Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 91


__ADS_3

Senja perlahan turun, menggantikan terangnya sang Surya. Miana sudah keluar kantor dan memesan ojek online untuk pulang. Bukan ke hotel seperti instruksi kepala divisinya. Melainkan pulang ke rumah Bi Num.


Mama, Bi Num, aku di sini. Itulah kata yang bersarang di hati.


Beruntung ia datang di hari Sabtu. Besok ada waktu satu hari di kampung halaman Bi Num. Juga satu tempat yang harus ia kunjungi yaitu makam mama.


Notifikasi pada ponselnya sudah terkirim sejumlah transfer untuk menginap di hotel. Bahkan, perusahaan sengaja memberi bonus lebihan. Namun, Miana tak berminat untuk menggunakannya untuk menginap di hotel. Lebih baik di simpan saja.


Sampai di rumah Bi Num, Miana sudah di sambut hangat oleh Bi Num dan anaknya, Hasan. Anak lelaki itu sudah memasuki usia sekolah menengah tahun pertama.


"Udah besar, kamu, Hasan. Apa kabar?"


"Kabar baik, Mbak," sahut Hasan seraya mencium tangan Miana.


Manis sekali, remaja itu. Masih mengikuti unggah-ungguh di daerah sekitar. Seperti menghormati yang lebih tua.


"Bi, aku berasa lagi di sambut pacar, inih," canda Miana pada Bi Num yang tersenyum berdiri di teras rumah.


"Halahh, wes. Masuk dulu! Nanti lagi bercandanya." Bi Num mengajak Miana langsung masuk ke dalam rumah.


Dari depan pagar, seorang yang beberapa kali memerhatikan Miana tampak mengurungkan niatnya untuk turun.


Rumah yang terbilang kecil itu hanya mempunyai dua kamar, satu ruang tamu dan bagian dapur yang agak luas. Dengan halaman tak terlalu luas tertutup pagar besi yang sudah karatan.


Selesai membersihkan diri, Miana makan bersama dengan Bi Num dan Hasan. Setelahnya berbincang sebentar bertanya kabar dan keluarga di rumah. Miana pun bercerita apa adanya, bagaimana Miranti masih menyalahkannya atas meninggalnya sang papa. Hingga ia bertahan hidup di asrama dengan mengandalkan bisnis online shop yang hasilnya sungguh di luar dugaan. Karena, Miana tidak hanya berjualan produk fashion melainkan juga food n drink dari pedagang kaki lima yang biasa mangkal tak jauh dari asrama. Berbekal pinjaman motor, Miana jadi kurir dadakan saat itu.


"Nggak nyangka ya, Bu. Mbak Miana mampu melewati semua itu sendiri." Hasan benar-benar menunjukkan kekagumannya.


"Makanya, jangan kalah sama cewek, kamu, San!" Bi Num mengingatkan anaknya sambil memotong bawang merah untuk di goreng.


Selesai berbincang, Bi Num pamit tidur lebih dulu. Sedangkan Miana dan Hasan masih asyik bercerita ngalor ngidul.


"Eh, Mbak. Mau nggak aku ajak ke angkringan?" tanya Hasan.


Miana berfikir sejenak dan tak lama ia mengangguk. Dengan segera keduanya berjalan kaki beriringan. Hanya seratus meter mereka bertemu dengan mulut gang. Hasan tak henti bercerita bagaimana kegiatannya selama di sekolah. Sedangkan Miana menjadi pendengar yang baik. Mereka masih harus berjalan tiga ratus meter lagi keduanya baru sampai di angkringan dekat perlintasan kereta api.


"Suiitt suiitt,"


"Punya pacar kamu, San."


"Gila. Hasan naik daun. Sekalinya punya pacar, nggak tanggung-tanggung."


Hasan hanya cengengesan. Tak menimpali apapun. Ia malah sibuk menenangkan Miana, agar tak merasa terganggu. "Mereka temen-temen saya, Mbak. Udah biasa aku jadi sasaran jahil mereka."


"Tenang, aku paham, kok." Miana mengibaskan tangan agar Hasan tak lagi sungkan.


Melihat menu dalam angkringan. Miana di beri piring kecil lalu Miana sendiri mengisi apa saja yang akan ia pesan.

__ADS_1


"Minumnya apa, Mbak?" tanya Hasan.


"Jahe hangat, ya."


"Ok,"


Begitu pesanan di dapat, Hasan mengajak Miana duduk lesehan di tempat yang sudah di sediakan. Hasan sengaja menjauh dari teman-temannya agar Miana tetap nyaman.


Pencahayaan yang cukup serta sensasi malam hari sambil melihat kereta yang lewat membuat Miana terhibur. Hasan yang asyik membuat Miana sesekali tertawa karenanya.


Sampai dering ponsel Miana menampilkan kontak Bi Num dan membuat Miana dan Hasan segera pulang.


"Tadi ada yang cariin mbak Miana," ujar Bi Num saat Miana sudah masuk rumah.


Miana dan Hasan saling pandang. Lalu Miana kembali pada Bi Num. "Siapa, Bi. Miana kan nggak kenal siapa-siapa di sini."


Bi Num menggiring Miana duduk. "Bibi juga nggak tahu. Saat bibi tanya katanya teman kerja."


"Kok aneh, sih. Mereka kan bisa kontak misalkan penting. Kenapa sampai nyari segala."


Meskipun masih terus menganggu, Miana tak mau ambil pusing. Ia segera terlelap tanpa canggung di samping Bi Num.


☘️


Waktu masih menunjukkan angka dua lebih tiga puluh menit. Namun, riuhnya suasana di dapur sudah bukan hal baru bagi Miana.


Dulu saat di kontrakan, hal itu sudah menjadi teman sehari- hari.


"Goreng ayam aja, itu, yang di baskom." Bi Num menunjuk ayam siap goreng.


"Gimana tidurnya, Mbak?" tanya Hasan tanpa meninggalkan kegiatannya mengemas kerupuk pada plastik.


"Lumayan, nyaman, sih," jawab Miana sambil sesekali mengaduk ayam di penggorengan dan menoleh pada lawan bicaranya.


"Maafin teman-teman Hasan, ya, Mbak. Mereka nggak bisa lihat yang bening dikit. Kalau di sini, mah, biasa. Cewek di godain begitu."


"Ah, biasa. Gak masalah."


"Kamu sendiri, nggak apa kan di bully satu tongkrongan begitu?"


"Itu mereka emang canda doang, Mbak. Mereka nggak jauh beda sama aku kok. Sama-sama anak pedagang kaki lima." Dengan terkekeh Hasan bercerita mengenai teman-temannya.


Ada rasa bangga saat melihat anak remaja seusia itu sudah tahu bagaimana membantu Ibunya. Jika ia mengingat Arga maupun Bian, belum tentu mereka merasakan bagaimana susahnya mengumpulkan cuan untuk biaya sekolah.


☘️


Kaki jenjang berbalut celana training dengan satu kaos berwarna hitam di balik jaket bomber merah tua sedang mengamati satu sosok diantara kerumunan orang yang berada di kedai bubur ayam.

__ADS_1


Dari tempatnya duduk, ia tersenyum di balik masker duckbill berwana putih. Beberapa kali tangannya terulur untuk membidik objek yang sedang ia cari. Beberapa kali ia juga telah salah mengambil posisi.


Bukannya kesal, ia justru tersenyum penuh arti. Saat antrian perlahan mereda, saat itulah sasaran dapat ia bidik sesuai keinginannya.


Sesekali satu tangan kirinya menyesap isi cup kopi dengan tangan kanan menggulir layar ponsel untuk memeriksa hasilnya.


"Kamu tak berubah. Masih gadis tangguh yang ku kenal."


Bibir tersungging dengan jari seolah menyentuh sosok dalam layar.


"Aku bingung harus mengatakan apa saat kita bertemu nanti." Kali ini, lelaki berkulit kuning khas Asia timur itu berani menatap dari tempatnya duduk.


"Aku takut kau tidak mengenaliku. Bahkan lebih buruk dari itu. Kamu justru membenci aku."


"Hhhhhhhhh," desahnya sambil menunduk lalu segera menatap lurus kembali.


Banyaknya orang yang berlalu-lalang karena di jalan utama ini tengah mengadakan car free day. Sehingga tak ada lalu-lalang mobil atau motor. Aneka kedai makanan dan pedagang kaki lima mendominasi tempat itu. Sebelum nantinya akan berfungsi kembali saat jam operasional yang sudah di tentukan akan kembali di buka.


Ide muncul saat lelaki itu melihat penjual bunga segar di sisi jalan. Ia memesan satu bunga mawar dalam polibag dan secara khusus meminta penjualnya untuk mengemas di dalam pot. Sudah ada beberapa kuncup bunga mawar yang siap mekar.


Setelah membayar dan mengucapkan terimakasih, ia lekas berlalu dari sana.


"Ck. Udah bener belum ya, cara aku ini." Ia pandangi bunga dalam pot yang tak begitu besar di tangan. "Ck. Aku bukan type romantis sepertinya."


Saat kembali ke tempat semula, lelaki yang kini berusia dua puluh dua tahun itu mengeryit saat kedai sasarannya sudah berkemas. Tak ada sosok wanita yang ia cari. Yang ada hanya dua lelaki berbeda usia dengan beberapa termos nasi berada di becak.


Kata hati harus mendekat dan menayangkan keberadaan wanita yang beberapa waktu lalu ia perhatikan.


"Permisi, Pak," sapanya.


"Maaf, Mas. Bubur ayamnya, sudah habis." Lelaki muda yang menyahut lebih dulu.


Aku di kira mau beli bubur. " Ah, i itu. Berarti.... Ya sudahlah." Ia mengusap tengkuknya untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Maaf ya Mas."


Satu kesempatan untuk bertemu telah lenyap di depan mata. Kecewa dan menyesal sudah pasti. Jika tadi ia tak mengada-ada untuk membeli bunga tadi, mungkin kesempatan bertemu masih di depan mata.


Dengan berat ia mulai memutar langkah. Ia lirik satu jinjingan tanaman bunga mawar di tangan kirinya lalu tersenyum getir.


"Jika tidak pada hari ini. Pasti besok akan bertemu."


Dengan gontai ia mulai mengayun langkah. Baru tiga langkah dari kedai yang telah tutup, mata terpaku dan kaki sulit untuk di gerakkan.


Sosok yang berdiri di depan sana begitu membius penglihatannya. Hingga tak mau berpaling sedikit pun.


Rambut hitam yang terkuncir asal dengan beberapa helai jatuh di terpa angin pagi. Kaos putih lengan panjang dengan celana jeans berwarna Navi juga snakers putih membalut penampilannya. Apron sudah terlepas dan berada di tangan kirinya. Mata itu kini bertemu pandang seolah mengunci sasaran agar tak menghilang cepat-cepat.

__ADS_1


"Arga,"


☘️


__ADS_2