Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 40


__ADS_3

"Gu-gue bisa sendiri," tolak Miana pada Arga dan Bian. Ia mengabaikan raut wajah lega dari keduanya. Miana berdiri seraya menepuk-nepuk rok abu-abunya dari debu lantai.


Meskipun wajah berusaha tersenyum, Miana dapat melihat raut permusuhan pada Arga dan Bian yang sedang berperang melalui sorot mata keduanya. Meski bingung, Miana tetap mengucap terimakasih pada keduanya.


Sisil segera mendekat dan mengaitkan tangan di lengan Bian. "Ayo, Sayang. Kita balik, yuk. Keburu sore,nih." Sisil mengingatkan Bian dengan manja.


Wajah tegas Bian perlahan memudar. Tanpa banyak kata lagi, Bian berbalik dan berjalan menjauh dari sana.


Sedangkan Miana menatap Arga, yang masih enggan berpaling dari Bian, meskipun Bian sudah berjalan semakin menjauh. Miana tidak mau menduga-duga. Ia memberanikan diri menyentuh lengan berbalut jaket bomber itu. "Ga," panggil Miana dan berhasil membuat Arga menatapnya.


"Makasih ya," ucap Miana.


"Untuk apa?" tanya Arga dengan mata menyipit.


"Ya...,Lo, kesini buat apa?" sarkas Miana.


Dan hal itu membuat Arga berdehem lalu mengusap tengkuknya karena bingung untuk menjawabnya.


"Ah, itu. Gue... Mau ambil sesuatu di meja." Arga segera menuju bangkunya dan seakan mencari sesuatu.


"Gimana, ketemu?" tanya Miana begitu ia ikut memeriksa bangku Arga.


"Diperiksa dulu, deh, Ga!" Miana mengingatkan.


Arga semakin gugup dan membuka tas punggung untuk ia letakkan di atas meja. Ia mengacak asal seolah benar-benar mencari sesuatu. "Nggak jadi. Udah ketemu di sini," ucap Arga memberi alasan. Ia mengangkat satu buku untuk menyakinkan Miana, dan memasukkannya lagi ke dalam tas.


"Lain kali itu, di periksa bener-bener. Jadi, nggak sia-sia lo menerobos hujan buat cari buku paket yang sebenarnya udah ada di tempatnya," cerocos Miana. Ia menepuk-nepuk lengan jaket Arga yang sebagian telah basah.


Jika biasanya Arga akan protes karena mulut ceriwis Miana. Kali ini justru membuat Arga merasa di perhatikan. Ia menarik beberapa inci saja bibirnya, agar tidak terlihat oleh Miana. Bisa panjang urusannya.


"Ya, udah. Ayok pulang, jika udah ketemu!" Miana menepuk lengan Arga yang masih merapikan tasnya kembali.


"Baju Lo, basah, Ga. Nanti Lo, masuk angin jika nggak segera ganti baju." Miana kini mengutak-atik ponselnya karena sehabis ia non-aktifkan.


"Jangan bilang, Lo bawa motor, ya! Bisa-bisa Lo yang baru sembuh jadi sakit lagi gegara kehujanan."


"Jangan bilang Lo mau numpang," tuding Arga.


"Ih, enggak bakal gue numpang, Lo. Riska udah nungguin gue di koridor pasti.

__ADS_1


"Oh, ya?" telisik Arga dan segera di jawab 'ya' dengan yakin. "Kepedean. Padahal Riska udah pulang duluan dan nitipin Lo ke gue," batin Arga.


Meskipun ragu, Miana tetap berjalan dengan yakin keluar kelas diikuti Arga yang berjalan di belakangnya. Dalam hati, Miana menduga Riska sudah pulang atas saran darinya tadi. "Sudahlah, gue bisa naik angkot kan," batinnya. Semakin mempercepat langkah.


"Heh. Lo yakin nggak mau nebeng gue?" tanya Arga seraya menarik backpack Miana. Hal itu otomatis membuat langkah Miana tertahan dan berbalik badan.


"Iya. Yakin. Gue nggak mungkin kepedean karena terlalu yakin jika Lo nawarin tumpangan.' Miana berkacak pinggang dengan wajah dan senyum santai. "Itu kan yang akan Lo ucapin ke gue, jika gue beneran terima tawaran Lo," tuduh Miana. "Udah ketebak, Ga." Miana mengibaskan tangan dan kembali melangkah tidak menunggu jawaban Arga.


Sedangkan Arga masih diam bergeming di tempatnya dengan mengembuskan napas kasar. "Ternyata segitu dalamnya image jelek gue di mata Lo, ya,"


Halaman sekolah masih basah dan menyisakan rintik kecil, sisa hujan deras tadi. Miana hampir mendekati gerbang dan Arga berjalan menuju parkiran.


Di halte sisi gerbang, Miana duduk menunggu angkot. Ia sempatkan untuk mengirim pesan pada Dini–manager minimarket, jika ia akan sedikit terlambat datang. Ia juga mengirim pesan pada Hamdan, untuk mengambilkan motornya di bengkel, tidak begitu jauh dari minimarket. Ia pikir, jika ia harus mengambil sendiri. Maka akan semakin terlambat saja untuk bekerja. Sedangkan Miana sudah tidak enak hati jika terus terlambat. Terlebih ia sempat ijin dua hari yang lalu.


Arga tersenyum simpul saat Miana masih duduk menunggu di halte bus. Ia menekan pedal gas mengarahkan mobilnya berhenti tepat di depan Miana. Ia menurunkan kaca di samping kemudi dan sedikit tersenyum menoleh pada Miana yang melengos sengaja. Hal itu memancing gelak tawa Arga dan Miana menatap kesal padanya.


"Apa, ketawa?" sinis Miana dengan bibir komat-kamit tidak jelas.


"Mau bareng, nggak?" tawar Arga. Kali ini ia menumpuk lengan di pintu mobil dan tersenyum jahil pada Miana .


"Ogah," sahut Miana cepat dan membuat Arga semakin tergelak. Namun, ia segera merubah raut wajahnya menjadi serius, saat Miana berdiri melambaikan tangannya sedikit memutar tubuh.


Arga bergerak cepat turun dari mobilnya dan menjangkau tangan Miana yang akan memasuki angkutan umum.


"Apa sih, Ga," pekik Miana karena ia hampir terhuyung jika Arga tidak menahannya.


Arga mengabaikan Miana dan mengeluarkan satu lembar uang pada sopir angkutan. "Dia ngambeg ke saya pak. Jadi saya mau ajak dia kembali biar nggak jadi ngambek. Maaf ya"


"Eh, Ga–,"


"Sssstt," potong Arga.


Meskipun sopir masih bingung. Arga segera menarik tangan Miana untuk ia bawa ke mobilnya. Ia membukakan pintu samping kemudi dan menutup kembali. "Ga, Lo mau bawa gue kemana?" ucap Miana sambil menepuk pintu kaca.


Arga memutari mobilnya untuk memasuki dari sisi yang lain.


Mobil bergerak lancar, seperti protes Miana di samping Arga. Tidak terima dengan kelakuan Arga yang bertindak sesuka hati sendiri. Kesal karena protesnya tidak di dengar oleh Arga, akhirnya Miana melipat kedua tangannya dengan mengerucutkan bibirnya. Ia juga membuang muka ke samping pada sisi jalan sambil mengatur rasa kesalnya.


Berbeda dengan raut wajah tampan Arga yang tidak berhenti mengulas senyum. "Udah ngomelnya?" canda Arga dan di abaikan oleh Miana.

__ADS_1


"Gue tadi terima mandat dari sahabat Lo, buat bawa Lo, karena dia buru-buru. Akhirnya gue cari Lo di kelas. Tapi ,..." Arga menjeda kalimatnya saat rasa asing kembali menyerangnya. Mengingat kebersamaan Miana dan Bian di kelas tadi.


Miana kembali menoleh pada Arga. "Tapi apa?" tuntut Miana.


"Tapi Lo ternyata lagi berduaan sama Bian," lanjut Arga dan wajahnya kembali datar.


"Heh, gue nggak berduaan," sangkal Miana. "Gue ke kelas cari Hp gue. Dan gue ketakutan ada petir. Sampai begitu reaksi gue. Lalu Bian datang kasih gu–,"


"Udah nggak usah Lo jelasin."


"Ya, tapi Lo takut salah sangka ke gue," protes Miana.


"Ya emang posisi Lo bkin gue salah sangka."


"Ya, mak–," ucap Miana tertahan dan memikirkan sesuatu. "Arga, jangan bilang Lo cemburu," tuduh Miana dan Arga tidak menanggapi. Ia justru melirik spion untuk mengambil jalur kanan.


Miana sampai sedikit mencondongkan badannya menelisik wajah Arga. "Ga? jawab iya maka gue akan pikirkan baik-baik."


"Makin ngawur kan otak Lo!' Arga melirik sinis pada Miana.


"Ngawur dari mana? Kalau Lo nggak cemburu ngapain muka Lo merah gitu," tuding Miana dan membuat Arga membuang muka. Sadar karena wajahnya pasti memerah karena wajahnya memanas.


Arga menepikan mobilnya di halaman minimarket. Miana sadar, segera menghentikan celotehnya dan menatap Arga sedikit tersipu malu karena tadi sudah salah sangka dan merasa tidak enak hati.


Miana berkali-kali menggigit bibir bawahnya untuk merangkai kata maaf. "E, Arga. Gu_gue. Maksudnya, makasih ya Ga, udah di anterin ke sini," ucap Miana sedikit terbata.


Arga menumpuk dua lengan pada kemudi dan menyandarkan kepala di sana. "Sebenarnya gue pengen ngobrol banyak sama Lo. Tapi karena Lo mau kerja, ya udah. Lo turun, sana!"


Miana mencerna kata-kata Arga dengan baik. "Ada apa lagi dengannya?" batin Miana.


Miana menarik seat belt dan membalas tatapan Arga. "Nanti malam, Lo bisa ceritain di telepon, Ga," putus Miana meyakinkan.


Sedangkan Arga diam tidak memberi jawaban. Dan kembali menegakkan duduknya.


"Udah nggak usah Lo pikirin. Lo bisa turun sekarang," usir Arga dengan wajah datar.


"Gue janji, Ga. Tapi jangan marah, ya," ucap Miana dan Arga hanya membalas menatapnya.


"Gue turun sekarang. Makasih ya," pamit Miana seraya turun dari mobil Arga dan menutup kembali seraya memaksa tersenyum padahal hati sedang diselimuti perasaan tidak enak.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2