
☘️
Perlahan tapi pasti, detik bergerak hingga jarum jam pada posisi yang sama. Miana semakin giat bekerja meskipun waktu ujian kian mendekat. Tidak ada libur bekerja. Karena cicilan rumah tetap harus di bayar. Ia tidak bisa diam saja melihat papa bekerja dari pagi hingga pagi lagi. Bahkan sekarang, papa sering mengambil lembur. Agar Miana mau mengurangi waktu kerjanya.
"Biarkan papa, yang bekerja, Mia. Ini sudah tanggung jawab papa. Papa paham kamu ingin membantu papa. Tapi cukup kamu belajar yang rajin. Akhir-akhir ini nilaimu turun, kan. Bahkan ulangan tengah semester kemarin posisi kamu kembali tergeser." Surya berbicara serius di teras samping rumah. Setelah Miana memberikan kopi seperti permintaannya.
"Nggak bisa, Pa. Mia, nggak bisa diam saja. Terlebih sekarang, kita sudah punya rumah baru. Mia jadi lebih semangat. Turunnya nilai Mia, karena memang teman-teman belajar dengan gigih kok, Pa."
"Mia, bukankah kamu sangat menginginkan beasiswa? Lalu gimana jika ini akan memupus impian kamu. Kita tidak tahu kebijakan kampus seperti apa memberikan beasiswa pada siswa bersyarat. Papa hanya kawatir, jika kamu tidak mendapatkan itu."
Miana terdiam. Papa benar, ia seharusnya selalu ingat itu. Namun, ia begitu terlena dengan perasaannya pada Arga. Padahal, belum tentu Arga dapat membalas perasaannya. Sejauh ini, keduanya terus berada dalam circle pertemanan. Meskipun Miana berkali-kali mengungkap cintanya, Arga selalu pintar mengalihkan pembicaraan.
"Gue bilang, kendalikan perasaanmu, Miana. Gue nggak sebaik yang Lo pikir." Itu kata Arga, yang terus di ulang-ulang, sampai Miana menganggap itu hanya sanggahan. Nyatanya, meski selalu ketus, hal-hal kecil yang di lakukan Arga adalah bentuk perhatiannya.
Berbeda dengan Bian, yang terang-terangan. Bian akan bilang suka atau nggak suka, pada apapun yang terjadi. Miana jadi ingat saat ia dan Arga di lapangan olahraga. Saat itu, ia tengah berebut bola basket dengan Arga. Miana yang selalu jahil dan pintar menghidupkan suasana, membuat Arga tertawa karena selalu tertipu trik Miana. Bian menarik Miana menjauh dari Arga ke pinggir lapangan. Dan mengungkapkan ketidaksukaannya.
"Kenapa ,sih. Lo nggak nurut sama gue. Arga tuh bikin pengaruh buruk sama, Lo. Jauh-jauh, deh dari dia."
Sedangkan Miana kembali menghela nafas. Ia harus mengungkap apa yang ia rasakan agar Bian tidak seenaknya terus mengaturnya. "Bian, gue suka dekat sama Arga, karena emang gue suka sama dia."
Kembali, Bian bergeming dan menatap Miana dengan tajam. "Gue nggak suka, lihatnya."
"Bian, Lo nggak bisa seenaknya ngatur-ngatur gue. Kita bahkan udah putus sangat lama."
"Gue, tahu." Jeda Bian. Ia membuang nafasnya kasar. "Semakin hari, Arga terus menggeser nilai lo. Meskipun hanya berbeda angka di belakang koma. Dia buat Lo nyaman sama dia, sampai Lo nggak fokus lagi sama pelajaran. Sampai sekarang tu anak nggak juga ngungkapin perasaannya ke, Lo, kan? Cuma main tarik ulur aja. Nggak gentleman, banget," cibir Bian.
"Bian, Lo nggak kenal Arga aja, makanya, Lo nething (negatif thinking) terus sama dia."
"Serah, Lo. Tapi, itu yang gue rasain. Gue cuma mengungkapkan apa yang gue rasa."
Miana tersenyum, dan menepuk bahu Bian. "Thanks, Lo begitu perduli sama gue."
☘️
__ADS_1
[📷Kok belum, pulang?] Arga.
Satu pesan beserta foto posisi Arga, membuat Miana tersenyum. Ia memanjangkan lehernya melihat ke bawah parkiran.
Benar, Arga ada di sana. Berada di atas kap mobilnya. Jas tergeletak asal di sampingnya. Lengan kemeja hitam sudah di gulung sampai siku. Sudah beberapa minggu terakhir, Arga selalu ke kantor Dharma. Katanya dia sedang mencoba magang di perusahaan sang papa. Ia merasa tersentil saat Miana meledeknya hanya terima uang jajan dengan jumlah fantastis.
Miana tahu Arga kaya, mungkin wajar bila sang papa memanjakannya. Karena memang dia hanya anak satu-satunya.
^^^[Bentar lagi. Masih berberes.]^^^
^^^ Balas Miana.^^^
[Gue tunggu, ya.]Arga.
Berdesir hati Miana, membaca pesan terakhir yang Arga kirimkan. Ia melongok ke bawah lagi dan melihat Arga sudah masuk dalam mobilnya. Ia harus cepat-cepat membereskan pekerjaannya. Ia tak mau Arga kembali mendiamkannya. Apalagi, beberapa hari yang lalu ia meninggalkannya di lapangan basket karena di tarik Bian ke kantin. Akibatnya, ia merenung memikirkan apa yang di ucapkan Bian dan tak kembali ke lapangan.
Arga merasa Miana ingkar janji, padahal saat di tarik Bian menjauh darinya, Miana sempat berucap akan kembali.
Miana mengetuk kaca mobil Arga. Hingga beberapa kali ketukan barulah Arga menurunkan kaca mobilnya. Setelah ia meregangkan ototnya. Rupanya ia sempat tertidur.
"Lama, amat, sih. Buruan, ayo gue anter!"
"Hah? Nggak usah, gue bawa motor, kok," tolak Miana.
"Buruan! Sebelum gue berubah pikiran. Jarang -jarang ,kan, gue tawarin duluan ke ,Lo."
Miana berpikir sejenak dan mengangguk yakin. Ia berputar ke sisi mobil yang lain. Memasuki mobil Arga dan duduk di samping lelaki itu.
Miana mengirim pesan pada Bagus agar memasukkan motornya ke basemant cafe. Cukup simpel, lelaki itu. Ia akan menyetujui tanpa banyak bertanya lagi.
"Kirim pesan, ke siapa?" tanya Arga. Ia menginjak pedal gas sembari melirik pada spion mobil untuk memastikan kendaraan di belakang masih berada jarak aman.
"Sama Mas Bagus, biar dia masukin motor gue ke bagasi cafe. Lo sih, ngomongnya dadakan. Jadi gue harus reportin teman gue ,kan."
__ADS_1
"Sesama teman, nggak ada itu namanya merepotkan. Hidup kan kadang juga butuh bantuan orang lain. Kita nggak hidup sendiri."
Obrolan di dalam mobil masih terus berlanjut. Bukan Miana namanya kalau sampai kehabisan topik obrolan. Seperti menanyakan kelanjutan hubungan Arga dengan sang mama.
Arga tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya sekarang. Secara tidak langsung, berkat Miana beberapa minggu yang lalu, Arga menjadi terbuka pikirannya.
Hubungan ibu-anak yang berjarak kini dapat kembali dekat. Meskipun tidak dapat hidup bersama. Dharma masih mengijinkan Sarah menemui Arga kapanpun ia mau. Tapi tidak untuk tinggal bersamanya.
"Eh, ini kita mau pulang atau kemana, sih? Kok jalannya beda jauh." Miana menepuk lengan Arga cepat. "Lo mau bawa gue kemana, Ga," sentak Miana mulai waspada. Dari tadi ia keasyikan berceloteh mencecar Arga dengan berbagai macam pertanyaan, seperti pencari berita saja. Dan baru tersadar, jalan ke rumahnya sudah terlampau sangat jauh.
Arga sedikit tersentak, lalu berdecak. "Jadi cewek kok bar-bar, banget." Mengelus lengannya yang sedikit kebas. "Diem di situ. Bentar lagi nyampai kok." Arga berucap santai.
Diam-diam Arga menggulum senyum, tipis sekali, hampir tidak terlihat. Terus melewati jalan malam yang masih begitu padat kendaraan. Ia mulai memikirkan sesuatu.
"Ini ke arah, mana, sih," ucap Miana karena tidak begitu familiar dengan jalan ini.
"Emang, beo, ya. Susah, buat diem. Nurut, gitu, kenapa, sih."
Miana sontak menjaga jarak dengan Arga. Sambil menyilangkan kedua tangannya. "Jangan bilang, Lo ,mau aneh-aneh ke gue," tuduh Miana tidak benar-benar takut. Karena sejauh ini mengenal Arga, Miana tidak melihat perilaku membahayakan dari lelaki yang duduk di balik kemudi itu.
Arga, tertawa keras. Matanya menoleh pada Miana yang memasang wajah waspada dan sesekali melihat jalanan. "Lo punya rasa takut juga ternyata."
"Arga!" Miana kembali memberikan beberapa tepukan kasar pada Arga hingga lelaki itu mengaduh dan masih terkekeh.
"Lima menit lagi, sampai," ucap Arga serius. Tawa di ajah sudah lenyap, berganti menjadi wajah serius. Membuat Miana kembali menerka-nerka.
☘️☘️☘️
...MERDEKA!!!...
Maaf baru bisa up. Masih riweh sama karnaval. Biar aku tambah semangat, kasih komentarnya, dong,"
Makasee🙏🙏🙏
__ADS_1