalu nolongin gue."
"Itu karena Lo nggak bisa jaga diri sendiri," protes Arga.
"Ini musibah, Ga," bela Miana. Ia memeriksa lengannya terluka. Sudah rata dengan olesan krim khusus.
"Lama-lama, tubuh Lo penuh luka jika Lo nggak bisa jaga diri dengan baik."
"Nggak ada satu orang pun yang mau terluka, Ga."
Arga hanya menatap Miana datar. 'ada, Miana. Dan orang itu adalah gue.'
"Ga,' panggil Miana karena Arga hanya menatapnya dalam namun begitu melenakan.
Seolah teringat kembali pengakuan Miana. Arga menggulum senyum dan tanpa ia sadari wajahnya terlihat merona. Arga mengalihkan pandangannya pada langit-langit ruangan agar Miana tak sadari perubahan wajahnya.
"Ga."
"Apa?" Arga kembali memasang wajah ketus.
"Muka Lo, merah," cicit Miana.
Sontak Arga berdiri sambil mengusap wajahnya yang semakin memanas. Namun, justru Miana yang kini tersenyum penuh arti.
"Jujur, Ga. Di diemin itu nggak ada enaknya. Apalagi jika di abaikan. Tersiksa banget rasanya."
"Jadi?" tantang Arga. Ia bersandar pada dinding setelah menguasai diri agar tak kembali terpancing reaksi berlebihan dari sosok yang sama.
"Ya... Jadi gue yakin jika gue beneran suka sama Lo," ungkap Miana sungguh-sungguh. Entah mendapatkan keberanian dari mana, Miana mengungkapkan kembali perasaannya yang semakin menggunung.
__ADS_1
Arga bergeming sesaat, lalu segera tersadar kembali. "Lo bakal nyesel suka sama gue." Arga menegakkan tubuhnya. "Balik! Makin lama, makin ngelantur omongan, Lo." Arga lekas membuka pintu agar Miana berhenti membuatnya melayang-layang. Ia ingin menerima rasa bahagia dalam dirinya. Namun, rasa takut di kecewakan lebih besar menguasai benaknya.
Meski sedikit berlari kecil, Miana berusaha mengejar langkah panjang Arga yang terkesan menghindarinya. "Tungguin, Ga!"
"Salah sendiri lelet," ujar Arga masih terus berjalan. Bahkan lebih lebar karena bel masuk untuk jam pelajaran terakhir sudah beberapa waktu lalu berbunyi.
Meskipun Miana kembali membombardir dengan keluhan -keluhan yang lain. Arga hanya terus berjalan dalam diam menikmati cuitan ala burung beo di belakangnya. Ia merindukan suara-suara ini beberapa hari yang lalu. Menyergap gelisah setiap malam agar tak membalas pesannya.
Arga biarkan waktu seperti ini saja. Nyaman berada di titik ini. Diam dan tak menghiraukan ungkapan dari seorang yang ia harapkan. Berusaha bersikap seperti biasanya. Berlindung dari rasa nyaman. Menerima kejahilan-kejahilan yang semakin lama membuatnya terusik namun begitu ia sukai, meski dengan rapat ia sembunyikan dengan seraut wajah datarnya.
☘️
Pulang sekolah, Bian bersikap menunggu Miana. Sengaja akan menunggunya di atas motor sang gadis berbibir mungil kesayangannya. Namun, berkali-kali ia meneliti ratusan motor matic yang ada ia tak menemukannya di sana.
Sementara tingkahnya membuat satu sahabatnya geleng-geleng kepala di atas motor. Matanya masih bergerak meneliti lebih jeli. Sampai mata itu mengunci sosok yang sudah berlalu di luar gerbang sekolah.
"Miana. Sama siapa? Apa itu Arga?" gumamnya kecewa. Ia menendang ban belakang motor paling dekat dengannya.
"Ck. Kenapa harus Arga, sih," dengus Bian dan membuat Arkan mendekat melihat sahabatnya uring-uringan.
"Udaaah. Besok juga ketemu lagi," bujuk Arkan yang belum tahu alasan Bian meluapkan kesal pada roda yang tak bersalah.
"Lo nggak lihat, Miana udah keluar tadi?" hardik Bian membuat Arkan menggeleng. Benar-benar tidak merasa melihat.
"Dia udah balik sama Arga."
Arkan membulatkan matanya. Dan mengangguk cepat. Merasa telah menemukan jawaban.
"Katanya, udah rela temenan aja, asal bisa dekat lagi."
"Ck. Ngomong sih, gampang. Ngelakuinnya yang susah," aku Bian dengan frustasi.
☘️
...Yang ingin tahu visual Takdir cinta Miana, ada di ig @rna.darkchoco atau Facebook ; Erna Astuti atau gue Facebook: Erenn Na....
__ADS_1
...gumawo...